MAHAPRALAYA MEDANG eps 10

Posted: 7 September 2010 in AIRLANGGA

10

Nun Jauh di sebuah daerah pantai utara jawa, disebuah daerah bernama Lwaram, dimana merupakan pusat kerajaan Wurawari yang juga merupakan kerajaan bawahan Kerajaan Medang, terlihat suatu kegaduhan di paseban agung balai pertemuan istana.

Raja Lwaram yang lebih dikenal dengan sebutan raja Aji Wurawari tengah murka atas laporan yang disampaikan oleh patihnya. Mukanya yang merah semakin terlihat merah padam bagai bara api, sementara didepannya terlihat kepingan kayu meja beserta isinya yang hancur berantakan.

“ Keparat , Dharmawangsa itu, aku tidak terima dengan perlakuanya ini” teriaknya.

Semua pejabat dan para tanda, punggawa, senopati yang berada di ruang itu hanya mampu menundukkan muka, kecuali seorang nenek yang sudah tua renta seperti tak peduli dengan kemarahan raja Aji Wurawari itu, dia begitu asyik duduk di pojok ruang paseban sambil sesekali membuang air liurnya di bejana tempat pembuangan sisa penginangan.

“ Aku akan membalasnya suatu saat nanti”

”Sungguh orang – orang medang itu tak tahu malu. Pinanganku ditolak tapi harta pinangannya mereka terima. Orang macam apa Dharmawangsa itu” tambahnya.

Patih Malengapati adalah orang yang merasa paling bersalah, karena tak mampu dilaksanakan tugas yang diembannya dengan baik, hanya menunduk dalam dan semakin dalam lagi ketika dia teringat bahwa telah membohongi raja junjungannya tentang harta pinangan yang sebenarnya hilang pada peristiwa di Bulak Sirah, namun di akuinya telah diambil oleh raja Dharmawangsa.

Hening suasana ruangan pendopo istana raja Wurawari setelah sang raja berhenti mengumbar sumpah serapah yang tadinya seperti tiada habisnya. Sepinya suasana itu kini hanya berbalut suara gemuruh tarikan  – tarikan nafas mereka yang sama – sama menahan amarah yang juga bergejolak dalam bathin.

Api telah tersulut.

Tinggal menanti kapan akan menerjang sasarannya, dan bila itu terjadi, maka segala yang menjadi aral melintang dihadapannya pasti akan disapu habis tanpa tersisa.

“ kalian semua boleh meninggalkan ku, biarkan aku sendirian disini kecuali paman patih” keheningan itu akhirnya terpecahkan oleh ucapan Raja Aji Wurawari tanpa bergerak dari dampar kencananya.

Semua orang yang berada diruangan itu segera melaksanakan perintah rajanya, mereka langsung serempak menyembah hormat kemudian beringsut satu persatu meninggalkan ruang paseban balai pertemuan istana Wurawari.

Keheningan kembali mencekam diruangan itu, yang tersisa tinggal Raja Wurawari yang masih diam tak bergerak di dampar kencana dan patih Malengapati yang masih diam menundukkan wajah dengan nafas yang memburu serta keringat dingin yang menetes tiada henti membasahi seluruh tubuhnya tanpa ia sadari, sedangkan nenek tua yang duduk di pojok ruangan seperti tetap tak peduli dengan apa yang dirasakan dua orang itu, mulutnya masih asyik  komat – kamit memainkan manisnya racikan kinang.

“ kakang patih, sebenarnyalah aku layak bersakit hati pada kegagalan tugas yang menjadi tanggung jawabmu” berkata sang raja memecahkan keheningan

“ Seharusnya aku layak mencopot jabatan yang kau sandang sekarang ini, tapi aku tidak akan melakukan itu, karena akulah raja, akulah junjunganmu yang layak kau sembah hingga bebrayatmu kelak”lanjutnya

“Namun aku masih ingin kau memperbaiki kesalahan yang telah kau buat ini, kau harus mampu mengejawantahkan apa yang aku inginkan” kata raja Aji Wurawari dengan nafas memburu

” Apa yang telah membuatku sakit hati, yang berarti juga menyakiti hati seluruh rakyat Wurawari, harus terbalas dengan setimpal” tambahnya dengan nafas yang semakin memburu

Hening sejenak, raja Aji Wurawari mencoba memperbaiki debur jantungnya yang bekerja tak beraturan

”Segeralah kirim utusan ke tanah swarnadwipa secara diam–diam, aku ingin segala kebaikan yang telah diperbuat oleh kerajaan Wurawari pada Sriwijaya, dibalas dengan mengirim bantuan balatentaranya untuk memberangus Wwatan. Kau paham paman patih” ujar raja Wurawari kemudian.

“ Sendhika tuanku paduka raja, kali ini hamba tidak akan lena dalam mengemban tugas yang paduka berikan” jawab patih Malengapati dengan muka yang tertunduk dalam – dalam.

“Bolehkah aku ikut urun rembuk anak angger raja Wurawari nan bijak bestari” tiba – tiba sang nenek yang sedari tadi seolah tak peduli akan balutan kemurkaan disekitarnya itu angkat bicara

“ Silahkan nini guru Maruti, apa yang akan kau sampaikan” jawab Raja Aji Wurawari pada perempuan tua yang disebutnya sebagai nini guru itu

“ Sebenarnyalah keberadaanku di kerajaan wurawari ini adalah karena peristiwa perang gejag di anjuk ladang diwaktu yang lampau” berkata nini maruti membuka pembicaraannya dengan sedikit tersengal karena usia tuanya

“ aku adalah salah seorang pelarian laskar sriwijaya yang berhasil lolos dari kejaran Mpu Sindok, bertahun – tahun telah berlalu untuk menunggu pembalasan atas perbuatan mpu Sindok itu, dan sepertinya sekarang saat yang ku tunggu-tunggu itu telah tiba” tambahnya.

Nini Maruti sebenarnyalah seorang pelarian laskar Sriwijaya divisi angkatan laut jambi yang dikirim oleh raja sriwijaya pada masa itu, untuk menghancurkan kerajaan Medang, yang pada waktu itu masih berada di bawah kekuasaan sri maharaja Dyah Wawa, namun balatentara kerajaan Sriwijaya berhasil dikalahkan oleh perjuangan gigih para prajurit Medang yang dibantu oleh seluruh rakyat dibawah pimpinan Mpu Sindok, yang pada masa itu masih menjabat Rakyan mapatih hino.

Balatentara Sriwijaya pada waktu itu, berhasil ditumpas habis di sebuah tanah lapang bernama Anjuk Ladang oleh strategi perang yang di gagas oleh mpu Sindok, hingga sisa – sisa bala tentara kerajaan Sriwijaya melarikan diri dengan menggunakan kapal – kapal armadanya melewati bengawan Brantas kembali ke Negara asalnya. Namun tidak semua balatentara Sriwijaya melarikan diri melalui Begawan Brantas, beberapa orang prajurit dan senopatinya berhasil melarikan diri melalui jalan darat, yang kemudian berpencar keseluruh tanah jawa, berbaur dengan rakyat Medang, ada yang menjadi petani, ada yang menjadi pedagang, tabib, guru di mandala – mandala atau bahkan bernaung di kerajaan bawahan seperti Nini Maruti yang menjadi guru kadigdayan raja Aji Wurawari.

Dimanapun mereka dan apapun penyamaran yang mereka lakoni sekarang ini, sumpah setia mereka pada kerajaan Sriwijaya masih tertanam dalam jiwa, dendam akan kekalahan yang mereka alami di Anjuk Ladang tertanam begitu dalam. Hubungan yang mereka jalin melalui hubungan bathin maupun pertemuan – pertemuan, tetap mereka lakukan, untuk mengatur pembalasan bagi Mpu Sindok beserta keturunannya yang berkuasa di kerjajaan Medang.

Dan semua itu di ketahui pula oleh raja Wurawari, karena sudah beberapa kali dia diajak gurunya nini Maruti untuk ikut dalam pertemuan orang –orang sriwijaya. Dan berkat pengaruh gurunya pulalah raja Wurawari bisa menjalin kerjasama perdagangan secara diam – diam dengan kerajaan Sriwijaya, bahkan secara langsung kerajaan Wurawari ditunjuk oleh kerajaan Sriwijaya sebagai telik serta perwakilan mereka di tanah Jawa.

“ aku punya pendapat tentang apa yang mesti anak angger lakukan untuk membalas sakit hatimu itu”

“bagaimana pendapatmu itu nini guru”

“anak angger harus menggunakan akal budi yang jernih untuk mengalahkan Kerajaan Medang” lanjut Nini Maruti

“ Anak angger tentunya tahu, bahwa kekalahan balatentara Sriwijaya atas pasukan Mpu sindok adalah karena gege rumangso, terburu – buru berbesar hati atas kemenangan di Marga Anung dan Jatirejo, yang ternyata adalah sebuah jebakan menuju Anjuk Ladang” ujar Nini Maruti sembari sibuk menyiapkan racikan kinang yang akan di masukkan ke dalam mulutnya

”Apa yang dilakukan Mpu sindok dengan membuat barisan pendem, pengadu – adu dan menanam para telik sandinya di markas balatentara Kerajaan Sriwijaya di Watek Jambi, benar – benar suatu hasil pemikiran yang gilang gemilang, sekarang apa salahnya bila apa yang dilakukan oleh Mpu Sindok pada Balatentara Sriwijaya itu, kita pakai pula untuk menghacurkan kerajaan Medang” tambahnya

Secercah sinar penuh harapan terpancar diwajah Raja Aji Wurawari mendengar apa yang di ucapkan oleh gurunya itu

“ Dan satu hal lagi yang kamu tidak boleh lupa anak angger, bahwa balatentara yang kau miliki sekarang, tidak akan mampu mengalahkan balatentara yang dimiliki kerajaan medang yang puluhan ribu jumlahnya. Oleh karena itu kau harus mengatur siasat pendem dan bekerjasama dengan orang – orang dari Swarnadwipa maupun Chola ” lanjut nini meruti yang kemudian meneruskan mengunyah kinang dimulutnya yang mulai kering karena terlalu banyak bicara

“ Terimakasih nini guru, aku akan mencoba melakukan apa yang telah kau utarakan tadi” berkata Raja Aji Wurawari pada gurunya, sementara sang guru kembali seperti semula bersikap tidak peduli dengan suasana yang ada

“ Paman Patih, kau dengar apa yang barusan nini Maruti utarakan?, aku berharap paman mampu menerjemahkan semua itu dengan sebaik –baiknya dan aturlah waktu sebaik – baiknya pula guna membalas rasa sakit ini” berkata Raja Aji wurawari pada patihnya

“ hamba mengerti paduka raja, akan segera hamba atur semuanya sebaik mungkin dan bila tidak ada lagi yang akan paduka sampaikan, hamba mohon diri, untuk segera melaksanakan titah paduka” jawab Patih Malengapati yang dijawab oleh rajanya dengan anggukan tanda merestui keinginannya untuk meninggalkan tempat itu.

episode hingga 35 episode, yang lainnya uploadnya sabar ya… bertahap. capek upload semua sekaligus.

mohon komentarnya dong…. buat kemajuan saya..

Komentar
  1. Yuda Yustisia mengatakan:

    Luar Biasa..
    Luar Biasa..
    Luar Biasa..

    salut buat penulis yang sudah bersusah payah merangkai kata hingga menjadi cerita, hmm, mungkin bisa dikatakan sebuah epik sejarah Kerajaan Medang Kamulan ini. Luar Biasa, Luar Biasa…:)

    saya mengikuti dari Episode 1 sampai 10 tanpa jeda.. benar-benar “addicted” alias membuat ketagihan..:D selain dasarnya saya adalah pecinta sejarah, terlebih sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara, khususnya yang ada di Pulau Jawadwipa ini, saya juga lulusan Universitas Airlangga.. ada kisah sejarah nama besar Airlangga yang berawal dari sini.. yang kini diabadikan menjadi nama kampus di Kota Surabaya…:)

    bagian 11 – 35 nya belum diupload ya?
    wah, berasa seperti ngikutin serial barat yang ada di TV-TV.. hehe..
    was-was dan deg-deg.an, hehe…
    tapi ga papa,
    tetap saya tunggu karya dan tulisan cerdas ini…:)

    walo sudah tau gimana akhir dari Mahapralaya Medang ini,
    tapi, detail cerita ini benar-benar membuatku ga akan begitu saja melewatkannya… :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s