Beberapa kutipan sejarah

Posted: 7 September 2010 in DATA SEJARAH

MENJADI RAJA MEDANG

Lanjutan dari “PERANG GEJAG DAN KEMENANGAN GEMILANG”

Tanggung jawab yang diberikan oleh Raja Wawa kepada mPu Sindok untuk mempertahankan diri dari serangan Sriwijaya disertai purbo waseso untuk mengambil inisiatip, memberi keleluasaan dan kebebasan yang sangat luar biasa untuk mengambil kebijaksanaan dalam memainkan strategi dan memanfaatkan segala potensi yang ada disekitarnya, tanpa harus terlebih dahulu meminta persetujuan Raja Wawa. Di Anjuk Ladang ( baca medang bumi Mataram ) mPu sindok telah mempergunakan strategi mobilisasi umum, dimana seluruh kekuatan rakyat dilibatkan dalam perang, membantu prajurit-prajurit Mataram melawan bala tentara Sriwijaya, cara seperti itu biasa disebut dengan istilah perang rakyat semesta. Walaupun pada awal perang banyak korban di pihak Mataram, namun pada akhirnya kemenangan berada di pihak Mataram.

Di Anjuk Ladang ( Medang bumi Mataram ), mPu Sindok telah betul-betul mempersiapkan strategi yang luar biasa di arena lapangan terbuka yang dikelilingi oleh pepohonan perdu hutan lebat sebagai tempat persembunyian kekuatan besar yaitu rakyat penduduk setempat, dan arena lapangan terbuka itu telah dipersiapkan menjadi “ ladang pembantaian” ( killing field ) bagi tentara Sriwijaya hingga hampir-hampir seluruhnya binasa, tidak ada yang tersisa. Killing field adalah rancangan strategi untuk mengakhiri perang dan mengakhiri dendam musuh bebuyutan dua keturunan antara keturunan Rakai Pikatan dengan keturunan Balaputradewa.

Perang gejag adalah perang yang digelar besar-besaran dan habis-habisan, merupakan peperangan antar kekuatan besar dan terlatih, tentara Sriwijaya melawan kekuatan kecil sisa-sisa prajurit Mataram dibantu oleh rakyat yang tidak berpengalaman dan berpengetahuan tentang perang, namun patuh dan disiplin struktur komando, merupakan strategi baru yang sebenarnya lahir dari kecemasan dan keputus asaan karena kekalahan yang terus menerus para prajurit-prajuritnya. Keputus asaan itu pula yang telah membuka jalan pikiran mPu Sindok untuk melibatkan rakyat dalam perang terbuka seperti itu. Kecemasan pula yang telah menimbulkan kesadaran bahwa mempertahankan kedaulatan bukan hanya kewajiban para prajurit, pejabat kerajaan serta para punggawa, tapi juga tidak terlalu salah apabila rakyat sebagai kawulo dilibatkan dalam mobilisasi umum perang rakyat semesta, perangnya seluruh warga kerajaan Mataram termasuk di Medang daerah perang. Strategi perang rakyat semesta dengan element combaten dan non combaten ternyata membawa hasil yang luar biasa, yang baru kali ini diraih oleh Mataram justru di tempat yang jauh dari pusat kerajaan sendiri di Jawa Tengah.

Kepiawaian Rakai Hino mPu Sindok dalam memainkan strategi luar biasa dengan perang rakyat dan killing field, telah betul-betul berhasil mempertahankan kedaulatan Mataram dari rongrongan Sriwijaya, dan dalam perang gejag itu pula mPu Sindok telah menunjukan jati dirinya sebagai panglima perang dan ahli siasat yang tidak tertandingi pada jamannya.

Puas atas jerih payah dan jasa mPu Sindok yang berhasil mengusir kekhawatiran serta telah membuat kebanggaan seluruh rakyat Mataram, sebagai ucapan terima kasih yang tidak terhingga, kemudian Raja Wawa menyerahkan kekuasaan Pemerintahan di Jawa Timur kepada Rakai I Hino mPu Sindok yang barang kali juga menantu Raja Wawa sendiri.

Pada tahun 929 M itu pula penyerahan kekuasaan dari Raja Wawa oleh mPu Sindok ditindak lanjuti dengan mendirikan kerajaan baru di Jawa Timur dan diberi nama Kerajaan Medang ( kedatuan rahyangta I medang bumi Mataram ), dan mengangkat dirinya sebagai raja Medang pertama dengan gelar Sri Isana Wikramadharmatunggadewa, yang sekaligus mendirikan dinasti baru yaitu dinasti/ wangsa Isana. Dengan telah memproklamirkan diri menjadi seorang Raja, maka dengan sendirinya mPu Sindok telah melepaskan jabatannya sebagai Rakai I Hino. Dengan tetap mempertimbangkan segi pertahanan dari rongrongan musuh terutama pembalasan dari kerajaan Sriwijaya, untuk sementara waktu ibu kota kerajaan didirikan di Wutan Mas, yang oleh sementara orang dilokalisir disuatu tempat dibagian Gunung Willis yang barangkali tempatnya tidak terlalu jauh dari hulu Bengawan Brantas yang ada bangunan bajulan-bajulan (bangunan beton semacam Dam, berfungsi menahan derasnya aliran air).

Letak ibu kota yang sedemikian itu memang jelas sangat menguntungkan dipandang dari sisi pertahanan, karena sangat sulit dijangkau oleh musuh yang melalui prasarana Bengawan Brantas, namun kondisi demikian tidak akan dapat memberikan harapan bagi perkembangan Kerajaan Medang di masa depan yang mesti harus berhubungan dengan dunia luar.

Pada perkembangan berikutnya disadari benar bahwa Wutan Mas dengan kondisi alamnya yang sulit dijangkau alat transportasi besar, tidak mengkin dapat tetap dipertahankan sebagai ibu kota sebuah Kerajaan yang sedang berkembang, dan kelak kemudian hari ibu kota tersebut benar-benar dipindahkan ke dataran rendah yang lebih hilir, yang tempatnya sangat menjanjikan bagi perkembangan kerajaan Medang , yaitu di Kota Kahuripan, tidak terlalu jauh dari Wutan Mas, tidak terlalu jauh dari Bengawan Brantas jalur transportasi utama. Dataran rendah yang sangat memungkinkan Kahuripan akan menjadi kota besar, kota perdagangan, agama, dan agraris serta kota kebudayaan. Kahuripan adalah harapan bagi perkembangan kerajaan Medang di masa depan, dan Brantas merupakan prasarana andalan untuk berhubungan dengan dunia luar.

( Drs. HARMADI ).

JAMBI DALAM PETA SEJARAH KUNO

Oleh : Drs. Harmadi

A. Sisa Peninggalan

Dilihat sepintas lalu bahwa Desa Jambi di Kesamatan Baron sama dengan desa-desa lainnya di Kabupaten Nganjuk, yaitu Desa agraris dengan lahan pertanian terbentang relatif luas, tak ada keistimewaan yang menonjol, namun apabila kita mau mengamati lebih teliti, ternyata ada perbedaan yang menunjukkan peran Jambi dimasa lampau berupa sisa-sisa peninggalan kuno. Sisa-sisa itu adalah :

1. Banyak batu bata ukuran besar, bahkan oleh penduduk sering diketemukan seperti rangkaian bekas pondasi rumah terutama disekitar selepan (Penggilingan padi) sekarang sampai kearah utara. Oleh penduduk bekas batu bata tersebut dimanfaatkan untuk membangun rumah maupun pagar tembok.

2. Di tengah sawah Desa, tersisa satu buah lumpang batu yang belum sempat tercuri, oleh penduduk dipercaya masih keramat.

3. Tanah persawahan yang lebih rendah dari sekitarnya dengan lebar lebih dari 50 meter membujur dari selatan ke utara bersambung ke desa-desa lain di sebelah dan utaranya oleh penduduk diyakini sebagai Bengawan Brantas pada berabad-abad yang lalu. Apabila ditelusuri akan bersambungan dengan tanah-tanah di Desa Kedungrejo, Kalimati, Warujayeng, Pengkol, Kedungombo, Bajulan, Gunung Klotok untuk arah selatan, dan Senjayan, Demangan, Ketawang, Megaluh untuk sambungan ke arah utara.

4. Menurut penuturan Camat Ali Supandi disebuah Desa dekat Jambi belum lama ini diketemukan 27 patung batu yang ditimbun di bawah lantai suatu bangunan tempat ibadah.

5. Di Bandar Alim (Desa Demangan) terdapat beberapa lempengan batu ukuran + 120 cm x 60 cm dan tebal + 20 cm, salah satu yang bertulis telah diangkut ke Musium Trowulan tahun 1990-an, yang menurut kabar burung berangka tahun 927 M.

6. Mitos yang masih melekat pada penduduk bahwa pernah terjadi perang besar di Bandar Alim dengan legenda “Bedahe Bandar Alam”. Konon kisah ini tertulis pada sebuah lempengan perunggu yang berangkai masih disimpan oleh salah satu penduduk setempat.

7. Sebuah makam kuno di Bandar Alim yang terletak ditengah-tengah bekas fondasi bangunan, dipercaya oleh penduduk menyimpan rahasia kekuatan magis, pada hari-hari tertentu dikunjungi oleh banyak orang justru kebanyakan berasal dari luar daerah, tujuan mereka adalah berziarah dan ngalap berkah.

Apabila semua peninggalan tersebut dirangkai dengan bukti dari sumber lain, kemudian direkonstruksikan, barangkali akan diketahui bagaimana peta dan peran Jambi dimasa lalu, khususnya abad ke X dan abad ke XIV.

B. Bengawan Brantas

Aliran Bengawan pada abad ke X tidak sama dengan aliran yang ada sekarang. Konon Brantas yang bermuara di Gunung Arjuno melingkar melewati Gunung Klotok mengalir ke Bajulan, Kedungombo, Pengkol, Warujayeng, Kalimati, Kedungrejo, Senjayan, Demangan/Bandar Alam, Ketawang, Megaluh (Jombang) dimana kali Widas bermuara.

Gunung Kelud sebagai gunung berapi terletak ditengah-tengah lingkaran sebelah utara Brantas di daerah Blitar, menyebabkan antara Bengawan Brantas dengan Gunung Kelud menjadi saling berhubungan kait mengkait kasual. Sedikitnya 8 buah sugai yaitu Kali Semut, Putih, Badak (Blitar) dan kali Gedog, Darmo-Sukorejo, Ngobo, Sarinjing (di Kediri) berhulu pada Gunung Kelud, yang kesemuanya merupakan saluran lahar mengalir ke bawah masuk Bengawan Brantas, menjadikan gunung itu sebagai salah satu penyebab dangkalnya Bengawan Brantas serta arah aliran berpindah-pindah.

Sebagai gambaran bagaimana dahsyatnya letusan, barangkali data dibawah ini dapat dipakai sebagai bahan renungan :

- Letusan tahun 1919, Kelud memuntahkan volume air 40 Juta M3, volume material 323 juta m3, tanaman rusak 13.120 Ha, dan korban manusia meninggal 5.110 jiwa.

- Letusan tanggal 31 Agustus 1951 memuntahkan volume air 1,8 juta m3, material 200 juta m3, dan tanaman rusak 7.000 Ha.

- Letusan tahun 1966 memuntahkan air 20,5 juta m3, material 90 juta m3, tanaman rusak 12.820 Ha dan korban manusia sebanyak 282 jiwa.

Berdasarkan data bahwa selama kurun waktu abad ke X sampai dengan abad ke XX tercatat sebanyak 17 kali letusan, dan setiap kali letusan selalu memuntahkan jutaan m3 material, sangat masuk akal apabila aliran Bengawan dapat berpindah-pindah tempat.

Pada abad ke X kondisi bengawan Brantas cukup dalam dan jernih, merupakan jalur lalu lintas utama yang menghubungkan antara satu tempat dengan tempat lain, satu daerah dengan daerah lain di Jawa Timur, dapat dilayari oleh kapal-kapal besar dan kecil, baik itu kapal niaga maupun kapal perang, menyebabkan lalu lintas cukup ramai. Ramainya lalu lintas menumbuhkan sentra-sentra perekonomian di sekitar tepian Bengawan (pasar) dan kota-kota kecilpun bermunculan (barangkali salah satunya adalah Karangsemi beserta pasarnya).

Untuk pengaturan tertib lalu lintas, didirikan bandar-bandar besar maupun kecil disesuaikan dengan kebutuhan, disertai dengan pengangkatan pejabatnya yang disebut ayah bandar, tidak terkecuali Bandar Alim di Demangan terletak di tepi barat Bengawan Brantas. Penulis belum dapat meyakini apakah nama Demangan bisa dikaitkan dengan Bandar Alam yang barangkali dapat diasumsikan bahwa pejabat Syah Bandar di Bandar Alim adalah seorang Demang atau berpangkat Demang.

Teror terus menerus yang dilaukan oleh Kerajaan Sriwijaya di Sumatera terhadap Mataram Hindu di Jawa Tengah membuat Raja Wawa penguasa Mataram berpikir keras menyelamatkan kedaulatannya. Agar lebih aman dari rongrongan musuh, pusat kerajaan tetap di Kedu Jawa Tengah, namun untuk sementara memindahkan konsentrasi kekuatan ke Lembah Gunung Wilis di Jawa Timur yang dipandang sangat strategis bagi pertahanan dan sulit dilacak oleh mata-mata Sriwijaya. Namun harapan Raja Wawa itu sirna, karena ternyata Markas persembunyian tentara Mataram-Hindu dibawah pimpinan Rakai Hino Pu Sindok tersebut dapat diketahui oleh Sriwijaya.

C. Bandar Alim dan Jambi

Nafsu Raja Sriwijaya untuk menghancurkan Kerajaan Mataram Hindu di Jawa tidak pernah lekang, kemanapun Kerajan dipindahkan, akan tetap diburu, terlebih lagi Mataram telah dianggap sebagai saingan terberat dalam perkembangan perdagangan interinsuler Jawadwipa-Swarna dwipa, bahkan almarhum Balaputradewa kakek Sang Raja yang dahulu sempat menjadi Raja Mataram pernah dikalahkan oleh Rakai Pikatan cucu Sanjaya sehingga melarikan diri ke Sriwijaya, hanya kebetulan saja bisa menjadi raja disana.

Pad sekitar tahun 927-929 M, Sriwijaya mengirimkan suatu armada besar dari Devisi Jambi ke Jawa Timur melalui perjalanan laut dengan route menyusuri pantai utara Jawa, memasuki Bengawan/kali Brantas. Sesampainya di Ujung Galuh (Megaluh-Jombang sekarang), perjalanan diteruskan ke kota pelabuhan berikutnya yaitu Bandar Alim yang tempatnya paling dekat dengan sasaran kaki Gunung Wilis.

Mendekati Bandar Alim, terlihat rona jingga ditawang (langit) ufuk barat, menandakan hari telah senja, berarti sebentar lagi malam akan segera tiba, para prajurit juga sudah terlalu lelah, perlu cukup istirahat di kota pelabuhan itu. Hulubalang segera memerintahkan para nahkoda membongkar sauh diseberang Bandar (tepian sebelah timur) berlawanan dengan sisi Bandar Alim yang berada di tepian sebelah barat sesuai pertimbangan segi keamanan yaitu terhindar dari serangan musuh, atau apabila ada gerakan musuh melalui sungai dengan mudah dapat diketahui se awal mungkin.

Tidak perlu memakan waktu lama tenda-tenda kokoh kuat sudah berdiri, karena para awak telah terbiasa dengan pekerjaan yang digeluti setiap harinya toh sudah ada pembagian tugas untuk itu. Mereka telah tahu tenda mana yang untuk Hulubalang, mana yang untuk Nahkoda, mana yang untuk para prajurit dan juru masak serta para pegawai lainnya, ada perbedaan masing-masingnya.

Tenda-tenda yang kokoh tersebut sekaligus dipergunakan sebagai markas. Berbagai kegiatan dilakukan di tempat itu antara lain :

- Tempat istirahat

- Pos pengintaian dan pertahanan

- Evaluasi, musyawarah dan mengatur siasat dan provokasi

- Dapur umum dll

Persediaan logistik yang dibawa dari Swarna dwipa tidak memungkinkan cukup untuk sekian banyak tentara dalam waktu sekian lama, mau tidak mau mesti membeli atau barter dengan penduduk setempat, interaksi simbiose mutualisme di sekitar markas membuat pertumbuhan perekonomian setempat akhirnya lebih bergairah.

Kehadiran pasukan Jambi dalam jumlah banyak menyulap daerah sekitar menjadi mendadak ramai, sungai dan kedung yang biasanya lengang menjadi ramai (rejo), semua kegiatan yang memerlukan air seperti mandi dan buang hajat semuanya tertumpah menjadi satu di Bengawan Brantas tersebut.

Meskipun sebagian besar prajurit telah dikirim ke medan laga berperang melawan prajurit mpu sindok ke kaki Gunung Wilis (sekitar Berbek) melalui jalan darat, namun kegiatan di markas mereka tetap ramai, karena dukungan logistik bagi prajurit yang sedang berperang tak boleh terlambat, sampai pada akhirnya ada kabar kekalahan dan para prajurit mereka tak pernah kembali, gugur dibantai oleh tentara Mpu Sendok yang dibantu oleh penduduk Anjuk Ladang.

Mendengar kekalahan itu, para prajurit dan punggawa yang masih tersisa di Markas segera melarikan diri bersama kapal-kapal mereka kembali ke Sumatera, namun lokasi berdirinya Markas tersebut lebih dikenal dengan nama Jambi, yaitu tempat dimana tentara dan lasykar Sriwijaya Devisi Jambi pernah bermarkas disitu. Sedangkan tempat-tempat yang telah disebut didepan akhirnya menjadi nama Desa Ketawang, Desa Senjayan dan Desa Kedungrejo.

D.Jambi di zaman Mojopahit

Sepeninggal sisa-sisa tentara Sriwijaya kembali ke negaranya di Sumatera, Jambi tidak pernah lagi disebut-sebut dalam percaturan sejarah, namun bak seorang bayi, Jambi semakin lama semakin tumbuh dewasa setelah mengalami perkembangan yang sekian lama, hingga pada abad ke XIV nama Jambi muncul kembali dalam keadaan yang benar-benar sudah dewasa, yaitu sebagai salah satu Dharma Upati (pusat agama Hindu dan Budha).

Gajahmada sebagai seorang pembesar Kerajaan Mojopahit berpribadi lengkap, berjiwa militer sekaligus negarawan yang sulit tertandingi. Saat menjadi Patih Mangkubumi/Mahapatih, telah menyusun kitab Kutaramanawa yang berisi struktur tata pemerintahan Mojopahit yang dilengkapi pembagian tugas dan wewenang, dengan tujuan agar wilayah Mojopahit yang sedemikian luas tetap dapat terkontrol dengan baik.

Dalam kitab tersebut diuraikan bahwa pada prinsipnya struktur pemerintahan di daerah hampir sama dengan struktur pemerintahan pusat, yaitu sebagai berikut :

1. Dalam menjalankan pemerintahan, Raja dibantu oleh Bhatara Sapta Prabu atau Dewan Permusyawaratan yang beranggotakan 7 orang keluarga Raja

2. Raja dibantu oleh Paduka Bhatara, beranggotakan Raja-Raja daerah yang masih kerabat dekat Raja

3. Paduka Bhatara dibantu oleh 3 orang Rakai (Maha Menteri) yaitu Rakai i Hino, Rakai i Sirikan

4. Paduka Bhatara dibantu oleh 5 orang Raryan yang bertugas sebagai Badan Pelaksana Pemerintahan

5. Disamping Rakryan, Paduka Bhatara dibantu oleh Dharmadyaksa, yaitu :

a. Dharmadyaksa ring Kasaiwan, yang mengurusi agama Hindu (Siwa)

b. Dharmadyaksa ring Kasogatan, yang mengurusi tentang agama Budha

6. Dharmadyaksa dibantu oleh Dharma Upapati dengan 7 orang penegak (pejabat) berkedudukan di 7 wilayah, yaitu :

- I Tirwan

- I Kondumuhi

- I Manghuri

- I Pamwatan

- I Jambi

- I Kandangan Rare

- I Kandangan Atuha

Dari kedua tempat terbawah, sekarang menjadi wilayah administrasi Kandangan, Pare dan Ngantang. Namun nama Jambi tidak mengalami perubahan penyebutan sampai sekarang. Meskipun Jambi sekarang hanya menjadi nama sebuah desa kecil di Kecamatan Baron, namun pada masa kejayaan Mojopahit Jambi adalah sebuah kota di pusat pemerintahan yang cukup berarti bagi Kerajaan besar itu.

Ditempatkannya salah satu Dharma Upapati di Jambi kiranya dapat diasumsikan bahwa :

1. Jambi termasuk dalam wilayah pusat pemerintahan Mojopahit

2. Jambi adalah batas paling barat pusat pemerintahan dengan garis batas Bengawan, sedangkan di sebelah barat Bengawan sudah masuk dalam wilayah Kerajaan vasal yaitu Wengker dan atau Kahuripan

3. Batas selatan wilayah Jambi adalah wilayah Pare

4. Jambi adalah salah satu kota besar, sebagai pusat agama, perdagangan dan kebudayaan.

RUNTUHNYA PERTAHANAN MARGA ANUNG

Lanjutan dari “Jambi dalam Peta Sejarah Kuno”

Sebagaimana telah kami tulis dalam cerita rakyat yang berjudul “Jambi dalam peta sejarah kuno” yang juga merupakan awal tulisan kami dalam mengungkap Babat Anjuk Ladang, telah kami uraikan bahwa bala tentara Sriwijaya yang akan menghancurkan konsentrasi kekuatan tentara Mataram Hindu Alim atau yang sekarang lebih dikenal dengan Desa Jambi Kecamatan Baron, sedangkan perjalanan selanjutnya menuju kaki Gunung Wilis dilanjutkan melalui perjalanan darat.

Interaksi terbuka dalam tukar menukar kebutuhan antara bala tentara Sriwijaya dengan penduduk setempat dimanfaatkan benar-benar oleh Mpu Sindok dengan jalan memasukkan telik sandi dari pasukan pendem yang dibaurkan di antara para penduduk dengan tanpa disadari oleh pihak bala tentara Sriwijaya, sehingga apapun yang terjadi didalam lingkungan markas Sriwijaya seperti tentara, jumlah kekuatan dan dukungan logistik, siapa saja nama Panglima pernagnya, siapa komandan peleton, berapa jumlah pasukan berkuda (kavalri) berapa infantri, berapa jumlah pasukan panah serta segala perkembangan gerak geriknya dapat diketahui oleh Mpu Sindok termasuk kapan dan bagaimana rencana penyerangannya, route mana yang akan dilalui oleh pasukan penyerang serta siapa saja menjadi telik sandi dan lain-lain, sehingga Mpu Sindok dapat mensimulasikan terlebih dahulu dengan para pimpinan pasukannya, untuk mendapatkan gambaran tentang bagaimana mengatur strategi pertahanan dan perlawanan.

Dari simulasi itu akhirnya diambil keputusan bahwa pusat konsentrasi kekuatan harus dipertahankan dari serangan musuh, karena isteri dan anak-anak ada di situ sehingga jangan sampai musuh dapat mendekat, untuk itu sepanjang perjalanan musuh, harus dilakukan penyerangan-penyerangan sporadis untuk menghancurkan dan memporak porandakan kekuatan musuh.

Dari informasi yang diberikan oleh para telik sandi diketahui bahwa route yang akan dilalui musuh menuju kaki Gunung Wilis antara lain melalui Marga Anung dan Jatirejo (Loceret), oleh karena itu di kedua tempat tersebut perlu didirikan tenda-tenda darurat untuk markas dan sekaligus benteng pertahanan dengan perhitungan bahwa apabila musuh dapat lolos dari markas pertahanan lapis pertama, akan dapat dipukul pada lapis pertahanan kedua, dan apabila masih juga lolos akan dipergunakan siasat terakhir yaitu di lokasi lapangan terbuka di Anjuk Ladang. Walaupun kesemua strategi penuh resiko dan tidak wajar dipergunakan dalam peperangan, namun harus dilakukan karena tidak ada pilihan lain selain alternatif itu.

Sang Pamegat (Samgat) Marga Anung sebagai pejabat yang dipandang cukup cakap, ulet dan pemberani dalam ulah keprajuritan serta ahli strategi ditunjuk untuk menjadi pimpinan markas pertahanan darurat di Marga Anung, diperkuat para parajurit pinilih dengan disertai dukungan logistik secukupnya, yang segera membuat format pertahanan triangle (pertahanan seghitiga) Mantup – Pagaran – Jarakan (peta sekarang) yang satu sama lain akan saling berhubungan informasi melalui kurir dan kode bunyi kentongan beranting apabila terjadi sesuatu.

Pos di Mantup tugas pokoknya melakukan pengintaian terhadap kehadiran musuh sejak tanda-tanda kehadiran itu ada, yang biasanya ditandai dengan debu berhamburan, suara ringkik kuda ataupun umbul-umbul yang kelihatan dari kejauhan, dan segera melaporkan ke pos di dekatnya secara beranting sampai ke tempat pos pertahanan di Pagaran maupun Jarakan dan Marga Anung/Marganung, agar masing-masing pos dapat segera melakukan persiapan sesuai dengan yang direncanakan. Sedangkan pos Pagaran dan Jarakan tugas pokoknya memancing emosi musuh dengan melakukan agar-agaran, dan njarak (menggoda) mengejek dan menyerang, kemudian lari.

Dari kejauhan, kadang kelihatan dan kadang tidak, nampak muntap-muntup umbul-umbul musuh di sela-sela pepohonan berjalan ke arah barat, menandakan bahwa musuh jelas-jelas sudah akan segera tiba. Informasi itu langsung disampaikan kepada lurah prajurit di markas Marga Anung melalui kode dan kurir beranting yang mana induk pasukan segera mempersiapkan diri mempertaruhkan nyawa.

Dengan perasaan tegang melihat musuh yang semakin lama semakin mendekat dengan jumlah yang begitu banyak diluar perkiraan, membuat nyali semakin menciut, was-was, cemas dan pasrah, namun tugas adalah tugas, apapun yang terjadi harus tetap dilaksanakan, tidak mungkin mundur di saat situasi sudah sangat mencekam seperti itu, dan begitu musuh sudah betul-betul didekatnya, hanya wani-wani angas, antara berani dan tidak, hingga yang terjadi hanya agag-agagan, agar-agaran, njarak, mengejek, maju mundur kembali bersembunyi, maju lagi dan lari lagi. Namun hal demikian tidak mungkin akan bertahan begitu terus, selanjutnya yang terjadi adalah peperangan yang sesungguhnya, perang tanding yang cukup seru, saling mendesak, saling menyerang, menusuk, membacok adu kekuatan, adu kelicikan, adu keberanian dan kesaktian antara kedua pihak, hilang kamus kasihan, hilang kamus kemanusiaan dan persaudaraan, kamus satu-satunya yang ada hanyalah membunuh atau dibunuh.

Terjangan tentara Sriwijaya yang begitu dahsyat membuat para prajurit Mataram di pertahanan lini pertama tidak berkutik lagi, meregang nyawa, gugur sebagai kusuma bangsa, terbantai oleh tentara Sriwijaya devisi Jambi. Sedang pihak bala tentara Sriwijaya-pun juga kehilangan beberapa parajurit gugur, dan beberapa yang luka-luka segera dilarikan ke Markas mereka di Jambi (Baron) dan yang lainnya meneruskan perjalanannya menuju titik samaran berikutnya sambil menebar kematian di sepanjang perjalanannya.

Kemenangan itu telah membuat kebanggaan tersendiri bagi bala tentara Sriwijaya dan semua punggawa yang bertugas mempersiapkan segala kebutuhan baik konsumsi dan dukungan logistik selama peperangan di medan perang maupun mereka yang bertugas di markas mereka di Jambi. Jerih payah yang menumpuk selama perjalanan dari Sumatera ke Jawa telah seimbang terobati dengan kemenangan yang diperolehnya. Kemenangan di pos prajurit Mataram paling berat itu mampu menambah semangat mereka semua untuk maju ke pos-pos yang telah dikalahkannya. Dengan telah tumbangnya pertahanan pertama Mataram, berarti telah terbuka pintu perjalanan menuju markas pertahanan Mpu Sindok selanjutnya.

Bagi Mpu Sindok bahwa kekalahan prajurit-prajuritnya yang telah gugur mempertahankan markas lini pertama, merupakan kerugian cukup berarti, karena Mataram Hindu telah kehilangan beberapa pimpinan andalan kepercayaan dan prajurit pinilih dengan jumlah yang lumayan banyak, padahal pos pertahanan lainnya jelas tidak sekuat pos yang telah kalah, sehingga Mpu Sindok telah dapat membayangkan bagaimana yang akan terjadi nanti terhadap serangan musuh yang begitu dahsyatnya. Hancurnya markas Mataram Hindu di pos pertahanan pertama, berarti telah hancur pula pintu gerbang yang diperkokoh pertahanannya dengan menempatkan orang-orang pilihannya, dengan demikian telah terkuak lebar-lebar jalan bagi musuh mendekati pusat konsentrasi kekuatan prajurit-prajuritnya, melapangkan jalan menuju kaki Gunung Wilis.

Tempat terjadinya peristiwa muntap-muntup, jarak jinarak, agar-agaran, saling mengejek saling mengancam serta Marga Anung itu di kemudian hari melahirkan nama-nama suatu tempat yaitu Mantup dan Jarakan di Kelurahan Kramat, Pagaran dan Ganung di Kelurahan Ganung Kidul, yang kesemuanya berada di Kecamatan Nganjuk.

Marganung, gabungan dari dua kata, yaitu Marga (bhs Kawi/Jawa Kuno) yang artinya jalan dan Anung atau mung berarti yang. Dihubungkan dengan peristiwa di atas Marganung berarti jalan yang terkoyak oleh tentara Sriwijaya sehingga mereka dapat melanjutkan niatnya untuk menghancurkan Kerajaan Mataram Hindu ke kaki Gunung Wilis. Atau dengan kalimat lain bahwa dengan hancurnya pertahanan di lini pertama, berarti merupakan jalan yang dilewati musuh menuju kehancurannya di medan perang Anjuk Ladang.

Dengan demikian kiranya dapat diasumsikan peristiwa yang melatar belakangi lahirnya nama Marganung sehingga menjadi watek atau desa sebagaimana banyak disebut dalam prasasti Hering dari Kujon Manis yang dikeluarkan oleh Raja Sindok pada tahun Caka 859 atau tepatnya hari Kamis Wage tanggal 22 Mei tahun 934 Masehi, yang antara lain bahwa Hering watek Marganung atau Keringan adalah bagian dari Desa Ganung. Bahkan prasasti itu juga menyebutkan Samgat (Sang Pamegat) watek Marganung adalah Pu Danghil, yang artinya bahwa Pejabat Kepala Desa Ganung pada saat prasasti itu dibuat adalah Mpu Danghil, dan Keringan adalah termasuk bagian dari Desa Ganung.

Apakah watek Marganung pada saat pemerintahan Raja Sindok termasuk salah satu watek simma swatantra (desa otonom yang dibebaskan dari pajak) atau hanya watek simma, kiranya perlu mendapatkan perhatian penelitian yang lebih serius oleh para ahli sejarah.

Pada perkembangan selanjutnya watek marganung berubah menjadi Desa Ganung Kidul, kemudian berubah lagi menjadi Kelurahan Ganung Kidul sampai sekarang. Menurut penuturan dari orang-orang tua, bahwa dahulu kala di Ganung Kidul pernah tertanam sebuah batu berbentuk bulat panjang menyerupai tugu dengan tinggi lebih dari 1 meter.

Pada waktu penulis masih kecil, lokasi tringis (segitiga) perbatasan sawah. Pagaran – Jarakan – Ganung Kidul, masih angker, indikator-indikatornya adalah :

1. Sepengetahuan penulis, pernah ada penggarap sawah di situ yang mati mendadak di sawah tanpa sebab didahului sakit.

2. Di sawah itu konon pernah diketemukan pusaka (keris) yang dimungkinkan sisa-sisa peperangan Mpu Sindok, karena keris itu membawa suasana menjadi panas (sering bertengkar) maka kemudian dibuang kembali.

3. Lokasi itu dahulu dikenal banyak ular-ular besar, sehingga banyak yang tidak berani melewatinya pada jam-jam tertentu.

4. Perangkat sesaji untuk wiwit panen padi di sawah pun berbeda dengan sawah-sawah lain di sekitarnya, karena harus dilengkapi dengan semacam miniatur plorotin Jambi yang terbuat dari bambu lengkap dengan Cok Bakal dan ingkung ( ayam panggang ). Apabila persyaratan itu tidak lengkap, malam hari sebelum upacara dimulai, si punya sawah mesti bermimpi ada yang menagih. Sekarang perangkat sesaji seperti itu sudah tidak ketat lagi, sudah sama dengan yang lain.

Kembali pada prasasti Hering yang diketemukan di Kujonmanis, bahwa prasasti itu dikeluarkan oleh Raja Sindok pada tahun Caka 859, atau pada penanggalan sekarang tepatnya hari Kamis Wage tanggal 22 Mei tahun 934 Masehi, meskipun isinya tentang jual beli tanah, namun banyak menyebut tentang tempat-tempat tertentu seperti : hering, marganung, samangkana, hujung ngakaluh, dan nama-nama sang pamegat (samgat) seperti : samgat watek simma Marganung Pu Danghil, i qrimaja rake humbulu Pu Brapa Baruk, dan hering watek marganung.

Dari pernyataan tertulis itu kiranya dapat diasumsikan :

1.Melihat lokasi yang disebut-sebut yaitu hering (keringan), semangkana (sumengko) dan marganung, kemungkinan besar bahwa marganung adalah Kelurahan Ganung Kidul sekarang.

2.Keringan yang sekarang masuk Kelurahan Mangundikaran, dahulunya adalah bagian dari marganung.

3.Samgat/sang pamegat/pejabat/Kepala Desa Ganung Kidul pada saat prasati itu dibuat (th 934 M) bernama Mpu Danghil.

4.Pejabat pembesar di Humbulu (Bulu putren ) atau anak pembesar yang berkedudukan di Bulu Putren bernama Mpu Brapa Baruk ( i Grimija rake humbulu pu brapa baruk)

5.Kalau penanggalan pembuatan sebuah prasasti yang dipakai sebagai dasar penentuan bagi lahirnya suatu tempat, barangkali Ganung (Ganung Kidul), Keringan, Sumengko dan Bulu (Buluputren) mempunyai hari kelahiran yang sama, yaitu Hari Kamis Wage tanggal 22 Mei tahun 934 Masehi pada abad ke X, yang umurnya lebih tua 3 tahun daripada Nganjuk, yang hari kelahirannya pada tanggal 10 April tahun 937 Masehi sebagaimana yang tertulis pada Prasasti Anjuk Ladang dari Candi Lor.

Demikian, semoga ada respon positif, agar generasi muda tetep bisa mengenal apa, siapa dan bagaimana nenek moyangnya sendiri dimasa lalu.

( Drs. Harmadi )

PERTAHANAN YANG RAWAN

Lanjutan dari “Runtuhnya pertahanan Marga Anung”

Keberhasilan memukul markas pertahanan marganung yang membuat kocar kacir prajurit mPu Sindok, memantapkan arus penyerangan tentara Sriwijaya seperti air bah, menggulung ke arah selatan melewati pos-pos kecil sambil tetap menebarkan maut, sesampainya di Jatirejo Loceret, serbuan diarahkan ke arah barat menuju markas pertahanan daerah konsentrasi kekuatan mPu Sindok di Kaki Gunung Wilis.

Wilayah markas pertahanan itu dikatakan rawan, karena merupakan benteng terakhir diluar pusat konsentrasi kekuatan utama, dan merupakan markas yang menjadi teka-teki sangat menentukan akan berakhirnya peperangan atau justru akan membuka perang gejag ( perang besar ) yang lebih dahsyat antara tentara Mataram dari Java dwipa ( Jawa) dengan tentara Sriwijaya dari Swarna dwipa (Sumatra). Kekalahan demi kekalahan yang diderita oleh para prajurit Mataram sempat membuat kecil hati seperti telah diamanatkan oleh Raja Wawa.

Kekalahan-kekalahan itu mengingatkan kembali hilangnya kedaulatan Mataram di bawah penindasan wangsa sailendra pada awal abad ke IX saat Mataram di bawah kekuasaan wangsa Sailendra. Selama itu pula wangsa Sanjaya ditekan, diharuskan menyediakan tenaga kerja paksa dikirim ke Pamban dan perbukitan Minoreh untuk membuat Candi dan Biara Budha ( Baca Borobudur ) bagi agama budha yang jelas-jelas bukan agama dari raja-raja wangsa Sanjaya yang beragama hindu. Pemaksaan itu pula yang menyebabkan banyak para pembesar Mataram lari menyelamatkan diri bersembunyi di Jawa Timur, lari dari pemaksaan, penindasan, penderitan dan ketidakcocokan dengan kebijaksanaan yang dibuat oleh musuh. Larinya beberapa bekas pembesar Mataram beserta para pengikutnya, mengakibatkan sisa-sisa penindasan yang mestinya diterima bekas pembesar itu harus ditanggung oleh mereka yang masih tinggal di Mataram, yang sudah barang tentu akan menambah beban penderitaan saudara-saudara mereka di Mataram semakin menumpuk, yang setiap hari harus bergelut dengan kemiskinan dan kenistaan justru di tanah airnya sendiri. Belum lagi mereka yang tertinggal itu mesti setiap hari masih terkurangi oleh kematian akibat penyakit, kelelahan dan kecelakaan kerja maupun kelaparan karena terbatasnya konsumsi selama bekerja paksa untuk kepentingan musuh. Sementara itu tak kalah pedihnya nasib para gadis dan wanita muda yang harus mau menjadi pemuas nafsu mereka yang sedang berada di atas angin kemenangan.

Bertahun-tahun para bangsawan Mataram harus menunduk saat berpapasan dengan prajurit Sailendra sampai sekecil-kecil apapun pangkat dan kekudukannya, serasa teriris sembilu ceritera itu dikenangnya, mengapa musuh harus dihormati berlebihan seperti itu ?. Mencari selamat, hanya itu barangkali motivasi yang tersisa di benak rakyat dan bangsawan Mataram yang telah tidak berdaya, mereka harus mendiamkan arogansi yang dilihatnya, mereka seakan tidak tahu kesombongan dan perkosaan yang dilakukan oleh tentara musuh yang sedang berkuasa terhadap saudara-saudara mereka warga Mataram yang sedang direndahkan derajatnya akibat kalah perang, tidak ada lagi sisa-sisa kekuatan untuk melawan kezalimansi angkara murka di saat yang tidak tepat apabila telah banyak kekuatan yang dulu dibanggakan oleh Mataram justru lari ke Jawa Timur, ataupun mati akibat kerja paksa.

Akumulasi penderitaan dan kehinaan tersebut ternyata melahirkan semangat yang menggelora di dalam hati Rakai Pikatan Raja Vasal Mataram untuk menyatukan sisa-sisa kekuatan yang masih ada, mengentaskan penderitaan rakyatnya dari penindasan berkepanjangan wangsa Sailendra, yang pada pertengahan abad ke IX (+ tahun 857 M ) melakukan pemberontakan dan penyerangan tiba-tiba kepada wangsa Sailendra yang saat itu diperintahkan oleh Raja Balaputradewa.

Pemberontakan itu membawa kemenangan bagi Rakai Pikatan merebut kedaulatannya kembali.

Akibat kekalahan telak tersebut, Balaputradewa melarikan diri ke Sumatra, secara kebetulan kakek Balaputradewa tidak mempunyai putra mahkota, kemudian Balaputradewa diangkat sebagai raja di kerajaan Sriwijaya. Merasa dirinya telah kuat karena telah menjadi raja, Balaputradewa kembali melakukan teror yang tidak pernah berhenti kepada Mataram hingga diteruskan oleh generasi-generasi penerusnya.

Meskipun Raja-raja Mataram sepeninggal Rakai Pikatan telah digantikan oleh Raja-raja seperti Balitung, Daksa, Tulodong dan Raja Wawa, namun dendam keturunan Balaputradewa tidak pernah reda, teror demi teror terus dilakukan, membuat risih hati Raja Wawa yang kemudian mengutus mPu Sindok untuk mencari lokasi baru yang cocok di Jawa Timur, menghindari teror Sriwijaya dan sekaligus tempat yang aman pemindahan Kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, yang untuk sementara dipilih lembah Gunung Wilis yang kondisinya sangat mirip dengan pusat Kerajaan Mataram di Jawa Tengah yaitu Pegunungan Kedu, namun ternyata sangat berat mempertahankan kedaulatan kerajaan, karena dimanapun konsentrasi kekuatan Mataram, selalu diketahui oleh Sriwijaya.

Apapun yang terjadi, kedaulatan yang telah direbut kembali oleh Rakai Pikatan harus tetap dipertahankan. Kekalahan di Marga Anung dan kemudian kekalahan di Jatirejo ( peta sekarang ) harus dianggap sebagai rabuk ( pupuk ) sekaligus pembakar semangat mempertahankan konsentrasi kekuatan baladok, tentara Sriwijaya harus dapat dikalahkan dengan cara dan siasat apapun agar pengalaman pahit Mataram tidak akan terulang kembali.

Dengan telah direbutnya pos-pos pertahanan Mataram oleh bala tentara Sriwijaya, berarti tinggal satu markas pertahanan yang masih tersisa yang tempatnya berada di sebelah barat Jatirejo ( Loceret ) yang tempatnya berbatasan dengan garis sebelum memasuki areal pusat konsentrasi kekuatan prajurit-prajuritnya di kaki Gunung Wilis, dan markas pertahanan yang paling rawan atau yang sangat mengkhawatirkan kekuatannya bagi mPu Sindok. Namun apabila pos itu tidak dapat dipertahankan, mPu Sindok telah mempersiapkan strategi lain yaitu mobilisasi umum. (Drs. Harmad

PERANG GEJAG DAN KEMENANGAN GEMILANG

Lanjutan dari “ PERTAHANAN YANG RAWAN”

Ternyata amukan tentara Sriwijaya yang menerjang seperti Benteng Ketaton, membuat pertahanan rawan ( Ngrawan ) diperbatasan garis pertahanan menjadi kalang kabut dan para prajurit lari terbirit-birit ke arah barat dan segera dikejar oleh tentara Sriwijaya yang segera pula diikuti oleh seluruh tentara yang lain. Lari mereka mengejar dipercepat ( disengkutne, Jawa ) agar tentara Mataram yang lari terbirit-birit ke arah barat tersebut dapat tertangkap dan dibunuh.

Sebenarnya lepas dari pos pertahanan perbatasan yang rawan, semua alur dan gerak prajurit Mataram sudah masuk dalam area skenario strategi perang yang dirancang oleh mPu Sindok, termasuk prajurit Mataram yang melarikan diri dari pos rawan, sebenarnya bergabung dengan induk pasukan yang seluruhnya dikendalikan oleh markas utama.

Memasuki garis wilayah konsentrasi kekuatan, mPu Sindok telah mengatur strategi sedemikian rupa dengan melibatkan seluruh penduduk setempat ( non combaten ) untuk memperkuat tentaranya yang sudah tidak lengkap lagi. Mereka dibagi dalam kelompok-kelompok besar dan kecil yang masing-masing dipimpin oleh lurah prajurit yang akan memberikan aba-aba tertentu bila saatnya tiba. Tiap kelompok harus menempati posnya masing-masing yang terlindung dan tersembunyi. Mereka dilarang melakukan gerakan apapun sebelum ada aba-aba dari lurah prajurit. Begitu pula lurah prajurit tertentu tidak akan memberikan aba-aba sebelum ada kode bunyi kenthongan dengan varian irama, setiap irama ditujukan kepada kelompok yang berbeda-beda.

Semua yang terlibat dalam perang gejag harus mematuhi aturan, tidak peduli prajurit yang sudah berpengalaman dalam perang maupun penduduk yang sama sekali belum pernah dibekali oleh gladi ulah keprajuritan, semuanya harus patuh, semuanya yang sudah direncanakan harus dilaksanakan sebagaimana adanya, tidak boleh ada yang meleset, sebab meleset sedikit saja akan berakibat fatal, berarti akan gagal pula semua yang telah dirancang dalam strategi.

Pengerahan penduduk lugu yang buta akan stratetgi dan pengalaman perang, adalah taruhan terakhir mPu Sindok, dan pada penduduk lugu inilah mPu Sindok meletakkan harapan besarnya untuk mempertahankan kedaulatan Mataram. Harapan yang sebenarnya masih merupakan teka-teki besar tentang keberhasilannya.

Di sebelah barat, induk pasukan mPu Sindok telah menunggu kedatangan musuh yang telah diumpan dengan prajurit dari pos Ngrawan, wajah-wajah mereka memancarkan seribu satu perasaan, yaitu marah, cemas, takut, khawatir, pasrah, atau ada yang ingin segera mencoba kesaktian dan kedigdayaannya, kesemuanya membaur dalam ekspresi ketegangan yang betul-betul tegang, tiada kata, tiada tawa maupun canda, yang ada dalam pikiran mereka adalah mempertaruhkan nyawa, hidup atau mati, membunuh atau dibunuh. Semuanya hening, yang ada hanya suara ringkik kuda yang segera disaut oleh ringkik lain di sebelah timur.

Begitu kedua belah pihak sudah saling mendekat, dengan suatu komando yang membakar semangat, mPu Sindok memberi aba-aba pasukannya menyerang musuh, serentak aba-aba itu disambut pekik perjuangan prajurit-prajuritnya dengan senjata yang siap tempur . Dari sebelah timur tentara Sriwijaya pun berbuat hal yang sama, hingga udara dipenuhi oleh suara yang gemrebeg memekakan telinga, dan terjadilah perang besar ( perang gejag ), perang yang sengit, hebat, sama-sama kuat, sama-sama digdaya/sakti. Mereka saling menerjang, saling menendang, saling menusuk, saling menangkis, memukul, menikam.

Di dalam perhitungan tentara Melayu bahwa peperangan tidak akan berjalan lama karena jumlah tentara mereka jauh lebih banyak daripada tentara Mataram, dan pengalaman perang pun jauh lebih unggul daripada tentara Mataram, hingga mereka dapat mencibir manakala tentara Mataram agak terdesak ke arah utara. Terdesaknya tentara Mataram ke arah utara dengan mudah, menambah semangat Sriwijaya memainkan senjata. Mereka ingin segera mengakhiri perang dengan membawa kemenangan, padahal terdesaknya tentara Mataram ke arah utara tersebut sebenarnya adalah bagian dari skenario agar tentara Melayu memasuki medan laga di suatu lapangan terbuka, yaitu di Kalangan yang telah dipersiapkan segala-galanya oleh mPu Sindok untuk mengakhiri perang.

Tiba-tiba konsentrasi tentara Melayu terpecahkan oleh bunyi kenthongan yang bertalu-talu mungkung kumalungkung bersaut-sautan, dan bersamaan itu pula bahwa semangat tentara Mataram agak mengendur sehingga sempat membuat tanda tanya bagi tentara Sriwijaya, barangkali bunyi itu sebagai pertanda tentara Mataram untuk mundur dan kalah. Namun belum sempat tentara Sriwijaya mendapatkan jawaban, serentak dari berbagai arah bermunculan ribuan penduduk non combaten tanpa mengenakan seragam prajurit, seperti air bah memasuki arena menerjang tentara Sriwijaya dengan persenjataan yang ada yaitu sabit, linggis, pentungan, alu, garan cangkul dan lain-lain membuat tentara Sriwijaya kalang kabut, hingga tidak dapat leluasa memainkan persenjataannya, hingga pada akhirnya mereka banyak yang terbantai oleh penduduk yang membantu prajurit –prajurit Mataram, sedangkan yang selamat melarikan diri mencari hidup ke arah utara, menghindar dari arena perang yang telah menjadi amburadul sebagai ladang pembantaian kawan-kawan mereka dari melayu.

Namun yang melarikan diri ke arah utara tersebut untuk yang kedua kalinya dikejutkan oleh bunyi kenthongan lagi dan kembali bermunculan ratusan penduduk dari berbagai arah tanpa seragam prajurit, mengepung mereka yang sempat mencari selamat sebagai seekor binatang buruan yang tidak mungkin dapat lolos menyelamatkan diri hidup-hidup, yang tersisa adalah mayat-mayat bergelimpangan berseragam tentara Sriwijaya devisi Jambi, diiringi sorak sorai penduduk bersama-sama para prajurit Mataram yang meledakkan kegembiraan mereka atas kemenangan yang baru saja diperolehnya.

Dengan bantuan penduduk itu pula mPu Sindok memperoleh kemenangan yang gilang gemilang, kemenangan yang luar biasa yang selama ini belum pernah diperolehnya sepanjang peperangannya di Jawa Timur.

Catatan :

Tempat-tempat yang tersebut di atas kemudian menjadi nama-nama suatu tempat, yaitu : Desa Ngrawan, Sengkut, Berbek, Gejagan, Kalangan, Kepungan dan Mungkung.

MENELUSUR MISTERI MEDANG – KAHURIPAN

MENELUSUR TABIR MISTERI

MEDANG � KEHURIPAN

Oleh : Drs. Harmadi

Pengantar

Meskipun masyarakat Nganjuk dan sekitarnya yakin benar bahwa Sejarah berdirinya Kerajaan-kerajaan besar di Jawa Timur tidak dapat dilepaskan dari awal kemenangan mPu Sindok melawan bala tentara Melayu (Sriwijaya) di wilayah Nganjuk sekarang pada awal abad ke X, namun nama Kerajaan yang dirintis oleh pendiri dinasti Isana itu sendiri masih terdapat kesimpang siuran penyebutan, ada sementara yang mengatakan Medang, ada sebagian yang mengatakan Medang � Kamolan, ada yang Medang � Kehuripan, dan bahkan ada yang hanya menyebut Kehuripan saja.

Terlebih lagi dengan sangat minimnya bekas peninggalan dan tidak konsistennya pernyataan yang termuat dalam tiap prasasti peninggalan, lebih menyulitkan bagi peneliti sejarah untuk mengadakan kajian mendalam tentang situs yang diasumsikan sebagai lokasi yang bisa diyakini sebagai ibukota atau pusat pemerintahan kala itu.

Tulisan ini hanya sebagai sumbangsih penulis melengkapi tulisan-tulisan terdahulu, sebagai warga Nganjuk yang merasa ikut peduli terhadap sejarah tanah kelahiran.

Wassalam.

I.MASA MPU SINDOK

A.BABAT ANJUK LADANG

Sebagaimana telah saya tulis pada edisi-edisi terdahulu, bahwa romantika sejarah perjuangan mPu Sindok dalam mempertahankan pemerintahan dan kedaulatan Mataran Hindu di Jawa Timur dari rongrongan Sriwijaya, menguras banyak tenaga dan pikiran serta waktu yang cukup lama. Strategi demi strategi, kekuatan demi kekuatan telah dikerahkan semaksimal mungkin, namun kekalahan masih selalu berada dipihaknya, dan tentara Sriwijaya masih selalu diatas angin

Hal demikian jelas membuat kecil hati dan paniknya mPu Sindok menghadapi lawan yang memang tangguh dalam segala hal, yang memang jauh lebih unggul dalam mengatur strategi, persenjataan, pengalaman perang, maupun kuatnya dukungan logistik yang sangat memadai dan dipersiapkan untuk sebuah perang besar yang berkepanjangan (perang gejag).

Dalam situasi terdesak dan terjepit seperti itu, telah menimbulkan pemikiran untuk mobilisasi umum, yaitu mengerahkan penduduk setempat, untuk bersama-sama berjuang melawan musuh kerajaan Mataram yang juga musuh para kawulo bersama. Pemberian motivasi bahwa kalau kerajaan sampai terjajah musuh, maka nasib para kawulo juga akan menderita diperbudak oleh penjajah, rupanya sangat mengena dihati rakyat.

Dengan motivasi seperti itu, timbul kesadaran masyarakat setempat untuk mau berjuang bahu membahu bersama prajurit mPu Sindok melawan musuh bersama, walaupun mereka tidak pernah mengenal ilmu perang dan pengalaman berperang, dengan hanya bermodal persenjataan apa adanya, semuanya cancut tali wondo, holopis kontul baris, saiyek saeko proyo, dengan modal nekat, semuanya maju bersama melawan mush, menumpas habis bala tentara Sriwijaya di ladang pembantaian (killing field) di kalangan peperangan.

Perjuangan besar itu membuahkan hasil gemilang, yaitu kemenangan gilang gemilang. Kemenangan yang diperoleh berkat sebuah strategi mobilisasi umum, telah mengangkat mPu Sindok naik ke derajat yang lebih tinggi dari kedudukan semula Rakai Hino, menjadi pemegang Singgasana Kerajaan baru yaitu Medang pada tahun 929 Masehi, mengakhiri dominasi wangsa Sanjaya Kerajaan Mataram Hindu yang berpusat di Jawa Tengah, dan mendirikan dinasti baru Isana dengan pusat pemerintahan di Jawa Timur, dengan abiseka nama (gelar kemaharajaan) Sri Isanawikramadharmatunggadewa.

Sebagai wujud ucapan terima kasih atas bantuan penduduk memenangkan peperangan melawan tentara Melayu, dilokasi peperangan itu pada tahun 937 Masehi, didirikan sebuah tugu peringatan (prasasti) Jaya Stamba, dimaksudkan sebagai catatan yang tak akan terlupakan sepanjang sejarah, bahwa karena bantuan penduduk setempat, maka kedaulatan Mataram Hindu tetap jaya, tidak jadi terlepas ketangan musuh, dan karena kemenangan itu pula telah mengantarkan mPu Sindok menjadi seorang Maharaja di Medang.

Bersamaan dengan peresmian Jaya Stamba, dilokasi yang sama dilakukan juga peresmian Jaya Mrta dengan ujud sebuah Candi dari bahan batu bata merah, yang kemudian oleh masyarakat dinamakan dengan Candi Lor sampai sekarang.

Barangkali didirikan dan diresmikannya Candi Jaya Mrta, dimaksudkan bahwa kekuasaan telah hidup kembali, terlepas dari ancaman yang nyaris menamatkan riwayat, dan diharapkan ditempat yang baru, Kerajaan Medang akan hidup abadi, bahkan akan berkembang mencapai puncak kejayaannya (air amrta adalah air yang dapat mengekalkan kehidupan dalam kisan Samudramanthana).

Rangkaian kisah heroik yang diawali dari perlawanan terhadap kedatangan bala tentara Sriwijaya devisi Jambi di Pelabuhan Bandar Alim Tanjunganom, kemudian jebolnya pertahanan Marganung dan terjebaknya tentara Melayu oleh kepiawaian olah strategi yang dimainkan oleh mPu Sindok di ladang pembantaian, serta ide persatuan Nusantara yang tercetus di Bumi Anjuk Ladang, kiranya dapat dianggap bahwa babad Anjuk Ladang, merupakan awal dari berdirinya kerajaan-kerajaan besar yang berpusat di Jawa Timur seperti Kerajaan Medang sendiri, Kerajaan Kediri, Singosari maupun Mojopahit.

B.UPACARA PENETAPAN SIMA

Selain peresmian Jaya stamba dan Jaya Mrta, juga ditetapkan Anjuk Ladang sebagai Sima Swatantra.

Arti harafiah �Sima� menurut Supratikno Raharjo (2002) adalah �batas�, yaitu tiang batu yang dipasang sebagai tanda batas suatu daerah yang memiliki status �istimewa� yang diberikan oleh penguasa kepada wateg (desa) tertentu, dalam hal ini adalah pemberian status istimewa dari Maharaja mPu Sindok kepada Desa Anjuk Ladang berupa status Sima Swatantra.

Sebelum dilakukan upacara penetapan Sima, selalu didahului dengan pembukaan lahan sawah baru, dari yang semula lahan tegal, pekarangan maupun hutan.

Adapun upacara pemberian status istimewa ini didahului dengan suatu rangkaian susunan acara yang menurut Haryono (1980) adalah sebagai berikut :

1.Pemberian pasek-pasek atau hadiah kepada para pejabat.

2.Meletakkan saji-sajian untuk upacara

3.Makan dan minum bersama

4.Melakukan aktifitas ritual yang disebut makawitha dan makamwang

5.Duduk bersama di witana (bangsal yang dibangun khusus untuk keperluan itu), mengelilingi watu sima dan watu kelumpang, dengan posisi sebagai berikut :

-Sebelah Utara : Para pejabat wakil pemerintah pusat

-Sebelah Timur : Para ibu, sangsang, dan wakil dari tetangga sekitar

-Sebelah Selatan : Sang watuha patih (barangkali pejabat setingkat Camat sekarang) dan para kepala desa tetangga

-Sebelah Barat : Sang Makudur (pemimpin upacara) dan para pejabat keagamaan desa

-Posisi Tengah : Tempat watu kelumpang/watu Sima (batu pusaka)

6.Memotong leher ayam dengan landasan Watu Kelumpang dan membanting telor serta menaburkan abu yang dilakukan oleh Sang Makudur didampingi Pamget Wadihati.

7.Membakar dupa sambil mengucapkan kutukan terhadap yang melanggar ketentuan Sima dikemudian hari.

8.Menyembah kepada Sang Hyang Sima Watu Ketumpang

9.Membungkus sisa makanan dengan daun untuk dibawa pulang (dibrekat Jw)

10.Pertunjukan kesenian.

Bunyi kutukan adalah sebagai berikut : �Jika pergi ke hutan akan dimakan ular berbisa, jika pergi ke ladang akan disambar petir meskipun pada musim kemarau, jika pergi ke bendungan akan tenggelam disambar buaya�.

Sedangkan arti simbolis dari urutan acara ke 6, diharapkan bahwa si pelanggar akan menemui petaka seperti ayam yang telah dipisahkan antara badan dan kepalanya, akan hancur lebur seperti telor yang telah dipecahkan, dan seperti nasib kayu yang menjadi abu karena terbakar, atau bahkan si pelanggar akan mendapatkan lima kemalangan besar (pancamaha pataka) selama jangka waktu yang tidak terbatas (Haryono, 1980).

Kepala Sima sebagai wakil resmi Raja di Sima Swatantra Anjuk Ladang, mempunyai wewenang dan kewajiban sebagai berikut :

1.Mengatur jalannya pemerintahan di wilayah Sima Anjuk Ladang, terutama yang berkaitan dengan masalah pajak.

2.Kepala Sima bertanggung jawab atas keberhasilan penarikan segala macam jenis pajak, yaitu pajak bumi, perdagangan dan jenis-jenis usaha diwilayahnya, serta membagikan kepada pihak-pihak yang berhak menerima, seperti untuk bangunan-bangunan suci yang ada diwilayahnya.

3.Memelihara, menjaga kebersihan dan kesucian bangunan suci, serta mengadakan perbaikan dimana perlu.

4.Menyelenggarakan upacara ritual, pemujaan dan persembahan kepada bathara, sesuai dengan kesepakatan yang telah ditentukan.

5.Menetapkan besar kecilnya denda apabila terjadi pelanggaran diwilayahnya (sukhadhuka dan kalahayu).

6.Menjaga keamanan dan ketertiban didaerahnya.

7.Berhak untuk mengerahkan dan mengatur tenaga kerja bhakti untuk perbaikan saranan dan prasaranan umum.

C.SISTEM PEMERINTAHAN

Selain sebagai seorang panglima perang yang ahli dalam mengatur siasat perang, mPu Sindok juga menunjukkan bakatnya sebagai negarawan handal yang kreatif dan banyak akal, dan senantiasa berfikir demi kesempurnaan sistim Pemerintahan Kerajaan Medang yang dipimpinnya.

Meskipun dia sendiri bukan putra mahkota atau bahkan bukan keturunan Raja, namun pengalaman selama pengabdiannya di Kerajaan Mataram (Hindu), merupakan pengalaman berharga untuk melakukan pembenahan-pembenahan.

Dalam sebuah prasasti yang diketemukan didaerah Tengaran (Jombang), disebutkan bahwa mPu Sindok memerintah bersama istrinya, Rakryan Sri Parameswari Sri Wardhani Pu Kbi (Drs.Santoso, 1971), dan dalam prasasti Bakalan (934 M) menyebutkan berisi perintah Rakryan Mangibil (isteri mPu Sindok lainnya) untuk membangun 3 buah Dawuhan di Kalihunan, Wwatan Wulus dan Wwatan Tamya.

Sedangkan dalam prasasti lainnya yang ditulis pada jaman yang sama, tanpa menyebut nama istri atau isteri-isterinya. Dengan demikian kiranya dapat diasumsikan bahwa :

1.mPu Sindok memerintah Medang bersama-sama/didampingi oleh isteri/isteri-isterinya

2.Isteri/isteri-isterinya adalah keturunan Raja, sehingga sebetulnya berhak menjadi Raja, namun karena anggapan bahwa derajad laki-laki lebih tinggi daripada perempuan, kedudukan Raja diberikan kepada suami

3.Isterinya menduduki jabatan tertentu di pemeirntahan seperti Raja daerah, yang diberi kewenangan untuk mengeluarkan prasasti sendiri dengan sepengetahuan Raja.

Penyempurnaan struktur tata pemerintahan dari model Jawa Tengah ke Jawa Timur, sebagaimana dapat diamati dari beberapa prasasti berangka tahun yang dikeluarkannya, seperti :

1.Prasasti Turyyan (929 M) yang menurut penelitian de Cas paris, 1988 menyebutkan tentang pengelompokan para pejabat berdasarkan strata tingkatan jabatan dan kepangkatan, serta siapa-siapa yang disebut Rakai, Rakryan, Samget, mPu, Sang, Dyah, Si dan lain-lain.

Menurut de Casparis, bahwa jabatan Wakai Kanuruhan menduduki jabatan paling penting sesudah mahamantri (mahamantri Rakai Wka)

Para Rakai mempunyai pegawai sendiri-sendiri yang disebut parujar-ujar. Begitu pula Rakryan dan Samget juga mempunya parujar-ujar sendiri.

2.Mulai dikenal sebutan rakryan mapinghe kalih atau mahapatih yang 2 (dua) orang yaitu Rakai 1 Hino dan Rakai Wka. Barangkali dengan pembagian tugas yang kemudian dikenal dengan sebutan patih njero dan patih njobo.

3.Mulai ada jabatan kepala Protokol Kerajaan, yaitu Rakai Kanuruhan dengan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) yang lebih luas baik didalam karaton maupun di luar, seperti kewenangan menetapkan dan memungut pajak pada para pedagang asing (po hawang /nahkoda kapal asing)

4.Ada kelompok jabatan tanda rakryan ring pakira-kiran, yaitu kelompok jabatan khusus yang menerima langsung pemerintah Raja tanpa melalui perantara, kurang lebih semacam Aspri sekarang.

D.AGAMA, SASTRA DAN ILMU PENGETAHUAN

Sri Isanawikramadharmattunggadewa (mPu Sindok) pada saat memerintah Kerajaan Medang, sangat memperhatikan perkembangan agama, Ilmu Pengetahuan dan Sastra Jawa. Oleh sebab itu tidak mengherankan kalau ketiganya mengalami perkembangan yang signifikan.

Ketiga ilmu tersebut saling kait-mengkait dan berhubungan satu sama lain. Beberapa padepokan dan mandala-mandala didirikan untuk mendidik para cantrik dan sisya (siswa) untuk memperdalam berbagai ilmu. Beberapa siswa dikirim ke Nelanda (India Utara) menyerap ilmu bagi kepentingan Medang. Karya sastra yang diterbitkan dan cukup populer sampai saat ini adalah :

1.Kitab Sang Hyang Kamahayanikam

Sebuah kitab aliran Budha Mahayana berbahasa Sanskerta, berisi tuntunan dharma dan tata cara bersemedi menurut aliran Mahayana, dan ajaran tentang praktek Yoga yang diharuskan melalui bimbingan Guru. Selain itu juga berisi tentang bentuk penyucian jiwa raga dan harta dalam bentuk dana paramitha, yakni kesempurnaan pemberian derma, misal jenis makanan yang enak-enak, minuman yang manis-manis dan harum, diberikan kepada orang yang membutuhkan. Emas, pakaian, uang dan tanah di dermakan untuk fasilitas umum dll.

Melihat bahasa yang dipergunakan dalam kitab tersebut Sanskerta, jelas menunjukkan bahwa Medang betul-betul telah berhubungan dengan Benggala India Utara asal bahasa tersebut, yang saat itu sedang diperintah oleh dinasti Cola yang sangat terkenal dengan perguruan tingginya di Nelanda. Dengan demikian asumsi yang dapat dikemukakan adalah :

a.Kitab tersebut dikarang oleh pujangga pendatang dari Benggala, atau

b.Ditulis oleh bangsa sendiri lulusan Nelanda dan ingin menunjukkan kemampuannya berbahasa Sanskerta.

Perlu kami tambahkan bahwa untuk pergi belajar ke luar negeri, calon siswa harus terlebih dahulu mendapat rekomendasi dari Rakai Kanuruhan, yang berarti para siswa adalah tugas belajar dari negara (Kerajaan).

2.Kitab Brahmandapuruna

Yaitu kitab suci agama Hindu Saiwa, berbahasa Jawa Kuno, terdiri dari beberapa parwa, berisi tentang Kosmologi, kosmogoni, astronomi dan cerita-cerita kuno yang dikumpulkan dari cerita-cerita yang hidup dikalangan rakyat mengenai kehidupan par adewa, penciptaan dunia dan lain-lain, yang pada intinya memuat 5 hal (pancalaksana), yaitu :

a.Sarga, tentang penciptaan alam semesta

b.Pratisarga, tentang penciptaan kembali dunia setiap kali dunia lenyap (kiamat).

Menurut kitab ini bahwa berlangsungnya dunia sekarang hanyalah selama satu hari Brahma.

c.Wamsa, menguraikan tentang asal usul para Dewa dan Rsi (pendeta tertinggi)

d.Manwantarani, berisi tentang pembagian waktu, yaitu satu hari Brahma terbagi dalam 14 masa. Dalam setiap masa manusia itu dicipta kembali sebagai keturunan Manu, manusia pertama (Adam)

e.Wamsanucarita, berisi tentang sejarah Raja-raja yang memerintah diatas dunia.

Kosmologi sebagai salah satu cabang filsafat yang mempelajari tentang alam semesta sebagai sistem yang beraturan, dan kosmogoni yang mempelajari tentang asal mula terjadinya benda-benda langit dan alam semesta, serta astronomi yang mempelajari tentang matahari, bulan, bintang dan planet-planet lainnya, sangat penting dipelajari untuk pengembangan ilmu pengetahuan, agama dan pertanian.

Tidak hanya bagi wariga (ahli perhitungan musim untuk pertanian) perhitungan waktu merupakan hal yang sangat penting, tapi Kerajaan maupun masyarakat luas sangat membutuhkan juga perhitungan-perhitungan tersebut dalam setiap kali akan melakukan aktifitasnya, termasuk memulainya peperangan, pindah rumah, perhelatan, kegiatan pertanian, kelautan dan lain-lain.

Untuk hitungan hari dalam satu pekan (Minggu) terdapat hitungan yang lima hari (Poncowolo), enam hari (Sadworo) dan tujuh hari dalam satu pekan/minggu yang disebut dengan saptoworo.

Hitungan lima hari dalam satu pekan (poncowolo) sampai sekarang masih dikenal oleh masyarakat, walaupun sedikit telah mengalami pergeseran penulisan dan pengucapan.

-Pahing, biasa disingkat dengan Pa saja

-Pwan, sekarang Pon, disingkat Po

-Wagai, sekarang Wage, disingkat Wa

-Kaliwuan, sekarang Kliwon, disingkat Ka

-Umanis, sekarang Legi, disngkat U/Ma

Hitungan Sadworo atau enam hari dalam satu pekan, sekarang sudak tidak dikenal, namun demikian selengkapnya adalah :

-Tunglai, disingkat Tu/Tung

-Haryang, disingkat Ha

-Warukung, disingkat Wu

-Paniruan, disingkat Pa

-Was, disingkat Wa

-Mawulu, disingkat Ma

Disamping Poncowolo dan Sadworo, ada hitungan hari yang tujuh, yaitu Saptoworo

-Aditya (A/Ra)

-Soma (So)

-Anggoro (Ang)

-Budho (Bu)

-Wrhaspati (Wr)

-Cukrau (Cu)

-Sainascara (sa)

Nama-nama bulan dikenal dengan istilah antara lain :

-Magha (Januari � Pebruari)

-Phalguno (Pebruari � Maret)

-Caitra (Maret � April)

-Bodro (Agustus � September)

-Asuji (September � Oktober)

-Karttiko (Oktober � Nopember)

Upacara dan persembahan sesaji yang dilakukan secara teratur dan tetap menurut kebutuhan maupun kesepakatan pranata Agama menurut kalender, misal :

-Pratidina, yaitu upacara sesaji yang dilakukan setiap hari, untuk bangunan-bangunan keagamaan tertentu

-Pratimasa, yaitu upacara/sesaji yang dilakukan setiap bulan sekali

-Angken bisuwakala, yaitu upacara keagamaan yang dilakukan dua kali dalam setiap tahun. Biasanya diselenggarakan pada bulan Caitra dan Asuji

-Asuji, Badra, Karttika, yaitu upacara yang dilaksanakan setahun sekali pada bulan Asuji, Badra dan Karttika.

Sebagai persyaratan pokok sesaji, salahs atu perlengkapannnya adalah potongan-potongan kecil kayu Cendana yang untuk wilayah Anjuk Ladang tidak terlalu sulit mencarinya, karena sejak dahulu kala telah tertanam dan merupakan perkebunan yaitu di Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, yang sampai sekarang masih disakralkan.

Selain bahan sesaji, potongan-potongan kecil (tatal) kayu Cendana biasa dikunyah oleh para wiku dan Rsi di Padepokan, serta merupakan kebiasaan sebagai aroma penyegar mulut.

E.UKURAN TAKARAN DAN TIMBANGAN

Pada masa mPu Sindok memerintah Kerajaan Medang tahun 929 � 947 Masehi, telah dikenal satuan ukuran, takaran dan timbangan yang dipergunakan untuk berbagai keperluan jual beli dan keperluan lainnya, misal :

-Ukuran luas : tampah, suku

-Ukuran panjang : dpa

-Takaran : Catu

-Ukuran berat : masa, pikul, bantal, kati, tahil

-Ukuran emas : Suwarna (Su)

-Ukuran perak : dharono

-Manusia atau binatang besar : prono

-Ukuran kain : wdihan, wdihan yu, ken

-Yang bisa dipegang tangan, misal padi : Agem dll

Contoh penggunaan ukuran tersebut sebagaimana terpahat antara lain pada prasasti Hering atau Prasasti Kujon Manis Tanjunganom (934 M) yang inti isinya sebagai berikut :

�Pada tahun 859 Saka atau 934 Masehi, pada bulan Phalguno (Pebruari � Maret) telah terjadi transaksi pembelian tanah yang sangat luas oleh pejabat Desa (Samget) Marganung Pu Danghil dari beberapa orang penduduk desa (+ 26 orang), seluas 6 tampah 1 suku, seharga 5 kati 9 suwarna atau sekitar 3.773,36 gram emas.

Prasasti tersebut juga mencatat besarnya pasek-pasek atau pemberian hadiah yang harus diberikan kepada para pejabat yang berkompeten mulai tingkat kerajaan sampai pejabat tingkat bawah, berupa wdihan yu, dengan ketentuan sebagai berikut :

-Raja mendapatkan 5 wdihan yu

-2 orang mahapatih (I hino pu sahasra dan rakai wka Pu Baliswara) masing-masing 6 wdihan yu

-Rakai Sirikan pu Balyang 6 yu

-Rakai kanuruhan Pu Pikatan dan pu Sata masing-masing 1 wdihan yu

-Pu Rita 5 wdihan yu

-Dan seterusnya

Keterangan :

-Wdihan adalah sebutan untuk kain yang biasanya dikenakan oleh kaum pria yang sekarang dikenal dengan bebet

-Wdihan yu,a dalah seperangkat pakaian laki-laki termasuk iket (udeng Jw)

-Satu tampah + 20.250 M2

-Satu suku + 0,25 tampah

-Suwarna (Su) = ukuran satuan emas

-Dharana = ukuran satuan perak

-Kati (Ka) = 20 tahil = + 750 � 768 gram

-Satu tahil (ta) + 38 gram

-Satu bantal = 20 kati

-Satu pikul = 5 bantal = 100 kati = 75 kg

Selain hitungan ukuran diatas, pada jaman mPu Sindok dikenal hitungan untuk volume (isi) yang biasanya dipergunakan untuk takaran beras atau minyak dan rempah-rempah, yaitu satuan Catu. Catu dibuat dari batok kelapa yang dipotong bagian atasnya (dikrowaki Jw). Ukuran satu catu + 300 � 450 mililiter.

F.PERTANIAN

Beras merupakan bahan makanan pokok penduduk Medang, diproduksi oleh sebagian besar masyarakat petani dengan memanfaatkan lembah Sungai Brantas yang terkenal subur sebagai lahan produksi.

Untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok tersebut, dilakukan berbagai usaha ekstensifikasi maupun intensifikasi pertanian. Ekstensifikasi yaitu dengan pembukaan sawah secara besar-besaran yang antara lain melalui pranata penetapan Sima, dimana kegiatannya selalu didahului dengan pembukaan kebun, padang rumput, tegal ataupun hutan dijadikan sawah produktif.

Selain melalui ekstensifikasi, dilakukan juga intensifikasi penunjang pertanian dengan pengaturan sistem pengairan yang memadai untuk men-suply kebutuhan air bagi pertanian, disamping pemanfaatan yang lain seperti usaha perikanan dan rekreasi.

Untuk itu dibangun fasilitas infrastruktur, yang dalam skala kecil dikelola oleh masyarakat sendiri, seperti : talang, weluran, urung-urung dan tambak. Sedangkan yang beskala besar dikelola oleh Kerajaan, seperti misal bangunan Dawuhan dan Bendungan, sebagaimana tertulis pada prasasti Bakalan (934 M) maupun prasasti Sarangan (929 M) yang keduanya mengatur sistem pengairan Kali Kunto.

Dalam prasasti Bakalan tersebut berisi perintah dari Rakryan Mangibil (isteri Raja Sindok) untuk membuat bangunan 3 buah dawuhan, yakni Kaliwuhan, Wwtan Wulas dan Wwtan Tamya, yang kemudiannya diketahui bahwa dulunya dawuhan Tamya tersebut berukuran 175 x 350 m, yang dapat menampung air sebanyak + 350.000 M3.

Bendungan yang lain adalah di Wwtan Mas (Bajulan Loceret) yang kelak akan melahirkan sederetan dongeng Panji Semirang/Ande-ande lumut.

Hasil produksi beras Kerajaan Medang melalui pola ekstensifikasi dan intensifikasi pada akhirnya melimpah ruah, surplus bagi konsumsi masyarakat Medang sendiri, hingga sangat memungkinkan untuk dijadikan bahan komoditi perdagangan antar pulau di luar ibukota Medang.

Akibat perdagangan itulah yang kemudian meramaikan dermaga-dermaga seperti : Bandaralim (Demangan � Tanjunganom), Dermaga Ujung Ngkaluh (Jombang) maupun Kembang Putih (Tuban)

PRASASTI BANDAR ALIM

PRASASATI BANDAR ALIM

Oleh : Drs. Harmadi.

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul MENELUSUR MISTERI MEDANG – KAHURIPAN.

Raja Sindok meninggal tahun 947 Masehi dan makamnya di dharmakan sebagai Isyana Bajra. Dengan meninggalnya Raja Sindok, Medang seakan tenggelam dalam sejarah karena Raja-raja penggantinya sangat pelit mewariskan bukti peninggalan bagi generasi sekarang dalam menelusur sejarah.

Namun demikian, paling tidak Prasasti Bandar Alim yang ditulis oleh KAKI MANTA tahun 907 Caka (985 Masehi) yang diketemukan di Bandar Alim Desa Demangan Kecamatan Tanjunganom beberapa tahun lalu, paling tidak telah memberikan sumbangan yang tiada terhinggabagi penelusuran sejarah, khususnya Kerajaan Medang di Nganjuk. Namun ketiadaan sponsor cukup menghambat penelusuran lebih lanjut.

Prasasti catur muka yang dibuat pada Batu Andesit dengan ukuran tinggi 180 cm, dan lebar 90 cm serta ketebalan tepi + 20 cm dan tengah + 25 cm, menyebutkan bahwa Watu Galuh adalah sebuah kota wilayah Kerajaan Medang bumi Mataram (I mdang I bhumi mataran I watu galuh).

Pada bagian lain, prasasti Bandar Alim menyebut Dewa Lokapala, yang dalam buku Ramayana adalah kelompok dewa yang menjaga 8 penjuru angin (astadikpalaka), yaitu : Indra, Yama, Surya, Candra, Anila (Bayu), Kuwera, Baruna dan Agni.

Nama Lokapala dalam prasasti Calcuta yang ditulis oleh Erlangga tahun 1041 Masehi, meskipun tidak secara jelas dinyatakan, namun diketahui bahwa Lokapala adalah suami dari Isana Tunggawijaya anak mPu Sindok dengan Rakryan Binihaji Rakryan Mangibit.

Sangat memungkinkan bahwa penyebutan Dewa dimuka Lokapala pada prasasti Bandar Alim, adalah dewamurti (anggapan titisan dewa) terhadap Lokapala almarhum, suami dari Isanattunggawijaya. Dengan demikian bahwa Raja yang memerintah Kaki Manta untuk menulis prasasti tersebut adalah Raja pengganti Isanattunggawijaya, yaitu Makuthawangsa wardhana, yang berarti bahwa pada tahun 907 Caka atau tahun 985 Masehi, Kerajaan Medang diperintah oleh raja dengan abhiseka nama Makuthawangsa wardhana yang memerintah Medang hingga digantikan oleh Sri Darmawangsa Teguh, saudara laki-laki dari Gunapriyadharmapadni (Ibu Erlangga).

II.MASA TEGUH DHARMAWANGSA

A.PEMERINTAHAN DAN HUBUNGAN LUR NEGERI

Tidak begitu jelas tahun berapa Dharmawangsa Teguh dengan abhiseka Sri Dharmawangsa Teguh Ananta Wikrama Dharmatunggadewa naik tahta menjadi Raja Medang menggantikan kedudukan Makuthawangsa Wardhana, mengingat bahwa pada tahun 985 Masehi, Makuthawangsa Wardhana masih membuat prasasti di Bandar Alim Tanjunganom Nganjuk, sedangkan Dharmawangsa pada tahun 990 M sudah melakukan aktivitas menyerang Kerajaan Sriwijaya di Palembang.

Beberapa pakar sejarah menganalisa masa pemerintahan Dharmawangsa dimulai tahun 996 Masehi yang berlangsung hingga tahun 1016 Masehi. Menurut hemat penulis, justru penyerangan ke Palembang tersebut Dharmawangsa sudah menjadi Raja, sehingga berwenang membuat kebijakan melaksanakan ambisi menyerang Kerjaan lain, yang berarti dia naik tahta beberapa tahun sebelum tahun agresinya ke Palembang 990 M.

Di bidang politik, bahwa hubungan diplomatik dengan India yang telah dirintis sejak pemerintahan mPu Sindok, masih diteruskan oleh Dharmawangsa, dan bahkan diperluas, karena dinasti Cola yang berkuasa di India utara saat itu memberikan kesempatan yang luas. Banyak pelajar dari Medang yang diberi kesempatan menuntut ilmu di Perguruan Nelanda, umumnya mereka mempelajari tentang bahasa, budaya, agama, astronomi, sejarah dan sastra.

Selain dengan India, Medang juga menjalin hubungan perdagangan dengan Cina. Bahan perdagangan utama yang didatangkan dari Cina adalah Tembikar dan Mata Uang perunggu/tahil, sebaliknya dari Medang, Cina memperoleh rempah-rempah, emas dan perak. Mata perdagangan emas dan perak dari Jawa itulah yang kemudian Raja-raja Jawa dianggap terkaya nomor 2 setelah Arab, anggapan itulah yang merangsang tentara Tar Tar melakukan perampokan besar-besaran kepada Jayakatwang tahun 1292 M.

Hubungan diplomatik dan perdagangan tersebut memperoleh saingan Sriwijaya yang telah terlebih dahulu menjalin hubungan dengan Cina, hal demikian dianggap merupakan penghalang keleluasaan Medang mengembangkan sayap.

Untuk memperlemah pesaingnya tersebut, pada tahun 990 Masehi, Dharmawangsa Teguh mengirimkan tentaranya ke Palembang dalam jumlah yang lumayan besar. Beberapa daerah pinggiran berahsil direbut tanpa perlawanan berarti dari Sriwijaya, dan daerah-daerah yang direbut dipertahankan untuk jangka waktu tertentu, yang tentu menghabiskan enerji dan logistik tanpa mampu mengembangkan peperangan. Hal demikian memang disengaja oleh Sriwijaya, karena dianggap daerah-daerah yang direbut oleh Medang adalah daerah yang tidak strategis dan tidak berpotensi.

Meskipun serangan ke Palembang tahun 990 Masehi dianggap ekspansi yang sia-sia karena tidak mengurangi kekuatan dan kekuasaan Sriwijaya menjalin hubungan dengan China , namun bagi Sriwijaya bahwa serangan dan pendudukan tentara Medang di Palembang wilayah Srwiijaya, merupakan catatan tersendiri yang kelak akan diperhitungakan.

B.PERKEMBANGAN SASTRA

Masa pemerintahan Sri Dharmawangsa Teguh Raja Medang ke 4 dan penyandang dinasti Isana, merupakan masa yang cerah bagi pengembangan ilmu pengetahuan, agama dan sastra, padepokan dan mandala yang keberadaannya jauh dari pusat keramaian seperti di lereng gunung Wilis, justru mendapat perhatian tersendiri.

Serat Sang hyang Kamahayanikam dan Kitab Brahmandapuruna yang dikarang pada masa Raja Sindok, masih tetap menjadi tuntunan pokok bagi pra siswa dan pelengkap perpustakaan istana.

Salah satu Mandala yang cukup disegani adalah yang berada di Makutho, lereng Gunung Wilis yang kelak menjadi salah satu tempat bagi Erlangga belajar mengenai hakekat hidup dan kehidupan, dan ilmu tentang kepemimpinan.

Perhatian dan fasilitas yang diberikan oleh Prabu Sri Dharmawangsa Teguh menjadikan Pustaka Sastra Jawa mengalami perkembangan yang sangat pesat, karya sastra yang diproduksi, yang hampir semuanya merupakan derivasi dari epos Mahabharata antara lain :

1.Kitab Mahabharata derivasi

2.Kitab Uttarakanda

3.Kitab Adiparwa

4.Kitab Sabhaparwa

5.Kitab Wirathaparwa

6.Kitab Udyogaparwa

7.Kitab Bhismaparwa

8.Kitab Asramawasaparwa

9.Kitab Mosalaparwa

10.Kitab Prasthanikaparwa

11.Kitab Swargarohanaparwa

12.Kitab Kunjorokarno

C.PRALAYA

Serangan tahun 990 Masehi yang sia-sia tersebut, untuk beberapa waktu lamanya tidak ada reaksi pembalasan dari Sriwijaya, kecuali hanya berakibat pasang surutnya hubungan masing-masing kerajaan tersebut dengan Cina.

Walau demikian, Sriwijaya telah memperhitungkan sebuah pembalasan dengan cermat, dan menyerahkan segala sesuatunya kepada sekutu Sriwijaya yang berada di Jawa Tengah, yaitu Raja Wora-Wari yang pusat pemerintahannya tidak terlalu jauh dari Medang yang berada di Jawa Timur, yang oleh beberapa pengamat sejarah dolokalosir di Banyumas selatan. Oleh karena itu pimpinan Kerajaan Wora-wari segera mengirim pasukan telik sandi untuk mempelajari sudut-sudut kelemahan Medang, termasuk kapan saat yang tepat untuk melakukan penyerangan.

Kesempatan yang sangat baik yang dilakukan oleh Raja Wora-Wari menyerang jantung ibukota Medang, adalah pada saat Dharmawangsa teguh mengadakan pesta pernikahan putrinya dengan Erlangga anak Gunapriyadhrmapadni yang kawin dengan Udayana Raja Bali.

Tahun 1016 Masehi, bersamaan dengan berlangsungnya kesibukan perta perhelatan akbar di Medang, dan ditengah lengahnya kewaspadaan karena tertutup keramaian tontonan, perhatian semua hadirin dikejutkan oleh kobaran api dimana-mana, disusul berhamburannya para prajurit Kerajaan Wora-Wari menerobos arena pesta, membabat, membantai semua yang ada, tanpa mengenal ampun dan belas kasihan.

Penyerangan tiba-tiba yang disertai pembumi hangusan semua bangunan di lokasi pesta, membuat paniknya suasana, dan merobah sontak seketika dari kegembiraan dan keceriaan menjadi hiruk pikuk kacau tidak karuan dipenuhi jerit tangis memilukan, disertai kobaran api yang menjilat-jilat langit ibukota Medang membara.

Tiada perlawanan, tentara Wora-Wari yang sepertinya sudah kerasukan setan, bak air bah tanpa hambatan menendang menerjang apa dan siapa saja yang berada dihadapannya, tidak peduli laki-laki, perempuan atau kanak-kanak, tidak peduli Raja, pendeta, prajurit ataupun tamu, semuanya dibabat habis dibinasakannya. Suasana carut marut kacau demikian tak ubahnya seperti pralaya atau kiamat.

Dan memang ternyata hampir semuanya tidak tersisa, harta benda dan nyawa, semuanya melayang oleh badai serangan bala tentara Kerajaan Wora-Wari sekutu Sriwijaya ditanah Jawa, termasuk Raja, seluruh keluarga dan Gunapriya Dharmapadni atau Mahendradata ibunda Erlangga gugur bersama mereka. Hanya mempelai berdua bersama seorang teman setia Narotama yang mayatnya tidak ada diantara mayat-mayat lain yang berserakan, karena mereka bertiga sempat meloloskan diri dan lari ke arah barat.

III.KERAJAAN WENGKER

Telah kami tulis pada edisi-edisi terdahulu dalam episode �Misteri Situs Selopuro dan Wengker�, bahwa serangan dari Kerajaan Wora-Wari yang disertai pembumihangusan terhadap bangunan-bangunan Kraton, tidak dilanjutkan dengan penguasaan wilayah, karena begitu selesai melakukan penyerangan dan pembumi hangusan, bala tentara ini langsung di tarik kembali ke Jawa Tengah, sehingga dengan gugurnya Sri Dharmawangsa dan hampir semua keluarganya membuat vacum tampuk kekuasaan Kerajaan Medang.

Satu-satunya yang masih bisa diharapkan adalah Erlangga bersama isterinya, namun pengantin baru yang sempat lari pada malam pralaya tersebut tidak pernah ada kabar berita tentang keberadaannya. Suasana Medang mengambang dengan ketiadaan penguasa tersebut berlangsung hingga beberapa tahun kemudian.

Merasa tidak ada lagi yang mengikat, kesempatan seperti itu sangat menguntungkan bagi kerajaan-kerajaan vasal yang ingin melepaskan diri, memperkuat kedaulatan sendiri tanpa menggantungkan ikatan dan dominasi kemaharajaan Medang yang sudah jelas telah hancur lebur, termasuk dalam hal ini adalah Kerajaan Wengker di Lereng Gunung Wilis yang segera tanggap terhadap situasi yang ada.

Kerajaan Wengker menjadi semakin kuat besar dan makmur, karena pandai memanfaatakn semua peluang yang ada dengan mengkoordinir kerajaan-kerajaan vasal lainnya yang ragu-ragu dan lemah. Dan karena keberhasilannya mengkoordinir kerajaan-kerajaan vasal lainnya, telah membuat Raja Wengker berkeinginan untuk menjadi seorang Maharaja dengan wilayah yang semakin luas.

Kedigdayaan Kerajaan Wengker inilah nantinya yang akan menjadi penghalang tersendiri bagi usaha-usaha Erlangga menghimpun puing-puing bekas Kerajaan Sang mertuanya, dan kedigdayaan Raja Wengker nantinya yang mengilhami lahirnya Kitab Arjunawiwaha karangan mPu Kanwa.

IV.MASA ERLANGGA

A.KISAH PERJALANAN

Lolos dari lobang jarum, Erlangga, isteri dan Narotama meneruskan perjalanan ke arah Gunung Wilis, konon menurut isteri yang juga saudara sepupunya itu, bahwa di Gunung Wilis ada beberapa Mandala dan Padepokan yang para Rsi dan Siswanya sebagian besar berasal dari keluarga istana, dan samar-samar mereka juga pernah mendengar yang salah satunya berada di Makutho, namun ke arah mana yang harus dilalui, mereka juga tidak mengetahuinya.

Itulah barangkali kisah perjalanan dan pengalaman mereka yang paling menyedihkan, bulan madu ke Pulau Bali yang telah direncanakannya gagal tersaput pralaya, ternyata bulan madu mereka jalani dalam pelarian yang tidak tentu arah, lapar haus, lelah cemas ketakutan dan harapan yang selalu silih berganti adalah hal yang mesti dihadapi setiap hari, kehujanan, kepanasan, naik turun gunung sudah biasa dilalui, dan seakan sudah menyatu dengan nada nafas mereka.

Merasa yakin bahwa yang dituju benar, mereka memasuki sebuah pintu Padepokan, mereka mengutarakan niatnya untuk menimba ilmu meskipun sebenarnya di dalam hati mereka sekaligus perlindungan. Namun setelah beberapa hari telah dilaluinya, harapan itu sirna karena ternyata Padepokan itu tidak cocok bagi Erlangga, ada suatu kedustaan dan kenistaan yang dilakukan oleh para Guru, ada sesuatu yang berlawanan antara ajaran dengan kenyataan yang ada di Padepokan.

Tidak cocok dengan Padepokan pertama, mereka berguru pada Padepokan yang lain yang kondisi bangunannya lebih mewah daripada Padepokan pertama. Kali inipun tidak ada ubahnya seperti Padepokan pertama, bahkan terkesan lebih urakan, untuk kedua kalinya mereka harus pergi daripada terlanjur larut dalam keberangasan dan kenistaan.

Menghadapi pengalaman dari dua Padepokan yang tutup luarnya sama yaitu kesucian, namun didalamnya tidak pantas disebut sebagai tempat kegiatan belajar mengajar tentang pekerti luhur dan keutamaan mendapatkan kesucian, membuat Erlangga hampir putus asa, hampir patah semangat. Kalau demikian kenyataan yang ada, tidak mungkin dia akan memperoleh ilmu dan dukungan untuk mengembalikan pamor Kerajaan Medang, tidak mungkin dia akan mendapatkan dukungan mengembalikan kedaulatan Medang, tidak mungkin dia akan dapat membangun kembali Kerajaan yang sudah menjadi puing-puing, atau apakah memang begitu takdir yang telah digariskan oleh Dewata Agung?, apakah sebagai anak muda dia harus menyerah pada kenyataan ?

Perjalanan panjang yang penuh penderitaan, mengharuskan mereka menjalani topo broto amesu rogo, hingga mereka merasa lebih dekat dengan Dewata Agung, senantiasa memohon agar penderitaan bertubi-tubi yang mereka alami segera berakhir.

Mereka menyadari betapa kecilnya manusia yang ternyata tidak dapat berbuat apa-apa bila dibandingkan dengan kekuasaan-Nya yang tanpa batas. Barangkali lakon yang mereka alami adalah sebuah ujian dari-Nya untuk menemukan kebahagiaan kelak, apabila memang demikian pada akhirnya nanti, justru mereka merasa ditakdirkan sebagai manusia yang sangat beruntung, karena telah diberi sarat pengalaman, dan kebahagiaan akan lahir belakangan, dan bukannya sebaliknya, karena penderitaan telah mereka alami sebelumnya.

Penderitaan yang mereka alami dianggap sebagai lelaku broto, melahirkan ketajaman batin, hanya mampu berserah diri, seakan ada yang membimbing, hingga pada akhirnya, ayunan langkah kaki mereka telah sampai pada sebuah Padepokan yang cukup bersih dan tertata rapi, dimana air gemericik mengalir tiada henti menghiasi kolam alami yang dingin sejuk dan indah pada taman yang semerbak mewangi oleh bunga-bungan mekar berseri.

Sejenak ketenangan dan kesejukan alami merasuk dihati mereka masing-masing, melupakan kelelahan dan kepedihan dari perjalanan panjang mereka yang tidak menentu arah dan tujuan, kecuali hanya menghindar dari malapetaka dan kejaran yang dilakukan oleh musuh yang telah menghabisi keluarga mereka.

Tegur sapa telah mengusir kekakuan antara tuan rumah dengan tamunya. Tuan rumah yang ramah dan santun telah memperkenalkan diri bahwa dia adalah mPu Kanwa Wiku dan Pujangga, dan juga sudah kenal dengan Prabu Dharmawangsa.

Oleh Sang Wiku, Erlangga dan rombongan dipersilahkan tinggal di Padepokan (mandala), sambil menunggu situasi betul-betul aman dari kemungkinan kejaran tentara Wora-Wari. Kesempatan demikian dimanfaatkan oleh Erlangga membaca buku-buku perpustakaan mPu Kanwa yang cukup banyak. Dari beberapa buku (baca rontal), ternyata sebagian adalah karya Sang Wiku sendiri, bahkan beberapa diantaranya pernah dilihat oleh Erlangga di perpustakaan Medang.

B.ASTO BROTO

Tertarik oleh karya-karya itu, Erlangga kemudian menyatakan niatnya berguru sekaligus meminta nasehat bagaimana menghadapi hidup seperti yang dialaminya ini, di usia muda telah kenyang dengan penderitaan pahit dan getir.

Dikit demi sedikit ilmu demi ilmu telah diajarkan kepada Erlangga yang cerdas, sopan dan berkepribadian, serta disenangi oleh sesama siswa mPu Kanwa. Nasehat yang diberikan, disesuaikan dengan kisah penderitaan Erlangga sendiri sebagai calon pemimpin, yaitu tentang bagaimana watak yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin apabila ingin dicintai oleh semua kawulo.

Hal itu dimaksudkan agar kelak apabila Erlangga telah menjadi seorang Raja, dapat berlaku adil dan bijaksana terhadap semua kawulo tanpa pilih kasih, kawulo merasa terlindungi oleh kekuasaannya, yang kehadirannya selalu diharapkan oleh semua orang.

Mpu Kanwa yang yakin benar bahwa Erlangga mempunyai wahyu keprabon, merasa perlu memberikan gemblengan serta bekal tersendiri agar pembentukan kepribadian lebih mengarah, semangat hidup dan semangat perjuangan yang hampir padam, dapat lebih berkobar namun terkendali, dan untuk itu pengendaliannya adalah melalui praktek yoga (prasasti Pucangan, 1041, de Casparis, 1958)

Seorang pemimpin bukanlah kawulo, namun seorang pemimpin hendaknya dapat merasakan apa yang dialami oleh kawulo, penuh tepo seliro, mengerti penderitaan dan susahnya serta serba keterbatasan rakyat kecil. Jangan pernah merasa pintar sendiri, mudah menyalahkan ketidak mampuan anak buah, sebab dengan mudah menyalahkan anak buah demikian, berarti dia tidak mampu menjadi pemimpin.

Terlebih bagi seorang pimpinan yang dapat menjadi pejabat karena pengangkatan, bisa saja terangkatnya karena faktor keberuntungan atau kedekatan dengan pimpinan yang lebih atas maupun faktor lainnya, seringkali kredibilitasnya menjadi bahan taruhan oleh banyak orang.

Pimpinan yang tidak dapat menjadi pemimpin, seringkali menjadi cemoohan. Pimpinan maupun pemimpin, dapat saja suatu saat menjadi kawulo, apabila keberuntungan tidak lagi berpihak kepadanya. Untuk itu haruslah selalu siap dan legowo apabila betul-betul terjadi perubahan seperti itu.

Lebih lanjut mPu Kanwa memberikan gambaran tentang sifat-sifat yang dimiliki oleh kelompok Dewa Lokapala sebagaimana ajaran Astobroto dalam Kekawin Ramayana yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin maupun calon pemimpin seperti diri Erlangga, yaitu :

Pertama sifat Baskoro (Matahari)

Seorang pemimpin harus dapat meniru sifat Matahari yang mampu memberikan penerangan kepada jagad raya beserta isinya, memberi kehidupan bagi seluruh makhluk yang ada di dunia. Pemimpin harus dapat memberi semangat dan motivasi kepada yang dipimpinnya, agar kawulo dapat memanfaatkan hidup ini semaksimal mungkin bagi hidup dan kehidupannya, agar bermanfaat bagi orang banyak.

Jangan mudah menyerah terhadap apa yang telah diterimanya, tapi berusahalah terus tanpa mengenal putus asa. Penderitaan dalam pengembaraan yang lalu, adalah cambuk semangat untuk meraih cita-cita. Hanya dengan semangat dan usaha, cita-cita untuk merebut kembali tahta Sang Mertua pasti akan tercapai.

Kedua Sifat Condro (Bulan)

Seorang pemimpin harus mampu meniru watak Condro yang dapat membuat suasana damai, yaitu harus mampu menciptakan suasana tertib, aman, nyaman dan sejuk, sehingga bawahan merasa terayomi tanpa merasa takut akan gangguan dan ancaman. Andaikan ada perasaan cemas dihati sang pemimpin, janganlah diperlihatkan kepada bawahan, bahkan pemimpin harus dapat memberikan motivasi bahwa tidak ada yang perlu dicemaskan dan dikhawatirkan. Tuhan pastimenolong hamba-Nya, apabila hamba itu memintanya dengan sungguh-sungguh.

Ketiga watak Kartiko (Bintang)

Setiap gerak langkah dan perbuatan pemimpin, harus dapat menjadi cermin contoh dan suri tauladan bagi pengikutnya. Segala perbuatan pemimpin haruslah dapat ditiru oleh kawulo. Sekali sang pemimpin berbuat menyimpang dari norma, untuk selamanya bawahan tidak akan pernah mau mengikuti dan mengakuinya lagi. Oleh sebab itu pikirkanlah terlebih dahulu sebelum berbuat, agar masyarakat tetap setia.

Keempat watak Bayu (Angin)

Bayu atau angin selalu ada dimana-mana walaupun didalam perut sekalipun. Bahkan untuk bernafas, semua makhluk memerlukannya.

Pemimpin harus dapat manjing ajur ajer (jw), harus dapat bergaul dengan siapapun juga, strata manapun, agar dapat menyelami peri kehidupan serta suasana pikir kawulo, mampu menciptakan rasa empaty yang tinggi, mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, karena sebetulnya orang lain itu sama dengan kita juga. Disamping itu lancarnya hubungan informal, akan melancarkan tugas-tugas formal.

Kelima Watak Dahono (Mendung)

Mendung yang selalu angkuh dan berwibawa, yang tidak akan minggir walaupun matahari meneriakinya.

Pemimpin harus mampu menjaga kewibawaannya. Untuk itu jangan mudah bicara asal bicara, setiap bicara yang dikeluarkannya haruslah bermakna (sabdo pandito Ratu), adil, seimbang, setiap informasi haruslah dikonfirmasi terlebih dahulu dari kedua fihak sebelum mengambil keputusan, kalau tidak, bawahan akan mengkerdilkan kepemimpinannya.

Keenam Watak Agni (Api)

Api akan melalap apa saja yang ada disekitarnya tanpa ampun dan kompromi, tapi api tidak akan membakar benda-benda tertentu yang karena sifatnya, tidak akan mudah terbakar.

Pemimpin harus tegas dan tanpa ragu-ragu dalam mengambil keputusan, jangan mangro tingal, jangan setengah-setengah, jujur dan adil, jauh dari KKN, tidak mudah menge;uarkan keputusan yang pada akhirnya akan ada koreksi karena kesalahan.

Pemimpin harus mau menghargai pendapat yang benar walaupun pendapat tersebut berseberangan dengan pendapat pemimpin.

Ketujuh watak Samodro (Lautan)

Samodro maha luas tidak terbatas, dengan volume yang tidak terukur, mampu menampung apa saja.

Agar menjadi pemimpin yang sempurna dan berpandangan luas, harus memiliki banyak pengalaman dan pengetahuan. Jangan pernah menganggap pengalaman yang tidak menyenangkan akan tidak bermanfaat dikemudian hari. Pengalaman seburuk apapun, pasti akan berguna dikemudian hari, oleh karena itu pemimpin harus selalu menimba pengetahuan dimanapun dia berada. Pemimpin yang luas pengalamannya, akan menelorkan keputusan yang bijaksana.

Kedelapan watak Kuwera (Bumi)

Bumi adalah ibu Pertiwi yang penuh belas kasih, ikhlas berkorban menjadi tumpuan segala makhluk di persada ini.

Bumi diindentikkan dengan watak jujur, suci, ikhlas, murah hati, mau menerima saran dan pendapat, menghargai ide, menghargai siapapun yang berani mengemukakan pendapat, menghargai jasa orang lain walau sekecil apapun jasa yang diberikan oleh orang itu, mengorangkan orang, membimbing yang lemah dengan kasih. Dengan demikian, kawulo pasti akan mencintai sang pemimpin, mengasihi Sang pemimpin, dan mau berkorban demi Sang pemimpin dengan ikhlas.

C.MEMBANGUN DARI SISA

Dengan bimbingan mPu Kanwa dan dorongan semangat serta bantuan kekuatan dari para siswa Mandala, dimulailah membangun kembali dari sisa-sisa reruntuhan kedaulatan kerajaan Medang di tempat yang baru, karena menurut keyakinan bahwa lahan dan bahan dari bekas reruntuhan lama, diyakini kurang baik apabila dipergunakan kembali.

Ditempat baru dan istana baru, Erlangga memproklamasikan bahwa Kerajaan yang baru, tetap bersama Medang, dan dia mengangkat dirinya sebagai Raja penerus dinasti Isana, serta mengangkat Narotama sebagai Patih dan mPu Kanwa sebagai Penasehat Kerajaan merangkap sebagai Pujangga Kraton Medang.

Setelah pembenahan kedalam Kraton dirasa telah memenuhi apa yang diharapkan dan memadai, barulah dimulai langkah-langkah keluar dengan mengirim utusan kepada Kerajaan-kerajaan sekitar yang dahulu menjadi vasal Kerajaan Medang, untuk bergabung kembali dibawah panji-panji Medang, serta mengakui Kemaharajaan Erlangga sebagai penerus dinasti Isana. Kepada mereka yang membangkang, tidak ada jalan lain untuk kompromi, kecuali harus ditundukkan dengan kekuatan angkatan bersenjata.

Beberapa Raja langsung menyatakan kesediannya bergabung kembali sebagaimana sebelum ada serangan Wora-Wari, serta mengakui kedaulatan Erlangga sebagai Raja Medang yang baru, namun ada beberapa yang minta waktu berpikir beberapa saat, dan ada beberapa yang langsung menolak karena merasa Medang telah hancur, kerajaan vasal telah berdiri dan berdaulat sendiri, serta memandang kekuatan Erlangga belum seberapa, termasuk pada kategori terakhir adalah Kerajaan Wengker yang telah merasa cukup kuat menghadapi kekuatan Erlangga yang belum terkoordinir penuh.

Prasasti Pucangan (1041) dan prasasti Baru, mencatat peperangan yang dilakukan oleh Erlangga sebagai berikut :

-Tahun 1028 M, memerangi Raja Wengker � gagal

-Tahun 1029 M, memerangi Raja Wuratan � menang

-Tahun 1030 M, memerangi Raja Wengker � gagal

-Tahun 1931 M, memerangi anak Raja Wengker

-Tahun 1030 M, memerangi Raja Hasin

-Tahun 1032 M, memerangi Raja Wora-Wari

-Tahun 1035 M, memerangi Raja Wengker

Pada prasasti Terep (1032 M) ada indikasi bahwa Erlangga pernah mengalami kekalahan dalam suatu peperangannya, yang kemudian meninggalkan kratonnya yang berada di Wwatan Mas (Supratikno Raharjo, 2002 � Drs.Santoso, 1971).

Bukan pekerjaan yang mudah bagi Erlangga untuk membangun kembali kerajaan yang telah hancur berkeping-keping, cerai berai hangus tidak bersisa kecuali tinggal nama, tiada sanak saudara yang diharapkan dapat membantu, karena semuanya telah dibinasakan oleh Wora-Wari.

Sebuah perjuangan yang sangat berat luar biasa, semuanya harus dimulai dari nol, dari yang sama sekali tidak ada menjadi ada, segala sesuatu harus dipersiapkan sendiri tanpa ada dukungan, jaminan, harta benda, kekuatan dan kepercayaan dari siapapun, kecuali rasa percaya diri dan keyakinan luar biasa akan keberhasilan mewujudkan angan-angannya untuk membangun kembali Kerajaan Medang, membangkitkan kembali Medang, melestarikan wangsa Isana sampai kapanpun.

Suatu hal pokok yang menjadi modal awal memulai perjuangannya adalah ketekatan, dirinya sendiri, isterinya, Narotama, mPu Kanwa dan para brahmana semua murid mPu Kanwa, serta kesediaan sebagian raja-raja vasal untuk bergabung kembali dengan Medang baru.

Walaupun dnegan tertatih-tatih, tahap demi tahap namun dilandasi oleh semangat yang tinggi, akhirnya Erlangga berhasil menyusun struktur tata pemerintahan yang sederhana, dilengkapi dengan personil sementara. Semangat adalah modal pokok untuk maju, dan ternyata pengalaman telah membuktikan bahwa dengan modal semangat itu pulalah yang menjadikan Erlangga seorang Raja.

Setelah penataan struktur tata pemerintahan kedalam dirasa telah tertata sebagaimana yang diharapkan, pada tahun 1028 Masehi, mulailah Erlangga memerangi Kerajaan-kerajaan vasal yang tetap membandel, yang memaksa Erlangga harus menggunakan kekuatan bersenjata untuk menundukkanya.

Peperangan pertama ke Kerajaan Wengker mengalami kekalahan, bahkan gagal total karena tentara Erlangga belum berpengalaman menghadapi perang yang sebenarnya.

Kekalahan atas serangannya ke Wengker, tidak membuat Erlangga berkecul hati, ia kemudian mengalihkan sasarannya menyerang Raja Wuratan setahun kemudian, yaitu tahun 1029 Masehi, yang dengan mudah Wuratan dapat ditundukkan.

Dengan keberhasilannya menundukkan Raja Wuratan, berarti juga jumlah kekuatan tentaranya menjadi bertambah. Pada tahun 1030, Erlangga kembali menyerang Kerajaan Wengker untuk yang kedua kalinya, dan kali inipun masih mengalami kekalahan yang bahkan lebih besar daripada kekalahan yang terdahulu, karena lebih banyak prajuritnya yang gugur.

Kekalahannya yang kedua terhadap Wengker, tidak membuat Erlangga patah semangat, pada tahun itu pula perhatian diarahkan emmerangi Raja Hasin, dan pada tahun 1031 Masehi memerangi Anak Raja Wengker.

Pada tahun 1032 Masehi, sebagian tentaranya yang telah berpengalaman dalam beberapa kali peperangan, dikirin ke Jawa Tengah (Banyumas Selatan?) untuk menghajar musuh utamanya, yaitu Raja Wora-Wari yang pada 16 tahun sebelumnya telah menciptakan api neraka dalam peristiwa Pralaya Medang membara, dimana ibundanya dan kedua mertuanya mengalami ajal. Dan sejak penyerangannya ke Jawa Tengah, Wora-Wari tidak pernah lagi muncul ke permukaan sejarah.

Dua kali kekalahannya melawan Raja Wengker, membuat Erlangga semakin khawatir akan perkembangan kekuatan Raja Wengker yang semakin lama semakin membahayakan bagi Kerajaan Medang dimasa depan, karena sejak berdaulat sendiri, wilayah kekuasaan Wengker menjadi semakin luas, besar, kuat dan makmur, sehingga akan semakin sulit ditundukkan.

Diantara beberapa kali peperangannya, ternyata Kerajaan Wengker adalah yang paling tangguh. Peperangan yang dilakukan tahun 1028 Masehi, sama sekali tidak membuahkan hasil, karena banyak tentaranya yang gugur.

Serangan kedua tahun 1030 Masehi pun juga mengalami kegagalan. Barangkali kegagalan pada serangan kedua inilah yang diasumsikan penyebab Erlangga meninggalkan kratonnya yang berada di Wwatan Mas.

Pendapat tentang �kekalahan adalah kemenangan yang tertunda�, Erlangga kemudian mempelajari sisi kelemahan dirinya sendiri dan ketangguhan Wengker yang tidak mudah dikalahkannya, maka disusunlah strategi baru yang merupakan gabungan dari 3 cara yang diterapkan secara bersamaan dan saling dukung mendukung satu sama lain, yaitu : yudha, cyama dan dana (Drs.Santoso, 1971), atau taktik memecah belah, mengadu domba dan menguasai, membiayai oposisi untuk mendeskreditkan penguasa Wengker, dan penggunaan kekuatan bersenjata setelah terlebih dahulu berhasil menyelundupkan telik sandi untuk bekerja dikalangan musuh.

Dengan melakukan ketiga cara tersebut secara bersamaan, barulah pada peperangan terakhir tahun 1035 Masehi, Kerajaan Wengker dapat ditundukkan oleh Erlangga setelah mana Raja Wengker dapat dibunuh oleh prajuritnya sendiri, yang sebetulnya adalah tentara Erlangga yang diselundupkan dan menjadi prajurit kepercayaan Raja Wengker.

Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa perjuangan Erlangga untuk memulihkan keutuhan kembali wilayah Kerajaan Medang, tidaklah begitu mudah, namun memerlukan perjuangan yang panjang, penuh pengorbanan dan perlu waktu yang cukup lama, dan Kerajaan Wengker adalah target yang tersulit dan terlama untuk menundukkannya.

D.SILSILAH ERLANGGA

Prasasti Calcuta yang dibuat oleh Raja Erlangga tahun 1041 M bila dikonfirmasikan dengan sumber lain, rupanya kurang tegas menjelaskan silsilah yang sebenarnya kecuali garis keturunan dari ibunya saja, tanpa menyebutkan yang lain seperti siapa Dharmawangsa dan lain-lain.Uraian yang akan memberikan gambaran lebih jelas adalah sebagai berikut :

1.mPu Sindok atau Sri Isana Wikramadharmattunggadewa mempunyai 2 orang isteri yang pernah mencuat dalam prasasti, yaitu :

a.Rakryan Binihaji Rakryan Mangibit (Permaisuri)

b.Sri Parameswari Dyah Kbi (Anak Rakryan Bawang/Selir)

2.Dari perkawinannya dengan Rakryan Binihaji Rakryan Mangibit, mPu Sindok mempunyai seorang anak perempuan yang kemudian menggantikan kedudukannnya menjadi Raja Medang ke 2 dengan abhiseka nama Sri Isana Tunggawijaya, yang kemudian kawin dengan Sri Lokapala yang diketahui beragama Budha.

3.Perkawinan Isana Tunggawijaya dengan Lokapala melahirkan anak perempuan yang kemudian menjadi Raja Medang ke 3 dengan nama Makuthawangsa Wardhana.

4.Makuthawangsa Wardhana mempunyai 2 orang anak laki-laki dan perempuan, yaitu :

a.Dharmawangsa Teguh yang kemudian menjadi Raja Medang ke 4 menggantikan Makuthawangsa Wardhana

b.Mahendradata Gunapriya Dharmapadni (Ibu Erlangga)

5.Mahendradata dikawin oleh Dharma Udayana Marwadewa Raja Bali dinasti Marwadewa, dan hidup di Bali

6.Dari perkawinan Mahendradata dan Raja Udayana, melahirkan seorang anak yang diberi nama Erlangga.

Erlangga lahir di Bali pad atahun 1000 Masehi, yang pada usia 16 tahun diambil menantu oleh pamannya sendiri Raja Medang ke 4 Sri Dharmawangsa Teguh, yang pada pesta perkawinannya tahun 1016 Masehi, diserbu oleh bala tentara kerajaan Wora-Wari, menyebabkan semua keluarganya meninggal dunia termasuk kedua mertua dan ibunya sendiri, sedangkan Erlangga beserta isteri dan seorang teman setianya Narotama berhasil meloloskan diri.

E.ARJUNO WIWOHO

Syahdan, Bethoro Syakera diancam bahaya, karena ada seorang Raja Raksasa Newoto Kawoco sakti mandraguna tidak mempan oleh senjata apapun beristana di Gunung Mahameru Selatan, bermaksud akan menghancurkan ka Indran apabila permintaannya memperisteri bidadari Dewi Suprobo tidak dikabulkan oleh para Dewa. Meskipun sakti mondroguno, Newoto Kawoco ditakdirkan dapat dikalahkan oleh manusia yang lebih sakti.

Mendapat ancaman tersebut Bethoro Indro menitahkan mencari bantuan manusia yang lebih sakti daripada Newoto Kawoco. Kebetulan Sang Arjuno sedang bertapa dengan maksud untuk mendapatkan kesaktian agar menang dalam setiap kali peperangan, serta menjauhkan dari nafsu duniawi.

Menurut evaluasi para Dewa, bahwa bertapanya Arjuno telah hampir sempurna, dan sudah waktunya para Dewa mengabulkan permintaan Arjuno, namun terlebih dahulu harus diuji mental dan nafsunya, dengan cara menurunkan tujuh Bidadari yang cantik-cantik, dipimpin Tilutomo dan Suprobo untuk menggoda Sang Tapa.

Godaan para Bidadari tidak berhasil,dan Arjuno tetap pada posisi tapa. Hal demikian justru mengkhawatirkan Bethoro Indro, jangan-jangan karena keasyikannya bertapa Arjuno telah melupakan dunia. Kalau demikian halnya, bagaimana untuk menghentikan keangkaramurkaan Newoto Kawoco ?

Untuk membuktikan sendiri Bethoro Indro beralih rupa menjadi seorang Rsi tua yang bungkuk dan lemah, mendatangi Arjuno yang disamping kanan kirinya ada beberapa senjata.

Dalam dialognya, Resi menanyakan kepada Arjuno tentang maksud keberadaan senjata, yang menandakan bahwa Sang Tapa masih mempunyai nafsu membunuh, ingin berkuasa, ingin menang sendiri, hal demikian jelas sangat tidak cocok dengan kelayakan dunia pertapa. Alangkah lebih baiknya apabila maksud bertapanya diarahkan ke kebaikan, pekerti luhur, laku utomo. Bagaimana akan dapat minum air amrta, kalau yang diminum justru racun. Memanjakan panca indera berarti seseorang akan tertutup oleh hawa nafsu. Apabila manusia kalah oleh nafsu, dia aka diperbudak oleh nafsu untuk selamanya. Kalau yang dicari harta benda yang mendapatkannya tidak halal, sama halnya menghidupi anak isterinya dengan racun, dan yang akan terjadi adalah bahwa anak dan isterinya akan termakan oleh racun itu, atau akan menjadi manusia yang tidak sempurna hidupnya, karena tubuhnya telah keracunan, pertumbuhan daging tulang dan darahnya karena racun. Hal demikian jelas merupakan awal dari kesengsaraan yang dibuat sendiri.

Argumentasi Arjuno kepada Sang Resi bahwa keberadaan senjata tersebut adalah berkaitan dengan laku utomo dari darah ksatria, mempunya kewajiban mengharumkan keutamaan nama dan kerajaan. Dia belum pantas mati sebelum berbhakti kepada bangsa dan negara. Mati memang tujuan tiap manusia, namun selagi manusia itu hidup, harus diisi dengan amalan positif agar hidup ini tidak sia-sia.

Setelah ujian yang diberikan oleh Resi dipandang cukup, kemudian Resi beralih rupa pada ujud semula sebagai Bethoro Indro, dan memberikan anugerah berupa panah Pasyupati dan api yang menyatu dengan panah, lengkap dengan gendhewa dan mahkota yang tidak ada bandingannya, sebuah suf dan terompah yang dapat dipakai mengangkasa, serta bonus ajaran tentang ilmu perang.

Untuk mengetahui titik kelemahan (Pengapesan Jw) Prabu Newoto Kawoco, para Dewa mengirim Suprobo kepadanya, berpura-pura mau dijadikan isteri sesuai permintaannya. Dengan kelihaian rayuan Suprobo, Prabu Newoto Kawoco akhirnya mau menceritakan letak rahasia kesaktiannya di ujung lidahnya.

Menyadari bahwa telah terlanjur menceritakan rahasia kesaktiannya yang juga merupakan naas/pengapesannya kepada Suprobo, yang disinyalir atas pengaturan siasat para Dewa, Newoto Kawoco mengamuk, segera mengirim berpuluh-puluh ribu tentara Raksasa menggempur Kahyangan permukiman para dewa, yang disepanjang perjalanannya menimbulkan kerusakan hebat disana-sini.

Keangkaramurkaan Raja raksasa yang sakti mondroguno tersebut akhirnya dapat dihentikan, setelah Arjuno melepaskan jemparing Pasyupati yang tepat mengenai ujung lidahnya, menamatkan riwayat Newoto Kawoco, gugur ing madyaning palangan.

Kitab Arjuno Wiwoho dengan bentuk kekawin ke atas, ditulis oleh mPu Kanwa Maharsi, sekaligus penasehat spiritual dan penasehat perang Erlangga, juga merangkap pujangga istana. Mpu Kanwa terlibat langsung dalam setiap peperangan Erlangga.

Kitab tersebut sebenarnya adalah dokumentasi kisah nyata perjuangan Erlangga, yang dimulai dari wiwoho (pesta pernikahan) Erlangga dengan anak Dharmawangsa, yang ditengah-tengah pesta pernikahannya diserang oleh Kerajaan Wora-Wari tahun 1016 Masehi, hingga dia bersama isteri dan kawan setianya sempat meloloskan diri, terlunta-lunta hidup di hutan lereng Gunung Wilis, hingga pakaian yang dikenakannya habis tercabik-cabik oleh ranting hutan dan menggantinya dengan kulit kayu.

Selanjutnya Erlangga memasuki 2 perguruan (padepokan), yang ternyata keduanya tidak cocok dihatinya, kemudian dengan harapan yang hampir putus asa, memasuki suatu Mandala yang memberi harapan besar dan menggugah semangatnya kembali. Disitulah dia mendapatkan segala sesuatu yang sangat berguna kelak, yaitu ilmu kepemimpinan asto broto, belajar Agama dan praktek Yoga.

Dengan dukungan mPu Kanwa dan murid-muridnya, Erlangga mulai menyusun kembali Kerajaan Medang yang telah porak poranda, dan menaklukkan Kerajaan-kerajaan vasal yang dahulu berada dibawah kekuasaan Dharmawangsa Teguh. Namun untuk menaklukkan Wengker yang telah menjadi besar, bukanlah sesuatu yang mudah, karena memerlukan waktu selama 7 tahun dengan beberapa kali peperangan.

Penaklukkan Wengker, adalah setelah Erlangga berhasil menyelundupkan mata-matanya, yang oleh Raja Wengker di rekrut menjadi pengawal pribadi Raja, sehingga Erlangga dapat mengetahui secara detail titik kekuatan dan kelemahan Wengker. Pengawal inilah yang kemudian berhasil membunuh Raja Wengker dalam pelariannya ke Mbarat (Drs. Santoso, 1971).

Dengan mengambil tokoh-tokohnya dari dunia pewayangan (Mahabharata) yang dikemas sedemikian rupa, dengan memasukkan unsur-unsur filsafati tentang hidup dan kehidupan, kitab tersebut menjadi sangat menarik sampai sekarang. Menurut catatan Supomo, 1985, mPu Kanwa menggandakan kitab ini 30 buah.

Selain itu, kitab tersebut juga digubah kedalam sastra bentuk prosa dengan judul �Serat Wiwoho Jarwo� dan digelar dalam pewayangan ringgit purwo, dengan lakon :

1.Wahyu Makutho Romo

2.Begawan Mintorogo

3.Begawan Ciptoning/Ciptoening

4.dan lakon-lakon sempalan lainnya

F.TITISAN WISNU

Kesengsaraan hidup yang dengan terpaksa dijalaninya di hutan bersama isteri dan Narotama tanpa bisa berganti pakaian, sampai-sampai pakaian yang dikenakannya telah hancur tercabik oleh ranting-ranting kayu hutan yang dilewatinya, dan keadaan telah memaksa untuk menggantinya dengan kulit kayu (walkaladhara).

Perjalanan hidup yang telah dilakoni mulai dari hutan sampai ke kehidupan di asrama bersama para siswa beberapa tahun lamanya, memberi arti tersendiri bagi Erlangga, karena dari sesama siswa, dia memperoleh banyak gambaran tentang berbagai karakter manusia yang ternyata satu sama lain berbeda. Dari pergaulan bersama mereka, Erlangga langsung maupun tidak langsung telah mendapatkan pengalaman tentang seni memimpin sesama manusia, dan dari praktek yoga di asrama, Erlangga bisa tahu bagaimana mengenal diri sendiri dan bagaimana cara yang sebaik-baiknya memimpin diri sendiri (prasasti Pucangan, 1041 M).

Justru dengan banyaknya pahit getirnya pengalaman yang telah dilakoninya, dan tekunnya upaya memperoleh pengetahuan di asrama, membuat Erlangga menjadi seorang Maharaja yang mampu mengendalikan diri sendiri, selalu mawas diri, selalu mengutamakan kebutuhan rakyat banyak, hampir-hampir tidak pernah berfikir untuk kepentingan diri sendiri.

Semua kebutuhan rakyat Medang, adalah menjadi prioritas pemikirannya, terutama yang mengarah pada tujuan kesejahteraan secara adil dan merata. Beberapa waduk, bendungan dan prasarana pengairan bagi persawahan dan perikanan dibangun di beberapa tempat (prasasti Kamalagyan, 1037 M). Pembukaan persawahan baru sebagai awalan acara penetapan Sima yang dilakukan pada masa Sindok, masih diteruskan pada masa Erlangga, hingga beras sebagai komoditas utama berproduksi nelimpah ruah.

Untuk memperlancar perdagangan internasional dan interinsuler, dilakukan perluasan pelabuhan laut Kembang Putih di Tuban, dan perbaikan dermaga Sungai Brantas di Ujung Galuh Jombang.

Ramainya lalu lintas pelayaran nasional yang menyusuri Sungai Brantas, dapat diketahui antara lain dari prasasti Kamalagyan, 1037 M, yang menuliskan perasaan para nahkoda dan pedagang dari wilayah nusantara (para puhawang prabanyaga sangkaring dwipantara) yang bersuka ria karena perjalanan mereka melalui Sungai Brantas telah kembali lancar (de Casparis 1958, Supratikno Raharjo, 2002).

Tampaan pimpinan Mandala dan kehidupan keagamaan bersama para siswa di asrama, menjadikan Erlangga seorang Raja yang sangat menghormati semua agama di Medang, karena dia menyadari sepenuhnya bahwa semua agama bertujuan sama, yaitu kebaikan dan kesucian, baik untuk hubungan sesama manusia, dan suci dalam hubungannya dengan Hyang Moho Widhi Waseso. Dengan mempelajari agama dan Yoga, orang akan mampu menguasai hakekat hidup, mampu mengendalikan hawa nafsu dan selalu mensyukuri hidup sebagai suatu anugerah.

Untuk itu pada jamannya, kehidupan beragama dikembangkan, tri kerukunan hidup umat beragama yaitu kerukunan intern sesama agama, antar umat beragama dan antara umat beragama dengan pemerintah Kerajaan, benar-benar terpelihara dengan baik, bahkan sesekali dilakukan acara pujian kepada Budha, Siwa dan Rsi serta Brahma bersama-sama.

Untuk memelihara kehidupan beragama, beberapa bangunan keagamaan didirikan, tempat-tempat suci mendapatkan perhatian dari Kerajaan. Tokoh-tokoh agama Budha, Siwa dan Rsi ditempatkan pada kedudukan terhormat di istana (prasasti baru, 1030 M dan prasasti Pucangan, 1041 M).

Pada akhir masa pemerintahannya, Erlangga berupaya meneruskan estafet kepemimpinannya dengan menyerahkan jabatan kemaharajaan kepada putri mahkota Kilisuci. Namun Kilisuci tidak berminat menjadi Raja, bahkan lebih tertarik menjadi pertapa di Gua Selomangleng.

Atas penolakan putri mahkota tersebut, kemudian Erlangga membagi Kerajaan Medang menjadi 2, dengan garis perbatasan Sungai Brantas kepada 2 orang anak laki-lakinya yang lahir dari 2 orang selirnya,

a.Sebelah utara Brantas diberi nama Kerajaan Jenggolo, dengan ibukota Kahuripan, untuk putranya Garasakan.

b.Sebelah selatan Brantas diberi nama Kerajaan Penjalu atau Kediri, dengan ibukota di Dahapura, untuk putranya Samara Wijaya.

Setelah membagi dua kerajaan untuk kedua orang putranya dan dirasa telah memenuhi rasa keadilan, Erlangga mengundurkan diri, turun dari tahta Keprabon, memilih kembali pada kehidupan semula sebagai seorang pertapa, kembali pada kesucian, mendekat kepada Sang Moho Agung, hingga akhir hayatnya tahun 1049 Masehi, dan mendapat julukan Sang Prabu Apuspala Jatiningrat, Maharaja Erlanggyabhisekanira.

Erlangga adalah tokoh kharismatik yang sempurna sebagai seorang maharaja, karena mengawali perjuangannya seorang diri, tanpa bantuan dan fasilitas dari siapapun hingga Medang terbangun kembali, bahkan lebih gemilang daripada masa sebelumnya.

Oleh karena itu Erlangga dianggap sebagai pahlawan perang dan pelindung rakyatnya, Raja yang sangat memperhatikan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya, yang memfasilitasi pendidikan dan kesusasteraan, serta memelihara tri kerukunan hidup umat beragama, adil bijaksana, yang selalu dapat menempatkan diri dimanapun dia berada, seorang Raja yang memang ditakdirkan menjadi seorang pemimpin karena bakat, yang disempurnakan oleh gemblengan perjalanan hidupnya.

Karena kemampuannya yang luar biasa itu, kualitas kepemimpinannya dianggap setarap dengan kualitas kepemimpinan Dewa Wisnu, dan dianggap sebagai awatara (titisan) Wisnu, sehingga pada saat peringatan meninggalnya, dibangun sebuah patung Wisnu dalam posisi duduk, naik kendaraan Garuda Kedewataan, diapit dua arca isterinya, yaitu Dewi Sri dan Dewi Laksmi.

V.KEDATUAN (KEDATON)

Sulitnya melacak situs istana raja, menyebabkan sejarah itu sendiri menjadi misteri dan samar-samar, sehingga memunculkan beberapa teori yang mungkin bertentangan antara yang satu dengan lainnya. Dugaan sementara yang menyebabkan bangunan istana tersebut tidak meninggalkan bekas antara lain :

1.Teror bumi hangus bangunan Istana yang dilakukan oleh tentara Wora-Wari, menyebabkan hampir semua bangunan istana musnah terbakar dalam peristiwa pralaya 1016 M.

2.Letusan Gunung Kelud yang memuntahkan jutaan meter kubik material mengalir melalui kali Semut, kali Putih, kali Badak, kali Gedeg, kali Dermo, kali Sukorejo, kali Ngobo, dan kali Sarinjing masuk ke kali Brantas, menghancurkan semua bangunan di sepanjang aliran sungai, serta merobah arah aliran Brantas, termasuk merusak bangunan-bangunan monumental Kerajaan Medang.

3.Bahan bangunan Istana Raja berasal dari bahan material yang tidak tahan lama seperti kayu, bambu, daun dari pohon jenis palma sebagaimana yang tertulis dalam kronik Cina abad X bahwa istana Raja terbuat dari bahan kayu.

Meskipun bukti-bukti peninggalan tidak dapat menunjukkan lokasi yang tepat, namun dari beberapa prasasti baik yang terbuat dari batu, lempengan tembaga ataupun rontal dan lain sebagainya, kiranya paling tidak, dapat dipakai sebagai bahan perkiraan daerak letak istana Raja pada masa itu.

Beberapa pernyataan yang dapat dipakai sebagai bahan dugaan tersebut menurut de Casparis 1986/1987-Supratikno Raharjo, 2002 sebagai berikut :

(1). Sri maharaja makadatwan I tamwlang (prasasti Turyyan, 929 Masehi)

(2). Sri maharaja katalayah sangke wwatan mas mara I patakan (prasasti terep, 1032 Masehi)

(3). Makatewaka pandri sri maharaja makadatwan I kahuripan (Kamalagyan, 1037 M)

Selanjutnya pada tulisan lain disebutkan :

(1). Kadatwan ����. Sri maharaja I bhumi mataram (Turyyan, 929 M)

(2). Kadatwan����…i mdang I bhumi mataram (Anjuk Ladang, 937 M)

(3). I mdang I bhumi mataram I watu galuh (Paradah II, 943)

Dari beberapa pernyataan diatas, kesimpulan sementara yang patut dikemukakan adalah :

1.Bahwa pada tahun 929 Masehi, istana Raja Sindok dari Kerajaan Medang, bertempat di kota Tamwlang

2.Bahwa pada tahun 1037 Masehi, istana Raja Erlangga dari Kerajaan Medang berada di ikukota Kahuripan.

3.Prasasti Terep 1032 M menulis bahwa pada tahun 1032 sri maharaja terdesak (dalam suatu peperangan), hingga meninggalkan tempat Wwatan mas menuju Patakan, namun tidak menjelaskan posisi Wwatan mas sebagai kedaton atau hanya markas pertahanan.

4.Prasasti Paradah II dan Prasasti Bandar Alim, sama-sama mengatakan mataram I watu galuh, tanpa menyebut kedatuan

Praduga Penulis :

1.Nama Kerajaan mulai dari mPu Sindok sampai Erlangga, tetap bernama Kerajaan Medang.

2.Istana Raja pada awalnya berada di Trayang (Ngronggot). Trayang adalah pergeseran pengucapan dari Tamwlang � Turyyan � Trayang. Bandingkan dengan kata atuha menjadi � Ngantang, Rarae menjadi Pare, Kamalagyan menjadi Kemlagi. Barangkali wilayah Trayang dahulu meliputi daerah yang lebih luas, termasuk Klurahan dimana diketemukan beberapa peninggalan kuno.

3.Watu Galuh sebagaimana disebut dalam prasasti Paradah II tahun 943 M dan Prasasti Bandar Alim 985 M, merupakan salah satu pelabuhan yang sangat penting bagi lalu lintas sungai Brantas lama bagi perdagangan interinsuler, sehingga Raja merasa perlu suatu pengakuan sebagai wilayah Medang.

4.Wwatan Mas sebagaimana disebut pada prasasti Terep 1032 Masehi, ada yang mengasumsikan Bajulan sekarang, dapat saja diperkirakan sebagai Kedaton, namun menurut hemat penulis, lebih cenderung hanya sebagai markas pertahanan Erlangga dalam rangka mendekati lokasi sasaran untuk menyerang Kerajaan Wengker di Ngetos, yang kemudian ditinggal menyingkir ke Patakan karena terdesak kalah dalam suatu peperangan.

5.Kahuripan sebagaimana disebut dalam prasasti Kamalagyan, jelas merupakan kedaton Raja Erlangga yang dibangun setelah kraton Dharmawangsa Teguh di Trayang dibumi hanguskan oleh Raja Wora-Wari tahun 1016 Masehi.

Yang tersirat dalam prasasti Wurare, bahwa kota Kahuripan berada di sebelah utara Sungai Brantas lama, sehingga patut diduga bahwa kota Kahuripan dimaksud, sekarang menjadi Dusun Koripan Desa Kampungbaru Kecamatan Tanjunganom, yang letaknya tidak terlalu jauh dari kraton lama di Trayang Ngronggot, yang barangkali bekas lokasinya tertimbun oleh material letusan Gunung Kelut.

Sebagai salah satu gambaran tentang dahsyatnya letusan Gunung Kelut, dapat dipakai sebagai bandingan berikut :

a.Letusan tahun 1919, volume air yang dimuntahkan sebanyak 40 juta M3, material 323 juta M3, tanaman rusak 13.120 Ha, dan korban manusia 5.110 jiwa meninggal.

b.Letusan tanggal 31 Agustus 1951, volume air 1,8 juta M3, material 200 juta M3, dan tanaman rusak 7.000 Ha

c.Letusan tahun 1966, volume air 20,3 juta M3, material 90 juta M3, tanaman rusak 12.820 Ha, dan korban manusia 282 meninggal (Susilo Suharto, SH, 1973)

6.Prasasti Wurare menyebutkan bahwa menjelang Erlangga mengundurkan diri, telah memecah kerajaan menjadi 2 untuk ke dua orang anak laki-lakinya yang lahir dari 2 orang selirnya, karena Kilisuci putri mehkotanya menolak menjadi Raja Medang menggantikan ayahandanya Erlangga, dan memilih menjadi pertapa di Gua Selomangleng.

a.Kerajaan Panjalu atau Kadhiri beribu kota di Dhahanapura untuk putranya Samara Wijaya.

b.Jenggolo dengan ibukota di Kahuripan untuk putranya yang bernama Garasakan.

Sebagai batas wilayah dari kedua Kerajaan tersebut adalah Sungai Brantas yang pada saat itu alirannya tidak seperti sekarang. Sebelah selatan Sungai wilayah Panjalu atau Kadhiri, sedangkan sebelah utara Sungai wilayah Jenggolo.

Eksistensi Kahuripan semakin lama menjadi mengecil, karena sepeninggal Erlangga kedua Kerajaan tersebut selalu dilanda peperangan saudara sampai dengan Prabu Mapanji Joyobhoyo memerintah Kadhiri tahun 1135 � 1157 Masehi, dan para Raja-raja kemudian memilih domisili di Dhahanapura.

Peristiwa pembagian wilayuah Kerajaan oleh Erlangga, kemudian melahirkan mitos mPu Bharadah. Perang saudara antara Panjalu dengan Jenggolo menginspirasi lahirnya Kitab Bharoto Yudo, yang telah membawa korban salah satu pengarangnya yaitu mPu Sedah.

Kahuripan walaupun tidak sebesar jaman Erlangga, namun tetap eksis berperan dalam sejarah Kadhiri, Singosari maupun Mojopahit, seperti :

-Tribhuwonottunggodewi sebelum menjadi Raja Mojopahit, terlebih dahulu menjadi Rajamuda di Kahuripan, sedangkan patihnya Gajahmada.

-Hayam wuruk anak Tribhuwonottunggodewi, sebelum menjadi Maharaja Mojopahit, pernah menjadi raja muda di Jiwana. Jiwana adalah nama lain dari Kahuripan.

-Gajahmada pertama kali menjabat sebagai Patih adalah di Kerajaan vasal Kahuripan, kemudian dipindah menjadi Patih di Khadiri, dan terakhir Mahapatih Mojopahit.

Demikian tulisan ini semoga bermanfaat.

Ganungkidul, Mei 2005

DARI MEDANG KAMULAN KE ERA KEDIRI

Kerajaan pertama yang diasaskan di Jawa timur adalah Medang Kamulan, wilayahnya

meliputi Nganjuk, Kediri, Ploso ( Jombang-Lamongan ) , Surabaya, Pasuruan dan

Malang .

Kerajaan ini berlanjut menjadi Kediri ketika diperintah oleh Airlangga,yang

merupakan anak-menantu dari Raja-raja keturunan Medang  Kamulan ( Empu Sindok )

.

KERAJAAN MEDANG KAMULAN

Berdasarkan penemuan beberapa prasasti, dapat diketahui bahwa Kerajaan Medang

Kamulan terletak di Jawa Timur, yaitu di muara sungai Brantas.ibu kotanya

bernama Watan Mas ( diperkirakan di daerah Ploso—antara Jombang dan Lamongan ).

Kerajaan ini didirikan oleh Mpu Sindok, setelah ia memindahkan pusat

pemerintahannya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Namun, wilayah kekuasaan

Kerajaan Medang Kamulan pada masa pemerintahan Mpu Sindok mencakup daerah

Nganjuk disebelah barat, daerah Pasuruan di sebelah timur, daerah Surabaya di

sebelah utara, dan daerah Malang di sebelah selatan. Dalam perkembangan

selanjutnya, wilayah kekuasaan Kerajaan Medang Kamulan mencakup hampir seluruh

wilayah Jawa Timur.

1. Sumber Sejarah

Berita India mengatakan bahwa Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan persahabatan

dengan Kerajaan Chola. Hubungan ini bertujuan untuk membendung dan menghalangi

kemajuan Kerajaan Medang Kamulan pada masa pemerintahan Raja Dharmawangsa.

Berita Cina berasal dari catatan-catatan yang ditulis pada zaman

Dinasti Sung. Catatan-catatan Kerajaan Sung itu menyatakan bahwa antara

kerajaan yang berada di Jawa dan Kerajaan Sriwijaya sedang terjadi permusuhan

dan pertikaian, sehingga ketika Duta Sriwijaya pulang dari Negeri Cina (tahun

990 M), terpaksa harus tinggal dulu di Campa sampai peperangan itu reda. Pada

tahun 992 M, pasukan dari Jawa telah meninggalkan Sriwijaya dan pada saat itu

Kerajaan Medang Kamulan dapat memajukan pelayaran dan perdagangan.

2. Kehidupan Politik

Sejak berdiri dan berkembangnya Kerajaan Medang Kamulan, terdapat

beberapa raja yang diketahui memerintah kerajaan ini. Raja-raja tersebut adalah

sebagai berikut.

Raja Mpu Sindok

Raja Mpu Sindok memerintah Kerajaan Medang Kamulan dengan gelar Mpu

Sindok Isyanatunggadewa. Dari gelar Mpu Sindok itulah diambil nama Dinasti

Isyana. Raja Mpu Sindok masih termasuk keturunan dari raja Dinasti Sabjaya

(Mataram) di Jawa Tengah. Karena kondisi di Jawa Tengah tidak memungkinkan

bertahtanya Dinasti Sanjaya akibat desakan Kerajaan Sriwijaya, maka Mpu Sindok

memindahkan pusat pemerintahannya ke Jawa Timur. Bahkan dalam prasasti terakhir

Mpu Sindok (947 M) menyatakan bahwa Raja Mpu sindok adalah peletak dasar dari

Kerajaan Medang Kamulan di Jawa Timur.

Dharmawangsa

Raja Dharmawangsa dikenal sebagai salah seorang raja yang memiliki

pandangan politik yang tajam. Semua politiknya ditujukan untuk mengangkat

derajat kerajaan. Kebesaran Raja Dharmawangsa tampak jelas pada politik luar

negerinya.

Airlangga

Dalam Prasasti Calcuta disebutkan bahwa Raja Airlangga (Erlangga)

masih termasuk keturunan dari Raja Mpu Sindok dari pihak ibunya. Ibunya bernama

Mahendradata (Gunapria Dharmapatni) yang kawin dengan Raja Udayana dari Bali .

3. Kehidupan Ekonomi

Raja Mpu Sindok mendirikan ibu kota kerajaannya di tepi Sungai

Brantas, dengan tujuan menjadi pusat pelayaran dan perdagangan di daerah Jawa

Timur. Bahkan pada masa pemerintahan Dharmawangsa, aktifitas perdagangan bukan

saja di Jawa Timur, tetapi berkembang ke luar wilayah jawa Timur.

Di bawah pemerintahan Raja Dharmawangsa, Kerajaan Medang Kamulan

menjadi pusat aktifitas pelayaran perdagangan di indonesia Timur. Namun akibat

serangan dari Kerajaan Wurawari, segala perekonomian Kerajaan Medang Kamulan

mengalami kehancuran.

KERAJAAN KEDIRI

Kerajaan Kediri merupakan kelanjutan dari Kerajaan Wangsa Isyana (Kerajaan

Medang Kamulan). Pada akhir kekuasaan pemerintahan Raja Airlangga, wilayah

kerajaannya dibagi dua, untuk menghindari terjadinya perang saudara. Maka

muncullah Kerajaan Kediri dengan ibu kota Daha, diperintah Jayawarsa dan

Kerajaan Jenggala dengan ibu kotanya Kahuripan diperintah oleh Jayanegara.

Raja Jayawarsa

Masa pemerintahan Jayawarsa (1104 M) hanya dapat diketahui melalui

Prasasti Sirah Keting. Dari prasasti itu diketahui bahwa Raja Jayawarsa sangat

besar perhatiannya kepada rakyatnya dan berupaya meningkatkan kesejahteraan

hidup rakyatnya.

Raja Bameswara

Pada masa pemerintahannya, Raja Bameswara (1117-1130 M) banyak

meninggalkan prasasti-prasasti yang ditemukan di daerah Tulungagung dan

Kertosono.

Raja Jayabaya

Raja Jayabaya (1135-1157 M) merupakan raja terkemuka dari Kerjaan

Kediri, karena di bawah pemerintahannya Kerajaan Kediri mencapai masa

kejayaannya. Kemenangan Kerajaan Kediri dalam perluasan wilayahnya mengilhami

pujangga Empu Sedah dan Empu Panuluh untuk menulis Kitab Bharatayuda.

Raja Gandra

Masa pemerintahan Raja Gandra (1181 M) berhasil diketahui dari

Prasasti Jaring, yaitu tentang penggunaan nama hewan dalam kepangkatan seperti

nama Gajah, Kebo atau Tikus.

Raja Kameswara

Pada masa pemerintahan Raja Kameswara (1182-1185 M), seni sastra

mengalami perkembangannya yang sangat pesat. Diantaranya Empu Dharmaja

mengarang Kitab Smaradhana. Bahkan pada masa pemerintahannya juga dikenal

cerita-cerita panji seperti Panji Semirang.

Raja Kertajaya

Raja Kertajaya (1190-1222 M) merupakan raja terakhir dari Kerajaan Kediri. Raja

Kertajaya juga lebih dikenal dengan sebutan Dandang Gendis.

Selama pemerintahannya, keadaan Kediri menjadi tidak aman. Kestabilannya

kerajaan menurun. Hal ini disebabkan Raja Kertajaya mempunyai maksud mengurangi

hak-hak kaum Brahmana. Hal ini ditentang oleh kaum Brahmana. Kedudukan kaum

Brahmana di Kerajaan Kediri semakin tidak aman.

Kaum Brahmana banyak yang lari dan minta bantuan ke Tumapel yang saat itu

diperintah oleh Ken Arok. Raja Kertajaya yang mengetahui bahwa kaum Brahmana

banyak yang lari dan minta bantuan ke Tumapel, mempersiapkan pasukkannya untuk

menyerang Tumapel. Sementara itu, Ken Arok dengan dukungan kaum Brahmana

melakukan serang ke Kerajaan Kediri. Kedua pasukan itu bertemu di dekat Genter

(1222 M). Dalam pertempuran itu pasukan Kediri berhasil dihancurkan. Raja

Kertajaya berhasil meloloskan diri.

Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan kerajaan Kediri . Akhirnya kerajaan

Kediri menjadi daerah bawahan Kerajaan Tumapel. Selanjutnya berdirilah Kerajaan

Singasari dengan Ken Arok sebagai raja pertama.

Menelusuri Jejak Kerajaan Mataram Kuno di Jombang

Ada Keterkaitan dengan Nama Tembelang dan Watu Galuh

Bukti-bukti penguat eksistensi Jombang di masa lalu, kembali terungkap. Kali ini, dibeber Wiji Mulyo Maradianto, guru ekstrakurikuler Seni Tari di SDN Jombatan V. Dari hasil penelusurannya, wilayah Jombang merupakan pusat Kerajaan Mataram Kuno saat dipimpin Raja Mpu Sindok.

JALALUDDIN HAMBALI, Jombang

———–

ADA enam bukti yang berhasil dikumpulkan Wiji terkait jejak sejarah Kerajaan Mataram Kuno di Kota Santri. Bukti itu didasarkan pada penelusuran historis, arkeologis dan etnografis. Secara historis, nama Watu Galuh, desa di Kecamatan Diwek dan Kecamatan Tembelang, telah lama disebut-sebut peneliti dan sejarawan terkait dengan Kerajaan Mataram Kuno. Istilah Mataram Kuno atau dalam istilah lain disebut sebagai Kerajaan Medang saat pusat pemerintahannya dialihkan ke Jawa Timur.

Nama Watu Galuh berasal dari prasasti Anjukladang 859 S/937 M. Di dalam prasasti yang ditemukan di wilayah Nganjuk itu antara lain tertera aksara berbahasa Jawa Kuno: ”kita prasiddha manraksang kadatwan rangyangta i m ndang i bhumi mataram i watugaluh…”

Kalimat itu bermakna bahwa sejak masa pemerintahan Mpu Sindok, pusat kerajaan Mataram yang semula berada di Mdang, berpindah ke Watugaluh. Desa Watugaluh tersebut sampai sekarang terletak di delta sungai Brantas di Kabupaten Jombang. Bukti lain ada pada prasasti Turyan yang ditemukan di Turen, Malang.

Prasasti ini ditemukan di Dusun Watu Godeg, Desa Tanggung, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Prasasti ini masih berada di tempat pertama kali ditemukan. Menurut pembacaan yang dilakukan Damais, prasasti ini dikeluarkan oleh Sri Maharaja Rake Hino Dyah Sindok Sri Isawikrama Dharmotunggawijaya.

Prasasti dari batu berukuran 126×117 cm yang bertuliskan pada kedua sisinya, sebagian batunya pecah dan beberapa aksara sudah aus sehingga sukar dibaca. Prasasti ini berisi permohonan Dang Atu Pu Sahitya untuk mendapatkan sebidang tanah guna pembuatan bangunan suci.

Damais mengonversikan pertanggalan pada prasasti 24 Juli 929 Masehi. Pada bagian akhir prasasti itu disebutkan bahwa Raja Pu Sindok memulai ibukotanya di Tamwlang. Letak Tamwlang ini menurut para peneliti diduga sebagai Desa Tembelang, Kecamatan Tembelang, sekitar 5 km utara Kota Jombang.

Selain itu, secara topografis, Watu Galuh berada diantara Gunung Semeru dan Gunung Wilis. ”Dengan asumsi itu, menjadikan kerajaan ini kuat secara topografis,” kata Wiji.

Dalam penelitiannya, pria bernama udara Dian Sukarno ini juga mengaitkan temuan artefaktual. Yakni, struktur candi di Desa Pundong Kecamatan Diwek. Berdasar laporan ekskavasi yang disusun Kuswanto dkk, staf Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan Wilayah Kerja Provinsi Jawa Timur, struktur candi itu diduga merupakan peninggalan masa Raja Empu Sindok hingga khir masa Kerajaan Majapahit.

Di Watugaluh hingga kini juga masih terdapat sejumlah bukti artefak. Antara lain batu, lumpang kuno serta sumur kuno. ”Ada beberapa temuan yang bahkan dikubur lagi oleh warga karena ketidaktahuan akan pentingnya makna sejarah.”

Bukti lain adalah Prasasti Geweg 855 Saka. Prasasti ini terletak di Desa Tengaran, Kecamatan Peterongan. Prasasti ini masih berada di tempat pertama kali ditemukan. Kondisi prasasti ini sudah aus sehingga huruf-hurufnya relatif sulit dibaca. Tetapi dari huruf-huruf yang terpahat dan belum aus diketahui bahwa prasasti ini dikeluarkan oleh Rakyan Sri Mahamantri Pu Sindok Sri Sanottunggadewawijaya bersama Rakryan Sri Parameswari Sri Warddhani Pu Kbi tentang penetapan Desa Geweg sebagai sima. Menurut Damais, prasasti ini berpertanggalan 14 Agustus 933 Masehi.

Hal lain yang menguatkan tesis itu adalah adanya cerita rakyat atau folklore yang berhasil digali dari beberapa penutur. Dian menyatakan, hipotesis itu bukan merupakan hal baru dalam kajian masyarakat persejarahan di Indoesia. Namun, memiliki nilai aktualitas ketika dihadapkan pada realitas masyarakat Jombang masa kini yang membutuhkan penguatan identitas lokal.

Dia menyatakan, Kerajaan Medang adalah kerajaan yang berdiri di Jawa Tengah pada abad ke-8, kemudian pindah ke Jawa Timur pada abad ke-10. Kerajaan ini akhirnya runtuh pada awal abad ke-11.

Pada umumnya, istilah Kerajaan Medang hanya lazim dipakai untuk menyebut periode Jawa Timur. Berdasarkan prasasti-prasasti yang telah ditemukan, nama Medang sudah dikenal sejak periode sebelumnya. Yaitu periode Jawa Tengah.

Sementara itu, nama yang lazim dipakai untuk menyebut Kerajaan Medang periode Jawa Tengah adalah Kerajaan Mataram, yaitu merujuk kepada salah daerah ibu kota kerajaan ini. Kadang untuk membedakannya dengan Kerajaan Mataram Islam yang berdiri pada abad ke-16, Kerajaan Medang periode Jawa Tengah biasa pula disebut dengan nama Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram Hindu.

Dian menyebutkan, hasil penelitiannya itu pernah diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Obyek/Peristiwa Sejarah di Jatim 2008. Dari 46 peserta se Jatim, karya Dian mendapat apresiasi sebagai peraih Juara Harapan 1. Juara 1 diarih peserta dari Kota Mojokerto, Juara 2 dari Gresik, Juara 3 dari Kota Batu, Juara Harapan 2 dari Tulung Agung dan Juara Harapan 3 diraih peserta dari Lamongan.

Selain penelitian itu, Dian juga berhasil menggalang kepedulian warga di Desa Tengaran dan Desa Watu Galuh. Di dua desa tersebut terdapat sejumlah bukti artefak. Beberapa warga masyarakat Watu Galuh kini intens berdiskusi sebulan sekali tentang sejarah.

Bahkan, warga dua desa itu ada yagn tergerak untuk membentuk jaringan kerja budaya bagi penyadaran sejarah di Jombang. ”Pengungkapan sejarah dapat melahirkan sikap kearifan lokal untuk memperkuat jati diri di tengah gempuran budaya asing,” kata Wiji. (yr)

Komentar
  1. Woah! I’m really loving the template/theme of this site. It’s simple, yet effective.
    A lot of times it’s very hard to get that “perfect balance” between user friendliness and appearance. I must say that you’ve done a fantastic job with this.
    Additionally, the blog loads very quick for me on Safari.
    Excellent Blog!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s