Beberapa kuripan sejarah II

Posted: 7 September 2010 in DATA SEJARAH

Dyah Balitung

Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Dharmodaya Mahasambu adalah raja Kerajaan Medang periode Jawa Tengah (atau lazim disebut Kerajaan Mataram Kuno), yang memerintah sekitar tahun 899911. Wilayah kekuasaannya mencakup Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan Bali.

Asal-Usul

Analisis para sejarawan, misalnya Boechari atau Poerbatjaraka, menyebutkan bahwa Dyah Balitung berhasil naik takhta karena menikahi putri raja sebelumnya. Kemungkinan besar raja tersebut adalah Rakai Watuhumalang yang menurut prasasti Mantyasih memerintah sebelum Balitung.

Mungkin alasan Dyah Balitung bisa naik takhta bukan hanya itu, mengingat raja sebelumnya ternyata juga memiliki putra bernama Mpu Daksa (prasasti Telahap). Alasan lain yang menunjang ialah keadaan Kerajaan Medang sepeninggal Rakai Kayuwangi mengalami perpecahan, yaitu dengan ditemukannya prasasti Munggu Antan atas nama Maharaja Rakai Gurunwangi dan prasasti Poh Dulur atas nama Rakai Limus Dyah Dewendra.

Jadi, kemungkinan besar Dyah Balitung yang merupakan menantu Rakai Watuhumalang (raja Medang pengganti Rakai Kayuwangi) berhasil menjadi pahlawan dengan menaklukkan Rakai Gurunwangi dan Rakai Limus sehingga kembali mengakui kekuasaan tunggal di Kerajaan Medang. Maka, sepeninggal Rakai Watuhumalang, rakyat pun memilih Balitung sebagai raja daripada iparnya, yaitu Mpu Daksa.

Riwayat Pemerintahan

Pada masa pemerintahan Dyah Balitung, istana Kerajaan Medang tidak lagi berada di daerah Mataram, ataupun Mamrati, melainkan sudah dipindahkan ke daerah Poh Pitu yang diberi nama Yawapura. Hal ini dimungkinkan karena istana Mamratipura (yang dulu dibangun oleh Rakai Pikatan) telah rusak akibat perang saudara antara Rakai Kayuwangi melawan Rakai Gurunwangi.

Prasasti tertua atas nama Balitung yang berhasil ditemukan adalah prasasti Telahap tanggal 11 September 899. Namun bukan berarti ini adalah prasasti pertamanya, atau dengan kata lain, bisa jadi Balitung sudah naik takhta sebelum tahun 899.

Disusul kemudian prasasti Watukura tanggal 27 Juli 902. Prasasti tersebut adalah prasasti tertua yang menyebutkan adanya jabatan Rakryan Kanuruhan, yaitu semacam jabatan perdana menteri. Sementara itu jabatan Rakryan Mapatih pada zaman Balitung merupakan jabatan putra mahkota yang dipegang oleh Mpu Daksa.

Prasasti Telang tanggal 11 Januari 904 berisi tentang pembangunan komplek penyeberangan bernama Paparahuan yang dipimpin oleh Rakai Welar Mpu Sudarsana di tepi Bengawan Solo. Balitung membebaskan pajak desa-desa sekitar Paparahuan dan melarang para penduduknya untuk memungut upah dari para penyeberang.

Prasasti Poh tanggal 17 Juli 905 berisi pembebasan pajak desa Poh untuk ditugasi mengelola bangunan suci Sang Hyang Caitya dan Silunglung peninggalan raja sebelumnya yang dimakamkan di Pastika, yaitu Rakai Pikatan. Raja ini merupakan kakek dari Mpu Daksa dan permaisuri Balitung.

Prasasti Kubu-Kubu tanggal 17 Oktober 905 berisi anugerah desa Kubu-Kubu kepada Rakryan Hujung Dyah Mangarak dan Rakryan Matuha Dyah Majawuntan karena keduanya berjasa memimpin penaklukan daerah Bantan. Beberapa sejarawan menafsirkan Bantan sebagai nama lain dari Bali. Istilah Bantan artinya “korban”, sedangkan Bali artinya “persembahan”.

Prasasti Mantyasih tanggal 11 April 907 berisi tentang anugerah kepada lima orang patih bawahan yang berjasa dalam menjaga keamanan saat pernikahan Dyah Balitung. Dalam prasasti ini disebutkan pula urutan raja-raja Medang yang memerintah sebelum dirinya.

Pada tahun 907 tersebut Balitung juga memberikan desa Rukam sebagai hadiah untuk neneknya yang bernama Rakryan Sanjiwana dengan tugas merawat bangunan suci di Limwung.

Akhir Pemerintahan

Pengangkatan Dyah Balitung sebagai raja kemungkinan besar melahirkan rasa cemburu di hati Mpu Daksa, yaitu putra raja sebelumnya yang tentunya lebih berhak atas takhta Kerajaan Medang.

Mpu Daksa yang menjabat sebagai Rakai Hino ditemukan telah mengeluarkan prasasti tanggal 21 Desember 910 tentang pembagian daerah Taji Gunung bersama Rakai Gurunwangi.

Sebagaimana dibahas sebelumnya bahwa, Rakai Gurunwangi mengangkat dirinya sebagai maharaja pada akhir pemerintahan Rakai Kayuwangi dan awal pemerintahan Rakai Watuhumalang. Berdasarkan prasasti Plaosan, Rakai Gurunwangi diperkirakan adalah putra Rakai Pikatan.

Dyah Balitung berhasil naik takhta menggantikan Rakai Watuhumalang diperkirakan karena kepahlawanannya menaklukkan Rakai Gurunwangi dan Rakai Limus. Mungkin Rakai Gurunwangi yang menyimpan dendam kemudian bersekutu dengan Mpu Daksa yang masih keponakannya (Rakai Gurunwangi dan Daksa masing-masing adalah anak dan cucu Rakai Pikatan).

Sejarawan Boechari yakin bahwa pemerintahan Dyah Balitung berakhir akibat pemberontakan Mpu Daksa. Pada prasasti Taji Gunung (910) Daksa masih menjabat sebagai Rakai Hino, sedangkan pada prasasti Timbangan Wungkal (913) ia sudah bergelar maharaja.

Wangsa Sanjaya

Wangsa Sanjaya adalah suatu dinasti yang berkuasa di Kerajaan Medang periode Jawa Tengah (atau lazim disebut Kerajaan Mataram Kuno).

Asal-Usul

Istilah Wangsa Sanjaya diperkenalkan oleh sejarawan bernama Dr. Bosch dalam karangannya yang berjudul Sriwijaya, de Sailendrawamsa en de Sanjayawamsa (1952). Ia menyebutkan bahwa, di Kerajaan Medang terdapat dua dinasti yang berkuasa, yaitu dinasti Sanjaya dan Sailendra.

Istilah Wangsa Sanjaya merujuk kepada nama pendiri Kerajaan Medang, yaitu Sanjaya yang memerintah sekitar tahun 732. Dinasti ini menganut agama Hindu aliran Siwa, dan berkiblat ke Kunjaradari di daerah India.

Raja selanjutnya ialah Rakai Panangkaran yang dikalahkan oleh dinasti lain bernama Wangsa Sailendra. Pada tahun 778 raja Sailendra yang beragama Buddha aliran Mahayana memerintah Rakai Panangkaran untuk mendirikan Candi Kalasan.

Sejak saat itu Kerajaan Medang dikuasai oleh Wangsa Sailendra. Sampai akhirnya seorang putri mahkota Sailendra yang bernama Pramodawardhani menikah dengan Rakai Pikatan, seorang keturunan Sanjaya, pada tahun 840–an. Rakai Pikatan kemudian mewarisi takhta mertuanya. Dengan demikian, Wangsa Sanjaya kembali berkuasa di Medang.

Teori yang Menolak

Sejarawan Poerbatjaraka menolak keberadaan Wangsa Sanjaya. Menurutnya, Wangsa Sanjaya tidak pernah ada, karena Sanjaya sendiri adalah anggota Wangsa Sailendra. Dinasti ini mula-mula beragama Hindu, karena istilah Sailendra bermakna “penguasa gunung” yaitu sebutan untuk Siwa.

Selain itu, istilah Sanjayawangsa tidak pernah dijumpai dalam prasasti mana pun, sedangkan istilah Sailendrawangsa ditemukan dalam beberapa prasasti, misalnya prasasti Ligor, prasasti Kalasan, dan prasasti Abhayagiriwihara.

Poerbatjaraka berpendapat bahwa, Sanjaya telah memerintahkan agar putranya, yaitu Rakai Panangkaran pindah agama, dari Hindu menjadi Buddha. Teori ini berdasarkan atas kisah dalam Carita Parahyangan bahwa Rahyang Sanjaya menyuruh Rahyang Panaraban untuk berpindah agama. Dengan demikian, yang dimaksud dengan istilah “raja Sailendra” dalam prasasti Kalasan tidak lain adalah Rakai Panagkaran sendiri.

Carita Parahyangan memang ditulis ratusan tahun sesudah kematian Sanjaya. Meskipun demikian, kisah di atas seolah terbukti dengan ditemukannya sebuah

prasasti yang mengisahkan tentang seorang pangeran bernama Sankhara yang pindah agama karena ayahnya meniggal dunia akibat menjalani ritual terlalu berat. Sayangnya, prasasti ini tidak jelas angka tahunnya, serta tidak menyebutkan nama ayah Sankhara tersebut.

Jadi, teori Poerbatjaraka menyebutkan bahwa hanya ada satu dinasti saja yang berkuasa di Kerajaan Medang, yaitu Wangsa Sailendra yang beragama Hindu Siwa. Sejak pemerintahan Rakai Panangkaran, dinasti Sailendra terpecah menjadi dua. Agama Buddha dijadikan agama resmi negara, sedangkan cabang Sailendra lainnya ada yang tetap menganut agama Hindu, misalnya seseorang yang kelak menurunkan Rakai Pikatan.

Kalender Sanjaya

Meskipun istilah Sanjayawangsa tidak pernah dijumpai dalam prasasti mana pun, namun istilah Sanjayawarsa atau “Kalender Sanjaya” ditemukan dalam prasasti Taji Gunung dan prasasti Timbangan Wungkal.

Kedua prasasti tersebut dikeluarkan oleh Mpu Daksa dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah keturunan asli Sanjaya, sang pendiri kerajaan. Tahun 1 Sanjayawarsa sama dengan tahun 717 Masehi. Tidak diketahui dengan pasti apakah tahun 717 ini merupakan tahun kelahiran Sanjaya, ataukah tahun berdirinya kerajaan.

Daftar Para Raja

Daftar para raja Medang sebelum Dyah Balitung yang tertulis dalam prasasti Mantyasih menurut teori Bosch adalah daftar para raja Wangsa Sanjaya, sekaligus juga silsilah keluarga mulai dari Sanjaya sampai Balitung.

Para raja tersebut ialah:

Sejarawan Slamet Muljana berpendapat lain. Menurutnya, daftar tersebut bukan silsilah Wangsa Sanjaya, melainkan daftar para raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Medang. Pendapatnya itu berdasarkan atas julukan Rakai Panangkaran dalam prasasti Kalasan, yaitu Sailendrawangsatilaka atau “permata Wangsa Sailendra”. Jadi menurutnya tidak mungkin apabila Rakai Panangkaran adalah putra Sanjaya.

Analisis Slamet Muljana terhadap beberapa prasasti, misalnya prasasti Kelurak, prasasti Nalanda, ataupun prasasti Kayumwungan menyimpulkan bahwa Rakai Panangkaran, Rakai Panunggalan, Rakai Warak, dan Rakai Garung adalah anggota Wangsa Sailendra, sementara sisanya adalah anggota Wangsa Sanjaya, kecuali Rakai Kayuwangi yang berdarah campuran.

Raja Sesudah Balitung

Raja sesudah Dyah Balitung adalah Mpu Daksa yang memperkenalkan pemakaian “Kalender Sanjaya” untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah keturunan asli sang pendiri kerajaan. Selain itu, kemungkinan besar Daksa juga merupakan cucu Rakai Pikatan sebagaimana yang tertulis dalam prasasti Telahap.

Daksa digantikan oleh menantunya, bernama Dyah Tulodhong, yaitu putra dari seseorang yang dimakamkan di Turu Mangambil. Tidak diketahui dengan pasti apakah Tulodhong ini merupakan keturunan Sanjaya atau bukan.

Menurut sejarawan Boechari, pemerintahan Tulodhong berakhir akibat pemberontakan Dyah Wawa, putra Rakryan Landhayan. Dalam hal ini juga tidak dapat dipastikan apakah Wawa keturunan Sanjaya atau bukan.

Raja selanjutnya bernama Mpu Sindok yang diperkirakan sebagai cucu Mpu Daksa. Jika benar demikian, maka Mpu Sindok dapat disebut sebagai keturunan Sanjaya pula, meskipun ia dianggap telah mendirikan dinasti baru bernama Wangsa Isana.

Wangsa Syailendra

Śailendra adalah nama wangsa atau dinasti yang sebagian besar raja-rajanya menganut agama Buddha Mahāyāna yang berkuasa di Mdaŋ Kerajaan Mataram Kuno sejak tahun 752. Wangsa ini hidup berdampingan dengan Wangsa Sañjaya yang berkuasa sejak tahun 732, di daerah Jawa Tengah bagian selatan.

Asal-usul

Di Indonesia nama Śailendravamsa dijumpai pertama kali di dalam Prasasti Kalasan dari tahun 778 Masehi (Śailendragurubhis; Śailendrawańśatilakasya; Śailendrarajagurubhis). Kemudian nama itu ditemukan di dalam Prasasti Kelurak dari tahun 782 Masehi (Śailendrawańśatilakena), dalam Prasasti Abhayagiriwihara dari tahun 792 Masehi (dharmmatuńgadewasyaśailendra), Prasasti Sojomerto dari tahun 725 Masehi (selendranamah)dan Prasasti Kayumwuńan dari tahun 824 Masehi (śailendrawańśatilaka). Di luar Indonesia nama ini ditemukan dalam Prasasti Ligor dari tahun 775 Masehi dan Prasasti Nālanda.

Mengenai asal usul keluarga Śailendra banyak dipersoalkan oleh beberapa sarjana. Berbagai pendapat telah dikemukakan oleh sejarahwan dan arkeologis dari berbagai negara. Ada yang mengatakan bahawa keluarga Śailendra berasal dari India, dari Funan, dan penduduk asli dari Nusantara.

Teori India

Majumdar beranggapan bahwa keluarga Śailendra di Nusantara, baik di Śrīwijaya (Sumatera) maupun di Mdaŋ (Jawa) berasal dari Kalingga (India Selatan). Pendapat yang sama dikemukakan juga oleh Nilakanta Sastri dan Moens. Moens menganggap bahwa keluarga Śailendra berasal dari India yang menetap di Palembang sebelum kedatangan Dapunta Hiyaŋ. Pada tahun 683 Masehi, keluarga ini melarikan diri ke Jawa karena terdesak oleh Dapunta Hiyaŋ dengan bala tentaranya. Pada waktu itu Śrīwijaya pusatnya ada di Semenanjung Tanah Melayu.

Pernyataan yang hampir senada dengan Moens dikemukakan oleh Slametmulyana. Ia mengemukakan gagasannya itu didasarkan atas sebutan gelar dapunta pada Prasasti Sojomerto. Gelar ini ditemukan juga pada Prasasti Kedukan Bukit pada nama Dapunta Hiyaŋ. Prasasti Sojomerto dan Prasasti Kedukan Bukit merupakan prasasti yang berbahasa Melayu Kuno. Karena asal bahasa Melayu Kuno itu dari Sumatera dan adanya politik perluasan wilayah dari Kadātuan Śrīwijaya pada sekitar tahun 680-an Masehi, dapat diduga bahwa Dapunta Selendra adalah salah seorang pembesar dari Sumatera Selatan yang menyingkir ke pantai utara Jawa di sekitar Pekalongan.

Teori Funan

Cœdès lebih condong kepada anggapan bahwa Śailendra yang ada di Nusantara itu berasal dari Funan (Kamboja). Karena terjadi kerusuhan yang mengakibatkan runtuhnya Kerajaan Funan, kemudian keluarga kerajaan ini menyingkir ke Jawa, dan muncul sebagai penguasa di Mdaŋ (Matarām) pada pertengahan abad ke-8 Masehi dengan menggunakan nama keluarga Śailendra.

Teori Jawa

Pendapat bahwa keluarga Śailendra berasal dari Nusantara (Jawa) dikemukakan oleh Poerbatjaraka. Menurut Poerbatjaraka, Sanjaya dan keturunan-keturunannya itu ialah raja-raja dari keluarga Śailendra, asli Nusantara yang menganut agama Śiva. Tetapi sejak Paņamkaran berpindah agama menjadi penganut Buddha Mahāyāna, raja-raja di Matarām menjadi penganut agama Buddha Mahāyāna juga. Pendapatnya itu didasarkan atas Carita Parahiyangan yang menyebutkan bahwa R. Sañjaya menyuruh anaknya R. Panaraban atau R. Tamperan untuk berpindah agama karena agama yang dianutnya ditakuti oleh semua orang.

Pendapat dari Poerbatjaraka yang didasarkan atas Carita Parahiyangan kemudian diperkuat dengan sebuah temuan prasasti di wilayah Kabupaten Batang. Di dalam prasasti yang dikenal dengan nama Prasasti Sojomerto itu disebutkan nama Dapunta Selendra, nama ayahnya (Santanū), nama ibunya (Bhadrawati), dan nama istrinya (Sampūla) (da pū nta selendra namah santanū nāma nda bapa nda bhadrawati nāma nda aya nda sampūla nāma nda ..). Menurut Boechari, tokoh yang bernama Dapunta Selendra adalah bakal raja-raja keturunan Śailendra yang berkuasa di Mdaŋ.

Nama “Dapunta Selendra” jelas merupakan ejaan Indonesia dari kata Sanskrit “Śailendra” karena di dalam prasasti digunakan bahasa Melayu Kuno. Jika demikian, kalau keluarga Śailendra berasal dari India Selatan tentunya mereka memakai bahasa Sanskrit di dalam prasasti-prasastinya. Dengan ditemukannya Prasasti Sojomerto telah diketahui asal keluarga Śailendra dengan pendirinya Dapunta Selendra. Berdasarkan paleografinya, Prasasti Sojomerto berasal dari sekitar pertengahan abad ke-7 Masehi.

Prasasti Canggal menyebutkan bahwa Sañjaya mendirikan sebuah lingga di bukit Sthīrańga untuk tujuan dan keselamatan rakyatnya. Disebutkan pula bahwa Sañjaya memerintah Jawa menggantikan Sanna; Raja Sanna mempunyai saudara perempuan bernama Sanaha yang kemudian dikawininya dan melahirkan Sañjaya.

Dari Prasasti Sojomerto dan Prasasti Canggal telah diketahui nama tiga orang penguasa di Mdaŋ (Matarām), yaitu Dapunta Selendra, Sanna, dan Sañjaya. Raja Sañjaya mulai berkuasa di Mdaŋ pada tahun 717 Masehi. Dari Carita Parahiyangan dapat diketahui bahwa Sena (Raja Sanna) berkuasa selama 7 tahun. Kalau Sañjaya naik takhta pada tahun 717 Masehi, maka Sanna naik takhta sekitar tahun 710 Masehi. Hal ini bererti untuk sampai kepada Dapunta Selendra (pertengahan abad ke-7 Masehi) masih ada sisa sekitar 60 tahun. Kalau seorang penguasa memerintah lamanya kira-kira 25 tahun, maka setidak-tidaknya masih ada 2 penguasa lagi untuk sampai kepada Dapunta Selendra. Dalam Carita Parahiyangan disebutkan bahawa Raja Mandimiñak mendapat putra Sang Sena (Sanna). Ia memegang pemerintahan selama 7 tahun, dan Mandimiñak diganti oleh Sang Sena yang memerintah 7 tahun. Dari urutan raja-raja yang memerintah itu, dapat diduga bahwa Mandimiñak mulai berkuasa sejak tahun 703 Masehi. Ini berarti masih ada 1 orang lagi yang berkuasa sebelum Mandimiñak.

Berita Tionghoa yang berasal dari masa Dinasti T’ang memberitakan tentang Kerajaan Ho-ling yang disebut She-po (=Jawa). Pada tahun 674 Masehi rakyat kerajaan itu menobatkan seorang wanita sebagai ratu, yaitu Hsi-mo (Ratu Sima). Ratu ini memerintah dengan baik. Mungkinkah ratu ini merupakan pewaris takhta dari Dapunta Selendra? Apabila ya, maka diperoleh urutan raja-raja yang memerintah di Mdaŋ, yaitu Dapunta Selendra (?- 674 Masehi), Ratu Sima (674-703 Masehi), Mandimiñak (703-710 Masehi), R. Sanna (710-717 Masehi), R. Sañjaya (717-746 Masehi), dan Rakai Paņamkaran (746-784 Masehi), dan seterusnya.

Era Mataram Kuna

Kerajaan Mataram Kuna diperintah oleh dua wangsa yaitu Wangsa Syailendra yang beragama Buddha dan Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu Syiwa. Pada awal era Mataram Kuna, Wangsa Syailendra cukup dominan di Jawa Tengah. Menurut para ahli sejarah, Wangsa Sanjaya awalnya berada di bawah pengaruh kekuasaan Wangsa Syailendra. Mengenai persaingan kekuasaan tersebut tidak diketahui secara pasti, akan tetapi kedua-duanya sama-sama berkuasa di Jawa Tengah.

Raja-raja yang berkuasa dari keluarga Syailendra tertera dalam prasasti Ligor, prasasti Nalanda maupun prasasti Klurak, sedangkan raja-raja dari keluarga Sanjaya tertera dalam prasasti Canggal dan prasasti Mantyasih. Berdasarkan candi-candi, peninggalan kerajaan Mataram Kuna dari abad ke-8 dan ke-9 yang bercorak Buddha (Syailendra) umumnya terletak di Jawa Tengah bagian selatan, sedangkan yang bercorak Hindu (Sanjaya) umumnya terletak di Jawa Tengah bagian utara.

Wangsa Syailendra pada saat berkuasa, juga mengadakan hubungan yang erat dengan kerajaan Sriwijaya di Sumatera. Pada masa pemerintahan raja Indra (782-812), puteranya, Samaratungga, dinikahkan dengan Dewi Tara, puteri raja Sriwijaya. Prasasti yang ditemukan tidak jauh dari Candi Kalasan memberikan penjelasan bahwa candi tersebut dibangun untuk menghormati Tara sebagai Bodhisattva wanita. Pada tahun 790, Syailendra menyerang dan mengalahkan Chenla (Kamboja), kemudian sempat berkuasa di sana selama beberapa tahun.

Candi Borobudur selesai dibangun pada masa pemerintahan raja Smaratungga (812-833). Borobudur merupakan monumen Buddha terbesar di dunia, dan kini menjadi salah satu kebanggaan bangsa Indonesia. Smaratungga memiliki puteri bernama Pramodhawardhani dan dari hasil pernikahannya dengan Dewi Tara, putera bernama Balaputradewa.

Daftar raja-raja

Pendapat umum menyebutkan raja-raja Wangsa Sailendra adalah sebagai berikut,

  • Bhanu (752-775), raja pertama dan pendiri Wangsa Syailendra
  • Wisnu (775-782), Candi Borobudur mulai dibangun
  • Indra (782-812), menyerang dan mengalahkan Kerajaan Chenla (Kamboja), serta mendudukinya selama 12 tahun
  • Samaratungga (812-833), Candi Borobudur selesai dibangun
  • Pramodhawardhani (833-856), menikah dengan Rakai Pikatan, pangeran Wangsa Sanjaya
  • Balaputradewa (833-850), melarikan diri ke Sriwijaya setelah dikalahkan Rakai Pikatan

Akan tetapi, beberapa sejarawan tampaknya menolak urutan ini. Misalnya, Slamet Muljana berpendapat bahwa anggota Wangsa Sailendra pertama yang berhasil menjadi raja adalah Rakai Panangkaran. Sementara itu, Porbatjaraka berpendapat bahwa wangsa Sanjaya itu tidak pernah ada. Dengan kata lain, Sanjaya juga merupakan anggota Wangsa Sailendra.

Runtuhnya Wangsa Syailendra

Pramodhawardhani, puteri raja Samaratungga menikah dengan Rakai Pikatan, yang waktu itu menjadi pangeran Wangsa Sanjaya. Sejak itu pengaruh Sanjaya yang bercorak Hindu mulai dominan di Mataram, menggantikan agama Buddha. Rakai Pikatan bahkan menyerang Balaputradewa, yang merupakan saudara Pramodhawardhani. Sejarah Wangsa Syailendra berakhir pada tahun 850, yaitu ketika Balaputradewa melarikan diri ke Sriwijaya yang merupakan negeri asal ibunya.

Wangsa Isyana

Wangsa Isyana adalah sebuah dinasti yang berkuasa di Kerajaan Medang periode Jawa Timur pada abad ke-10 sampai awal abad ke-11.

Asal-Usul

Istilah Isyana berasal dari nama Sri Isyana Wikramadharmottunggadewa, yaitu gelar Mpu Sindok setelah menjadi raja Medang (929947). Dinasti ini menganut agama Hindu aliran Siwa.

Berdasarkan agama yang dianut, Mpu Sindok diduga merupakan keturunan Sanjaya, pendiri Kerajaan Medang periode Jawa Tengah. Salah satu pendapat menyebutkan bahwa Mpu Sindok adalah cucu Mpu Daksa yang memerintah sekitar tahun 910–an. Mpu Daksa sendiri memperkenalkan pemakaian Sanjayawarsa (kalender Sanjaya) untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah keturunan asli Sanjaya. Dengan demikian, Mpu Daksa dan Mpu Sindok dapat disebut sebagai anggota Wangsa Sanjaya.

Kerajaan Medang di Jawa Tengah hancur akibat letusan Gunung Merapi menurut teori van Bammelen. Mpu Sindok kemudian memindahkan ibu kota Medang dari Mataram menuju Tamwlang. Beberapa tahun kemudian ibu kota dipindahkan lagi ke Watugaluh. Kedua istana baru itu terletak di daerah Jombang sekarang.

Mpu Sindok tidak hanya memindahkan istana Medang ke timur, namun ia juga dianggap telah mendirikan dinasti baru bernama Wangsa Isyana.

Namun ada juga pendapat yang menolak keberadaan Wangsa Sanjaya dan Wangsa Isyana, antara lain yang diajukan oleh Prof. Poerbatjaraka, Pusponegoro, dan Notosutanto. Menurut versi ini, dalam Kerajaan Medang hanya ada satu dinasti saja, yaitu Wangsa Syailendra, yang semula beragama Hindu. Kemudian muncul Wangsa Syailendra terpecah dengan munculnya anggota yang beragama Buddha.

Dengan kata lain, versi ini berpendapat bahwa Mpu Sindok adalah anggota Wangsa Syailendra yang beragama Hindu Siwa, dan yang memindahkan istana Kerajaan Medang ke Jawa Timur.

Silsilah Keluarga

Silsilah Wangsa Isyana dijumpai dalam prasasti Pucangan tahun 1041 atas nama Airlangga, seorang raja yang mengaku keturunan Mpu Sindok. Prasasti inilah yang melahirkan pendapat tentang munculnya sebuah dinasti baru sebagai kelanjutan Wangsa Sanjaya.

Cikal bakal Wangsa Isyana tentu saja ditempati oleh Mpu Sindok alias Maharaja Isyana. Ia memiliki putri bernama Sri Isyanatunggawijaya yang menikah dengan pangeran Bali bernama Sri Lokapala. Dari perkawinan itu lahir Makutawangsawardhana, yang kemudian memiliki putri bernama Mahendradatta, yaitu ibu dari Airlangga.

Ayah dari Airlangga adalah Udayana Warmadewa raja Bali. Dalam beberapa prasasti, nama Mahendradatta atau Gunapriya Dharmapatni disebut lebih dulu sebelum suaminya. Hal ini menunjukkan seolah-olah kedudukan Mahendradatta lebih tinggi daripada Udayana. Mungkin saat itu Bali merupakan negeri bawahan Jawa. Penaklukan Bali diperkirakan terjadi pada zaman pemerintahan Dyah Balitung (sekitar tahun 890900–an)

Prasasti Pucangan juga menyebutkan seorang raja bernama Dharmawangsa Teguh, mertua sekaligus kerabat Airlangga. Para sejarawan cenderung sepakat bahwa Dharmawangsa adalah putra Makutawangsawardhana. Pendapat ini diperkuat oleh prasasti Sirah Keting yang menyebut Dharmawangsa dengan nama Sri Maharaja Isyana Dharmawangsa.

Dengan demikian, Dharmawangsa dapat dipastikan sebagai keturunan Mpu Sindok, meskipun prasasti Pucangan tidak menyebutnya dengan pasti.

Daftar Para Raja

Daftar para raja Wangsa Isyana dapat disusun sebagai berikut,

  1. Mpu Sindok alias Maharaja Isyana
  2. Sri Isyanatunggawijaya, memerintah bersama Sri Lokapala
  3. Makutawangsawardhana
  4. Dharmawangsa Teguh memerintah di Jawa, Mahendradatta memerintah di Bali.
  5. Airlangga, putra Mahendradatta dan menantu Dharmawangsa.

1. Sanjaya, Rakai Mataram

Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya adalah raja pertama Kerajaan Medang periode Jawa Tengah (atau lazim disebut Kerajaan Mataram Kuno), yang memerintah sekitar tahun 730-an. Namanya dikenal melalui prasasti Canggal ataupun naskah Carita Parahyangan. Sebagian para sejarawan menganggap Sanjaya sebagai pendiri Wangsa Sanjaya, meskipun dinasti tersebut ada juga yang menolak keberadaannya.

Mendirikan Kerajaan Medang

Ratu Sanjaya alias Rakai Mataram menempati urutan pertama dalam daftar para raja Kerajaan Medang versi prasasti Mantyasih, yaitu prasasti yang dikeluarkan oleh Maharaja Dyah Balitung tahun 907.

Sanjaya sendiri mengeluarkan prasasti Canggal tanggal 6 Oktober 732 tentang pendirian sebuah lingga serta bangunan candi untuk memuja Siwa di atas sebuah bukit. Candi tersebut kini hanya tinggal puing-puing reruntuhannya saja, yang ditemukan di atas Gunung Wukir, dekat Kedu.

Prasasti Canggal juga mengisahkan bahwa, sebelum Sanjaya bertakhta sudah ada raja lain bernama Sanna yang memerintah Pulau Jawa dengan adil dan bijaksana. Sepeninggal Sanna keadaan menjadi kacau. Sanjaya putra Sannaha (saudara perempuan Sanna) kemudian tampil sebagai raja. Pulau Jawa pun tentram kembali.

Prasasti Canggal ternyata tidak menyebutkan nama kerajaan yang dipimpin Sanna dan Sanjaya. Sementara itu prasasti Mantyasih menyebut Sanjaya sebagai raja pertama Kerajaan Medang, sedangkan nama Sanna sama sekali tidak disebut. Mungkin Sanna memang bukan raja Medang. Dengan kata lain, Sanjaya mewarisi takhta Sanna namun mendirikan sebuah kerajaan baru yang berbeda. Kisah yang agak mirip terjadi pada akhir abad ke-13, yaitu Raden Wijaya mewarisi takhta Kertanagara raja terakhir Singhasari, namun ia mendirikan kerajaan baru bernama Majapahit.

Pada zaman Kerajaan Medang terdapat suatu tradisi mencantumkan jabatan lama di samping gelar sebagai maharaja. Misalnya, raja yang mengeluarkan prasasti Mantyasih (907) adalah Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Dharmodaya Mahasambu. Itu artinya, jabatan lama Dyah Balitung sebelum menjadi raja Medang adalah sebagai kepala daerah Watukura.

Sementara itu gelar Sanjaya sebagai raja adalah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Dapat diperkirakan ketika Sanna masih berkuasa, Sanjaya bertindak sebagai kepala daerah Mataram (daerah Yogyakarta sekarang). Daerah Mataram inilah yang kemungkinan besar dipakai sebagai lokasi ibu kota ketika Sanjaya mendirikan Kerajaan Medang. Itulah sebabnya, Kerajaan Medang juga terkenal dengan sebutan Kerajaan Mataram. Sementara itu, pada masa pemerintahan Dyah Balitung, ibu kota Kerajaan Medang sudah tidak lagi berada di Mataram, melainkan pindah ke Poh Pitu.

Kapan tepatnya Kerajaan Medang berdiri tidak diketahui dengan pasti. Seorang keturunan Sanjaya bernama Mpu Daksa memperkenalkan pemakaian Sanjayawarsa atau “kalender Sanjaya”. Menurut analisis para sejarawan, tahun 1 Sanjaya bertepatan dengan tahun 717 Masehi. Angka tahun tersebut menimbulkan dua penafsiran, yaitu tahun penobatan Sanjaya sebagai raja, atau bisa juga merupakan tahun kelahiran Sanjaya.

Apabila Sanjaya naik takhta pada tahun 717, berarti saat prasasti Canggal (732) dikeluarkan, Kerajaan Medang sudah berusia 15 tahun. Sementara itu apabila 717 adalah tahun kelahiran Sanjaya, berarti saat mengeluarkan prasasti Canggal ia masih berusia 15 tahun dan sudah menjadi raja. Dengan kata lain, Sanna mengangkat Sanjaya sebagai kepala daerah Mataram sejak keponakannya itu masih anak-anak (sama seperti Jayanagara pada zaman Majapahit).

Versi Carita Parahyangan

Naskah Carita Parahyangan ditulis sekitar abad ke-16, sehingga berselang ratusan tahun sejak kematian Sanjaya. Menurut versi ini, nama asli Sanjaya adalah Rakeyan Jambri, sedangkan Sanna disebut dengan nama Bratasenawa, atau disingkat Sena.

Sena adalah raja Kerajaan Galuh yang dikalahkan oleh saudara tirinya, bernama Purbasora. Putra Sena, bernama Rahyang Sanjaya alias Rakeyan Jambri saat itu telah menjadi menantu Tarusbawa raja Kerajaan Sunda. Dengan bantuan mertuanya, Sanjaya berhasil mengalahkan Purbasora tujuh tahun kemudian.

Sanjaya kemudian menyerahkan takhta Kerajaan Galuh kepada Demunawan, adik Purbasora. Rahyang Sempakwaja, ayah Purbasora merasa keberatan karena takut kelak Demunawan akan ditumpas pula oleh Sanjaya. Sanjaya terpaksa menduduki sendiri takhta kerajaan tersebut.

Karena Sanjaya juga bertakhta di Kerajaan Sunda, maka pemerintahannya di Galuh pun diserahkan kepada Premana Dikusumah, cucu Purbasora. Sementara itu putra Sanjaya yang bernama Rahyang Tamperan diangkat sebagai patih untuk mengawasi pemerintahan Premana.

Karena merasa tertekan dan kurang dihargai, Premana akhirnya memilih pergi bertapa. Istrinya yang bernama Pangreyep, seorang putri Sunda, berselingkuh dengan Tamperan sehingga melahirkan putra bernama Rahyang Banga. Tamperan kemudian mengirim utusan untuk membunuh Premana.

Setelah Sanjaya menjadi raja di Mataram, wilayah Sunda dan Galuh pun dijadikan satu di bawah pemerintahan Tamperan. Kemudian terjadi pemberontakan Manarah putra Premana yang berhasil menewaskan Tamperan. Sementara itu putranya, yaitu Banga berhasil lolos dari kematian.

Mendengar berita kematian Tamperan, Sanjaya pun menyerang Manarah. Perang besar terjadi yang akhirya didamaikan oleh Demunawan (adik Purbasora). Setelah melalui perundingan dicapai sebuah kesepakatan, yaitu Banga diangkat sebagai raja Sunda, sedangkan Manarah sebagai raja Galuh.

Carita Parahyangan terlalu berlebihan dalam memuji kekuatan Sanjaya yang diberitakan selalu menang dalam setiap peperangan. Konon, Sanjaya bahkan berhasil menaklukkan Melayu, Kamboja, dan Cina. Padahal sebenarnya, penaklukan Sumatra dan Kamboja baru terjadi pada pemerintahan Dharanindra, raja ketiga Kerajaan Medang.

Sanjaya di Jawa Barat juga dikenal dengan sebutan Prabu Harisdarma. Ia meninggal dunia karena jatuh sakit akibat terlalu patuh dalam menjalankan perintah guru agamanya. Dikisahkan pula bahwa putranya yang bernama Rahyang Panaraban dimintanya untuk pindah ke agama lain, karena agama Sanjaya dinilai terlalu menakutkan.

Hubungan dengan Rakai Panangkaran

Menurut prasasti Mantyasih, Sanjaya digantikan oleh Maharaja Rakai Panangkaran sebagai raja berikutnya. Raja kedua ini mendirikan sebuah bangunan Buddha, yang kini dikenal sebagai Candi Kalasan, atas permohonan para guru raja Sailendra tahun 778. Berdasarkan berita tersebut, muncul beberapa teori tentang hubungan Sanjaya dengan Rakai Panangkaran.

Teori pertama dipelopori oleh van Naerssen menyebutkan bahwa, Rakai Panangkaran adalah putra Sanjaya yang beragama Hindu. Ia dikalahkan oleh Wangsa Sailendra yang beragama Buddha. Jadi, pembangunan Candi Kalasan ialah atas perintah raja Sailendra terhadap Rakai Panangkaran yang menjadi bawahannya.

Teori kedua dipelopori oleh Porbatjaraka yang menyebutkan bahwa, Rakai Panangkaran adalah putra Sanjaya, dan keduanya merupakan anggota Wangsa Sailendra. Dengan kata lain, Wangsa Sanjaya tidak pernah ada karena tidak pernah tertulis dalam prasasti apa pun. Menurut teori ini, Rakai Panangkaran pindah agama atas perintah Sanjaya sebelum meninggal. Tokoh ini dianggap identik dengan Rahyang Panaraban dalam Carita Parahyangan. Jadi, yang dimaksud dengan istilah “para guru raja Sailendra” dalam prasasti Kalasan tidak lain adalah para guru Rakai Panangkaran sendiri.

Teori ketiga dipelopori oleh Slamet Muljana bertentangan dengan kedua teori di atas. Menurutnya, Rakai Panangkaran bukan putra Sanjaya, melainkan anggota Wangsa Sailendra yang berhasil merebut takhta Kerajaan Medang dan mengalahkan Wangsa Sanjaya. Teori ini didasarkan pada daftar para raja dalam

prasasti Mantyasih di mana hanya Sanjaya yang bergelar Sang Ratu, sedangkan para penggantinya tiba-tiba begelar Maharaja. Selain itu, Rakai Panangkaran tidak mungkin berstatus sebagai raja bawahan, karena ia dipuji sebagai Sailendrawangsatilaka (permata Wangsa Sailendra) dalam prasasti Kalasan. Alasan lainnya ialah, dalam prasasti Mantyasih Rakai Panangkaran bergelar maharaja, sehingga tidak mungkin kalau ia hanya seorang bawahan.

Jadi, menurut teori pertama dan kedua, Rakai Panangkaran adalah putra Sanjaya. Sedangkan menurut teori ketiga, Rakai Panangkaran adalah musuh yang berhasil mengalahkan Sanjaya.

Sementara itu menurut teori pertama, Rakai Panangkaran adalah bawahan raja Sailendra. Sedangkan menurut teori kedua dan ketiga, Rakai Panangkaran adalah raja Sailendra itu sendiri.

2. Rakai Panangkaran

Sri Maharaja Rakai Panangkaran Dyah Pancapana adalah raja kedua Kerajaan Medang periode Jawa Tengah (atau lazim disebut Kerajaan Mataram Kuno). Ia memerintah sekitar tahun 770-an. Minimnya data-data sejarah Mataram Kuno menyebabkan terjadinya beberapa penafsiran di antara para sejarawan mengenai asal-usul Rakai Panangkaran. Ada yang berpendapat ia berasal dari Wangsa Sanjaya, ada pula yang berpendapat ia berasal dari Wangsa Sailendra

Pembangunan Candi Kalasan

Maharaja Rakai Panangkaran menempati urutan kedua dalam daftar raja-raja Kerajaan Medang versi prasasti Mantyasih. Namanya ditulis setelah Sanjaya, yang diyakini sebagai pendiri kerajaan tersebut. Prasasti ini dikeluarkan oleh Maharaja Dyah Balitung pada tahun 907, atau ratusan tahun sejak masa kehidupan Rakai Panangkaran.

Sementara itu, prasasti yang berasal dari zaman Rakai Panangkaran adalah prasasti Kalasan tahun 778. Prasasti ini merupakan piagam peresmian pembangunan sebuah candi Buddha untuk memuja Dewi Tara. Pembangunan ini atas permohonan para guru raja Sailendra. Dalam prasasti itu Rakai Panangkaran dipuji sebagai Sailendrawangsatilaka atau “permata Wangsa Sailendra”.

Candi yang didirikan oleh Rakai Panangkaran tersebut sekarang dikenal dengan sebutan Candi Kalasan.

Hubungan dengan Sanjaya dan Dharanindra

Sanjaya merupakan raja pertama Kerajaan Medang. Menurut prasasti Canggal (732), ia menganut agama Hindu aliran Siwa. Sementara itu Rakai Panangkaran adalah raja kedua Kerajaan Medang. Menurut prasasti Kalasan (778), ia mendirikan sebuah candi Buddha aliran Mahayana. Sehubungan dengan berita tersebut, muncul beberapa teori seputar hubungan di antara kedua raja tersebut.

Teori pertama dipelopori oleh van Naerssen menyebutkan bahwa, Rakai Panangkaran adalah putra Sanjaya. Wangsa Sanjaya kemudian dikalahkan oleh Wangsa Sailendra yang beragama Buddha. Pembangunan Candi Kalasan tidak lain merupakan perintah dari raja Sailendra terhadap Rakai Panangkaran yang telah tunduk sebagai bawahan. Nama raja Sailendra tersebut diperkirakan sama dengan Dharanindra yang ditemukan dalam prasasti Kelurak (782). Teori ini banyak dikembangkan oleh para sejarawan Barat, antara lain George Coedes, ataupun Dr. Bosch.

Teori kedua dikemukakan oleh Prof. Poerbatjaraka yang menyebutkan bahwa, Rakai Panangkaran adalah putra Sanjaya namun keduanya sama-sama berasal dari Wangsa Sailendra, bukan Wangsa Sanjaya. Dalam hal ini Poerbatjaraka tidak mengakui keberadaan Wangsa Sanjaya. Menurut pendapatnya (yang juga didukung oleh sejarawan Marwati Pusponegoro dan Nugroho Notosutanto), sebelum meninggal, Sanjaya sempat berwasiat agar Rakai Panangkaran berpindah ke agama Buddha. Teori ini berdasarkan kisah dalam Carita Parahyangan tentang tokoh Rahyang Panaraban putra Sanjaya yang dikisahkan pindah agama. Rahyang Panaraban ini menurut Poerbatjaraka identik dengan Rakai Panangkaran. Jadi, yang dimaksud dengan “para guru raja Sailendra” tidak lain adalah guru Rakai Panangkaran sendiri.

Teori ketiga dikemukakan oleh Slamet Muljana bahwa, Rakai Panangkaran bukan putra Sanjaya. Dalam daftar para raja versi prasasti Mantyasih tertulis nama Sanjaya bergelar Sang Ratu, sedangkan Rakai Panangkaran bergelar Sri Maharaja. Perubahan gelar ini membuktikan terjadinya pergantian dinasti yang berkuasa di Kerajaan Medang. Jadi, Rakai Panangkaran adalah raja dari Wangsa Sailendra yang berhasil merebut takhta Medang serta mengalahkan Wangsa Sanjaya. Menurut Slamet Muljana, Rakai Panangkaran tidak mungkin berstatus sebagai bawahan Wangsa Sailendra karena dalam prasasti Kalasan ia dipuji sebagai Sailendrawangsatilaka (permata Wangsa Sailendra).

Dalam hal ini, Slamet Muljana menolak teori bahwa Rakai Panangkaran adalah bawahan Dharanindra. Menurutnya, Rakai Panangkaran dan Dharanindra sama-sama berasal dari Wangsa Sailendra. Meskipun demikian, ia tidak menganggap keduanya sebagai tokoh yang sama. Menurutnya, Dharanindra tidak sama dengan Rakai Panangkaran yang memiliki nama asli Dyah Pancapana (sesuai pemberitaan prasasti Kalasan). Muljana berpendapat, Dharanindra adalah nama asli dari Rakai Panunggalan,

aitu raja ketiga Kerajaan Medang yang namanya disebut sesudah Rakai Panangkaran dalam prasasti Mantyasih.disebut sesudah Rakai Panangkaran dalam prasasti Mantyasih.

3. Dharanindra

Dharanindra, atau kadang disingkat Indra, adalah seorang raja dari Wangsa Sailendra yang memerintah sekitar tahun 782. Namanya ditemukan dalam prasasti Kelurak dengan disertai gelar Sri Sanggrama Dhananjaya. Tokoh ini dipercaya telah berhasil melebarkan wilayah kekuasaan Wangsa Sailendra sampai ke Semenanjung Malaya dan daratan Indocina.

Salah satu pendapat yang dikemukakan Sejarawan Slamet Muljana menyebut Dharanindra identik dengan Sri Maharaja Rakai Panunggalan, yaitu raja ketiga Kerajaan Medang periode Jawa Tengah, atau yang lazim disebut Kerajaan Mataram Kuno.

Penumpas musuh-musuh perwira

Nama Dharanindra terdapat dalam prasasti Kelurak tahun 782. Dalam prasasti itu ia dipuji sebagai Wairiwarawiramardana, atau “penumpas musuh-musuh perwira”. Julukan yang mirip terdapat dalam prasasti Nalanda, yaitu Wirawairimathana, dan prasasti Ligor B yaitu Sarwwarimadawimathana.

Sejarawan Slamet Muljana menganggap ketiga julukan tersebut merupakan sebutan untuk orang yang sama, yaitu Dharanindra. Dalam prasasti Nalanda, Wirawairimathana memiliki putra bernama Samaragrawira, ayah dari Balaputradewa (raja Kerajaan Sriwijaya). Dengan kata lain, Balaputradewa adalah cucu Dharanindra.

Sementara itu prasasti Ligor B yang memuat istilah Sarwwarimadawimathana menurut pendapat Sejarawan George Coedes dikeluarkan oleh Maharaja Wisnu raja Sriwijaya. Prasasti ini dianggap lanjutan dari prasasti Ligor A, yang berangka tahun 775. Dalam hal ini Slamet Muljana berpendapat bahwa, hanya prasasti A saja yang ditulis tahun 775, sedangkan prasasti B ditulis sesudah Kerajaan Sriwijaya jatuh ke tangan Wangsa Sailendra.

Alasan Muljana adalah terdapat perbedaan tata bahasa antara prasasti A dan B, sehingga kedua prasasti itu menurutnya ditulis dalam waktu yang tidak bersamaan. Ia kemudian memadukannya dengan berita dalam prasasti Po Ngar, bahwa Jawa pernah menjajah Kamboja (Chen-La) sampai tahun 802. Selain itu, Jawa juga pernah menyerang Campa tahun 787.

Jadi, menurut teori Slamet Muljana, Dharanindra sebagai raja Jawa telah berhasil menaklukkan Kerajaan Sriwijaya, termasuk daerah bawahannya di Semenanjung Malaya, yaitu Ligor. Prasasti Ligor B ditulis olehnya sebagai pertanda bahwa Wangsa Sailendra telah berkuasa atas Sriwijaya. Prasasti ini berisi puji-pujian untuk dirinya sebagai penjelmaan Wisnu. Daerah Ligor kemudian dijadikannya sebagai pangkalan militer untuk menyerang Campa tahun 787 dan juga Kamboja.

Penaklukan terhadap Sriwijaya, Ligor, Campa, dan Kamboja ini sesuai dengan julukan Dharanindra, yaitu “penumpas musuh-musuh perwira”. Kamboja sendiri akhirnya berhasil merdeka di bawah pimpinan Jayawarman tahun 802. Mungkin saat itu Dharanindra telah meninggal dunia.

Dalam teorinya, George Coedes menganggap Maharaja Wisnu merupakan ayah dari Dharanindra. Sementara itu, Slamet Muljana menganggap Wisnu dan Dharanindra merupakan orang yang sama. Selain karena kemiripan julukan, juga karena kemiripan arti nama. Wisnu dan Dharanindra menurutnya sama-sama bermakna “pelindung jagad”.

Hubungan dengan Rakai Panangkaran

Rakai Panangkaran adalah raja kedua Kerajaan Medang (periode Jawa Tengah) versi prasasti Mantyasih. Pada tahun 778 ia membangun Candi Kalasan atas permohonan para guru raja Sailendra.

Menurut teori van Naerrsen, Rakai Panangkaran adalah anggota Wangsa Sanjaya yang menjadi bawahan raja Sailendra. Nama raja Sailendra itu kemudian ditemukan dalam prasasti Kelurak (782), yaitu Dharanindra. Dengan kata lain, Dharanindra adalah atasan Rakai Panangkaran.

Menurut teori Marwati Pusponegoro dan Nugroho Notosutanto, Wangsa Sanjaya tidak pernah ada karena tidak pernah disebutkan dalam prasasti mana pun. Sanjaya dan Rakai Panangkaran merupakan anggota Wangsa Sailendra namun berbeda agama. Sanjaya beragama Hindu Siwa, sedangkan Rakai Panangkaran adalah putranya yang berpindah agama menjadi penganut Buddha Mahayana.

Teori ini menolak anggapan bahwa Rakai Panangkaran adalah bawahan Wangsa Sailendra, karena ia sendiri dipuji sebagai Sailendrawangsatilaka (permata Wangsa Sailendra) dalam prasasti Kalasan (778). Jadi, yang dimaksud dengan “para guru raja Sailendra” tidak lain adalah para guru Rakai Panangkaran sendiri. Prasasti Kalasan dan prasasti Kelurak hanya berselisih empat tahun, jadi kemungkinan besar dikeluarkan oleh raja yang sama. Dengan kata lain, Dharanindra adalah nama asli Rakai Panangkaran.

Menurut teori Slamet Muljana, Rakai Panangkaran bukan putra Sanjaya. Keduanya berasal dari dua dinasti yang berbeda. Rakai Panangkaran adalah anggota Wangsa Sailendra yang berhasil merebut takhta Kerajaan Medang dan mengalahkan Wangsa Sanjaya. Jika ia hanya menjadi raja bawahan saja, maka ia tidak mungkin bergelar maharaja dan dipuji sebagai Sailendrawangsatilaka. Sementara itu, menurut prasasti Kalasan, nama asli Rakai Panangkaran adalah Dyah Pancapana, jadi tidak mungkin sama dengan Dharanindra. Dengan kata lain, Dharanindra adalah raja pengganti Rakai Panangkaran.

Dalam prasasti Mantyasih diketahui nama raja Kerajaan Medang sesudah Rakai Panangkaran adalah Rakai Panunggalan. Jadi, menurut teori Slamet Muljana, Dharanindra adalah nama asli dari Rakai Panunggalan.

4. Rakai Warak

Sri Maharaja Rakai Warak adalah raja keempat Kerajaan Medang periode Jawa Tengah (atau lazim disebut Kerajaan Mataram Kuno) yang memerintah sekitar tahun 800-an.

Salah satu teori menyebut nama asli Rakai Warak adalah Samaragrawira, yaitu ayah dari Balaputradewa raja Kerajaan Sriwijaya.

Riwayat Pemerintahan

Tokoh Rakai Warak terdapat dalam daftar para raja Kerajaan Medang versi prasasti Mantyasih. Pemerintahannya terjadi setelah Rakai Panunggalan dan sebelum Rakai Garung.

Nama asli Rakai Warak (yang artinya “kepala daerah Warak”) tidak diketahui dengan pasti, karena belum ada prasasti atas nama dirinya yang berhasil ditemukan. Jadi, identifikasi Rakai Warak dengan Samaragrawira baru bersifat dugaan sebagaimana yang diajukan oleh Slamet Muljana.

Identifikasi dengan Samaragrawira

Nama Samaragrawira terdapat dalam prasasti Nalanda sebagai ayah dari Balaputradewa raja Kerajaan Sriwijaya. Samaragrawira merupakan putra dari Wirawairimathana (penumpas musuh perwira). Istilah Wirawairimathana ini identik dengan Wairiwarawimardana, yaitu julukan untuk Dharanindra dalam prasasti Kelurak (782).

Sejarawan Krom menganggap Samaragrawira identik dengan Samaratungga, ayah dari Pramodawardhani. Secara otomatis, Balaputradewa pun disebut sebagai saudara Pramodawardhani. Pendapat ini kemudian berkembang menjadi teori populer yang bertahan selama bertahun-tahun.

Slamet Muljana membantah teori tersebut karena menurut prasasti Kayumwungan (824), Samaratungga hanya memiliki seorang putri bernama Pramodawardhani. Menurutnya, Samaragrawira lebih tepat disebut sebagai ayah Samaratungga. Dengan demikian, Balaputradewa merupakan paman dari Pramodawardhani.

Slamet Muljana mencoba memadukan nama Samaragrawira dengan daftar para raja versi prasasti Mantyasih yang selama ini dianggap sebagai daftar raja-raja Wangsa Sanjaya secara keseluruhan. Ia menolak anggapan tersebut karena Rakai Panangkaran yang menempati urutan kedua dalam daftar ternyata merupakan anggota Wangsa Sailendra menurut prasasti Kalasan.

Analisis Slamet Muljana dimulai dengan berita bahwa Rakai Pikatan naik takhta menggantikan mertuanya, yaitu Samaratungga. Maka, Samaratungga pun dianggap identik dengan Rakai Garung yang namanya disebut sebelum Rakai Pikatan dalam daftar para raja. Sementara itu, Samaragrawira diduga adalah ayah dari Samaratungga, sehingga ia pun identik dengan Rakai Warak, yaitu raja sebelum Rakai Garung dalam daftar tersebut.

Keluarga Samaragrawira

Menurut teori Slamet Muljana, Samaragrawira alias Rakai Warak naik takhta menggantikan ayahnya, yaitu Dharanindra alias Rakai Panunggalan.

Menurut prasasti Nalanda, Balaputradewa adalah putra Samaragrawira yang lahir dari Dewi Tara, yaitu putri Sri Dharmasetu dari Wangsa Soma. Teori populer menyebut Sri Dharmasetu merupakan raja Kerajaan Sriwijaya. Dengan kata lain, Balaputradewa mewarisi takhta pulau Sumatra dari kakeknya itu.

Namun, nama Sri Dharmasetu terdapat dalam prasasti Kelurak sebagai bawahan Dharanindra yang ditugasi merawat bangunan suci di desa Kelurak. Dengan demikian, Sri Dharmasetu bukan orang Sumatra, melainkan orang Jawa. Jadi, pendapat bahwa ia merupakan raja Kerajaan Sriwijaya adalah keliru.

Balaputradewa tidak mewarisi takhta dari Dharmasetu, karena ia merupakan anggota Wangsa Sailendra, yaitu sebuah dinasti yang selain menguasai pulau Jawa, juga berhasil menaklukkan pulau Sumatra. Menurut analisis Slamet Muljana, keberhasilan Wangsa Sailendra menaklukkan Kerajaan Sriwijaya terjadi pada masa pemerintahan Dharanindra. Raja ini dijuluki sebagai “penakluk musuh perwira” yang kekuasaannya bahkan mencapai Kamboja dan Campa.

Sepeninggal Dharanindra, putranya yang bernama Samaragrawira naik takhta. Meskipun dipuji sebagai pahlawan perkasa dalam prasasti Nalanda, namun raja baru ini mungkin tidak sekuat ayahnya. Hal itu terbukti dalam prasasti Po Ngar, bahwa Kamboja berhasil melepaskan diri dari penjajahan Jawa pada tahun 802. Saat itu Dharanindra kiranya sudah meninggal, sedangkan Samaragrawira tidak mampu menaklukkan negeri itu kembali.

Atas dasar tersebut, pada akhir pemerintahan Samaragrawira, kekuasaan Wangsa Sailendra pun dibagi menjadi dua agar pengawasannya lebih mudah. Kekuasaan tersebut diserahkan pada kedua putranya, yaitu Samaratungga di pulau Jawa, sementara Balaputradewa di pulau Sumatra.

Teori populer bahwa sepeninggal Samaratungga terjadi perebutan takhta Jawa antara kedua anaknya, yaitu Balaputradewa melawan Pramodawardhani sesungguhnya hanyalah dugaan saja. Teori ini mengatakan, bahwa Rakai Pikatan suami Pramodawardhani berhasil mengusir Balaputradewa dari benteng persembunyiannya di bukit Ratu Baka.

Namun berdasarkan analisis Buchari, di bukit Ratu Baka sama sekali tidak ada prasasti atas nama Balaputradewa, melainkan atas nama Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni yang mengaku sebagai keturunan pendiri kerajaan (Sanjaya). Buchari berpendapat bahwa Mpu Kumbhayoni inilah yang memberontak terhadap pemerintahan Rakai Pikatan sebagai sesama keturunan Sanjaya.

Kepergian Balaputradewa dari pulau Jawa mungkin bukan karena kalah perang, mengingat musuh Rakai Pikatan memang bukan dirinya, melainkan bernama Mpu Kumbhayoni. Balaputradewa berhasil menjadi raja Kerajaan Sriwijaya juga bukan karena mewarisi takhta dari Sri Dharmasetu, melainkan sejak awal ia mungkin sudah diangkat sebagai pemimpin cabang Wangsa Sailendra di pulau Sumatra tersebut.

Tahun Pemerintahan

Kapan tepatnya Rakai Warak alias Samaragrawira naik takhta tidak dapat diketahui dengan pasti. Pada tahun 782 yaitu tahun dikeluarkannya prasasti Kelurak, kerajaan masih dipimpin Dharanindra. Raja ini terkenal sebagai penumpas musuh perwira, bahkan sampai berhasil menaklukkan negeri Kamboja.

Menurut prasasti Po Ngar, Kamboja merdeka dari penjajahan Jawa pada tahun 802. Mungkin saat itu Dharanindra telah meninggal, sedangkan putranya, yaitu Samaragrawira tidak sekuat dirinya. Jadi, dapat diperkirakan Samaragrawira naik takhta sekitar tahun 802.

Tidak diketahui dengan pasti kapan pemerintahan Samaragrawira berakhir. Prasasti atas nama Rakai Garung yang tertua yang sudah ditemukan adalah prasasti Pengging tahun 819. Namun demikian, belum tentu kalau prasasti ini adalah prasasti pertamanya.

Jadi, apabila teori Slamet Muljana benar, maka pemerintahan Rakai Warak Samaragrawira dapat diperkirakan berjalan tidak lebih dari 17 tahun

5. Samaratungga

Sri Maharaja Samarottungga, atau kadang ditulis Samaratungga, adalah raja dari Wangsa Syailendra yang memerintah sekitar tahun 820840-an. Salah satu pendapat mengatakan bahwa ia identik dengan Sri Maharaja Rakai Garung, yaitu raja kelima Kerajaan Medang periode Jawa Tengah (atau yang lazim disebut Mataram Kuno).

Prasasti Kayumwungan

Nama Samaratungga terdapat dalam prasasti Kayumwungan atau prasasti Karang Tengah yang dikeluarkan pada tanggal 26 Mei 824. Dalam prasasti itu disebutkan bahwa, Samaratungga memiliki seorang putri bernama Pramodawardhani yang meresmikan sebuah jinalaya yang sangat indah. Prasasti ini dianggap berhubungan dengan pembangunan Candi Borobudur.

Prasasti Kayumwungan terdiri atas dua bagian. Bagian pertama berbahasa Sansekerta sebagaimana disinggung di atas, sedangkan bagian kedua berbahasa Jawa Kuno yang dikeluarkan oleh Rakai Patapan Mpu Palar. Disebutkan, tokoh Mpu Palar menghadiahkan beberapa desa sebagai sima swatantra untuk ikut serta merawat candi Jinalaya tersebut.

Seputar Rakai Patapan Mpu Palar

Sejarawan De Casparis menganggap tokoh Rakai Patapan Mpu Palar adalah raja bawahan Samaratungga. Nama lengkapnya ditemukan dalam prasasti Gondosuli, yaitu Dang Karayan Patapan Sida Busu Pelar. Prasasti yang kedua ini dikeluarkan tahun 832 dan menyebutkan adanya istilah “kerajaan”. Jadi, menurut De Casparis, Mpu Palar pada tahun itu melepaskan diri dari kekuasaan Samaratungga.

De Casparis juga menemukan bahwa, dalam prasasti Kedu terdapat informasi tentang desa Guntur yang masuk wilayah wihara Garung, serta masuk pula wilayah Patapan. Atas dasar ini, Rakai Patapan dianggap identik dengan Sri Maharaja Rakai Garung dalam daftar para raja versi prasasti Mantyasih. Rakai Garung adalah raja sebelum Rakai Pikatan, yang merupakan menantu Samaratungga.

Kesimpulannya ialah, Rakai Patapan Mpu Palar pada tahun 824 masih menjadi bawahan Samaratungga. Kemudian pada tahun 832 ia sudah membangun kerajaan sendiri dan memakai gelar Maharaja Rakai Garung. Putranya bernama Rakai Pikatan Mpu Manuku menikah dengan Pramodawardhani putri Samaratungga sehingga bisa mewarisi takhta Kerajaan Medang.

Teori De Casparis ini ditolak oleh Slamet Muljana. Menurutnya, prasasti Gondosuli dikeluarkan ketika Mpu Palar sudah meninggal. Gelar terakhirnya menurut prasasti itu ialah haji, yaitu gelar untuk raja bawahan di bawah maharaja. Jadi Haji Rakai Patapan tidak mungkin sama dengan Maharaja Rakai Garung. Selain itu, disebutkan pula bahwa anak-anak Mpu Palar semuanya perempuan, jadi tidak mungkin ia berputra Rakai Pikatan. Ditinjau dari tata bahasa prasasti Gondosuli, tokoh Mpu Palar diperkirakan berasal dari pulau Sumatra.

Dalam prasasti Munduan diketahui yang menjabat sebagai Rakai Patapan pada tahun 807 adalah Mpu Manuku. Kemudian pada prasasti Kayumwungan (824) dijabat oleh Mpu Palar. Namun, pada prasasti Tulang Air (850) Mpu Manuku kembali memimpin daerah Patapan.

Kesimpulannya ialah, Mpu Manuku mula-mula menjabat sebagai Rakai Patapan. Kemudian ia diangkat oleh Maharaja Samaratungga sebagai Rakai Pikatan, sehingga jabatannya digantikan oleh Mpu Palar, seorang pendatang dari Sumatra. Atas jasa-jasa dan kesetiaannya, Mpu Palar kemudian diangkat sebagai raja bawahan bergelar haji.

Rakai Pikatan Mpu Manuku berhasil menikahi Pramodawardhani sang putri mahkota. Ia bahkan berhasil menjadi raja Kerajaan Medang sepeninggal Samaratungga. Kemudian setelah Mpu Palar meninggal, daerah Patapan kembali diperintah olehnya. Mungkin dijadikan satu dengan Pikatan.

Identifikasi dengan Rakai Garung

Sri Maharaja Rakai Garung adalah raja kelima Kerajaan Medang dalam daftar para raja versi prasasti Mantyasih. Pada prasasti Pengging tanggal 21 Maret 819 juga ditemukan istilah Rakryan i Garung, namun tidak diketahui siapa nama aslinya.

Sebagaimana telah disebutkan di atas, De Casparis menganggap Rakai Garung identik dengan Rakai Patapan Mpu Palar. Namun, teori ini ditolak Slamet Muljana berdasarkan analisis perbandingan prasasti Gondosuli, Kayumwungan, dan Mantyasih.

Menurut prasasti Mantyasih, Maharaja Rakai Garung memerintah Kerajaan Medang sebelum Rakai Pikatan. Maka, tokoh yang mungkin identik dengannya adalah Maharaja Samaratungga, bukan Mpu Palar yang hanya bergelar haji.

Jadi, menurut teori ini, sebelum menjadi raja di Kerajaan Medang, Samaratungga lebih dahulu menjabat sebagai kepala daerah di Garung (bergelar Rakryan i Garung atau Rakai Garung).

Hubungan dengan Balaputradewa

Balaputradewa adalah raja Kerajaan Sriwijaya yang mengaku sebagai putra Samaragrawira. Berdasarkan kemiripan nama, De Casparis menganggap Samaragrawira identik dengan Samaratungga. Teori ini kemudian dipopulerkan oleh para sejarawan lainnya, misalnya Dr. Bosch.

Teori ini sangat populer sehingga muncul anggapan bahwa, sepeninggal Samaratungga terjadi perang saudara memperebutkan takhta antara Balaputradewa melawan Pramodawardhani, yang dibantu Rakai Pikatan. Akhirnya, Balaputradewa kalah dan menyingkir ke Kerajaan Sriwijaya di pulau Sumatra.

Bantahan kembali muncul dari Slamet Muljana yang menolak identifikasi Samaratungga dengan Samaragrawira. Prasasti Kayumwungan dengan jelas menyebutkan bahwa, Samaratungga hanya memiliki seorang putri saja, bernama Pramodawardhani. Menurut Slamet Muljana, tokoh Balaputradewa tidak memiliki hak atas takhta Jawa karena ia hanyalah adik Samaratungga, bukan putranya. Dengan kata lain, Samaragrawira memiliki dua orang putra, yaitu Samaratungga dan Balaputradewa.

Mungkin, Balaputradewa menyingkir ke Sumatra bukan karena kalah perang, tetapi karena sejak awal ia memang sudah tidak meiliki hak atas takhta Jawa. Menurut teori populer, markas Balaputradewa sewaktu berperang melawan Rakai Pikatan adalah bukit Ratu Baka. Namun, prasasti-prasasti yang ditemukan di bukit tersebut ternyata membuktikan kalau musuh Rakai Pikatan bukan Balaputradewa, melainkan Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni. Analisis terhadap prasasti-prasasti Ratu Baka tersebut dilakukan oleh Pusponegoro dan Notosutanto.

Masa Pemerintahan

Apabila teori Slamet Muljana benar, bahwa Samaratungga identik dengan Rakai Garung, maka tokoh ini diperkirakan naik takhta Kerajaan Medang sebelum tahun 819 (prasasti Pengging). Peresmian Candi Borobudur dianggap terjadi pada tahun 824 dan dilakukan oleh Pramodawardhani sang putri mahkota (prasasti Kayumwungan). Pada tahun ini Samaratungga dipastikan masih hidup.

Kemudian, prasasti Kahulunan tahun 842 menyebut adanya tokoh Sri Kahulunan yang telah menetapkan beberapa desa sebagai daerah perdikan untuk merawat Kamulan Bhumisambhara (nama asli Candi Borobudur). Ada dua versi penafsiran tokoh Sri Kahulunan ini, yaitu permaisuri atau ibu suri. Nama Samaratungga tidak disebut dalam prasasti itu sehingga ia diperkirakan sudah meninggal.

Saat itu diperkirakan masa pemerintahan Rakai Pikatan. Apabila Sri Kahulunan bermakna permaisuri, berarti ia adalah Pramodawardhani. Sedangkan apabila bermakna ibu suri, berarti ia adalah permaisuri Samaratungga.

Jadi kesimpulannya, pemerintahan Samaratungga diperkirakan terjadi sebelum tahun 819 dan berakhir sebelum tahun 842.

6. Rakai Pikatan

Sri Maharaja Rakai Pikatan Mpu Manuku adalah raja keenam Kerajaan Medang periode Jawa Tengah (atau lazim disebut Kerajaan Mataram Kuno) yang memerintah sekitar tahun 840-an – 856.

Nama Asli dan Gelar

Rakai Pikatan terdapat dalam daftar para raja versi prasasti Mantyasih. Nama aslinya menurut prasasti Argapura adalah Mpu Manuku. Pada prasasti Munduan tahun 807 diketahui Mpu Manuku menjabat sebagai Rakai Patapan. Kemudian pada prasasti Kayumwungan tahun 824 jabatan Rakai Patapan dipegang oleh Mpu Palar. Mungkin saat itu Mpu Manuku sudah pindah jabatan menjadi Rakai Pikatan.

Akan tetapi, pada prasasti Tulang Air tahun 850 Mpu Manuku kembali bergelar Rakai Patapan. Sedangkan menurut prasasti Gondosuli, Mpu Palar telah meninggal sebelum tahun 832. Kiranya daerah Patapan kembali menjadi tanggung jawab Mpu Manuku, meskipun saat itu ia sudah menjadi maharaja. Tradisi seperti ini memang berlaku dalam sejarah Kerajaan Medang di mana seorang raja mencantumkan pula gelar lamanya sebagai kepala daerah, misalnya Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung.

Menurut prasasti Wantil, Mpu Manuku membangun ibu kota baru di desa Mamrati sehingga ia pun dijuluki sebagai Rakai Mamrati. Istana baru itu bernama Mamratipura, sebagai pengganti ibu kota yang lama, yaitu Mataram.

Prasasti Wantil juga menyebutkan bahwa Rakai Mamrati turun takhta dan menjadi brahmana bergelar Sang Jatiningrat pada tahun 856.

Perkawinan dengan Pramodawardhani

Prasasti Wantil juga menyinggung perkawinan Sang Jatiningrat alias Rakai Pikatan Mpu Manuku dengan seorang putri beragama lain. Para sejarawan sepakat bahwa putri itu ialah Pramodawardhani dari Wangsa Sailendra yang beragama Buddha Mahayana, sementara Mpu Manuku sendiri memeluk agama Hindu Siwa.

Pramodawardhani adalah putri Samaratungga yang namanya tercatat dalam prasasti Kayumwungan tahun 824. Saat itu yang menjabat sebagai Rakai Patapan adalah Mpu Palar, sedangkan nama Mpu Manuku sama sekali tidak disebut. Mungkin saat itu Pramodawardhani belum menjadi istri Mpu Manuku.

Sejarawan De Casparis menganggap Rakai Patapan Mpu Palar sama dengan Maharaja Rakai Garung dan merupakan ayah dari Mpu Manuku. Keduanya merupakan anggota Wangsa Sanjaya yang berhasil menjalin hubungan perkawinan dengan Wangsa Sailendra.

Teori ini ditolak oleh Slamet Muljana karena menurut prasasti Gondosuli, Mpu Palar merupakan pendatang dari pulau Sumatra dan semua anaknya perempuan. Lagi pula, Mpu Manuku sudah lebih dulu menjabat sebagai Rakai Patapan sebelum Mpu Palar. Kemungkinan bahwa Mpu Manuku merupakan putra Mpu Palar sangat kecil.

Sementara itu, Mpu Manuku sudah menjabat sebagai Rakai Patapan pada tahun 807, sedangkan Pramodawardhani masih menjadi gadis pada tahun 824. Hal ini menunjukkan kalau perbedaan usia di antara keduanya cukup jauh. Mungkin, Rakai Pikatan Mpu Manuku berusia sebaya dengan mertuanya, yaitu Samaratungga.

Pramodawardhani bukanlah satu-satunya istri Rakai Pikatan. Berdasarkan prasasti Telahap diketahui istri Rakai Pikatan yang lain bernama Rakai Watan Mpu Tamer. Kiranya saat itu gelar mpu belum identik dengan kaum laki-laki.

Selir bernama Rakai Watan Mpu Tamer ini merupakan nenek dari istri Dyah Balitung, yaitu raja yang mengeluarkan prasasti Mantyasih (907

Perang Melawan Balaputradewa

Balaputradewa putra Samaragrawira adalah raja Kerajaan Sriwijaya. Teori populer yang dirintis oleh sejarawan Krom menyebutkan bahwa, Samaragrawira identik dengan Samaratungga sehingga secara otomatis, Balaputradewa adalah saudara Pramodawardhani.

Dalam prasasti Wantil disebutkan bahwa Sang Jatiningrat alias Rakai Pikatan berperang melawan musuh yang membangun pertahanan berupa timbunan batu di atas bukit. Musuh tersebut dikalahkan oleh Dyah Lokapala putra Jatiningrat. Dalam prasasti itu terdapat istilah Walaputra, yang ditafsirkan sebagai Balaputradewa. Akibatnya, muncul teori bahwa telah terjadi perang saudara memperebutkan takhta sepeninggal Samaratungga yang berakhir dengan kekalahan Balaputradewa.

Slamet Muljana menolak anggapan bahwa Samaragrawira identik dengan Samaratungga karena menurut prasasti Kayumwungan, Samaratungga hanya memiliki seorang anak bernama Pramodawardhani. Menurutnya, Samaragrawira lebih tepat disebut sebagai ayah dari Samaratungga. Dengan demikian, Balaputradewa merupakan paman dari Pramodawardhani.

Teori populer menganggap Balaputradewa membangun benteng dari timbunan batu di atas bukit Ratu Baka dalam perang melawan Rakai Pikatan dan Pramodawardhani. Namun, menurut sejarawan Buchari, di bukit Ratu Baka tidak dijumpai prasasti atas nama Balaputradewa, melainkan atas nama Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni. Mungkin tokoh ini yang memberontak terhadap pemerintahan Rakai Pikatan karena ia juga mengaku sebagai keturunan asli pendiri kerajaan, yaitu Sanjaya.

Sementara itu istilah Walaputra dalam prasasti Wantil bermakna “putra bungsu”. Jadi, istilah ini bukan nama lain dari Balaputradewa, melainkan julukan untuk Dyah Lokapala, yaitu pahlawan yang berhasil mengalahkan Rakai Walaing, musuh ayahnya.

Dengan demikian, teori populer bahwa telah terjadi perang saudara antara Rakai Pikatan melawan iparnya, yaitu Balaputradewa mungkin keliru. Kiranya Balaputradewa meninggalkan pulau Jawa bukan karena kalah perang, tetapi karena sejak awal ia memang sudah tidak memiliki hak atas takhta Kerajaan Medang, mengingat ia bukan putra Samaratungga melainkan adiknya.

Wangsa Sailendra di bawah pimpinan Dharanindra berhasil menaklukkan Kerajaan Sriwijaya, bahkan sampai Kamboja. Sepeninggal Dharanindra, kekuasaannya diwarisi oleh Samaragrawira. Mungkin ia tidak sekuat ayahnya karena menurut prasasti Po Ngar, Kamboja berhasil merdeka dari penjajahan Jawa pada tahun 802.

Atas dasar tersebut, sepeninggal Samaragrawira mungkin kekuasaan Wangsa Sailendra dibagi menjadi dua, dengan tujuan agar pengawasannya bisa lebih mudah. Kekuasaan atas pulau Jawa diberikan kepada Samaratungga, sedangkan kekuasaan atas pulau Sumatra diberikan kepada Balaputradewa.

Pendirian Candi Prambanan

Prasasti Wantil disebut juga prasasti Siwagreha yang dikeluarkan pada tanggal 12 November 856. Prasasti ini selain menyebut pendirian istana Mamratipura, juga menyebut tentang pendirian bangunan suci Siwagreha, yang diterjemahkan sebagai Candi Siwa.

Berdasarkan ciri-ciri yang digambarkan dalam prasasti tersebut, Candi Siwa identik dengan salah satu candi utama pada komplek Candi Prambanan. Dengan demikian, bangunan utama pada komplek tersebut dibangun oleh Rakai Pikatan, sedangkan candi-candi kecil lainnya mungkin dibangun pada masa raja-raja selanjutnya.

Akhir Pemerintahan

Prasasti Wantil juga menyebutkan bahwa Rakai Pikatan alias Rakai Mamrati turun takhta menjadi brahmana bergelar Sang Jatiningrat pada tahun 856. Takhta Kerajaan Medang kemudian dipegang oleh putra bungsunya, yaitu Dyah Lokapala alias Rakai Kayuwangi.

Penunjukan putra bungsu sebagai maharaja ini kiranya berdasarkan atas jasa mengalahkan Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni sang pemberontak. Hal ini menyebabkan ketidakpuasan karena kelak muncul prasasti Munggu Antan atas nama Maharaja Rakai Gurunwangi. Nama ini tidak terdapat dalam daftar raja prasasti Mantyasih, sehingga dapat diperkirakan pada akhir pemerintahan Rakai Kayuwangi telah terjadi perpecahan kerajaan.

Nama Rakai Gurunwangi Dyah Saladu dan Dyah Ranu ditemukan dalam prasasti Plaosan setelah Rakai Pikatan. Mungkin mereka adalah anak Rakai Pikatan. Atau mungkin juga hubungan antara Dyah Ranu dan Dyah Saladu adalah suami istri.

Pada tahun 807 Mpu Manuku sudah menjadi pejabat, yaitu sebagai Rakai Patapan. Ia turun takhta menjadi brahmana pada tahun 856. Mungkin saat itu usianya sudah di atas 70 tahun. Setelah meninggal dunia, Sang Jatiningrat dimakamkan atau didharmakan di desa Pastika.

6.1. Pramodawardhani

Pramodawardhani adalah putri mahkota Wangsa Sailendra yang menjadi permaisuri Rakai Pikatan, raja keenam Kerajaan Medang periode Jawa Tengah sekitar tahun 840-an.

Peresmian Borobudur

Nama Pramodawardhani ditemukan dalam prasasti Kayumwungan tanggal 26 Maret 824 sebagai putri Maharaja Samaratungga. Menurut prasasti itu, ia meresmikan sebuah bangunan Jinalaya bertingkat-tingkat yang sangat indah. Bangunan ini umumnya ditafsirkan sebagai Candi Borobudur.

Sementara itu, prasasti Tri Tepusan tanggal 11 November 842 menyebutkan adanya tokoh bergelar Sri Kahulunan yang membebaskan pajak beberapa desa agar penduduknya ikut serta merawat Kamulan Bhumisambhara (nama asli Candi Borobudur). Sejarawan Dr. De Casparis menafsirkan istilah Sri Kahulunan dengan “permaisuri”, yaitu Pramodawardhani, karena pada saat itu Rakai Pikatan diperkirakan sudah menjadi raja.

Pendapat lain dikemukakan oleh Drs. Boechari yang menafsirkan Sri Kahulunan sebagai ibu suri. Misalnya, dalam Mahabharata tokoh Yudhisthira memanggil ibunya, yaitu Kunti, dengan sebutan Sri Kahulunan. Jadi, menurut versi ini, tokoh Sri Kahulunan bukan Pramodawardhani, melainkan ibunya, yaitu istri Samaratungga.

Perkawinan dengan Rakai Pikatan

Rakai Pikatan Mpu Manuku adalah raja keenam Kerajaan Medang menurut prasasti Mantyasih. Dari prasasti Wantil diketahui bahwa Rakai Pikatan menganut agama Hindu Siwa dan menikah dengan seorang putri beragama Buddha. Mayoritas sejarawan sepakat bahwa putri tersebut adalah Pramodawardhani.

Prasasti Kayumwungan tahun 824 hanya menyebut nama Pramodawardhani dan Samaratungga tanpa menyebut nama Mpu Manuku. Dapat diperkirakan bahwa pada tahun itu Pramodawardhani dan Mpu Manuku belum menikah.

Sementara itu pada prasasti Munduan tahun 807 Mpu Manuku sudah menjabat sebagai Rakai Patapan, padahal pada tahun 824 Pramodawardhani masih menjadi gadis. Ini berarti di antara keduanya terdapat perbedaan usia yang cukup jauh. Mungkin usia Rakai Pikatan Mpu Manuku sebaya dengan mertuanya, yaitu Samaratungga.

Dari perkawinan Rakai Pikatan dengan Pramodawardhani diperkirakan lahir Rakai Gurunwangi Dyah Saladu (prasasti Plaosan) dan Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala (prasasti Wantil). Berkat jasanya dalam menumpas musuh negara bernama Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni, Rakai Kayuwangi pun bisa menjadi raja sesudah Rakai Pikatan.

Pengangkatan Rakai Kayuwangi, seorang putra bungsu, menjadi raja tersebut kelak menimbulkan kecemburuan di hati Rakai Gurunwangi, yaitu dengan ditemukannya prasasti Munggu Antan tahun 887.

Hubungan dengan Balaputradewa

Balaputradewa adalah raja Kerajaan Sriwijaya putra Samaragrawira. Prof. N.J. Krom menganggap Samaragrawira identik dengan Samaratungga, sehingga Balaputradewa secara otomatis dianggap sebagai saudara Pramodawardhani.

Dr. De Casparis kemudian menyusun teori bahwa telah terjadi perang saudara memperebutkan takhta sepeninggal Samaratungga, antara Balaputradewa melawan Pramodawardhani. Akhirnya Balaputradewa dikalahkan Rakai Pikatan suami Pramodawardhani. Ia kemudian menyingkir ke Pulau Sumatra dan menjadi raja Kerajaan Sriwijaya.

Teori De Casparis tersebut berpedoman pada prasasti Wantil tahun 856 yang menyebutkan adanya peperangan antara Rakai Pikatan melawan seorang musuh yang bersembunyi dalam benteng timbunan batu. Pada prasasti Wantil ditemukan istilah Walaputra yang ditafsirkan sebagai nama lain Balaputradewa.

Sementara itu Prof. Slamet Muljana berpendapat bahwa Balaputradewa bukan saudara Pramodawardhani. Pendapat ini berpedoman pada prasasti Kayumwungan yang menyebut Samaratungga hanya memiliki seorang anak perempuan (yaitu Pramodawardhani). Menurut Slamet Muljana, Balaputradewa lebih tepat sebagai adik Samaratungga, dan keduanya merupakan putra dari Samaragrawira. Dengan kata lain, Pramodawardhani merupakan keponakan Balaputradewa.

Benteng timbunan batu yang menjadi markas Balaputradewa identik dengan Situs Ratu Boko. Drs. Boechari menemukan beberapa prasasti di sekitar situs tersebut, namun bukan atas nama Balaputradewa, melainkan atas nama Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni yang mengaku sebagai keturunan pendiri kerajaan (yaitu Sanjaya).

Boechari berpendapat bahwa, musuh Rakai Pikatan bukan Balaputradewa, melainkan Rakai Walaing. Istilah Walaputra dalam prasasti Wantil menurutnya bukan bermakna Balaputradewa, melainkan bermakna “anak bungsu”, yaitu julukan untuk Rakai Kayuwangi selaku pahlawan penumpas Rakai Walaing.

Bukti lain menunjukkan adanya kerusakan pada sebagian prasasti yang mencatat urutan silsilah Rakai Walaing. Kerusakan ini seolah sengaja dilakukan oleh Rakai Pikatan sebagai sesama keturunan Sanjaya yang bersaing memperebutkan takhta Medang.

Apabila pendapat Slamet Muljana dan Boechari dipadukan maka dapat diajukan sebuah teori bahwa perang antara Rakai Pikatan dan Balaputradewa mungkin tidak pernah terjadi. Menurut prasasti Po Ngar pada tahun 802 negeri Kamboja berhasil melepaskan diri dari penjajahan Jawa. Mungkin hal ini menjadi alasan Samaragrawira pada akhir pemerintahannya membagi kekuasaan Wangsa Sailendra untuk kedua putranya. Samaratungga berkuasa di Jawa, sedangkan Balaputradewa berkuasa di Sumatra.

Teori kedua ini menjadi alternatif selain teori pertama yang menyebut Balaputradewa menyingkir ke Sumatra akibat kalah perang melawan Pramodawardhani yang dibantu Rakai Pikatan.

7. Rakai Kayuwangi

Sri Maharaja Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala Sri Sayyawasanottunggadewa adalah raja ketujuh Kerajaan Medang periode Jawa Tengah (atau lazim disebut Kerajaan Mataram Kuno) yang memerintah tahun 856880-an.

Asal-Usul

Sebenarnya kurang tepat apabila Rakai Kayuwangi disebut sebagai raja Kerajaan Mataram karena menurut prasasti Wantil, saat itu istana Kerajaan Medang tidak lagi berada di daerah Mataram, melainkan sudah dipindahkan oleh Rakai Pikatan (raja sebelumnya) ke daerah Mamrati, dan diberi nama Mamratipura.

Rakai Kayuwangi adalah putra bungsu Rakai Pikatan yang lahir dari permaisuri Pramodawardhani. Nama aslinya adalah Dyah Lokapala (prasasti Wantil) atau Mpu Lokapala (prasasti Argapura).

Menurut prasasti Wantil atau prasasti Siwagerha tanggal 12 November 856, Dyah Lokapala naik takhta menggantikan ayahnya, yaitu Sang Jatiningrat (gelar Rakai Pikatan sebagai brahmana). Pengangkatan putra bungsu sebagai raja ini didasarkan pada jasa kepahlawanan Dyah Lokapala dalam menumpas musuh ayahnya, yang bermarkas di timbunan batu di atas bukit Ratu Baka.

Teori populer menyebut nama musuh tersebut adalah Balaputradewa karena pada prasasti Wantil terdapat istilah walaputra. Namun, sejarawan Buchari tidak menjumpai prasasti atas nama Balaputradewa pada situs bukit Ratu Baka, melainkan atas nama Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni. Adapun makna istilah walaputra adalah “putra bungsu”, yaitu julukan untuk Dyah Lokapala yang berhasil menumpas musuh ayahnya tersebut.

Jadi, pada akhir pemerintahan Rakai Pikatan terjadi pemberontakan Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni yang mengaku sebagai keturunan pendiri kerajaan (Sanjaya). Pemberontakan tersebut berhasil ditumpas oleh Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala alias Sang Walaputra, sehingga ia mendapat dukungan rakyat untuk naik takhta menggantikan ayahnya.

Teori pemberontakan Rakai Walaing ini telah membantah teori populer tentang adanya perang saudara antara Balaputradewa melawan Pramodawardhani dan Rakai Pikatan sepeninggal Samarottungga.

Peristiwa Wuatan Tija

Pada tanggal 10 Desember 880 Rakai Kayuwangi mengeluarkan prasasti untuk menganugerahi para pemuka desa Wuatan Tija karena mereka telah berjasa menolong putranya yang bernama Dyah Bhumijaya.

Dikisahkan, Dyah Bhumijaya dan ibunya yang bernama Rakryan Manak diculik oleh Rakryan Landhayan, yang tidak lain adalah saudara Rakryan Manak sendiri. Ibu dan anak tersebut berhasil lolos saat berada di desa Tangar. Namun kemudian Rakryan Manak memilih bunuh diri ketika berada di desa Taas.

Alasan Rakryan Manak bunuh diri tidak diketahui dengan pasti. Sementara itu putranya, yaitu Dyah Bhumijaya ditemukan para pemuka desa Wuatan Tija dan diantarkan kepada Maharaja Rakai Kayuwangi.

Tokoh Rakryan Landhayan ini memiliki putra bernama Dyah Wawa yang kelak berhasil merebut takhta Kerajaan Medang sekitar tahun 927. Tokoh Dyah Wawa mengaku sebagai putra Kryan Landheyan yang dimakamkan di tengah hutan.

Jadi, setelah peristiwa penculikan tersebut, Rakryan Landhayan menjadi buronan kerajaan. Mungkin ia meninggal di tengah hutan karena menderita, atau mungkin karena dibunuh tentara kerajaan.

Akhir Pemerintahan

Tidak diketahui dengan pasti kapan Rakai Kayuwangi turun takhta. Prasasti termuda atas nama dirinya yang sudah ditemukan adalah prasasti Kalirungan tahun 883. Namun demikian, belum tentu apakah prasasti Kalirungan merupakan prasasti terakhir yang dikeluarkan oleh Rakai Kayuwangi.

Menurut prasasti Mantyasih, raja sesudah Rakai Kayuwangi adalah Rakai Watuhumalang. Sementara itu, nama putra mahkota pada masa pemerintahan Rakai Kayuwangi adalah Rakai Hino Mpu Aku. Apakah Mpu Aku identik dengan Rakai Watuhumalang tidak diketahui dengan pasti.

Sementara itu, ditemukan nama Sang Watuhumalang Mpu Teguh dalam prasasti Panunggalan tahun 896, namun bergelar haji (raja bawahan), bukan maharaja. Apakah Rakai Watuhumalang sama dengan Haji Watuhumalang juga tidak dapat dipastikan.

Muncul pula prasasti Munggu Antan tahun 887 atas nama Maharaja Rakai Gurunwangi dan prasasti Poh Dulur tahun 890 atas nama Maharaja Rakai Limus Dyah Dewendra. Keduanya tidak terdapat dalam daftar raja prasasti Mantyasih. Mungkin saat itu telah terjadi perpecahan sehingga Rakai Kayuwangi bukanlah satu-satunya maharaja pulau Jawa.

Nama Rakai Gurunwangi Dyah Ranu dan Dyah Saladu ditemukan dalam prasasti Plaosan dan diduga sebagai putra atau menantu Rakai Pikatan. Apakah mereka sama dengan Maharaja Rakai Gurunwangi tidak dapat dipastikan. Namun apabila benar-benar identik, berarti Rakai Gurunwangi selaku kakak Rakai Kayuwangi memberontak dan mendirikan kerajaan sendiri karena cemburu pada adik bungsunya tersebut.

Rakai Watuhumalang yang menurut prasasti Mantyasih merupakan raja Kerajaan Medang sesudah Rakai Kayuwangi. Kemudian ia digantikan oleh Dyah Balitung yang naik takhta karena menikahi putri raja sebelumnya. Mungkin yang dimaksud ialah Dyah Balitung merupakan menantu Rakai Watuhumalang.

Menurut prasasti Telahap, istri Dyah Balitung adalah cucu raja yang dimakamkan di Pastika alias Rakai Pikatan. Jadi, Rakai Watuhumalang bisa jadi adalah putra, atau mungkin menantu Rakai Pikatan. Dengan kata lain, sepeninggal Rakai Kayuwangi takhta Kerajaan Medang jatuh kepada kakaknya (atau mungkin iparnya), yaitu Rakai Watuhumalang.

Sementara itu, tentang hubungan antara Rakai Kayuwangi dengan Maharaja Rakai Limus Dyah Dewendra sampai saat ini belum dapat diperkirakan.

8. Rakai Watuhumalang

Sri Maharaja Rakai Watuhumalang adalah raja kedelapan Kerajaan Medang periode Jawa Tengah yang memerintah sekitar tahun 890-an.

Masa Pemerintahan

Menurut daftar para raja Kerajaan Medang dalam prasasti Mantyasih, Rakai Watuhumalang menjadi raja kedelapan menggantikan Rakai Kayuwangi. Prasasti tersebut dikeluarkan tahun 907 oleh Dyah Balitung, yaitu raja sesudah Rakai Watuhumalang.

Rakai Watuhumalang sendiri tidak meninggalkan prasasti atas nama dirinya. Sementara itu prasasti Panunggalan tanggal 19 November 896 menyebut adanya tokoh bernama Sang Watuhumalang Mpu Teguh, namun tidak bergelar maharaja, melainkan hanya bergelar haji (raja bawahan).

Tidak dapat dipastikan apakah Mpu Teguh identik dengan Rakai Watuhumalang. Apabila keduanya benar-benar tokoh yang sama, maka dapat dibayangkan bahwa masa pemerintahan Rakai Watuhumalamg sangat singkat. Pada tahun 896 ia masih menjadi raja bawahan, sedangkan pada tahun 899 (prasasti Telahap) yang menjadi raja sudah bernama Dyah Balitung.

Hubungan dengan Rakai Kayuwangi

Menurut analisis para sejarawan, misalnya Poerbatjaraka dan Boechari, tokoh bernama Dyah Balitung naik takhta karena menikahi putri raja sebelumnya. Jadi, kemungkinan besar Dyah Balitung adalah menantu Rakai Watuhumalang.

Hubungan antara Rakai Watuhumalang dengan raja sebelumnya, yaitu Rakai Kayuwangi juga belum jelas. Nama putra mahkota zaman Rakai Kayuwangi adalah Mahamantri Hino Mpu Aku, yang kemungkinan besar berbeda dengan Rakai Watuhumalang.

Ditemukan pula prasasti atas nama Maharaja Rakai Gurunwangi (prasasti Munggu Antan, 887) dan atas nama Maharaja Rakai Limus Dyah Dewendra (prasasti Poh Dulur, 890). Padahal keduanya tidak terdapat dalam daftar para raja versi prasasti Mantyasih. Mungkin, pada akhir pemerintahan Rakai Kayuwangi telah terjadi perpecahan di lingkungan Kerajaan Medang.

Sementara itu, menurut prasasti Telahap, permaisuri Dyah Balitung merupakan cucu dari Rakai Watan Mpu Tamer, yaitu istri raja yang dimakamkan di Pastika. Menurut analisis Pusponegoro dan Notosutanto, raja yang dimakamkan di Pastika adalah Rakai Pikatan, ayah dari Rakai Kayuwangi.

Apabila Dyah Balitung benar-benar menantu Rakai Watuhumalang, berarti Rakai Watuhumalang adalah putra (atau mungkin menantu) Rakai Pikatan yang lahir dari selir bernama Rakai Watan Mpu Tamer. Sedangkan Rakai Kayuwangi lahir dari permaisuri bernama Pramodawardhani. Dengan kata lain, Rakai Watuhumalang adalah saudara tiri (atau mungkin ipar) Rakai Kayuwangi, raja sebelumnya.

Jalannya Peristiwa

Apabila dugaan-dugaan di atas benar-benar terjadi, maka jalannya peristiwa dalam sejarah Kerajaan Medang dapat ditafsirkan sebagai berikut.

Rakai Pikatan memiliki beberapa orang anak, antara lain Rakai Gurunwangi (prasasti Plaosan) dan Rakai Kayuwangi (prasasti Argapura). Sedangkan Rakai Watuhumalang mungkin juga putra Rakai Pikatan atau mungkin menantunya. Sementara itu hubungan dengan Rakai Limus Dyah Dewendra masih belum dapat diperkirakan.

Sepeninggal Rakai Pikatan, putra yang bungsu ditunjuk menjadi raja, yaitu Rakai Kayuwangi. Rakai Gurunwangi yang lebih tua merasa cemburu. Pada akhir pemerintahan adiknya, ia pun memisahkan diri dan menjadi maharaja tandingan (prasasti Munggu Antan).

Mungkin perpecahan dalam keluarga tersebut menimbulkan peperangan yang berakibat kematian Rakai Kayuwangi dan putra mahkotanya, yaitu Rakai Hino Mpu Aku. Takhta Kerajaan Medang kemudian jatuh kepada Rakai Watuhumalang yang semula hanya sebagai raja bawahan.

Rakai Watuhumalang memiliki putra bernama Mpu Daksa (prasasti Telahap) dan menantu bernama Dyah Balitung (prasasti Mantyasih). Dyah Balitung inilah yang mungkin berhasil menjadi pahlawan dalam menaklukkan Rakai Gurunwangi dan Rakai Limus sehingga takhta pun jatuh kepadanya sepeninggal Rakai Watuhumalang.

Pada akhir pemerintahan Dyah Balitung terjadi persekutuan antara Mpu Daksa dengan Rakai Gurunwangi (prasasti Taji Gunung). Kiranya pemerintahan Dyah Balitung berakhir oleh kudeta yang dilakukan kedua tokoh tersebut.

9. Dyah Balitung

Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Dharmodaya Mahasambu adalah raja Kerajaan Medang periode Jawa Tengah (atau lazim disebut Kerajaan Mataram Kuno), yang memerintah sekitar tahun 899911. Wilayah kekuasaannya mencakup Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan Bali.

Asal-Usul

Analisis para sejarawan, misalnya Boechari atau Poerbatjaraka, menyebutkan bahwa Dyah Balitung berhasil naik takhta karena menikahi putri raja sebelumnya. Kemungkinan besar raja tersebut adalah Rakai Watuhumalang yang menurut prasasti Mantyasih memerintah sebelum Balitung.

Mungkin alasan Dyah Balitung bisa naik takhta bukan hanya itu, mengingat raja sebelumnya ternyata juga memiliki putra bernama Mpu Daksa (prasasti Telahap). Alasan lain yang menunjang ialah keadaan Kerajaan Medang sepeninggal Rakai Kayuwangi mengalami perpecahan, yaitu dengan ditemukannya prasasti Munggu Antan atas nama Maharaja Rakai Gurunwangi dan prasasti Poh Dulur atas nama Rakai Limus Dyah Dewendra.

Jadi, kemungkinan besar Dyah Balitung yang merupakan menantu Rakai Watuhumalang (raja Medang pengganti Rakai Kayuwangi) berhasil menjadi pahlawan dengan menaklukkan Rakai Gurunwangi dan Rakai Limus sehingga kembali mengakui kekuasaan tunggal di Kerajaan Medang. Maka, sepeninggal Rakai Watuhumalang, rakyat pun memilih Balitung sebagai raja daripada iparnya, yaitu Mpu Daksa.

Riwayat Pemerintahan

Pada masa pemerintahan Dyah Balitung, istana Kerajaan Medang tidak lagi berada di daerah Mataram, ataupun Mamrati, melainkan sudah dipindahkan ke daerah Poh Pitu yang diberi nama Yawapura. Hal ini dimungkinkan karena istana Mamratipura (yang dulu dibangun oleh Rakai Pikatan) telah rusak akibat perang saudara antara Rakai Kayuwangi melawan Rakai Gurunwangi.

Prasasti tertua atas nama Balitung yang berhasil ditemukan adalah prasasti Telahap tanggal 11 September 899. Namun bukan berarti ini adalah prasasti pertamanya, atau dengan kata lain, bisa jadi Balitung sudah naik takhta sebelum tahun 899.

Disusul kemudian prasasti Watukura tanggal 27 Juli 902. Prasasti tersebut adalah prasasti tertua yang menyebutkan adanya jabatan Rakryan Kanuruhan, yaitu semacam jabatan perdana menteri. Sementara itu jabatan Rakryan Mapatih pada zaman Balitung merupakan jabatan putra mahkota yang dipegang oleh Mpu Daksa.

Prasasti Telang tanggal 11 Januari 904 berisi tentang pembangunan komplek penyeberangan bernama Paparahuan yang dipimpin oleh Rakai Welar Mpu Sudarsana di tepi Bengawan Solo. Balitung membebaskan pajak desa-desa sekitar Paparahuan dan melarang para penduduknya untuk memungut upah dari para penyeberang.

Prasasti Poh tanggal 17 Juli 905 berisi pembebasan pajak desa Poh untuk ditugasi mengelola bangunan suci Sang Hyang Caitya dan Silunglung peninggalan raja sebelumnya yang dimakamkan di Pastika, yaitu Rakai Pikatan. Raja ini merupakan kakek dari Mpu Daksa dan permaisuri Balitung.

Prasasti Kubu-Kubu tanggal 17 Oktober 905 berisi anugerah desa Kubu-Kubu kepada Rakryan Hujung Dyah Mangarak dan Rakryan Matuha Dyah Majawuntan karena keduanya berjasa memimpin penaklukan daerah Bantan. Beberapa sejarawan menafsirkan Bantan sebagai nama lain dari Bali. Istilah Bantan artinya “korban”, sedangkan Bali artinya “persembahan”.

Prasasti Mantyasih tanggal 11 April 907 berisi tentang anugerah kepada lima orang patih bawahan yang berjasa dalam menjaga keamanan saat pernikahan Dyah Balitung. Dalam prasasti ini disebutkan pula urutan raja-raja Medang yang memerintah sebelum dirinya.

Pada tahun 907 tersebut Balitung juga memberikan desa Rukam sebagai hadiah untuk neneknya yang bernama Rakryan Sanjiwana dengan tugas merawat bangunan suci di Limwung.

Akhir Pemerintahan

Pengangkatan Dyah Balitung sebagai raja kemungkinan besar melahirkan rasa cemburu di hati Mpu Daksa, yaitu putra raja sebelumnya yang tentunya lebih berhak atas takhta Kerajaan Medang.

Mpu Daksa yang menjabat sebagai Rakai Hino ditemukan telah mengeluarkan prasasti tanggal 21 Desember 910 tentang pembagian daerah Taji Gunung bersama Rakai Gurunwangi.

Sebagaimana dibahas sebelumnya bahwa, Rakai Gurunwangi mengangkat dirinya sebagai maharaja pada akhir pemerintahan Rakai Kayuwangi dan awal pemerintahan Rakai Watuhumalang. Berdasarkan prasasti Plaosan, Rakai Gurunwangi diperkirakan adalah putra Rakai Pikatan.

Dyah Balitung berhasil naik takhta menggantikan Rakai Watuhumalang diperkirakan karena kepahlawanannya menaklukkan Rakai Gurunwangi dan Rakai Limus. Mungkin Rakai Gurunwangi yang menyimpan dendam kemudian bersekutu dengan Mpu Daksa yang masih keponakannya (Rakai Gurunwangi dan Daksa masing-masing adalah anak dan cucu Rakai Pikatan).

Sejarawan Boechari yakin bahwa pemerintahan Dyah Balitung berakhir akibat pemberontakan Mpu Daksa. Pada prasasti Taji Gunung (910) Daksa masih menjabat sebagai Rakai Hino, sedangkan pada prasasti Timbangan Wungkal (913) ia sudah bergelar maharaja.

10. Mpu Daksa

Mpu Daksa adalah raja Kerajaan Medang periode Jawa Tengah (atau lazim disebut Kerajaan Mataram Kuno yang memerintah sekitar tahun 913919, bergelar Sri Maharaja Daksottama Bahubajra Pratipaksaksaya Uttunggawijaya.

Asal-Usul

Mpu Daksa naik takhta menggantikan Dyah Balitung yang merupakan saudara iparnya. Hubungan kekerabatan ini berdasarkan bukti bahwa Daksa sering disebut namanya bersamaan dengan istri Balitung dalam beberapa prasasti. Selain itu juga diperkuat dengan analisis sejarawan Boechari terhadap berita Cina dari Dinasti Tang berbunyi Tat So Kan Hiung, yang artinya “Daksa, saudara raja yang gagah berani”.

Dyah Balitung diperkirakan naik takhta karena menikahi putri raja sebelumnya, sehingga secara otomatis Mpu Daksa pun disebut sebagai putra raja tersebut. Kemungkinan besar raja itu ialah Rakai Watuhumalang yang memerintah sebelum Balitung menurut prasasti Mantyasih.

Menurut prasasti Telahap, Mpu Daksa adalah cucu dari Rakryan Watan Mpu Tamer, yang merupakan seorang istri raja yang dimakamkan di Pastika, yaitu Rakai Pikatan. Dengan demikian, Daksa dapat disebut sebagai cucu dari Rakai Pikatan. Prasasti Plaosan yang dikeluarkan oleh Rakai Pikatan juga menyebut adanya tokoh bernama Sang Kalungwarak Mpu Daksa.

Merebut Takhta

Rakai Gurunwangi adalah salah satu anak Rakai Pikatan yang tertulis dalam prasasti Plaosan. Pada akhir pemerintahan adiknya, yaitu Rakai Kayuwangi, Rakai Gurunwangi memisahkan diri dan mengaku sebagai maharaja, dengan bukti ditemukannya prasasti Munggu Antan (887).

Sepeninggal Rakai Kayuwangi, takhta Kerajaan Medang jatuh ke tangan Rakai Watuhumalang. Kemungkinan besar menantu raja baru tersebut yang bernama Dyah Balitung berhasil menaklukkan Rakai Gurunwangi. Atas jasa kepahlawanannya itu, Balitung pun menjadi raja Medang selanjutnya, sedangkan Mpu Daksa (yang kemungkinan putra Rakai Watuhumalang) dijadikan sebagai Rakryan Mapatih Hino.

Pengangkatan Balitung sebagai raja mungkin membuat Daksa sakit hati. Ia pun bersekutu dengan Rakai Gurunwangi membagi daerah Taji Gunung pada tanggal 21 Desember 910. Dalam prasastinya, Daksa memperkenalkan pemakaian Sanjayawarsa atau “kalender Sanjaya” yang berselisih 717 tahun sesudah kalender Masehi. Rupanya Daksa ingin menunjukkan kalau dirinya adalah keturunan asli Sanjaya, yaitu pendiri Kerajaan Medang.

Sejarawan Boechari berpendapat bahwa pemerintahan Dyah Balitung berakhir oleh pemberontakan Mpu Daksa dan Rakai Gurunwangi.

Riwayat Pemerintahan

Prasasti tertua atas nama Daksa sebagai maharaja yang sudah ditemukan adalah prasasti Timbangan Wungkal yang mencantumkan tahun 196 Sanjayawarsa atau 913 Masehi. Isinya tentang pengaduan Dyah Dewa, Dyah Babru, dan Dyah Wijaya yang dulu mendapatkan hak istimewa dari Rakai Pikatan, namun kemudian dipermasalahkan oleh Dang Acarya Bhutti yang menjabat sebagai Sang Pamgat Mangulihi.

Selain itu ditemukan pula prasasti Ritihang tanggal 13 September 914 tentang persembahan hadiah dari Mpu Daksa untuk permaisurinya.

Akhir Pemerintahan

Tidak diketahui dengan pasti kapan pemerintahan Mpu Daksa berakhir. Prasasti selanjutnya yang ditemukan adalah prasasti Lintakan tahun 919 atas nama Rakai Layang Dyah Tulodhong sebagai raja baru.

Prasasti Ritihang yang dikeluarkan Mpu Daksa juga menyebut adanya tokoh bernama Rakryan Layang namun nama aslinya tidak terbaca. Ditinjau dari ciri-cirinya, tokoh Rakryan Layang ini seorang perempuan yang berkedudukan tinggi sehingga tidak mungkin sama dengan Dyah Tulodhong.

Kemungkinan besar, Rakryan Layang adalah putri Mpu Daksa. Dyah Tulodhong berhasil menikahinya sehingga ia pun mendapatkan gelar Rakai Layang, bahkan menggantikan mertuanya sebagai raja Kerajaan Medang selanjutnya.

11. Dyah Tulodhong

Sri Maharaja Rakai Layang Dyah Tulodong Sri Sajjana Sanmatanuraga Uttunggadewa adalah raja Kerajaan Medang periode Jawa Tengah (atau lazim disebut Kerajaan Mataram Kuno, yang memerintah sekitar tahun 919924.

Asal-Usul

Dyah Tulodhong dianggap naik takhta menggantikan Mpu Daksa. Dalam prasasti Ritihang yang dikeluarkan oleh Mpu Daksa terdapat tokoh Rakryan Layang namun nama aslinya tidak terbaca. Ditinjau dari ciri-cirinya, tokoh Rakryan Layang ini seorang wanita berkedudukan tinggi, jadi tidak mungkin sama dengan Dyah Tulodhong.

Mungkin Rakryan Layang adalah putri Mpu Daksa. Dyah Tulodhong berhasil menikahinya sehingga ia pun ikut mendapatkan gelar Rakai Layang, bahkan naik takhta menggantikan mertuanya, yaitu Mpu Daksa.

Dalam prasasti Lintakan Dyah Tulodhong disebut sebagai putra dari seseorang yang dimakamkan di Turu Mangambil.

Riwayat Pemerintahan

Prasasti Lintakan tanggal 12 Juli 919 adalah prasasti tertua yang pernah ditemukan dengan menyebut Tulodhong sebagai raja. Dalam pemerintahannya, yang menduduki jabatan Rakryan Mapatih Hino bernama Mpu Ketuwijaya yang juga bergelar Sri Ketudhara Manimantaprabha Prabhusakti. Sedangkan yang menjabat Rakryan Halu adalah Mpu Sindok.

Prasasti Harinjing Tanggal 19 September 921 berisi pengukuhan anugerah untuk anak-anak Bhagawanta Bhari yang berjumlah 12 orang dan tersebar di mana-mana. Bhagawanta Bhari adalah tokoh yang berjasa membangun bendungan pencegah banjir. Ia sendiri telah mendapat anugerah dari raja sebelumnya.

Prasasti untuk anak-anak Bhagawanta Bhari diperbaharui lagi pada tanggal 7 Maret 927, di mana mereka mendapatkan desa Culanggi sebagai sima swatantra (daerah bebas pajak). Pembaharuan tersebut dilakukan oleh Rakai Hino Mpu Ketuwijaya, atas saran dari Rakai Sumba yang menjabat sebagai Sang Pamgat Momahumah.

Akhir Pemerintahan

Prasasti Sangguran tanggal 2 Agustus 928 menyebut adanya raja baru bernama Rakai Sumba Dyah Wawa. Ia diyakini sebagai raja pengganti Dyah Tulodhong.

Seperti diketahui, Rakai Sumba sebelumnya adalah menjabat sebagai Sang Pamgat Momahumah, semacam pegawai pengadilan. Ia sendiri mengaku sebagai putra dari Kryan Landhayan, yaitu tokoh penculikan anak dan istri Rakai Kayuwangi dalam peristiwa Wuatan Tija.

Sejarawan Boechari berpendapat bahwa Dyah Wawa telah melakukan kudeta merebut takhta Kerajaan Medang dengan cara menyingkirkan Dyah Tulodhong dan Mpu Ketuwijaya. Mungkin kudeta ini dibantu oleh Mpu Sindok yang semula menjabat sebagai Rakai Halu, dan kemudian naik pangkat menjadi Rakai Hino.

Dyah Wawa

Sri Maharaja Rakai Sumba Dyah Wawa Sri Wijayalokanamottungga adalah raja terakhir Kerajaan Medang periode Jawa Tengah (atau lazim disebut Kerajaan Mataram Kuno), yang memerintah sekitar tahun 928929.

Asal-Usul

Dyah Wawa naik takhta menggantikan Dyah Tulodhong. Nama Rakai Sumba tercatat dalam prasasti Culanggi tanggal 7 Maret 927, menjabat menjabat sebagai Sang Pamgat Momahumah, yaitu semacam pegawai pengadilan. Selain bergelar Rakai Sumba, Dyah Wawa juga bergelar Rakai Pangkaja.

Dalam prasasti Wulakan tanggal 14 Februari 928, Dyah Wawa mengaku sebagai anak Kryan Landheyan sang Lumah ri Alas (putra Kryan Landheyan yang dimakamkan di hutan). Nama ayahnya ini mirip dengan Rakryan Landhayan, yaitu ipar Rakai Kayuwangi yang melakukan penculikan dalam peristiwa Wuatan Tija.

Saudara perempuan Rakryan Landhayan yang menjadi istri Rakai Kayuwangi bernama Rakryan Manak, yang melahirkan Dyah Bhumijaya. Ibu dan anak itu suatu hari diculik Rakryan Landhayan, namun keduanya berhasil meloloskan diri di desa Tangar. Anehnya, Rakryan Manak memilih bunuh diri di desa Taas, sedangkan Dyah Bhumijaya ditemukan para pemuka desa Wuatan Tija dan diantarkan pulang ke hadapan Rakai Kayuwangi.

Makam Rakryan Landhayan sang pelaku penculikan diberitakan terdapat di tengah hutan. Mungkin ia akhirnya tertangkap oleh tentara Medang dan dibunuh di dalam hutan. Peristiwa tersebut terjadi tahun 880. Mungkin saat itu Dyah Wawa masih kecil. Jadi, Dyah Wawa merupakan sepupu dari Dyah Bhumijaya, putra Rakai Kayuwangi (raja Medang 856–890-an).

Dengan demikian, Dyah Wawa tidak memiliki hak atas takhta Dyah Tulodhong. Sejarawan Boechari berpendapat bahwa Dyah Wawa melakukan kudeta merebut takhta Kerajaan Medang.

Riwayat Pemerintahan

Kemungkinan besar kudeta yang dilakukan oleh Dyah Wawa mendapat bantuan dari Mpu Sindok, yang naik pangkat menjadi Rakryan Mapatih Hino. Sebelumnya, yaitu pada masa pemerintahan Dyah Tulodhong, Mpu Sindok menjabat sebagai Rakryan Halu, sedangkan Rakai Hino dijabat oleh Mpu Ketuwijaya.

Peninggalan sejarah Dyah Wawa berupa prasasti Sangguran tanggal 2 Agustus 928 tentang penetapan desa Sangguran sebagai sima swatantra (daerah bebas pajak) agar penduduknya ikut serta merawat bangunan suci di daerah Kajurugusalyan.

Kehancuran Istana Medang Mataram

Raja sesudah Dyah Wawa adalah Mpu Sindok yang membangun istana Kerajaan Medang baru di daerah Tamwlang, dan kemudian dipindahkan ke Watugaluh. Kedua tempat tersebut saat ini masuk wilayah Jawa Timur. Mpu Sindok mengaku bahwa Kerajaan Medang di Watugaluh adalah kelanjutan dari Kerajaan Medang di Bhumi Mataram.

Perpindahan istana Medang dari Mataram menuju Tamwlang menurut teori van Bammelen terjadi karena letusan Gunung Merapi yang sangat dahsyat. Konon sebagian puncak Merapi hancur. Kemudian lapisan tanah begeser ke arah barat daya sehingga trerjadi lipatan, yang antara lain, membentuk Gunung Gendol dan lempengan Pegunungan Menoreh.

Letusan Gunung Merapi tersebut disertai gempa bumi dan hujan material vulkanik berupa abu dan batu. Konon, istana Kerajaan Medang di Mataram (dekat Yogyakarta sekarang) sampai mengalami kehancuran akibat bencana alam tersebut.

Sejarawan Boechari berpendapat bahwa bencana alam Gunung Merapi tersebut terjadi sebagai hukuman Tuhan atas perebutan takhta yang sering terjadi di antara keluarga Kerajaan Medang sejak zaman pemerintahan Rakai Pikatan.

Prasasti tertua atas nama Mpu Sindok yang sudah ditemukan ditulis tahun 929, sedangkan prasasti Dyah Wawa ditulis tahun 928. Perpindahan istana Kerajaan Medang dari Jawa Tengah menuju Jawa Timur dipastikan terjadi pada salah satu tahun tersebut

Mpu Sindok

Mpu Sindok adalah raja pertama Kerajaan Medang periode Jawa Timur yang memerintah sekitar tahun 929947, bergelar Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isana Wikramadharmottunggadewa.

Mpu Sindok dianggap sebagai pendiri dinasti baru bernama Wangsa Isana.

Asal-Usul

Mpu Sindok pada masa pemerintahan Dyah Tulodhong menjabat sebagai Rakai Mahamantri Halu, sedangkan pada masa pemerintahan Dyah Wawa, naik pangkat menjadi Rakai Mahamantri Hino. Kedua jabatan tersebut merupakan jabatan tingkat tinggi yang hanya dapat diisi oleh keluarga raja. Dengan demikian, Mpu Sindok merupakan seorang bangsawan kelas tinggi dalam Kerajaan Medang.

Mpu Sindok memiliki permaisuri bernama Sri Parameswari Dyah Kebi putri Rakai Bawa. Sejarawan Poerbatjaraka menganggap Rakai Bawa sama dengan Dyah Wawa. Dengan demikian, Mpu Sindok dianggap sebagai menantu Dyah Wawa. Namun, Rakai Bawa adalah nama suatu jabatan, sedangkan Dyah Wawa adalah nama orang, sehingga keduanya tidak bisa disamakan.

Stutterheim menemukan tokoh Rakai Bawang Mpu Partha, yaitu seorang pejabat zaman pemerintahan Mpu Daksa. Menurutnya, Mpu Partha ini lebih tepat dianggap sebagai ayah Dyah Kebi daripada Dyah Wawa.

Selain itu ditemukan pula nama Rakryan Bawang Dyah Srawana yang bisa juga merupakan ayah Dyah Kebi.

Perpindahan Ibu Kota Medang

Istana Kerajaan Medang pada awal berdirinya diperkirakan terletak di daerah Mataram (dekat Yogyakarta sekarang). Kemudian pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dipindah ke Mamrati (daerah Kedu). Lalu, pada masa pemerintahan Dyah Balitung sudah pindah lagi ke Poh Pitu (masih di sekitar Kedu). Kemudian pada zaman Dyah Wawa diperkirakan kembali ke daerah Mataram.

Mpu Sindok kemudian memindahkan istana Medang ke wilayah Jawa Timur sekarang. Dalam beberapa prasastinya, ia menyebut kalau kerajaannya merupakan kelanjutan dari Kerajaan Medang di Jawa Tengah. Misalnya, ditemukan kalimat berbunyi Kita prasiddha mangraksa kadatwan rahyangta i Bhumi Mataram i Watugaluh.

Menurut teori van Bammelen, istana Medang di Mataram hancur akibat letusan Gunung Merapi yang disertai gempa bumi dan hujan material vulkanik. Tidak diketahui dengan pasti apakah bencana alam ini terjadi pada masa pemerintahan Dyah Wawa ataukah pada pemerintahan Mpu Sindok.

Mpu Sindok memimpin penduduk Medang yang selamat pindah ke timur. Ia membangun ibu kota baru di daerah Tamwlang (prasasti Turyan, 929). Kemudian istana dipindahkan ke Watugaluh (prasasti Anjukladang, 937). Baik Tamwlang maupun Watugaluh diperkirakan berada di sekitar daerah Jombang sekarang.

Riwayat Pemerintahan

Mpu Sindok merupakan raja pertama Kerajaan Medang periode Jawa Timur. Sedangkan yang menjabat sebagai Rakai Mapatih Hino adalah Mpu Sahasra. Pemerintahan Mpu Sindok cukup banyak meninggalkan bukti sejarah berupa prasasti-prasasti.

Prasasti Turyan tahun 929 berisi permohonan Dang Atu Mpu Sahitya terhadap tanah di barat sungai desa Turyan supaya dijadikan sebagai tempat bangunan suci.

Prasasti Linggasutan tahun 929 berisi tentang penetapan desa Linggasutan, wilayah Rakryan Hujung Mpu Madhura Lokaranjana, sebagai sima swatantra untuk menambah biaya pemujaan bathara di Walandit setiap tahunnya.

Prasasti Gulung-Gulung masih dari tahun 929 berisi tentang permohonan Rake Hujung Mpu Madhura agar sawah di desa Gulung-Gulung dijadikan sima bagi bangunan suci Mahaprasada di Himad.

Prasasti Cunggrang juga bertahun 929 berisi tentang penetapan desa Cunggrang sebagai sima swatantra untuk menrawat makam Rakryan Bawang Dyah Srawana, yang diduga sebagai ayah dari sang permaisuri Dyah Kebi.

Prasasti Jru-Jru tahun 930 berisi tentang permohonan Rake Hujung Mpu Madhura supaya desa Jru-Jru di daerah linggasutan dijadikan sima swatantra untuk merawat bangunan suci Sang Sala di Himad.

Prasasti Waharu tahun 931 berisi tentang anugerah untuk penduduk desa Waharu yang dipimpin Buyut Manggali, karena setia membantu negara melawan musuh.

Prasasti Sumbut juga bertahun 931 berisi tentang penetapan desa Sumbut sebagai sima swatantra karena kesetiaan Mapanji Jatu Ireng dan penduduk desa itu menhalau musuh negara.

Prasasti Wulig tanggal 8 Januari 935 berisi tentang peresmian bendungan di Wuatan Wulas dan Wuatan Tamya yang dibangun para penduduk desa Wulig di bawah pimpinan Sang Pamgat Susuhan. Peresmian ini dilakukan oleh seorang istri Mpu Sindok bernama Rakryan Mangibil.

Prasasti Anjukladang tahun 937 berisi tentang penetapan tanah sawah di desa Anjukladang sebagai sima swatantra dan persembahan kepada bathara di Sang Hyang Prasada, serta pembangunan sebuah jayastambha atau tugu kemenangan. Tugu ini sebagai peringatan atas kemenangan melawan serangan Kerajaan Sriwijaya yang mencapai daerah tersebut.

Akhir Hayat

Mpu Sindok meninggal dunia tahun 947 dan dicandikan di Isanabajra atau Isanabhawana. Meskipun dirinya seorang penganut Hindu aliran Siwa, namun tetap menaruh toleransi yang besar terdapat agama lain. Misalnya, ia menganugerahkan desa Wanjang sebagai sima swatantra kepada seorang pujangga bernama Sri Sambhara Suryawarana, yang telah berjasa menulis kitab Buddha aliran Tantrayana, berjudul Sang Hyang Kamahayanikan.

Menurut prasasti Pucangan, Mpu Sindok digantikan oleh putrinya yang bernama Sri Isana Tunggawijaya. Raja perempuan ini memerintah bersama suaminya yang bernama Sri Lokapala.

Sri Isyana Tunggawijaya

Sri Isyana Tunggawijaya adalah raja perempuan Kerajaan Medang yang memerintah sejak tahun 947. Ia memerintah berdampingan dengan suaminya yang bernama Sri Lokapala.

Riwayat Pemerintahan

Sri Isyana Tunggawijaya merupakan putri dari Mpu Sindok, yaitu raja yang telah memindahkan istana Kerajaan Medang dari Jawa Tengah menuju Jawa Timur. Tidak banyak diketahui tentang masa pemerintahannya. Suaminya yang bernama Sri Lokapala merupakan seorang bangsawan dari pulau Bali.

Peninggalan sejarah Sri Lokapala berupa prasasti Gedangan tahun 950 yang berisi tentang anugerah desa Bungur Lor dan desa Asana kepada para pendeta Buddha di Bodhinimba. Namun, prasasti Gedangan ini merupakan prasasti tiruan yang dikeluarkan pada zaman Kerajaan Majapahit untuk mengganti prasasti asli yang sudah rusak.

Prasasti atau piagam dianggap sebagai benda pusaka yang diwariskan secara turun-temurun. Apabila prasasti tersebut mengalami kerusakan, ahli waris biasanya memohon kepada raja yang sedang berkuasa untuk memperbaharuinya. Prasasti pembaharuan ini disebut dengan istilah prasasti tinulad.

Tidak diketahui dengan pasti kapan pemerintahan Sri Lokapala dan Sri Isyana Tunggawijaya berakhir. Menurut prasasti Pucangan, yang menjadi raja selanjutnya adalah putra mereka yang bernama Sri Makuthawangsawardhana.

Makutawangsawardhana

Sri Makutawangsawardhana adalah raja Kerajaan Medang yang memerintah sebelum tahun 990-an.

Riwayat Pemerintahan

Jalannya pemerintahan Makutawangsawardhana tidak diketahui dengan pasti. Namanya hanya ditemukan dalam prasasti Pucangan sebagai kakek Airlangga. Disebutkan bahwa, Makutawangsawardhana adalah putra pasangan Sri Lokapala dan Sri Isana Tunggawijaya putri Mpu Sindok.

Prasasti Pucangan juga menyebut Makutawangsawardhana memiliki putri bernama Mahendradatta, yaitu ibu dari Airlangga. Dalam prasasti itu juga disebut adanya nama seorang raja bernama Dharmawangsa, namun hubungannya dengan Makutawangsawardhana tidak dijelaskan.

Dharmawangsa Teguh merupakan raja Kerajaan Medang yang memerintah sejak tahun 991. Airlangga mengaku sebagai anggota keluarganya. Berdasarkan hal itu, para sejarawan pun sepakat bahwa Dharmawangsa adalah saudara dari Mahendradatta, dan keduanya merupakan anak dari Makutawangsawardhana.

Teori yang berkembang ialah, Makutawangsawardhana memerintah sampai tahun 991, dan digantikan oleh putranya yang bernama Dharmawangsa. Sedangkan putrinya yang bernama Mahendradatta menikah dengan raja Bali bernama Udayana dan kemudian melahirkan Airlangga.

Dharmawangsa Teguh

Sri Maharaja Isana Dharmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa adalah raja terakhir Kerajaan Medang yang memerintah pada tahun 9911007 atau 1016.

Asal-Usul

Prasasti Pucangan tahun 1041 dikeluarkan oleh raja bernama Airlangga yang menyebut dirinya sebagai anggota keluarga Dharmawangsa Teguh. Disebutkan pula bahwa Airlangga adalah putra pasangan Mahendradatta dengan Udayana raja Bali. Adapun Mahendradatta adalah putri Makuthawangsawardhana dari Wangsa Isana. Airlangga sendiri kemudian menjadi menantu Dharmawangsa.

Pada umumnya para sejarawan sepakat menyebut Dharmawangsa sebagai putra Makuthawangsawardhana. Teori ini diperkuat oleh prasasti Sirah Keting yang menyebut Dharmawangsa sebagai anggota Wangsa Isana.

Jadi kesimpulannya, Makuthawangsawardhana memiliki dua orang anak, yaitu Mahendradatta dan Dharmawangsa. Mahendradatta menjadi permaisuri di Bali dan melahirkan Airlangga. Sementara itu, Dharmawangsa menggantikan Makuthawangsawardhana sebagai raja Kerajaan Medang. Setelah dewasa, Airlangga diambil sebagai menantu Dharmawangsa untuk mempererat kekeluargaan.

Selain prasasti Pucangan dan prasasti Sirah Keting, nama Dharmawangsa juga ditemukan dalam naskah Mahabharata bahasa Jawa Kuna, pada bagian Wirataparwa, yang ditulis pada tanggal 14 Oktober 996.

Prasasti Sirah Keting juga menyebutkan nama asli Dharmawangsa yaitu Wijayamreta Wardhana.

Menyerang Sriwijaya

Berita Cina dari Dinasti Sung menyebut Kerajaan Sriwijaya di pulau Sumatra dengan nama San-fo-tsi, sedangkan Kerajaan Medang di Jawa dengan nama Cho-po.

Dikisahkan bahwa, San-fo-tsi dan Cho-po terlibat persaingan untuk menguasai Asia Tenggara. Kedua negeri itu saling mengirim duta besar ke Cina. Utusan San-fo-tsi yang berangkat tahun 988 tertahan di pelabuhan Kanton ketika hendak pulang, karena negerinya diserang oleh tentara Cho-po.

Pada musim semi tahun 992 duta San-fo-tsi tersebut mencoba pulang namun kembali tertahan di Campa karena negerinya belum aman. Ia meminta kaisar Sung supaya menyatakan bahwa San-fo-tsi berada dalam perlindungan Cina.

Utusan Cho-po juga tiba di Cina tahun 992. Ia dikirim oleh rajanya yang naik takhta tahun 991. Raja baru tersebut diduga kuat adalah Dharmawangsa Teguh. Dengan demikian, dari berita Cina tersebut dapat diketahui kalau pemerintahan Dharmawangsa dimulai sejak tahun 991.

Kerajaan Medang berhasil mengalahkan Kerajaan Sriwijaya tahun 992 namun tidak sampai menguasainya. Prasasti Hujung Langit tahun 997 kembali menyebutkan adanya serangan Jawa terhadap Sumatra.

Mahapralaya Medang

Prasasti Pucangan mengisahkan kehancuran Kerajaan Medang yang dikenal dengan sebutan Mahapralaya atau “kematian besar”.

Dikisahkan Dharmawangsa menikahkan putrinya dengan seorang pangeran Bali yang baru berusia 16 tahun, bernama Airlangga. Di tengah keramaian pesta, tiba-tiba istana diserang musuh bernama Haji Wurawari dari Lwaram. Istana Dharmawangsa yang terletak di kota Wwatan hangus terbakar. Dharmawangsa sendiri tewas dalam serangan tersebut, sedangkan Airlangga lolos dari maut. Tiga tahun kemudian Airlangga membangun istana baru di Wwatan Mas dan menjadi raja sebagai penerus takhta mertuanya.

Dari prasasti Pucangan diketahui adanya perpindahan ibu kota kerajaan. Prasasti Turyan menyebut ibu kota Kerajaan Medang terletak di Tamwlang, dan kemudian pindah ke Watugaluh menurut prasasti Anjukladang. Kedua kota tersebut terletak di daerah Jombang sekarang. Sementara itu kota Wwatan diperkirakan terletak di daerah Madiun, sedangkan Wwatan Mas terletak di dekat Gunung Penanggungan.

Mengenai alasan Haji Wurawari membunuh Dharmawangsa terjadi beberapa penafsiran. Ada yang berpendapat bahwa Wurawari sakit hati karena lamarannya terhadap putri Dharmawangsa ditolak. Ada pula yang berpendapat bahwa Wurawari merupakan sekutu Kerajaan Sriwijaya.

Prasasti Pucangan yang keadaannya sudah tua melahirkan dua versi terhadap tahun berdirinya istana Wwatan Mas. Golongan pertama membaca angka tahun berupa kalimat Suryasengkala yaitu Locana agni vadane atau tahun 1010 Masehi, sedangkan golongan kedua membacanya Sasalancana abdi vadane atau tahun 1016.

Dengan demikian, versi pertama menyebut kehancuran istana Wwatan atau kematian Dharmawangsa terjadi pada tahun 1007, sedangkan versi kedua menyebut peristiwa Mahapralaya tersebut terjadi tahun 1016.

Airlangga

Airlangga (Bali, 990 – Belahan, 1049) atau sering pula ditulis Erlangga, adalah pendiri Kerajaan Kahuripan, yang memerintah 1009-1042 dengan gelar abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa. Sebagai seorang raja, ia memerintahkan Mpu Kanwa untuk mengubah Kakawin Arjunawiwaha yang menggambarkan keberhasilannya dalam peperangan. Di akhir masa pemerintahannya, kerajaannya dibelah dua menjadi Kerajaan Kadiri dan Kerajaan Janggala bagi kedua putranya. Nama Airlangga sampai saat ini masih terkenal dalam berbagai cerita rakyat, dan sering diabadikan di berbagai tempat di Indonesia

Asal-usul

Nama Airlangga berarti “Air yang melompat“. Ia lahir tahun 990. Ayahnya bernama Udayana, raja Kerajaan Bedahulu dari Wangsa Warmadewa. Ibunya bernama Mahendradatta, seorang putri Wangsa Isyana dari Kerajaan Medang. Waktu itu Medang menjadi kerajaan yang cukup kuat, bahkan mengadakan penaklukan ke Bali, mendirikan koloni di Kalimantan Barat, serta mengadakan serangan ke Sriwijaya.

Airlangga memiliki dua orang adik, yaitu Marakata (menjadi raja Bali sepeninggal ayah mereka) dan Anak Wungsu (naik takhta sepeninggal Marakata). Dalam berbagai prasasti yang dikeluarkannya, Airlangga mengakui sebagai keturunan dari Mpu Sindok dari Wangsa Isyana dari kerajaan Medang Mataram di Jawa Tengah.

Masa pelarian

Airlangga menikah dengan putri pamannya yaitu Dharmawangsa Teguh (saudara Mahendradatta) di Watan, ibu kota Kerajaan Medang (sekarang sekitar Maospati, Magetan, Jawa Timur). Ketika pesta pernikahan sedang berlangsung, tiba-tiba kota Watan diserbu Raja Wurawari yang berasal dari Lwaram (sekarang desa Ngloram, Cepu, Blora)[1], yang merupakan sekutu Kerajaan Sriwijaya. Kejadian tersebut tercatat dalam prasasti Pucangan (atau Calcutta Stone). Pembacaan Kern atas prasasti tersebut, yang juga dikuatkan oleh de Casparis, menyebutkan bahwa penyerangan tersebut terjadi tahun 928 Saka, atau sekitar 1006/7.[2]

Dalam serangan itu, Dharmawangsa Teguh tewas, sedangkan Airlangga lolos ke hutan pegunungan (wanagiri) ditemani pembantunya yang bernama Mpu Narotama. Saat itu ia berusia 16 tahun, dan mulai menjalani hidup sebagai pertapa. Salah satu bukti petilasan Airlangga sewaktu dalam pelarian dapat dijumpai di Sendang Made, Kudu, Jombang, Jawa Timur.

Setelah tiga tahun hidup di hutan, Airlangga didatangi utusan rakyat yang memintanya supaya membangun kembali Kerajaan Medang. Mengingat kota Watan sudah hancur, Airlangga pun membangun ibu kota baru bernama Watan Mas di dekat Gunung Penanggungan.[3] Ketika Airlangga naik takhta tahun 1009 itu, wilayah kerajaannya hanya meliputi daerah Sidoarjo dan Pasuruan saja, karena sepeninggal Dharmawangsa Teguh, banyak daerah bawahan yang melepaskan diri.

Pada tahun 1023, Kerajaan Sriwijaya yang merupakan musuh besar Wangsa Isyana dikalahkan Rajendra Coladewa raja Colamandala dari India. Hal ini membuat Airlangga lebih leluasa mempersiapkan diri untuk menaklukkan pulau Jawa.

Masa peperangan

Sejak tahun 1025, Airlangga memperluas kekuasaan dan pengaruhnya seiring dengan melemahnya Sriwijaya. Mula-mula yang dilakukan Airlangga adalah menyusun kekuatan untuk menegakkan kembali kekuasaan Wangsa Isyana atas pulau Jawa. Namun awalnya tidak berjalan dengan baik, karena menurut prasasti Terep (1032), Watan Mas kemudian direbut musuh, sehingga Airlangga melarikan diri ke desa Patakan. Berdasarkan prasasti Kamalagyan (1037), ibu kota kerajaan sudah pindah ke Kahuripan (daerah Sidoarjo sekarang).

Airlangga pertama-tama mengalahkan Raja Hasin (dari?)[rujukan?]. Pada tahun 1030 Airlangga mengalahkan Wisnuprabhawa raja Wuratan, Wijayawarma raja Wengker, kemudian Panuda raja Lewa. Pada tahun 1031 putra Panuda mencoba membalas dendam namun dapat dikalahkan oleh Airlangga. Ibu kota Lewa dihancurkan pula. Pada tahun 1032 seorang raja wanita dari daerah Tulungagung sekarang berhasil mengalahkan Airlangga. Istana Watan Mas dihancurkannya. Airlangga terpaksa melarikan diri ke desa Patakan ditemani Mapanji Tumanggala, dan membangun ibu kota baru di Kahuripan. Raja wanita pada akhirnya dapat dikalahkannya. Dalam tahun 1032 itu pula Airlangga dan Mpu Narotama mengalahkan Raja Wurawari, membalaskan dendam Wangsa Isyana. Terakhir tahun 1035, Airlangga menumpas pemberontakan Wijayawarma raja Wengker yang pernah ditaklukannya dulu. Wijayawarma melarikan diri dari kota Tapa namun kemudian mati dibunuh rakyatnya sendiri.

Masa pembangunan

Kerajaan yang baru dengan pusatnya di Kahuripan, Sidoarjo ini, wilayahnya membentang dari Pasuruan di timur hingga Madiun di barat. Pantai utara Jawa, terutama Surabaya dan Tuban, menjadi pusat perdagangan yang penting untuk pertama kalinya. Airlangga naik tahta dengan gelar abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa. Airlangga juga memperluas wilayah kerajaan hingga ke Jawa Tengah, bahkan pengaruh kekuasaannya diakui sampai ke Bali. Menurut prasasti Pamwatan (1042), pusat kerajaan kemudian pindah ke Daha (daerah Kediri sekarang).

Setelah keadaan aman, Airlangga mulai mengadakan pembangunan-pembangunan demi kesejahteraan rakyatnya. Pembangunan yang dicatat dalam prasasti-prasasti peninggalannya antara lain.

  • Membangun Sri Wijaya Asrama tahun 1036.
  • Membangun bendungan Waringin Sapta tahun 1037 untuk mencegah banjir musiman.
  • Memperbaiki pelabuhan Hujung Galuh, yang letaknya di muara Kali Brantas, dekat Surabaya sekarang.
  • Membangun jalan-jalan yang menghubungkan daerah pesisir ke pusat kerajaan.
  • Meresmikan pertapaan Gunung Pucangan tahun 1041.
  • Memindahkan ibu kota dari Kahuripan ke Daha.

Ketika itu, Airlangga dikenal atas toleransi beragamanya, yaitu sebagai pelindung agama Hindu Syiwa dan Buddha.

Airlangga juga menaruh perhatian terhadap seni sastra. Tahun 1035 Mpu Kanwa menulis Arjuna Wiwaha yang diadaptasi dari epik Mahabharata. Kitab tersebut menceritakan perjuangan Arjuna mengalahkan Niwatakawaca, sebagai kiasan Airlangga mengalahkan Wurawari.

Pembelahan kerajaan

Pada tahun 1042 Airlangga turun takhta menjadi pendeta. Menurut Serat Calon Arang ia kemudian bergelar Resi Erlangga Jatiningrat, sedangkan menurut Babad Tanah Jawi ia bergelar Resi Gentayu. Namun yang paling dapat dipercaya adalah prasasti Gandhakuti (1042) yang menyebut gelar kependetaan Airlangga adalah Resi Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Bhuwana.

Berdasarkan cerita rakyat, putri mahkota Airlangga menolak menjadi raja dan memilih hidup sebagai pertapa bernama Dewi Kili Suci. Nama asli putri tersebut dalam prasasti Cane (1021) sampai prasasti Turun Hyang (1035) adalah Sanggramawijaya Tunggadewi. Menurut Serat Calon Arang, Airlangga kemudian bingung memilih pengganti karena kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. Mengingat dirinya juga putra raja Bali, maka ia pun berniat menempatkan salah satu putranya di pulau itu. Gurunya yang bernama Mpu Bharada berangkat ke Bali mengajukan niat tersebut namun mengalami kegagalan. Fakta sejarah menunjukkan Udayana digantikan putra keduanya yang bernama Marakata[rujukan?] sebagai raja Bali, dan Marakata kemudian digantikan adik yang lain yaitu Anak Wungsu.

Airlangga lalu membagi dua wilayah kerajaannya. Mpu Bharada ditugasi menetapkan perbatasan antara bagian barat dan timur. Peristiwa pembelahan ini tercatat dalam Serat Calon Arang, Nagarakretagama, dan prasasti Turun Hyang II. Maka terciptalah dua kerajaan baru. Kerajaan barat disebut Kadiri berpusat di kota baru, yaitu Daha, diperintah oleh Sri Samarawijaya. Sedangkan kerajaan timur disebut Janggala berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan, diperintah oleh Mapanji Garasakan.

Dalam prasasti Pamwatan, 20 November 1042, Airlangga masih bergelar Maharaja, sedangkan dalam prasasti Gandhakuti, 24 November 1042, ia sudah bergelar Resi Aji Paduka Mpungku. Dengan demikian, peristiwa pembelahan kerajaan diperkirakan terjadi di antara kedua tanggal tersebut.

Akhir hayat

Tidak diketahui dengan pasti kapan Airlangga meninggal. Prasasti Sumengka (1059) peninggalan Kerajaan Janggala hanya menyebutkan, Resi Aji Paduka Mpungku dimakamkan di tirtha atau pemandian. Kolam pemandian yang paling sesuai dengan berita prasasti Sumengka adalah Candi Belahan di lereng Gunung Penanggungan. Pada kolam tersebut ditemukan arca Wisnu disertai dua dewi. Berdasarkan prasasti Pucangan (1041) diketahui Airlangga adalah penganut Hindu Wisnu yang taat. Maka, ketiga patung tersebut dapat diperkirakan sebagai lambang Airlangga dengan dua istrinya, yaitu ibu Sri Samarawijaya dan ibu Mapanji Garasakan.

Pada Candi Belahan ditemukan angka tahun 1049. Tidak diketahui dengan pasti apakah tahun itu adalah tahun kematian Airlangga, ataukah tahun pembangunan candi pemandian tersebut.

Kahuripan, Daha atau Panjalu

Nama kerajaan yang didirikan Airlangga pada umumnya lazim disebut Kerajaan Kahuripan. Padahal sesungguhnya, Kahuripan hanyalah salah satu nama ibu kota kerajaan yang pernah dipimpin Airlangga. Berita ini sesuai dengan naskah Serat Calon Arang yang menyebut Airlangga sebagai raja Daha. Bahkan, Nagarakretagama juga menyebut Airlangga sebagai raja Panjalu yang berpusat di Daha.

Beberapa kutipan sejarah

Posted: 7 September 2010 in DATA SEJARAH

MENJADI RAJA MEDANG

Lanjutan dari “PERANG GEJAG DAN KEMENANGAN GEMILANG”

Tanggung jawab yang diberikan oleh Raja Wawa kepada mPu Sindok untuk mempertahankan diri dari serangan Sriwijaya disertai purbo waseso untuk mengambil inisiatip, memberi keleluasaan dan kebebasan yang sangat luar biasa untuk mengambil kebijaksanaan dalam memainkan strategi dan memanfaatkan segala potensi yang ada disekitarnya, tanpa harus terlebih dahulu meminta persetujuan Raja Wawa. Di Anjuk Ladang ( baca medang bumi Mataram ) mPu sindok telah mempergunakan strategi mobilisasi umum, dimana seluruh kekuatan rakyat dilibatkan dalam perang, membantu prajurit-prajurit Mataram melawan bala tentara Sriwijaya, cara seperti itu biasa disebut dengan istilah perang rakyat semesta. Walaupun pada awal perang banyak korban di pihak Mataram, namun pada akhirnya kemenangan berada di pihak Mataram.

Di Anjuk Ladang ( Medang bumi Mataram ), mPu Sindok telah betul-betul mempersiapkan strategi yang luar biasa di arena lapangan terbuka yang dikelilingi oleh pepohonan perdu hutan lebat sebagai tempat persembunyian kekuatan besar yaitu rakyat penduduk setempat, dan arena lapangan terbuka itu telah dipersiapkan menjadi “ ladang pembantaian” ( killing field ) bagi tentara Sriwijaya hingga hampir-hampir seluruhnya binasa, tidak ada yang tersisa. Killing field adalah rancangan strategi untuk mengakhiri perang dan mengakhiri dendam musuh bebuyutan dua keturunan antara keturunan Rakai Pikatan dengan keturunan Balaputradewa.

Perang gejag adalah perang yang digelar besar-besaran dan habis-habisan, merupakan peperangan antar kekuatan besar dan terlatih, tentara Sriwijaya melawan kekuatan kecil sisa-sisa prajurit Mataram dibantu oleh rakyat yang tidak berpengalaman dan berpengetahuan tentang perang, namun patuh dan disiplin struktur komando, merupakan strategi baru yang sebenarnya lahir dari kecemasan dan keputus asaan karena kekalahan yang terus menerus para prajurit-prajuritnya. Keputus asaan itu pula yang telah membuka jalan pikiran mPu Sindok untuk melibatkan rakyat dalam perang terbuka seperti itu. Kecemasan pula yang telah menimbulkan kesadaran bahwa mempertahankan kedaulatan bukan hanya kewajiban para prajurit, pejabat kerajaan serta para punggawa, tapi juga tidak terlalu salah apabila rakyat sebagai kawulo dilibatkan dalam mobilisasi umum perang rakyat semesta, perangnya seluruh warga kerajaan Mataram termasuk di Medang daerah perang. Strategi perang rakyat semesta dengan element combaten dan non combaten ternyata membawa hasil yang luar biasa, yang baru kali ini diraih oleh Mataram justru di tempat yang jauh dari pusat kerajaan sendiri di Jawa Tengah.

Kepiawaian Rakai Hino mPu Sindok dalam memainkan strategi luar biasa dengan perang rakyat dan killing field, telah betul-betul berhasil mempertahankan kedaulatan Mataram dari rongrongan Sriwijaya, dan dalam perang gejag itu pula mPu Sindok telah menunjukan jati dirinya sebagai panglima perang dan ahli siasat yang tidak tertandingi pada jamannya.

Puas atas jerih payah dan jasa mPu Sindok yang berhasil mengusir kekhawatiran serta telah membuat kebanggaan seluruh rakyat Mataram, sebagai ucapan terima kasih yang tidak terhingga, kemudian Raja Wawa menyerahkan kekuasaan Pemerintahan di Jawa Timur kepada Rakai I Hino mPu Sindok yang barang kali juga menantu Raja Wawa sendiri.

Pada tahun 929 M itu pula penyerahan kekuasaan dari Raja Wawa oleh mPu Sindok ditindak lanjuti dengan mendirikan kerajaan baru di Jawa Timur dan diberi nama Kerajaan Medang ( kedatuan rahyangta I medang bumi Mataram ), dan mengangkat dirinya sebagai raja Medang pertama dengan gelar Sri Isana Wikramadharmatunggadewa, yang sekaligus mendirikan dinasti baru yaitu dinasti/ wangsa Isana. Dengan telah memproklamirkan diri menjadi seorang Raja, maka dengan sendirinya mPu Sindok telah melepaskan jabatannya sebagai Rakai I Hino. Dengan tetap mempertimbangkan segi pertahanan dari rongrongan musuh terutama pembalasan dari kerajaan Sriwijaya, untuk sementara waktu ibu kota kerajaan didirikan di Wutan Mas, yang oleh sementara orang dilokalisir disuatu tempat dibagian Gunung Willis yang barangkali tempatnya tidak terlalu jauh dari hulu Bengawan Brantas yang ada bangunan bajulan-bajulan (bangunan beton semacam Dam, berfungsi menahan derasnya aliran air).

Letak ibu kota yang sedemikian itu memang jelas sangat menguntungkan dipandang dari sisi pertahanan, karena sangat sulit dijangkau oleh musuh yang melalui prasarana Bengawan Brantas, namun kondisi demikian tidak akan dapat memberikan harapan bagi perkembangan Kerajaan Medang di masa depan yang mesti harus berhubungan dengan dunia luar.

Pada perkembangan berikutnya disadari benar bahwa Wutan Mas dengan kondisi alamnya yang sulit dijangkau alat transportasi besar, tidak mengkin dapat tetap dipertahankan sebagai ibu kota sebuah Kerajaan yang sedang berkembang, dan kelak kemudian hari ibu kota tersebut benar-benar dipindahkan ke dataran rendah yang lebih hilir, yang tempatnya sangat menjanjikan bagi perkembangan kerajaan Medang , yaitu di Kota Kahuripan, tidak terlalu jauh dari Wutan Mas, tidak terlalu jauh dari Bengawan Brantas jalur transportasi utama. Dataran rendah yang sangat memungkinkan Kahuripan akan menjadi kota besar, kota perdagangan, agama, dan agraris serta kota kebudayaan. Kahuripan adalah harapan bagi perkembangan kerajaan Medang di masa depan, dan Brantas merupakan prasarana andalan untuk berhubungan dengan dunia luar.

( Drs. HARMADI ).

JAMBI DALAM PETA SEJARAH KUNO

Oleh : Drs. Harmadi

A. Sisa Peninggalan

Dilihat sepintas lalu bahwa Desa Jambi di Kesamatan Baron sama dengan desa-desa lainnya di Kabupaten Nganjuk, yaitu Desa agraris dengan lahan pertanian terbentang relatif luas, tak ada keistimewaan yang menonjol, namun apabila kita mau mengamati lebih teliti, ternyata ada perbedaan yang menunjukkan peran Jambi dimasa lampau berupa sisa-sisa peninggalan kuno. Sisa-sisa itu adalah :

1. Banyak batu bata ukuran besar, bahkan oleh penduduk sering diketemukan seperti rangkaian bekas pondasi rumah terutama disekitar selepan (Penggilingan padi) sekarang sampai kearah utara. Oleh penduduk bekas batu bata tersebut dimanfaatkan untuk membangun rumah maupun pagar tembok.

2. Di tengah sawah Desa, tersisa satu buah lumpang batu yang belum sempat tercuri, oleh penduduk dipercaya masih keramat.

3. Tanah persawahan yang lebih rendah dari sekitarnya dengan lebar lebih dari 50 meter membujur dari selatan ke utara bersambung ke desa-desa lain di sebelah dan utaranya oleh penduduk diyakini sebagai Bengawan Brantas pada berabad-abad yang lalu. Apabila ditelusuri akan bersambungan dengan tanah-tanah di Desa Kedungrejo, Kalimati, Warujayeng, Pengkol, Kedungombo, Bajulan, Gunung Klotok untuk arah selatan, dan Senjayan, Demangan, Ketawang, Megaluh untuk sambungan ke arah utara.

4. Menurut penuturan Camat Ali Supandi disebuah Desa dekat Jambi belum lama ini diketemukan 27 patung batu yang ditimbun di bawah lantai suatu bangunan tempat ibadah.

5. Di Bandar Alim (Desa Demangan) terdapat beberapa lempengan batu ukuran + 120 cm x 60 cm dan tebal + 20 cm, salah satu yang bertulis telah diangkut ke Musium Trowulan tahun 1990-an, yang menurut kabar burung berangka tahun 927 M.

6. Mitos yang masih melekat pada penduduk bahwa pernah terjadi perang besar di Bandar Alim dengan legenda “Bedahe Bandar Alam”. Konon kisah ini tertulis pada sebuah lempengan perunggu yang berangkai masih disimpan oleh salah satu penduduk setempat.

7. Sebuah makam kuno di Bandar Alim yang terletak ditengah-tengah bekas fondasi bangunan, dipercaya oleh penduduk menyimpan rahasia kekuatan magis, pada hari-hari tertentu dikunjungi oleh banyak orang justru kebanyakan berasal dari luar daerah, tujuan mereka adalah berziarah dan ngalap berkah.

Apabila semua peninggalan tersebut dirangkai dengan bukti dari sumber lain, kemudian direkonstruksikan, barangkali akan diketahui bagaimana peta dan peran Jambi dimasa lalu, khususnya abad ke X dan abad ke XIV.

B. Bengawan Brantas

Aliran Bengawan pada abad ke X tidak sama dengan aliran yang ada sekarang. Konon Brantas yang bermuara di Gunung Arjuno melingkar melewati Gunung Klotok mengalir ke Bajulan, Kedungombo, Pengkol, Warujayeng, Kalimati, Kedungrejo, Senjayan, Demangan/Bandar Alam, Ketawang, Megaluh (Jombang) dimana kali Widas bermuara.

Gunung Kelud sebagai gunung berapi terletak ditengah-tengah lingkaran sebelah utara Brantas di daerah Blitar, menyebabkan antara Bengawan Brantas dengan Gunung Kelud menjadi saling berhubungan kait mengkait kasual. Sedikitnya 8 buah sugai yaitu Kali Semut, Putih, Badak (Blitar) dan kali Gedog, Darmo-Sukorejo, Ngobo, Sarinjing (di Kediri) berhulu pada Gunung Kelud, yang kesemuanya merupakan saluran lahar mengalir ke bawah masuk Bengawan Brantas, menjadikan gunung itu sebagai salah satu penyebab dangkalnya Bengawan Brantas serta arah aliran berpindah-pindah.

Sebagai gambaran bagaimana dahsyatnya letusan, barangkali data dibawah ini dapat dipakai sebagai bahan renungan :

- Letusan tahun 1919, Kelud memuntahkan volume air 40 Juta M3, volume material 323 juta m3, tanaman rusak 13.120 Ha, dan korban manusia meninggal 5.110 jiwa.

- Letusan tanggal 31 Agustus 1951 memuntahkan volume air 1,8 juta m3, material 200 juta m3, dan tanaman rusak 7.000 Ha.

- Letusan tahun 1966 memuntahkan air 20,5 juta m3, material 90 juta m3, tanaman rusak 12.820 Ha dan korban manusia sebanyak 282 jiwa.

Berdasarkan data bahwa selama kurun waktu abad ke X sampai dengan abad ke XX tercatat sebanyak 17 kali letusan, dan setiap kali letusan selalu memuntahkan jutaan m3 material, sangat masuk akal apabila aliran Bengawan dapat berpindah-pindah tempat.

Pada abad ke X kondisi bengawan Brantas cukup dalam dan jernih, merupakan jalur lalu lintas utama yang menghubungkan antara satu tempat dengan tempat lain, satu daerah dengan daerah lain di Jawa Timur, dapat dilayari oleh kapal-kapal besar dan kecil, baik itu kapal niaga maupun kapal perang, menyebabkan lalu lintas cukup ramai. Ramainya lalu lintas menumbuhkan sentra-sentra perekonomian di sekitar tepian Bengawan (pasar) dan kota-kota kecilpun bermunculan (barangkali salah satunya adalah Karangsemi beserta pasarnya).

Untuk pengaturan tertib lalu lintas, didirikan bandar-bandar besar maupun kecil disesuaikan dengan kebutuhan, disertai dengan pengangkatan pejabatnya yang disebut ayah bandar, tidak terkecuali Bandar Alim di Demangan terletak di tepi barat Bengawan Brantas. Penulis belum dapat meyakini apakah nama Demangan bisa dikaitkan dengan Bandar Alam yang barangkali dapat diasumsikan bahwa pejabat Syah Bandar di Bandar Alim adalah seorang Demang atau berpangkat Demang.

Teror terus menerus yang dilaukan oleh Kerajaan Sriwijaya di Sumatera terhadap Mataram Hindu di Jawa Tengah membuat Raja Wawa penguasa Mataram berpikir keras menyelamatkan kedaulatannya. Agar lebih aman dari rongrongan musuh, pusat kerajaan tetap di Kedu Jawa Tengah, namun untuk sementara memindahkan konsentrasi kekuatan ke Lembah Gunung Wilis di Jawa Timur yang dipandang sangat strategis bagi pertahanan dan sulit dilacak oleh mata-mata Sriwijaya. Namun harapan Raja Wawa itu sirna, karena ternyata Markas persembunyian tentara Mataram-Hindu dibawah pimpinan Rakai Hino Pu Sindok tersebut dapat diketahui oleh Sriwijaya.

C. Bandar Alim dan Jambi

Nafsu Raja Sriwijaya untuk menghancurkan Kerajaan Mataram Hindu di Jawa tidak pernah lekang, kemanapun Kerajan dipindahkan, akan tetap diburu, terlebih lagi Mataram telah dianggap sebagai saingan terberat dalam perkembangan perdagangan interinsuler Jawadwipa-Swarna dwipa, bahkan almarhum Balaputradewa kakek Sang Raja yang dahulu sempat menjadi Raja Mataram pernah dikalahkan oleh Rakai Pikatan cucu Sanjaya sehingga melarikan diri ke Sriwijaya, hanya kebetulan saja bisa menjadi raja disana.

Pad sekitar tahun 927-929 M, Sriwijaya mengirimkan suatu armada besar dari Devisi Jambi ke Jawa Timur melalui perjalanan laut dengan route menyusuri pantai utara Jawa, memasuki Bengawan/kali Brantas. Sesampainya di Ujung Galuh (Megaluh-Jombang sekarang), perjalanan diteruskan ke kota pelabuhan berikutnya yaitu Bandar Alim yang tempatnya paling dekat dengan sasaran kaki Gunung Wilis.

Mendekati Bandar Alim, terlihat rona jingga ditawang (langit) ufuk barat, menandakan hari telah senja, berarti sebentar lagi malam akan segera tiba, para prajurit juga sudah terlalu lelah, perlu cukup istirahat di kota pelabuhan itu. Hulubalang segera memerintahkan para nahkoda membongkar sauh diseberang Bandar (tepian sebelah timur) berlawanan dengan sisi Bandar Alim yang berada di tepian sebelah barat sesuai pertimbangan segi keamanan yaitu terhindar dari serangan musuh, atau apabila ada gerakan musuh melalui sungai dengan mudah dapat diketahui se awal mungkin.

Tidak perlu memakan waktu lama tenda-tenda kokoh kuat sudah berdiri, karena para awak telah terbiasa dengan pekerjaan yang digeluti setiap harinya toh sudah ada pembagian tugas untuk itu. Mereka telah tahu tenda mana yang untuk Hulubalang, mana yang untuk Nahkoda, mana yang untuk para prajurit dan juru masak serta para pegawai lainnya, ada perbedaan masing-masingnya.

Tenda-tenda yang kokoh tersebut sekaligus dipergunakan sebagai markas. Berbagai kegiatan dilakukan di tempat itu antara lain :

- Tempat istirahat

- Pos pengintaian dan pertahanan

- Evaluasi, musyawarah dan mengatur siasat dan provokasi

- Dapur umum dll

Persediaan logistik yang dibawa dari Swarna dwipa tidak memungkinkan cukup untuk sekian banyak tentara dalam waktu sekian lama, mau tidak mau mesti membeli atau barter dengan penduduk setempat, interaksi simbiose mutualisme di sekitar markas membuat pertumbuhan perekonomian setempat akhirnya lebih bergairah.

Kehadiran pasukan Jambi dalam jumlah banyak menyulap daerah sekitar menjadi mendadak ramai, sungai dan kedung yang biasanya lengang menjadi ramai (rejo), semua kegiatan yang memerlukan air seperti mandi dan buang hajat semuanya tertumpah menjadi satu di Bengawan Brantas tersebut.

Meskipun sebagian besar prajurit telah dikirim ke medan laga berperang melawan prajurit mpu sindok ke kaki Gunung Wilis (sekitar Berbek) melalui jalan darat, namun kegiatan di markas mereka tetap ramai, karena dukungan logistik bagi prajurit yang sedang berperang tak boleh terlambat, sampai pada akhirnya ada kabar kekalahan dan para prajurit mereka tak pernah kembali, gugur dibantai oleh tentara Mpu Sendok yang dibantu oleh penduduk Anjuk Ladang.

Mendengar kekalahan itu, para prajurit dan punggawa yang masih tersisa di Markas segera melarikan diri bersama kapal-kapal mereka kembali ke Sumatera, namun lokasi berdirinya Markas tersebut lebih dikenal dengan nama Jambi, yaitu tempat dimana tentara dan lasykar Sriwijaya Devisi Jambi pernah bermarkas disitu. Sedangkan tempat-tempat yang telah disebut didepan akhirnya menjadi nama Desa Ketawang, Desa Senjayan dan Desa Kedungrejo.

D.Jambi di zaman Mojopahit

Sepeninggal sisa-sisa tentara Sriwijaya kembali ke negaranya di Sumatera, Jambi tidak pernah lagi disebut-sebut dalam percaturan sejarah, namun bak seorang bayi, Jambi semakin lama semakin tumbuh dewasa setelah mengalami perkembangan yang sekian lama, hingga pada abad ke XIV nama Jambi muncul kembali dalam keadaan yang benar-benar sudah dewasa, yaitu sebagai salah satu Dharma Upati (pusat agama Hindu dan Budha).

Gajahmada sebagai seorang pembesar Kerajaan Mojopahit berpribadi lengkap, berjiwa militer sekaligus negarawan yang sulit tertandingi. Saat menjadi Patih Mangkubumi/Mahapatih, telah menyusun kitab Kutaramanawa yang berisi struktur tata pemerintahan Mojopahit yang dilengkapi pembagian tugas dan wewenang, dengan tujuan agar wilayah Mojopahit yang sedemikian luas tetap dapat terkontrol dengan baik.

Dalam kitab tersebut diuraikan bahwa pada prinsipnya struktur pemerintahan di daerah hampir sama dengan struktur pemerintahan pusat, yaitu sebagai berikut :

1. Dalam menjalankan pemerintahan, Raja dibantu oleh Bhatara Sapta Prabu atau Dewan Permusyawaratan yang beranggotakan 7 orang keluarga Raja

2. Raja dibantu oleh Paduka Bhatara, beranggotakan Raja-Raja daerah yang masih kerabat dekat Raja

3. Paduka Bhatara dibantu oleh 3 orang Rakai (Maha Menteri) yaitu Rakai i Hino, Rakai i Sirikan

4. Paduka Bhatara dibantu oleh 5 orang Raryan yang bertugas sebagai Badan Pelaksana Pemerintahan

5. Disamping Rakryan, Paduka Bhatara dibantu oleh Dharmadyaksa, yaitu :

a. Dharmadyaksa ring Kasaiwan, yang mengurusi agama Hindu (Siwa)

b. Dharmadyaksa ring Kasogatan, yang mengurusi tentang agama Budha

6. Dharmadyaksa dibantu oleh Dharma Upapati dengan 7 orang penegak (pejabat) berkedudukan di 7 wilayah, yaitu :

- I Tirwan

- I Kondumuhi

- I Manghuri

- I Pamwatan

- I Jambi

- I Kandangan Rare

- I Kandangan Atuha

Dari kedua tempat terbawah, sekarang menjadi wilayah administrasi Kandangan, Pare dan Ngantang. Namun nama Jambi tidak mengalami perubahan penyebutan sampai sekarang. Meskipun Jambi sekarang hanya menjadi nama sebuah desa kecil di Kecamatan Baron, namun pada masa kejayaan Mojopahit Jambi adalah sebuah kota di pusat pemerintahan yang cukup berarti bagi Kerajaan besar itu.

Ditempatkannya salah satu Dharma Upapati di Jambi kiranya dapat diasumsikan bahwa :

1. Jambi termasuk dalam wilayah pusat pemerintahan Mojopahit

2. Jambi adalah batas paling barat pusat pemerintahan dengan garis batas Bengawan, sedangkan di sebelah barat Bengawan sudah masuk dalam wilayah Kerajaan vasal yaitu Wengker dan atau Kahuripan

3. Batas selatan wilayah Jambi adalah wilayah Pare

4. Jambi adalah salah satu kota besar, sebagai pusat agama, perdagangan dan kebudayaan.

RUNTUHNYA PERTAHANAN MARGA ANUNG

Lanjutan dari “Jambi dalam Peta Sejarah Kuno”

Sebagaimana telah kami tulis dalam cerita rakyat yang berjudul “Jambi dalam peta sejarah kuno” yang juga merupakan awal tulisan kami dalam mengungkap Babat Anjuk Ladang, telah kami uraikan bahwa bala tentara Sriwijaya yang akan menghancurkan konsentrasi kekuatan tentara Mataram Hindu Alim atau yang sekarang lebih dikenal dengan Desa Jambi Kecamatan Baron, sedangkan perjalanan selanjutnya menuju kaki Gunung Wilis dilanjutkan melalui perjalanan darat.

Interaksi terbuka dalam tukar menukar kebutuhan antara bala tentara Sriwijaya dengan penduduk setempat dimanfaatkan benar-benar oleh Mpu Sindok dengan jalan memasukkan telik sandi dari pasukan pendem yang dibaurkan di antara para penduduk dengan tanpa disadari oleh pihak bala tentara Sriwijaya, sehingga apapun yang terjadi didalam lingkungan markas Sriwijaya seperti tentara, jumlah kekuatan dan dukungan logistik, siapa saja nama Panglima pernagnya, siapa komandan peleton, berapa jumlah pasukan berkuda (kavalri) berapa infantri, berapa jumlah pasukan panah serta segala perkembangan gerak geriknya dapat diketahui oleh Mpu Sindok termasuk kapan dan bagaimana rencana penyerangannya, route mana yang akan dilalui oleh pasukan penyerang serta siapa saja menjadi telik sandi dan lain-lain, sehingga Mpu Sindok dapat mensimulasikan terlebih dahulu dengan para pimpinan pasukannya, untuk mendapatkan gambaran tentang bagaimana mengatur strategi pertahanan dan perlawanan.

Dari simulasi itu akhirnya diambil keputusan bahwa pusat konsentrasi kekuatan harus dipertahankan dari serangan musuh, karena isteri dan anak-anak ada di situ sehingga jangan sampai musuh dapat mendekat, untuk itu sepanjang perjalanan musuh, harus dilakukan penyerangan-penyerangan sporadis untuk menghancurkan dan memporak porandakan kekuatan musuh.

Dari informasi yang diberikan oleh para telik sandi diketahui bahwa route yang akan dilalui musuh menuju kaki Gunung Wilis antara lain melalui Marga Anung dan Jatirejo (Loceret), oleh karena itu di kedua tempat tersebut perlu didirikan tenda-tenda darurat untuk markas dan sekaligus benteng pertahanan dengan perhitungan bahwa apabila musuh dapat lolos dari markas pertahanan lapis pertama, akan dapat dipukul pada lapis pertahanan kedua, dan apabila masih juga lolos akan dipergunakan siasat terakhir yaitu di lokasi lapangan terbuka di Anjuk Ladang. Walaupun kesemua strategi penuh resiko dan tidak wajar dipergunakan dalam peperangan, namun harus dilakukan karena tidak ada pilihan lain selain alternatif itu.

Sang Pamegat (Samgat) Marga Anung sebagai pejabat yang dipandang cukup cakap, ulet dan pemberani dalam ulah keprajuritan serta ahli strategi ditunjuk untuk menjadi pimpinan markas pertahanan darurat di Marga Anung, diperkuat para parajurit pinilih dengan disertai dukungan logistik secukupnya, yang segera membuat format pertahanan triangle (pertahanan seghitiga) Mantup – Pagaran – Jarakan (peta sekarang) yang satu sama lain akan saling berhubungan informasi melalui kurir dan kode bunyi kentongan beranting apabila terjadi sesuatu.

Pos di Mantup tugas pokoknya melakukan pengintaian terhadap kehadiran musuh sejak tanda-tanda kehadiran itu ada, yang biasanya ditandai dengan debu berhamburan, suara ringkik kuda ataupun umbul-umbul yang kelihatan dari kejauhan, dan segera melaporkan ke pos di dekatnya secara beranting sampai ke tempat pos pertahanan di Pagaran maupun Jarakan dan Marga Anung/Marganung, agar masing-masing pos dapat segera melakukan persiapan sesuai dengan yang direncanakan. Sedangkan pos Pagaran dan Jarakan tugas pokoknya memancing emosi musuh dengan melakukan agar-agaran, dan njarak (menggoda) mengejek dan menyerang, kemudian lari.

Dari kejauhan, kadang kelihatan dan kadang tidak, nampak muntap-muntup umbul-umbul musuh di sela-sela pepohonan berjalan ke arah barat, menandakan bahwa musuh jelas-jelas sudah akan segera tiba. Informasi itu langsung disampaikan kepada lurah prajurit di markas Marga Anung melalui kode dan kurir beranting yang mana induk pasukan segera mempersiapkan diri mempertaruhkan nyawa.

Dengan perasaan tegang melihat musuh yang semakin lama semakin mendekat dengan jumlah yang begitu banyak diluar perkiraan, membuat nyali semakin menciut, was-was, cemas dan pasrah, namun tugas adalah tugas, apapun yang terjadi harus tetap dilaksanakan, tidak mungkin mundur di saat situasi sudah sangat mencekam seperti itu, dan begitu musuh sudah betul-betul didekatnya, hanya wani-wani angas, antara berani dan tidak, hingga yang terjadi hanya agag-agagan, agar-agaran, njarak, mengejek, maju mundur kembali bersembunyi, maju lagi dan lari lagi. Namun hal demikian tidak mungkin akan bertahan begitu terus, selanjutnya yang terjadi adalah peperangan yang sesungguhnya, perang tanding yang cukup seru, saling mendesak, saling menyerang, menusuk, membacok adu kekuatan, adu kelicikan, adu keberanian dan kesaktian antara kedua pihak, hilang kamus kasihan, hilang kamus kemanusiaan dan persaudaraan, kamus satu-satunya yang ada hanyalah membunuh atau dibunuh.

Terjangan tentara Sriwijaya yang begitu dahsyat membuat para prajurit Mataram di pertahanan lini pertama tidak berkutik lagi, meregang nyawa, gugur sebagai kusuma bangsa, terbantai oleh tentara Sriwijaya devisi Jambi. Sedang pihak bala tentara Sriwijaya-pun juga kehilangan beberapa parajurit gugur, dan beberapa yang luka-luka segera dilarikan ke Markas mereka di Jambi (Baron) dan yang lainnya meneruskan perjalanannya menuju titik samaran berikutnya sambil menebar kematian di sepanjang perjalanannya.

Kemenangan itu telah membuat kebanggaan tersendiri bagi bala tentara Sriwijaya dan semua punggawa yang bertugas mempersiapkan segala kebutuhan baik konsumsi dan dukungan logistik selama peperangan di medan perang maupun mereka yang bertugas di markas mereka di Jambi. Jerih payah yang menumpuk selama perjalanan dari Sumatera ke Jawa telah seimbang terobati dengan kemenangan yang diperolehnya. Kemenangan di pos prajurit Mataram paling berat itu mampu menambah semangat mereka semua untuk maju ke pos-pos yang telah dikalahkannya. Dengan telah tumbangnya pertahanan pertama Mataram, berarti telah terbuka pintu perjalanan menuju markas pertahanan Mpu Sindok selanjutnya.

Bagi Mpu Sindok bahwa kekalahan prajurit-prajuritnya yang telah gugur mempertahankan markas lini pertama, merupakan kerugian cukup berarti, karena Mataram Hindu telah kehilangan beberapa pimpinan andalan kepercayaan dan prajurit pinilih dengan jumlah yang lumayan banyak, padahal pos pertahanan lainnya jelas tidak sekuat pos yang telah kalah, sehingga Mpu Sindok telah dapat membayangkan bagaimana yang akan terjadi nanti terhadap serangan musuh yang begitu dahsyatnya. Hancurnya markas Mataram Hindu di pos pertahanan pertama, berarti telah hancur pula pintu gerbang yang diperkokoh pertahanannya dengan menempatkan orang-orang pilihannya, dengan demikian telah terkuak lebar-lebar jalan bagi musuh mendekati pusat konsentrasi kekuatan prajurit-prajuritnya, melapangkan jalan menuju kaki Gunung Wilis.

Tempat terjadinya peristiwa muntap-muntup, jarak jinarak, agar-agaran, saling mengejek saling mengancam serta Marga Anung itu di kemudian hari melahirkan nama-nama suatu tempat yaitu Mantup dan Jarakan di Kelurahan Kramat, Pagaran dan Ganung di Kelurahan Ganung Kidul, yang kesemuanya berada di Kecamatan Nganjuk.

Marganung, gabungan dari dua kata, yaitu Marga (bhs Kawi/Jawa Kuno) yang artinya jalan dan Anung atau mung berarti yang. Dihubungkan dengan peristiwa di atas Marganung berarti jalan yang terkoyak oleh tentara Sriwijaya sehingga mereka dapat melanjutkan niatnya untuk menghancurkan Kerajaan Mataram Hindu ke kaki Gunung Wilis. Atau dengan kalimat lain bahwa dengan hancurnya pertahanan di lini pertama, berarti merupakan jalan yang dilewati musuh menuju kehancurannya di medan perang Anjuk Ladang.

Dengan demikian kiranya dapat diasumsikan peristiwa yang melatar belakangi lahirnya nama Marganung sehingga menjadi watek atau desa sebagaimana banyak disebut dalam prasasti Hering dari Kujon Manis yang dikeluarkan oleh Raja Sindok pada tahun Caka 859 atau tepatnya hari Kamis Wage tanggal 22 Mei tahun 934 Masehi, yang antara lain bahwa Hering watek Marganung atau Keringan adalah bagian dari Desa Ganung. Bahkan prasasti itu juga menyebutkan Samgat (Sang Pamegat) watek Marganung adalah Pu Danghil, yang artinya bahwa Pejabat Kepala Desa Ganung pada saat prasasti itu dibuat adalah Mpu Danghil, dan Keringan adalah termasuk bagian dari Desa Ganung.

Apakah watek Marganung pada saat pemerintahan Raja Sindok termasuk salah satu watek simma swatantra (desa otonom yang dibebaskan dari pajak) atau hanya watek simma, kiranya perlu mendapatkan perhatian penelitian yang lebih serius oleh para ahli sejarah.

Pada perkembangan selanjutnya watek marganung berubah menjadi Desa Ganung Kidul, kemudian berubah lagi menjadi Kelurahan Ganung Kidul sampai sekarang. Menurut penuturan dari orang-orang tua, bahwa dahulu kala di Ganung Kidul pernah tertanam sebuah batu berbentuk bulat panjang menyerupai tugu dengan tinggi lebih dari 1 meter.

Pada waktu penulis masih kecil, lokasi tringis (segitiga) perbatasan sawah. Pagaran – Jarakan – Ganung Kidul, masih angker, indikator-indikatornya adalah :

1. Sepengetahuan penulis, pernah ada penggarap sawah di situ yang mati mendadak di sawah tanpa sebab didahului sakit.

2. Di sawah itu konon pernah diketemukan pusaka (keris) yang dimungkinkan sisa-sisa peperangan Mpu Sindok, karena keris itu membawa suasana menjadi panas (sering bertengkar) maka kemudian dibuang kembali.

3. Lokasi itu dahulu dikenal banyak ular-ular besar, sehingga banyak yang tidak berani melewatinya pada jam-jam tertentu.

4. Perangkat sesaji untuk wiwit panen padi di sawah pun berbeda dengan sawah-sawah lain di sekitarnya, karena harus dilengkapi dengan semacam miniatur plorotin Jambi yang terbuat dari bambu lengkap dengan Cok Bakal dan ingkung ( ayam panggang ). Apabila persyaratan itu tidak lengkap, malam hari sebelum upacara dimulai, si punya sawah mesti bermimpi ada yang menagih. Sekarang perangkat sesaji seperti itu sudah tidak ketat lagi, sudah sama dengan yang lain.

Kembali pada prasasti Hering yang diketemukan di Kujonmanis, bahwa prasasti itu dikeluarkan oleh Raja Sindok pada tahun Caka 859, atau pada penanggalan sekarang tepatnya hari Kamis Wage tanggal 22 Mei tahun 934 Masehi, meskipun isinya tentang jual beli tanah, namun banyak menyebut tentang tempat-tempat tertentu seperti : hering, marganung, samangkana, hujung ngakaluh, dan nama-nama sang pamegat (samgat) seperti : samgat watek simma Marganung Pu Danghil, i qrimaja rake humbulu Pu Brapa Baruk, dan hering watek marganung.

Dari pernyataan tertulis itu kiranya dapat diasumsikan :

1.Melihat lokasi yang disebut-sebut yaitu hering (keringan), semangkana (sumengko) dan marganung, kemungkinan besar bahwa marganung adalah Kelurahan Ganung Kidul sekarang.

2.Keringan yang sekarang masuk Kelurahan Mangundikaran, dahulunya adalah bagian dari marganung.

3.Samgat/sang pamegat/pejabat/Kepala Desa Ganung Kidul pada saat prasati itu dibuat (th 934 M) bernama Mpu Danghil.

4.Pejabat pembesar di Humbulu (Bulu putren ) atau anak pembesar yang berkedudukan di Bulu Putren bernama Mpu Brapa Baruk ( i Grimija rake humbulu pu brapa baruk)

5.Kalau penanggalan pembuatan sebuah prasasti yang dipakai sebagai dasar penentuan bagi lahirnya suatu tempat, barangkali Ganung (Ganung Kidul), Keringan, Sumengko dan Bulu (Buluputren) mempunyai hari kelahiran yang sama, yaitu Hari Kamis Wage tanggal 22 Mei tahun 934 Masehi pada abad ke X, yang umurnya lebih tua 3 tahun daripada Nganjuk, yang hari kelahirannya pada tanggal 10 April tahun 937 Masehi sebagaimana yang tertulis pada Prasasti Anjuk Ladang dari Candi Lor.

Demikian, semoga ada respon positif, agar generasi muda tetep bisa mengenal apa, siapa dan bagaimana nenek moyangnya sendiri dimasa lalu.

( Drs. Harmadi )

PERTAHANAN YANG RAWAN

Lanjutan dari “Runtuhnya pertahanan Marga Anung”

Keberhasilan memukul markas pertahanan marganung yang membuat kocar kacir prajurit mPu Sindok, memantapkan arus penyerangan tentara Sriwijaya seperti air bah, menggulung ke arah selatan melewati pos-pos kecil sambil tetap menebarkan maut, sesampainya di Jatirejo Loceret, serbuan diarahkan ke arah barat menuju markas pertahanan daerah konsentrasi kekuatan mPu Sindok di Kaki Gunung Wilis.

Wilayah markas pertahanan itu dikatakan rawan, karena merupakan benteng terakhir diluar pusat konsentrasi kekuatan utama, dan merupakan markas yang menjadi teka-teki sangat menentukan akan berakhirnya peperangan atau justru akan membuka perang gejag ( perang besar ) yang lebih dahsyat antara tentara Mataram dari Java dwipa ( Jawa) dengan tentara Sriwijaya dari Swarna dwipa (Sumatra). Kekalahan demi kekalahan yang diderita oleh para prajurit Mataram sempat membuat kecil hati seperti telah diamanatkan oleh Raja Wawa.

Kekalahan-kekalahan itu mengingatkan kembali hilangnya kedaulatan Mataram di bawah penindasan wangsa sailendra pada awal abad ke IX saat Mataram di bawah kekuasaan wangsa Sailendra. Selama itu pula wangsa Sanjaya ditekan, diharuskan menyediakan tenaga kerja paksa dikirim ke Pamban dan perbukitan Minoreh untuk membuat Candi dan Biara Budha ( Baca Borobudur ) bagi agama budha yang jelas-jelas bukan agama dari raja-raja wangsa Sanjaya yang beragama hindu. Pemaksaan itu pula yang menyebabkan banyak para pembesar Mataram lari menyelamatkan diri bersembunyi di Jawa Timur, lari dari pemaksaan, penindasan, penderitan dan ketidakcocokan dengan kebijaksanaan yang dibuat oleh musuh. Larinya beberapa bekas pembesar Mataram beserta para pengikutnya, mengakibatkan sisa-sisa penindasan yang mestinya diterima bekas pembesar itu harus ditanggung oleh mereka yang masih tinggal di Mataram, yang sudah barang tentu akan menambah beban penderitaan saudara-saudara mereka di Mataram semakin menumpuk, yang setiap hari harus bergelut dengan kemiskinan dan kenistaan justru di tanah airnya sendiri. Belum lagi mereka yang tertinggal itu mesti setiap hari masih terkurangi oleh kematian akibat penyakit, kelelahan dan kecelakaan kerja maupun kelaparan karena terbatasnya konsumsi selama bekerja paksa untuk kepentingan musuh. Sementara itu tak kalah pedihnya nasib para gadis dan wanita muda yang harus mau menjadi pemuas nafsu mereka yang sedang berada di atas angin kemenangan.

Bertahun-tahun para bangsawan Mataram harus menunduk saat berpapasan dengan prajurit Sailendra sampai sekecil-kecil apapun pangkat dan kekudukannya, serasa teriris sembilu ceritera itu dikenangnya, mengapa musuh harus dihormati berlebihan seperti itu ?. Mencari selamat, hanya itu barangkali motivasi yang tersisa di benak rakyat dan bangsawan Mataram yang telah tidak berdaya, mereka harus mendiamkan arogansi yang dilihatnya, mereka seakan tidak tahu kesombongan dan perkosaan yang dilakukan oleh tentara musuh yang sedang berkuasa terhadap saudara-saudara mereka warga Mataram yang sedang direndahkan derajatnya akibat kalah perang, tidak ada lagi sisa-sisa kekuatan untuk melawan kezalimansi angkara murka di saat yang tidak tepat apabila telah banyak kekuatan yang dulu dibanggakan oleh Mataram justru lari ke Jawa Timur, ataupun mati akibat kerja paksa.

Akumulasi penderitaan dan kehinaan tersebut ternyata melahirkan semangat yang menggelora di dalam hati Rakai Pikatan Raja Vasal Mataram untuk menyatukan sisa-sisa kekuatan yang masih ada, mengentaskan penderitaan rakyatnya dari penindasan berkepanjangan wangsa Sailendra, yang pada pertengahan abad ke IX (+ tahun 857 M ) melakukan pemberontakan dan penyerangan tiba-tiba kepada wangsa Sailendra yang saat itu diperintahkan oleh Raja Balaputradewa.

Pemberontakan itu membawa kemenangan bagi Rakai Pikatan merebut kedaulatannya kembali.

Akibat kekalahan telak tersebut, Balaputradewa melarikan diri ke Sumatra, secara kebetulan kakek Balaputradewa tidak mempunyai putra mahkota, kemudian Balaputradewa diangkat sebagai raja di kerajaan Sriwijaya. Merasa dirinya telah kuat karena telah menjadi raja, Balaputradewa kembali melakukan teror yang tidak pernah berhenti kepada Mataram hingga diteruskan oleh generasi-generasi penerusnya.

Meskipun Raja-raja Mataram sepeninggal Rakai Pikatan telah digantikan oleh Raja-raja seperti Balitung, Daksa, Tulodong dan Raja Wawa, namun dendam keturunan Balaputradewa tidak pernah reda, teror demi teror terus dilakukan, membuat risih hati Raja Wawa yang kemudian mengutus mPu Sindok untuk mencari lokasi baru yang cocok di Jawa Timur, menghindari teror Sriwijaya dan sekaligus tempat yang aman pemindahan Kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, yang untuk sementara dipilih lembah Gunung Wilis yang kondisinya sangat mirip dengan pusat Kerajaan Mataram di Jawa Tengah yaitu Pegunungan Kedu, namun ternyata sangat berat mempertahankan kedaulatan kerajaan, karena dimanapun konsentrasi kekuatan Mataram, selalu diketahui oleh Sriwijaya.

Apapun yang terjadi, kedaulatan yang telah direbut kembali oleh Rakai Pikatan harus tetap dipertahankan. Kekalahan di Marga Anung dan kemudian kekalahan di Jatirejo ( peta sekarang ) harus dianggap sebagai rabuk ( pupuk ) sekaligus pembakar semangat mempertahankan konsentrasi kekuatan baladok, tentara Sriwijaya harus dapat dikalahkan dengan cara dan siasat apapun agar pengalaman pahit Mataram tidak akan terulang kembali.

Dengan telah direbutnya pos-pos pertahanan Mataram oleh bala tentara Sriwijaya, berarti tinggal satu markas pertahanan yang masih tersisa yang tempatnya berada di sebelah barat Jatirejo ( Loceret ) yang tempatnya berbatasan dengan garis sebelum memasuki areal pusat konsentrasi kekuatan prajurit-prajuritnya di kaki Gunung Wilis, dan markas pertahanan yang paling rawan atau yang sangat mengkhawatirkan kekuatannya bagi mPu Sindok. Namun apabila pos itu tidak dapat dipertahankan, mPu Sindok telah mempersiapkan strategi lain yaitu mobilisasi umum. (Drs. Harmad

PERANG GEJAG DAN KEMENANGAN GEMILANG

Lanjutan dari “ PERTAHANAN YANG RAWAN”

Ternyata amukan tentara Sriwijaya yang menerjang seperti Benteng Ketaton, membuat pertahanan rawan ( Ngrawan ) diperbatasan garis pertahanan menjadi kalang kabut dan para prajurit lari terbirit-birit ke arah barat dan segera dikejar oleh tentara Sriwijaya yang segera pula diikuti oleh seluruh tentara yang lain. Lari mereka mengejar dipercepat ( disengkutne, Jawa ) agar tentara Mataram yang lari terbirit-birit ke arah barat tersebut dapat tertangkap dan dibunuh.

Sebenarnya lepas dari pos pertahanan perbatasan yang rawan, semua alur dan gerak prajurit Mataram sudah masuk dalam area skenario strategi perang yang dirancang oleh mPu Sindok, termasuk prajurit Mataram yang melarikan diri dari pos rawan, sebenarnya bergabung dengan induk pasukan yang seluruhnya dikendalikan oleh markas utama.

Memasuki garis wilayah konsentrasi kekuatan, mPu Sindok telah mengatur strategi sedemikian rupa dengan melibatkan seluruh penduduk setempat ( non combaten ) untuk memperkuat tentaranya yang sudah tidak lengkap lagi. Mereka dibagi dalam kelompok-kelompok besar dan kecil yang masing-masing dipimpin oleh lurah prajurit yang akan memberikan aba-aba tertentu bila saatnya tiba. Tiap kelompok harus menempati posnya masing-masing yang terlindung dan tersembunyi. Mereka dilarang melakukan gerakan apapun sebelum ada aba-aba dari lurah prajurit. Begitu pula lurah prajurit tertentu tidak akan memberikan aba-aba sebelum ada kode bunyi kenthongan dengan varian irama, setiap irama ditujukan kepada kelompok yang berbeda-beda.

Semua yang terlibat dalam perang gejag harus mematuhi aturan, tidak peduli prajurit yang sudah berpengalaman dalam perang maupun penduduk yang sama sekali belum pernah dibekali oleh gladi ulah keprajuritan, semuanya harus patuh, semuanya yang sudah direncanakan harus dilaksanakan sebagaimana adanya, tidak boleh ada yang meleset, sebab meleset sedikit saja akan berakibat fatal, berarti akan gagal pula semua yang telah dirancang dalam strategi.

Pengerahan penduduk lugu yang buta akan stratetgi dan pengalaman perang, adalah taruhan terakhir mPu Sindok, dan pada penduduk lugu inilah mPu Sindok meletakkan harapan besarnya untuk mempertahankan kedaulatan Mataram. Harapan yang sebenarnya masih merupakan teka-teki besar tentang keberhasilannya.

Di sebelah barat, induk pasukan mPu Sindok telah menunggu kedatangan musuh yang telah diumpan dengan prajurit dari pos Ngrawan, wajah-wajah mereka memancarkan seribu satu perasaan, yaitu marah, cemas, takut, khawatir, pasrah, atau ada yang ingin segera mencoba kesaktian dan kedigdayaannya, kesemuanya membaur dalam ekspresi ketegangan yang betul-betul tegang, tiada kata, tiada tawa maupun canda, yang ada dalam pikiran mereka adalah mempertaruhkan nyawa, hidup atau mati, membunuh atau dibunuh. Semuanya hening, yang ada hanya suara ringkik kuda yang segera disaut oleh ringkik lain di sebelah timur.

Begitu kedua belah pihak sudah saling mendekat, dengan suatu komando yang membakar semangat, mPu Sindok memberi aba-aba pasukannya menyerang musuh, serentak aba-aba itu disambut pekik perjuangan prajurit-prajuritnya dengan senjata yang siap tempur . Dari sebelah timur tentara Sriwijaya pun berbuat hal yang sama, hingga udara dipenuhi oleh suara yang gemrebeg memekakan telinga, dan terjadilah perang besar ( perang gejag ), perang yang sengit, hebat, sama-sama kuat, sama-sama digdaya/sakti. Mereka saling menerjang, saling menendang, saling menusuk, saling menangkis, memukul, menikam.

Di dalam perhitungan tentara Melayu bahwa peperangan tidak akan berjalan lama karena jumlah tentara mereka jauh lebih banyak daripada tentara Mataram, dan pengalaman perang pun jauh lebih unggul daripada tentara Mataram, hingga mereka dapat mencibir manakala tentara Mataram agak terdesak ke arah utara. Terdesaknya tentara Mataram ke arah utara dengan mudah, menambah semangat Sriwijaya memainkan senjata. Mereka ingin segera mengakhiri perang dengan membawa kemenangan, padahal terdesaknya tentara Mataram ke arah utara tersebut sebenarnya adalah bagian dari skenario agar tentara Melayu memasuki medan laga di suatu lapangan terbuka, yaitu di Kalangan yang telah dipersiapkan segala-galanya oleh mPu Sindok untuk mengakhiri perang.

Tiba-tiba konsentrasi tentara Melayu terpecahkan oleh bunyi kenthongan yang bertalu-talu mungkung kumalungkung bersaut-sautan, dan bersamaan itu pula bahwa semangat tentara Mataram agak mengendur sehingga sempat membuat tanda tanya bagi tentara Sriwijaya, barangkali bunyi itu sebagai pertanda tentara Mataram untuk mundur dan kalah. Namun belum sempat tentara Sriwijaya mendapatkan jawaban, serentak dari berbagai arah bermunculan ribuan penduduk non combaten tanpa mengenakan seragam prajurit, seperti air bah memasuki arena menerjang tentara Sriwijaya dengan persenjataan yang ada yaitu sabit, linggis, pentungan, alu, garan cangkul dan lain-lain membuat tentara Sriwijaya kalang kabut, hingga tidak dapat leluasa memainkan persenjataannya, hingga pada akhirnya mereka banyak yang terbantai oleh penduduk yang membantu prajurit –prajurit Mataram, sedangkan yang selamat melarikan diri mencari hidup ke arah utara, menghindar dari arena perang yang telah menjadi amburadul sebagai ladang pembantaian kawan-kawan mereka dari melayu.

Namun yang melarikan diri ke arah utara tersebut untuk yang kedua kalinya dikejutkan oleh bunyi kenthongan lagi dan kembali bermunculan ratusan penduduk dari berbagai arah tanpa seragam prajurit, mengepung mereka yang sempat mencari selamat sebagai seekor binatang buruan yang tidak mungkin dapat lolos menyelamatkan diri hidup-hidup, yang tersisa adalah mayat-mayat bergelimpangan berseragam tentara Sriwijaya devisi Jambi, diiringi sorak sorai penduduk bersama-sama para prajurit Mataram yang meledakkan kegembiraan mereka atas kemenangan yang baru saja diperolehnya.

Dengan bantuan penduduk itu pula mPu Sindok memperoleh kemenangan yang gilang gemilang, kemenangan yang luar biasa yang selama ini belum pernah diperolehnya sepanjang peperangannya di Jawa Timur.

Catatan :

Tempat-tempat yang tersebut di atas kemudian menjadi nama-nama suatu tempat, yaitu : Desa Ngrawan, Sengkut, Berbek, Gejagan, Kalangan, Kepungan dan Mungkung.

MENELUSUR MISTERI MEDANG – KAHURIPAN

MENELUSUR TABIR MISTERI

MEDANG � KEHURIPAN

Oleh : Drs. Harmadi

Pengantar

Meskipun masyarakat Nganjuk dan sekitarnya yakin benar bahwa Sejarah berdirinya Kerajaan-kerajaan besar di Jawa Timur tidak dapat dilepaskan dari awal kemenangan mPu Sindok melawan bala tentara Melayu (Sriwijaya) di wilayah Nganjuk sekarang pada awal abad ke X, namun nama Kerajaan yang dirintis oleh pendiri dinasti Isana itu sendiri masih terdapat kesimpang siuran penyebutan, ada sementara yang mengatakan Medang, ada sebagian yang mengatakan Medang � Kamolan, ada yang Medang � Kehuripan, dan bahkan ada yang hanya menyebut Kehuripan saja.

Terlebih lagi dengan sangat minimnya bekas peninggalan dan tidak konsistennya pernyataan yang termuat dalam tiap prasasti peninggalan, lebih menyulitkan bagi peneliti sejarah untuk mengadakan kajian mendalam tentang situs yang diasumsikan sebagai lokasi yang bisa diyakini sebagai ibukota atau pusat pemerintahan kala itu.

Tulisan ini hanya sebagai sumbangsih penulis melengkapi tulisan-tulisan terdahulu, sebagai warga Nganjuk yang merasa ikut peduli terhadap sejarah tanah kelahiran.

Wassalam.

I.MASA MPU SINDOK

A.BABAT ANJUK LADANG

Sebagaimana telah saya tulis pada edisi-edisi terdahulu, bahwa romantika sejarah perjuangan mPu Sindok dalam mempertahankan pemerintahan dan kedaulatan Mataran Hindu di Jawa Timur dari rongrongan Sriwijaya, menguras banyak tenaga dan pikiran serta waktu yang cukup lama. Strategi demi strategi, kekuatan demi kekuatan telah dikerahkan semaksimal mungkin, namun kekalahan masih selalu berada dipihaknya, dan tentara Sriwijaya masih selalu diatas angin

Hal demikian jelas membuat kecil hati dan paniknya mPu Sindok menghadapi lawan yang memang tangguh dalam segala hal, yang memang jauh lebih unggul dalam mengatur strategi, persenjataan, pengalaman perang, maupun kuatnya dukungan logistik yang sangat memadai dan dipersiapkan untuk sebuah perang besar yang berkepanjangan (perang gejag).

Dalam situasi terdesak dan terjepit seperti itu, telah menimbulkan pemikiran untuk mobilisasi umum, yaitu mengerahkan penduduk setempat, untuk bersama-sama berjuang melawan musuh kerajaan Mataram yang juga musuh para kawulo bersama. Pemberian motivasi bahwa kalau kerajaan sampai terjajah musuh, maka nasib para kawulo juga akan menderita diperbudak oleh penjajah, rupanya sangat mengena dihati rakyat.

Dengan motivasi seperti itu, timbul kesadaran masyarakat setempat untuk mau berjuang bahu membahu bersama prajurit mPu Sindok melawan musuh bersama, walaupun mereka tidak pernah mengenal ilmu perang dan pengalaman berperang, dengan hanya bermodal persenjataan apa adanya, semuanya cancut tali wondo, holopis kontul baris, saiyek saeko proyo, dengan modal nekat, semuanya maju bersama melawan mush, menumpas habis bala tentara Sriwijaya di ladang pembantaian (killing field) di kalangan peperangan.

Perjuangan besar itu membuahkan hasil gemilang, yaitu kemenangan gilang gemilang. Kemenangan yang diperoleh berkat sebuah strategi mobilisasi umum, telah mengangkat mPu Sindok naik ke derajat yang lebih tinggi dari kedudukan semula Rakai Hino, menjadi pemegang Singgasana Kerajaan baru yaitu Medang pada tahun 929 Masehi, mengakhiri dominasi wangsa Sanjaya Kerajaan Mataram Hindu yang berpusat di Jawa Tengah, dan mendirikan dinasti baru Isana dengan pusat pemerintahan di Jawa Timur, dengan abiseka nama (gelar kemaharajaan) Sri Isanawikramadharmatunggadewa.

Sebagai wujud ucapan terima kasih atas bantuan penduduk memenangkan peperangan melawan tentara Melayu, dilokasi peperangan itu pada tahun 937 Masehi, didirikan sebuah tugu peringatan (prasasti) Jaya Stamba, dimaksudkan sebagai catatan yang tak akan terlupakan sepanjang sejarah, bahwa karena bantuan penduduk setempat, maka kedaulatan Mataram Hindu tetap jaya, tidak jadi terlepas ketangan musuh, dan karena kemenangan itu pula telah mengantarkan mPu Sindok menjadi seorang Maharaja di Medang.

Bersamaan dengan peresmian Jaya Stamba, dilokasi yang sama dilakukan juga peresmian Jaya Mrta dengan ujud sebuah Candi dari bahan batu bata merah, yang kemudian oleh masyarakat dinamakan dengan Candi Lor sampai sekarang.

Barangkali didirikan dan diresmikannya Candi Jaya Mrta, dimaksudkan bahwa kekuasaan telah hidup kembali, terlepas dari ancaman yang nyaris menamatkan riwayat, dan diharapkan ditempat yang baru, Kerajaan Medang akan hidup abadi, bahkan akan berkembang mencapai puncak kejayaannya (air amrta adalah air yang dapat mengekalkan kehidupan dalam kisan Samudramanthana).

Rangkaian kisah heroik yang diawali dari perlawanan terhadap kedatangan bala tentara Sriwijaya devisi Jambi di Pelabuhan Bandar Alim Tanjunganom, kemudian jebolnya pertahanan Marganung dan terjebaknya tentara Melayu oleh kepiawaian olah strategi yang dimainkan oleh mPu Sindok di ladang pembantaian, serta ide persatuan Nusantara yang tercetus di Bumi Anjuk Ladang, kiranya dapat dianggap bahwa babad Anjuk Ladang, merupakan awal dari berdirinya kerajaan-kerajaan besar yang berpusat di Jawa Timur seperti Kerajaan Medang sendiri, Kerajaan Kediri, Singosari maupun Mojopahit.

B.UPACARA PENETAPAN SIMA

Selain peresmian Jaya stamba dan Jaya Mrta, juga ditetapkan Anjuk Ladang sebagai Sima Swatantra.

Arti harafiah �Sima� menurut Supratikno Raharjo (2002) adalah �batas�, yaitu tiang batu yang dipasang sebagai tanda batas suatu daerah yang memiliki status �istimewa� yang diberikan oleh penguasa kepada wateg (desa) tertentu, dalam hal ini adalah pemberian status istimewa dari Maharaja mPu Sindok kepada Desa Anjuk Ladang berupa status Sima Swatantra.

Sebelum dilakukan upacara penetapan Sima, selalu didahului dengan pembukaan lahan sawah baru, dari yang semula lahan tegal, pekarangan maupun hutan.

Adapun upacara pemberian status istimewa ini didahului dengan suatu rangkaian susunan acara yang menurut Haryono (1980) adalah sebagai berikut :

1.Pemberian pasek-pasek atau hadiah kepada para pejabat.

2.Meletakkan saji-sajian untuk upacara

3.Makan dan minum bersama

4.Melakukan aktifitas ritual yang disebut makawitha dan makamwang

5.Duduk bersama di witana (bangsal yang dibangun khusus untuk keperluan itu), mengelilingi watu sima dan watu kelumpang, dengan posisi sebagai berikut :

-Sebelah Utara : Para pejabat wakil pemerintah pusat

-Sebelah Timur : Para ibu, sangsang, dan wakil dari tetangga sekitar

-Sebelah Selatan : Sang watuha patih (barangkali pejabat setingkat Camat sekarang) dan para kepala desa tetangga

-Sebelah Barat : Sang Makudur (pemimpin upacara) dan para pejabat keagamaan desa

-Posisi Tengah : Tempat watu kelumpang/watu Sima (batu pusaka)

6.Memotong leher ayam dengan landasan Watu Kelumpang dan membanting telor serta menaburkan abu yang dilakukan oleh Sang Makudur didampingi Pamget Wadihati.

7.Membakar dupa sambil mengucapkan kutukan terhadap yang melanggar ketentuan Sima dikemudian hari.

8.Menyembah kepada Sang Hyang Sima Watu Ketumpang

9.Membungkus sisa makanan dengan daun untuk dibawa pulang (dibrekat Jw)

10.Pertunjukan kesenian.

Bunyi kutukan adalah sebagai berikut : �Jika pergi ke hutan akan dimakan ular berbisa, jika pergi ke ladang akan disambar petir meskipun pada musim kemarau, jika pergi ke bendungan akan tenggelam disambar buaya�.

Sedangkan arti simbolis dari urutan acara ke 6, diharapkan bahwa si pelanggar akan menemui petaka seperti ayam yang telah dipisahkan antara badan dan kepalanya, akan hancur lebur seperti telor yang telah dipecahkan, dan seperti nasib kayu yang menjadi abu karena terbakar, atau bahkan si pelanggar akan mendapatkan lima kemalangan besar (pancamaha pataka) selama jangka waktu yang tidak terbatas (Haryono, 1980).

Kepala Sima sebagai wakil resmi Raja di Sima Swatantra Anjuk Ladang, mempunyai wewenang dan kewajiban sebagai berikut :

1.Mengatur jalannya pemerintahan di wilayah Sima Anjuk Ladang, terutama yang berkaitan dengan masalah pajak.

2.Kepala Sima bertanggung jawab atas keberhasilan penarikan segala macam jenis pajak, yaitu pajak bumi, perdagangan dan jenis-jenis usaha diwilayahnya, serta membagikan kepada pihak-pihak yang berhak menerima, seperti untuk bangunan-bangunan suci yang ada diwilayahnya.

3.Memelihara, menjaga kebersihan dan kesucian bangunan suci, serta mengadakan perbaikan dimana perlu.

4.Menyelenggarakan upacara ritual, pemujaan dan persembahan kepada bathara, sesuai dengan kesepakatan yang telah ditentukan.

5.Menetapkan besar kecilnya denda apabila terjadi pelanggaran diwilayahnya (sukhadhuka dan kalahayu).

6.Menjaga keamanan dan ketertiban didaerahnya.

7.Berhak untuk mengerahkan dan mengatur tenaga kerja bhakti untuk perbaikan saranan dan prasaranan umum.

C.SISTEM PEMERINTAHAN

Selain sebagai seorang panglima perang yang ahli dalam mengatur siasat perang, mPu Sindok juga menunjukkan bakatnya sebagai negarawan handal yang kreatif dan banyak akal, dan senantiasa berfikir demi kesempurnaan sistim Pemerintahan Kerajaan Medang yang dipimpinnya.

Meskipun dia sendiri bukan putra mahkota atau bahkan bukan keturunan Raja, namun pengalaman selama pengabdiannya di Kerajaan Mataram (Hindu), merupakan pengalaman berharga untuk melakukan pembenahan-pembenahan.

Dalam sebuah prasasti yang diketemukan didaerah Tengaran (Jombang), disebutkan bahwa mPu Sindok memerintah bersama istrinya, Rakryan Sri Parameswari Sri Wardhani Pu Kbi (Drs.Santoso, 1971), dan dalam prasasti Bakalan (934 M) menyebutkan berisi perintah Rakryan Mangibil (isteri mPu Sindok lainnya) untuk membangun 3 buah Dawuhan di Kalihunan, Wwatan Wulus dan Wwatan Tamya.

Sedangkan dalam prasasti lainnya yang ditulis pada jaman yang sama, tanpa menyebut nama istri atau isteri-isterinya. Dengan demikian kiranya dapat diasumsikan bahwa :

1.mPu Sindok memerintah Medang bersama-sama/didampingi oleh isteri/isteri-isterinya

2.Isteri/isteri-isterinya adalah keturunan Raja, sehingga sebetulnya berhak menjadi Raja, namun karena anggapan bahwa derajad laki-laki lebih tinggi daripada perempuan, kedudukan Raja diberikan kepada suami

3.Isterinya menduduki jabatan tertentu di pemeirntahan seperti Raja daerah, yang diberi kewenangan untuk mengeluarkan prasasti sendiri dengan sepengetahuan Raja.

Penyempurnaan struktur tata pemerintahan dari model Jawa Tengah ke Jawa Timur, sebagaimana dapat diamati dari beberapa prasasti berangka tahun yang dikeluarkannya, seperti :

1.Prasasti Turyyan (929 M) yang menurut penelitian de Cas paris, 1988 menyebutkan tentang pengelompokan para pejabat berdasarkan strata tingkatan jabatan dan kepangkatan, serta siapa-siapa yang disebut Rakai, Rakryan, Samget, mPu, Sang, Dyah, Si dan lain-lain.

Menurut de Casparis, bahwa jabatan Wakai Kanuruhan menduduki jabatan paling penting sesudah mahamantri (mahamantri Rakai Wka)

Para Rakai mempunyai pegawai sendiri-sendiri yang disebut parujar-ujar. Begitu pula Rakryan dan Samget juga mempunya parujar-ujar sendiri.

2.Mulai dikenal sebutan rakryan mapinghe kalih atau mahapatih yang 2 (dua) orang yaitu Rakai 1 Hino dan Rakai Wka. Barangkali dengan pembagian tugas yang kemudian dikenal dengan sebutan patih njero dan patih njobo.

3.Mulai ada jabatan kepala Protokol Kerajaan, yaitu Rakai Kanuruhan dengan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) yang lebih luas baik didalam karaton maupun di luar, seperti kewenangan menetapkan dan memungut pajak pada para pedagang asing (po hawang /nahkoda kapal asing)

4.Ada kelompok jabatan tanda rakryan ring pakira-kiran, yaitu kelompok jabatan khusus yang menerima langsung pemerintah Raja tanpa melalui perantara, kurang lebih semacam Aspri sekarang.

D.AGAMA, SASTRA DAN ILMU PENGETAHUAN

Sri Isanawikramadharmattunggadewa (mPu Sindok) pada saat memerintah Kerajaan Medang, sangat memperhatikan perkembangan agama, Ilmu Pengetahuan dan Sastra Jawa. Oleh sebab itu tidak mengherankan kalau ketiganya mengalami perkembangan yang signifikan.

Ketiga ilmu tersebut saling kait-mengkait dan berhubungan satu sama lain. Beberapa padepokan dan mandala-mandala didirikan untuk mendidik para cantrik dan sisya (siswa) untuk memperdalam berbagai ilmu. Beberapa siswa dikirim ke Nelanda (India Utara) menyerap ilmu bagi kepentingan Medang. Karya sastra yang diterbitkan dan cukup populer sampai saat ini adalah :

1.Kitab Sang Hyang Kamahayanikam

Sebuah kitab aliran Budha Mahayana berbahasa Sanskerta, berisi tuntunan dharma dan tata cara bersemedi menurut aliran Mahayana, dan ajaran tentang praktek Yoga yang diharuskan melalui bimbingan Guru. Selain itu juga berisi tentang bentuk penyucian jiwa raga dan harta dalam bentuk dana paramitha, yakni kesempurnaan pemberian derma, misal jenis makanan yang enak-enak, minuman yang manis-manis dan harum, diberikan kepada orang yang membutuhkan. Emas, pakaian, uang dan tanah di dermakan untuk fasilitas umum dll.

Melihat bahasa yang dipergunakan dalam kitab tersebut Sanskerta, jelas menunjukkan bahwa Medang betul-betul telah berhubungan dengan Benggala India Utara asal bahasa tersebut, yang saat itu sedang diperintah oleh dinasti Cola yang sangat terkenal dengan perguruan tingginya di Nelanda. Dengan demikian asumsi yang dapat dikemukakan adalah :

a.Kitab tersebut dikarang oleh pujangga pendatang dari Benggala, atau

b.Ditulis oleh bangsa sendiri lulusan Nelanda dan ingin menunjukkan kemampuannya berbahasa Sanskerta.

Perlu kami tambahkan bahwa untuk pergi belajar ke luar negeri, calon siswa harus terlebih dahulu mendapat rekomendasi dari Rakai Kanuruhan, yang berarti para siswa adalah tugas belajar dari negara (Kerajaan).

2.Kitab Brahmandapuruna

Yaitu kitab suci agama Hindu Saiwa, berbahasa Jawa Kuno, terdiri dari beberapa parwa, berisi tentang Kosmologi, kosmogoni, astronomi dan cerita-cerita kuno yang dikumpulkan dari cerita-cerita yang hidup dikalangan rakyat mengenai kehidupan par adewa, penciptaan dunia dan lain-lain, yang pada intinya memuat 5 hal (pancalaksana), yaitu :

a.Sarga, tentang penciptaan alam semesta

b.Pratisarga, tentang penciptaan kembali dunia setiap kali dunia lenyap (kiamat).

Menurut kitab ini bahwa berlangsungnya dunia sekarang hanyalah selama satu hari Brahma.

c.Wamsa, menguraikan tentang asal usul para Dewa dan Rsi (pendeta tertinggi)

d.Manwantarani, berisi tentang pembagian waktu, yaitu satu hari Brahma terbagi dalam 14 masa. Dalam setiap masa manusia itu dicipta kembali sebagai keturunan Manu, manusia pertama (Adam)

e.Wamsanucarita, berisi tentang sejarah Raja-raja yang memerintah diatas dunia.

Kosmologi sebagai salah satu cabang filsafat yang mempelajari tentang alam semesta sebagai sistem yang beraturan, dan kosmogoni yang mempelajari tentang asal mula terjadinya benda-benda langit dan alam semesta, serta astronomi yang mempelajari tentang matahari, bulan, bintang dan planet-planet lainnya, sangat penting dipelajari untuk pengembangan ilmu pengetahuan, agama dan pertanian.

Tidak hanya bagi wariga (ahli perhitungan musim untuk pertanian) perhitungan waktu merupakan hal yang sangat penting, tapi Kerajaan maupun masyarakat luas sangat membutuhkan juga perhitungan-perhitungan tersebut dalam setiap kali akan melakukan aktifitasnya, termasuk memulainya peperangan, pindah rumah, perhelatan, kegiatan pertanian, kelautan dan lain-lain.

Untuk hitungan hari dalam satu pekan (Minggu) terdapat hitungan yang lima hari (Poncowolo), enam hari (Sadworo) dan tujuh hari dalam satu pekan/minggu yang disebut dengan saptoworo.

Hitungan lima hari dalam satu pekan (poncowolo) sampai sekarang masih dikenal oleh masyarakat, walaupun sedikit telah mengalami pergeseran penulisan dan pengucapan.

-Pahing, biasa disingkat dengan Pa saja

-Pwan, sekarang Pon, disingkat Po

-Wagai, sekarang Wage, disingkat Wa

-Kaliwuan, sekarang Kliwon, disingkat Ka

-Umanis, sekarang Legi, disngkat U/Ma

Hitungan Sadworo atau enam hari dalam satu pekan, sekarang sudak tidak dikenal, namun demikian selengkapnya adalah :

-Tunglai, disingkat Tu/Tung

-Haryang, disingkat Ha

-Warukung, disingkat Wu

-Paniruan, disingkat Pa

-Was, disingkat Wa

-Mawulu, disingkat Ma

Disamping Poncowolo dan Sadworo, ada hitungan hari yang tujuh, yaitu Saptoworo

-Aditya (A/Ra)

-Soma (So)

-Anggoro (Ang)

-Budho (Bu)

-Wrhaspati (Wr)

-Cukrau (Cu)

-Sainascara (sa)

Nama-nama bulan dikenal dengan istilah antara lain :

-Magha (Januari � Pebruari)

-Phalguno (Pebruari � Maret)

-Caitra (Maret � April)

-Bodro (Agustus � September)

-Asuji (September � Oktober)

-Karttiko (Oktober � Nopember)

Upacara dan persembahan sesaji yang dilakukan secara teratur dan tetap menurut kebutuhan maupun kesepakatan pranata Agama menurut kalender, misal :

-Pratidina, yaitu upacara sesaji yang dilakukan setiap hari, untuk bangunan-bangunan keagamaan tertentu

-Pratimasa, yaitu upacara/sesaji yang dilakukan setiap bulan sekali

-Angken bisuwakala, yaitu upacara keagamaan yang dilakukan dua kali dalam setiap tahun. Biasanya diselenggarakan pada bulan Caitra dan Asuji

-Asuji, Badra, Karttika, yaitu upacara yang dilaksanakan setahun sekali pada bulan Asuji, Badra dan Karttika.

Sebagai persyaratan pokok sesaji, salahs atu perlengkapannnya adalah potongan-potongan kecil kayu Cendana yang untuk wilayah Anjuk Ladang tidak terlalu sulit mencarinya, karena sejak dahulu kala telah tertanam dan merupakan perkebunan yaitu di Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, yang sampai sekarang masih disakralkan.

Selain bahan sesaji, potongan-potongan kecil (tatal) kayu Cendana biasa dikunyah oleh para wiku dan Rsi di Padepokan, serta merupakan kebiasaan sebagai aroma penyegar mulut.

E.UKURAN TAKARAN DAN TIMBANGAN

Pada masa mPu Sindok memerintah Kerajaan Medang tahun 929 � 947 Masehi, telah dikenal satuan ukuran, takaran dan timbangan yang dipergunakan untuk berbagai keperluan jual beli dan keperluan lainnya, misal :

-Ukuran luas : tampah, suku

-Ukuran panjang : dpa

-Takaran : Catu

-Ukuran berat : masa, pikul, bantal, kati, tahil

-Ukuran emas : Suwarna (Su)

-Ukuran perak : dharono

-Manusia atau binatang besar : prono

-Ukuran kain : wdihan, wdihan yu, ken

-Yang bisa dipegang tangan, misal padi : Agem dll

Contoh penggunaan ukuran tersebut sebagaimana terpahat antara lain pada prasasti Hering atau Prasasti Kujon Manis Tanjunganom (934 M) yang inti isinya sebagai berikut :

�Pada tahun 859 Saka atau 934 Masehi, pada bulan Phalguno (Pebruari � Maret) telah terjadi transaksi pembelian tanah yang sangat luas oleh pejabat Desa (Samget) Marganung Pu Danghil dari beberapa orang penduduk desa (+ 26 orang), seluas 6 tampah 1 suku, seharga 5 kati 9 suwarna atau sekitar 3.773,36 gram emas.

Prasasti tersebut juga mencatat besarnya pasek-pasek atau pemberian hadiah yang harus diberikan kepada para pejabat yang berkompeten mulai tingkat kerajaan sampai pejabat tingkat bawah, berupa wdihan yu, dengan ketentuan sebagai berikut :

-Raja mendapatkan 5 wdihan yu

-2 orang mahapatih (I hino pu sahasra dan rakai wka Pu Baliswara) masing-masing 6 wdihan yu

-Rakai Sirikan pu Balyang 6 yu

-Rakai kanuruhan Pu Pikatan dan pu Sata masing-masing 1 wdihan yu

-Pu Rita 5 wdihan yu

-Dan seterusnya

Keterangan :

-Wdihan adalah sebutan untuk kain yang biasanya dikenakan oleh kaum pria yang sekarang dikenal dengan bebet

-Wdihan yu,a dalah seperangkat pakaian laki-laki termasuk iket (udeng Jw)

-Satu tampah + 20.250 M2

-Satu suku + 0,25 tampah

-Suwarna (Su) = ukuran satuan emas

-Dharana = ukuran satuan perak

-Kati (Ka) = 20 tahil = + 750 � 768 gram

-Satu tahil (ta) + 38 gram

-Satu bantal = 20 kati

-Satu pikul = 5 bantal = 100 kati = 75 kg

Selain hitungan ukuran diatas, pada jaman mPu Sindok dikenal hitungan untuk volume (isi) yang biasanya dipergunakan untuk takaran beras atau minyak dan rempah-rempah, yaitu satuan Catu. Catu dibuat dari batok kelapa yang dipotong bagian atasnya (dikrowaki Jw). Ukuran satu catu + 300 � 450 mililiter.

F.PERTANIAN

Beras merupakan bahan makanan pokok penduduk Medang, diproduksi oleh sebagian besar masyarakat petani dengan memanfaatkan lembah Sungai Brantas yang terkenal subur sebagai lahan produksi.

Untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok tersebut, dilakukan berbagai usaha ekstensifikasi maupun intensifikasi pertanian. Ekstensifikasi yaitu dengan pembukaan sawah secara besar-besaran yang antara lain melalui pranata penetapan Sima, dimana kegiatannya selalu didahului dengan pembukaan kebun, padang rumput, tegal ataupun hutan dijadikan sawah produktif.

Selain melalui ekstensifikasi, dilakukan juga intensifikasi penunjang pertanian dengan pengaturan sistem pengairan yang memadai untuk men-suply kebutuhan air bagi pertanian, disamping pemanfaatan yang lain seperti usaha perikanan dan rekreasi.

Untuk itu dibangun fasilitas infrastruktur, yang dalam skala kecil dikelola oleh masyarakat sendiri, seperti : talang, weluran, urung-urung dan tambak. Sedangkan yang beskala besar dikelola oleh Kerajaan, seperti misal bangunan Dawuhan dan Bendungan, sebagaimana tertulis pada prasasti Bakalan (934 M) maupun prasasti Sarangan (929 M) yang keduanya mengatur sistem pengairan Kali Kunto.

Dalam prasasti Bakalan tersebut berisi perintah dari Rakryan Mangibil (isteri Raja Sindok) untuk membuat bangunan 3 buah dawuhan, yakni Kaliwuhan, Wwtan Wulas dan Wwtan Tamya, yang kemudiannya diketahui bahwa dulunya dawuhan Tamya tersebut berukuran 175 x 350 m, yang dapat menampung air sebanyak + 350.000 M3.

Bendungan yang lain adalah di Wwtan Mas (Bajulan Loceret) yang kelak akan melahirkan sederetan dongeng Panji Semirang/Ande-ande lumut.

Hasil produksi beras Kerajaan Medang melalui pola ekstensifikasi dan intensifikasi pada akhirnya melimpah ruah, surplus bagi konsumsi masyarakat Medang sendiri, hingga sangat memungkinkan untuk dijadikan bahan komoditi perdagangan antar pulau di luar ibukota Medang.

Akibat perdagangan itulah yang kemudian meramaikan dermaga-dermaga seperti : Bandaralim (Demangan � Tanjunganom), Dermaga Ujung Ngkaluh (Jombang) maupun Kembang Putih (Tuban)

PRASASTI BANDAR ALIM

PRASASATI BANDAR ALIM

Oleh : Drs. Harmadi.

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul MENELUSUR MISTERI MEDANG – KAHURIPAN.

Raja Sindok meninggal tahun 947 Masehi dan makamnya di dharmakan sebagai Isyana Bajra. Dengan meninggalnya Raja Sindok, Medang seakan tenggelam dalam sejarah karena Raja-raja penggantinya sangat pelit mewariskan bukti peninggalan bagi generasi sekarang dalam menelusur sejarah.

Namun demikian, paling tidak Prasasti Bandar Alim yang ditulis oleh KAKI MANTA tahun 907 Caka (985 Masehi) yang diketemukan di Bandar Alim Desa Demangan Kecamatan Tanjunganom beberapa tahun lalu, paling tidak telah memberikan sumbangan yang tiada terhinggabagi penelusuran sejarah, khususnya Kerajaan Medang di Nganjuk. Namun ketiadaan sponsor cukup menghambat penelusuran lebih lanjut.

Prasasti catur muka yang dibuat pada Batu Andesit dengan ukuran tinggi 180 cm, dan lebar 90 cm serta ketebalan tepi + 20 cm dan tengah + 25 cm, menyebutkan bahwa Watu Galuh adalah sebuah kota wilayah Kerajaan Medang bumi Mataram (I mdang I bhumi mataran I watu galuh).

Pada bagian lain, prasasti Bandar Alim menyebut Dewa Lokapala, yang dalam buku Ramayana adalah kelompok dewa yang menjaga 8 penjuru angin (astadikpalaka), yaitu : Indra, Yama, Surya, Candra, Anila (Bayu), Kuwera, Baruna dan Agni.

Nama Lokapala dalam prasasti Calcuta yang ditulis oleh Erlangga tahun 1041 Masehi, meskipun tidak secara jelas dinyatakan, namun diketahui bahwa Lokapala adalah suami dari Isana Tunggawijaya anak mPu Sindok dengan Rakryan Binihaji Rakryan Mangibit.

Sangat memungkinkan bahwa penyebutan Dewa dimuka Lokapala pada prasasti Bandar Alim, adalah dewamurti (anggapan titisan dewa) terhadap Lokapala almarhum, suami dari Isanattunggawijaya. Dengan demikian bahwa Raja yang memerintah Kaki Manta untuk menulis prasasti tersebut adalah Raja pengganti Isanattunggawijaya, yaitu Makuthawangsa wardhana, yang berarti bahwa pada tahun 907 Caka atau tahun 985 Masehi, Kerajaan Medang diperintah oleh raja dengan abhiseka nama Makuthawangsa wardhana yang memerintah Medang hingga digantikan oleh Sri Darmawangsa Teguh, saudara laki-laki dari Gunapriyadharmapadni (Ibu Erlangga).

II.MASA TEGUH DHARMAWANGSA

A.PEMERINTAHAN DAN HUBUNGAN LUR NEGERI

Tidak begitu jelas tahun berapa Dharmawangsa Teguh dengan abhiseka Sri Dharmawangsa Teguh Ananta Wikrama Dharmatunggadewa naik tahta menjadi Raja Medang menggantikan kedudukan Makuthawangsa Wardhana, mengingat bahwa pada tahun 985 Masehi, Makuthawangsa Wardhana masih membuat prasasti di Bandar Alim Tanjunganom Nganjuk, sedangkan Dharmawangsa pada tahun 990 M sudah melakukan aktivitas menyerang Kerajaan Sriwijaya di Palembang.

Beberapa pakar sejarah menganalisa masa pemerintahan Dharmawangsa dimulai tahun 996 Masehi yang berlangsung hingga tahun 1016 Masehi. Menurut hemat penulis, justru penyerangan ke Palembang tersebut Dharmawangsa sudah menjadi Raja, sehingga berwenang membuat kebijakan melaksanakan ambisi menyerang Kerjaan lain, yang berarti dia naik tahta beberapa tahun sebelum tahun agresinya ke Palembang 990 M.

Di bidang politik, bahwa hubungan diplomatik dengan India yang telah dirintis sejak pemerintahan mPu Sindok, masih diteruskan oleh Dharmawangsa, dan bahkan diperluas, karena dinasti Cola yang berkuasa di India utara saat itu memberikan kesempatan yang luas. Banyak pelajar dari Medang yang diberi kesempatan menuntut ilmu di Perguruan Nelanda, umumnya mereka mempelajari tentang bahasa, budaya, agama, astronomi, sejarah dan sastra.

Selain dengan India, Medang juga menjalin hubungan perdagangan dengan Cina. Bahan perdagangan utama yang didatangkan dari Cina adalah Tembikar dan Mata Uang perunggu/tahil, sebaliknya dari Medang, Cina memperoleh rempah-rempah, emas dan perak. Mata perdagangan emas dan perak dari Jawa itulah yang kemudian Raja-raja Jawa dianggap terkaya nomor 2 setelah Arab, anggapan itulah yang merangsang tentara Tar Tar melakukan perampokan besar-besaran kepada Jayakatwang tahun 1292 M.

Hubungan diplomatik dan perdagangan tersebut memperoleh saingan Sriwijaya yang telah terlebih dahulu menjalin hubungan dengan Cina, hal demikian dianggap merupakan penghalang keleluasaan Medang mengembangkan sayap.

Untuk memperlemah pesaingnya tersebut, pada tahun 990 Masehi, Dharmawangsa Teguh mengirimkan tentaranya ke Palembang dalam jumlah yang lumayan besar. Beberapa daerah pinggiran berahsil direbut tanpa perlawanan berarti dari Sriwijaya, dan daerah-daerah yang direbut dipertahankan untuk jangka waktu tertentu, yang tentu menghabiskan enerji dan logistik tanpa mampu mengembangkan peperangan. Hal demikian memang disengaja oleh Sriwijaya, karena dianggap daerah-daerah yang direbut oleh Medang adalah daerah yang tidak strategis dan tidak berpotensi.

Meskipun serangan ke Palembang tahun 990 Masehi dianggap ekspansi yang sia-sia karena tidak mengurangi kekuatan dan kekuasaan Sriwijaya menjalin hubungan dengan China , namun bagi Sriwijaya bahwa serangan dan pendudukan tentara Medang di Palembang wilayah Srwiijaya, merupakan catatan tersendiri yang kelak akan diperhitungakan.

B.PERKEMBANGAN SASTRA

Masa pemerintahan Sri Dharmawangsa Teguh Raja Medang ke 4 dan penyandang dinasti Isana, merupakan masa yang cerah bagi pengembangan ilmu pengetahuan, agama dan sastra, padepokan dan mandala yang keberadaannya jauh dari pusat keramaian seperti di lereng gunung Wilis, justru mendapat perhatian tersendiri.

Serat Sang hyang Kamahayanikam dan Kitab Brahmandapuruna yang dikarang pada masa Raja Sindok, masih tetap menjadi tuntunan pokok bagi pra siswa dan pelengkap perpustakaan istana.

Salah satu Mandala yang cukup disegani adalah yang berada di Makutho, lereng Gunung Wilis yang kelak menjadi salah satu tempat bagi Erlangga belajar mengenai hakekat hidup dan kehidupan, dan ilmu tentang kepemimpinan.

Perhatian dan fasilitas yang diberikan oleh Prabu Sri Dharmawangsa Teguh menjadikan Pustaka Sastra Jawa mengalami perkembangan yang sangat pesat, karya sastra yang diproduksi, yang hampir semuanya merupakan derivasi dari epos Mahabharata antara lain :

1.Kitab Mahabharata derivasi

2.Kitab Uttarakanda

3.Kitab Adiparwa

4.Kitab Sabhaparwa

5.Kitab Wirathaparwa

6.Kitab Udyogaparwa

7.Kitab Bhismaparwa

8.Kitab Asramawasaparwa

9.Kitab Mosalaparwa

10.Kitab Prasthanikaparwa

11.Kitab Swargarohanaparwa

12.Kitab Kunjorokarno

C.PRALAYA

Serangan tahun 990 Masehi yang sia-sia tersebut, untuk beberapa waktu lamanya tidak ada reaksi pembalasan dari Sriwijaya, kecuali hanya berakibat pasang surutnya hubungan masing-masing kerajaan tersebut dengan Cina.

Walau demikian, Sriwijaya telah memperhitungkan sebuah pembalasan dengan cermat, dan menyerahkan segala sesuatunya kepada sekutu Sriwijaya yang berada di Jawa Tengah, yaitu Raja Wora-Wari yang pusat pemerintahannya tidak terlalu jauh dari Medang yang berada di Jawa Timur, yang oleh beberapa pengamat sejarah dolokalosir di Banyumas selatan. Oleh karena itu pimpinan Kerajaan Wora-wari segera mengirim pasukan telik sandi untuk mempelajari sudut-sudut kelemahan Medang, termasuk kapan saat yang tepat untuk melakukan penyerangan.

Kesempatan yang sangat baik yang dilakukan oleh Raja Wora-Wari menyerang jantung ibukota Medang, adalah pada saat Dharmawangsa teguh mengadakan pesta pernikahan putrinya dengan Erlangga anak Gunapriyadhrmapadni yang kawin dengan Udayana Raja Bali.

Tahun 1016 Masehi, bersamaan dengan berlangsungnya kesibukan perta perhelatan akbar di Medang, dan ditengah lengahnya kewaspadaan karena tertutup keramaian tontonan, perhatian semua hadirin dikejutkan oleh kobaran api dimana-mana, disusul berhamburannya para prajurit Kerajaan Wora-Wari menerobos arena pesta, membabat, membantai semua yang ada, tanpa mengenal ampun dan belas kasihan.

Penyerangan tiba-tiba yang disertai pembumi hangusan semua bangunan di lokasi pesta, membuat paniknya suasana, dan merobah sontak seketika dari kegembiraan dan keceriaan menjadi hiruk pikuk kacau tidak karuan dipenuhi jerit tangis memilukan, disertai kobaran api yang menjilat-jilat langit ibukota Medang membara.

Tiada perlawanan, tentara Wora-Wari yang sepertinya sudah kerasukan setan, bak air bah tanpa hambatan menendang menerjang apa dan siapa saja yang berada dihadapannya, tidak peduli laki-laki, perempuan atau kanak-kanak, tidak peduli Raja, pendeta, prajurit ataupun tamu, semuanya dibabat habis dibinasakannya. Suasana carut marut kacau demikian tak ubahnya seperti pralaya atau kiamat.

Dan memang ternyata hampir semuanya tidak tersisa, harta benda dan nyawa, semuanya melayang oleh badai serangan bala tentara Kerajaan Wora-Wari sekutu Sriwijaya ditanah Jawa, termasuk Raja, seluruh keluarga dan Gunapriya Dharmapadni atau Mahendradata ibunda Erlangga gugur bersama mereka. Hanya mempelai berdua bersama seorang teman setia Narotama yang mayatnya tidak ada diantara mayat-mayat lain yang berserakan, karena mereka bertiga sempat meloloskan diri dan lari ke arah barat.

III.KERAJAAN WENGKER

Telah kami tulis pada edisi-edisi terdahulu dalam episode �Misteri Situs Selopuro dan Wengker�, bahwa serangan dari Kerajaan Wora-Wari yang disertai pembumihangusan terhadap bangunan-bangunan Kraton, tidak dilanjutkan dengan penguasaan wilayah, karena begitu selesai melakukan penyerangan dan pembumi hangusan, bala tentara ini langsung di tarik kembali ke Jawa Tengah, sehingga dengan gugurnya Sri Dharmawangsa dan hampir semua keluarganya membuat vacum tampuk kekuasaan Kerajaan Medang.

Satu-satunya yang masih bisa diharapkan adalah Erlangga bersama isterinya, namun pengantin baru yang sempat lari pada malam pralaya tersebut tidak pernah ada kabar berita tentang keberadaannya. Suasana Medang mengambang dengan ketiadaan penguasa tersebut berlangsung hingga beberapa tahun kemudian.

Merasa tidak ada lagi yang mengikat, kesempatan seperti itu sangat menguntungkan bagi kerajaan-kerajaan vasal yang ingin melepaskan diri, memperkuat kedaulatan sendiri tanpa menggantungkan ikatan dan dominasi kemaharajaan Medang yang sudah jelas telah hancur lebur, termasuk dalam hal ini adalah Kerajaan Wengker di Lereng Gunung Wilis yang segera tanggap terhadap situasi yang ada.

Kerajaan Wengker menjadi semakin kuat besar dan makmur, karena pandai memanfaatakn semua peluang yang ada dengan mengkoordinir kerajaan-kerajaan vasal lainnya yang ragu-ragu dan lemah. Dan karena keberhasilannya mengkoordinir kerajaan-kerajaan vasal lainnya, telah membuat Raja Wengker berkeinginan untuk menjadi seorang Maharaja dengan wilayah yang semakin luas.

Kedigdayaan Kerajaan Wengker inilah nantinya yang akan menjadi penghalang tersendiri bagi usaha-usaha Erlangga menghimpun puing-puing bekas Kerajaan Sang mertuanya, dan kedigdayaan Raja Wengker nantinya yang mengilhami lahirnya Kitab Arjunawiwaha karangan mPu Kanwa.

IV.MASA ERLANGGA

A.KISAH PERJALANAN

Lolos dari lobang jarum, Erlangga, isteri dan Narotama meneruskan perjalanan ke arah Gunung Wilis, konon menurut isteri yang juga saudara sepupunya itu, bahwa di Gunung Wilis ada beberapa Mandala dan Padepokan yang para Rsi dan Siswanya sebagian besar berasal dari keluarga istana, dan samar-samar mereka juga pernah mendengar yang salah satunya berada di Makutho, namun ke arah mana yang harus dilalui, mereka juga tidak mengetahuinya.

Itulah barangkali kisah perjalanan dan pengalaman mereka yang paling menyedihkan, bulan madu ke Pulau Bali yang telah direncanakannya gagal tersaput pralaya, ternyata bulan madu mereka jalani dalam pelarian yang tidak tentu arah, lapar haus, lelah cemas ketakutan dan harapan yang selalu silih berganti adalah hal yang mesti dihadapi setiap hari, kehujanan, kepanasan, naik turun gunung sudah biasa dilalui, dan seakan sudah menyatu dengan nada nafas mereka.

Merasa yakin bahwa yang dituju benar, mereka memasuki sebuah pintu Padepokan, mereka mengutarakan niatnya untuk menimba ilmu meskipun sebenarnya di dalam hati mereka sekaligus perlindungan. Namun setelah beberapa hari telah dilaluinya, harapan itu sirna karena ternyata Padepokan itu tidak cocok bagi Erlangga, ada suatu kedustaan dan kenistaan yang dilakukan oleh para Guru, ada sesuatu yang berlawanan antara ajaran dengan kenyataan yang ada di Padepokan.

Tidak cocok dengan Padepokan pertama, mereka berguru pada Padepokan yang lain yang kondisi bangunannya lebih mewah daripada Padepokan pertama. Kali inipun tidak ada ubahnya seperti Padepokan pertama, bahkan terkesan lebih urakan, untuk kedua kalinya mereka harus pergi daripada terlanjur larut dalam keberangasan dan kenistaan.

Menghadapi pengalaman dari dua Padepokan yang tutup luarnya sama yaitu kesucian, namun didalamnya tidak pantas disebut sebagai tempat kegiatan belajar mengajar tentang pekerti luhur dan keutamaan mendapatkan kesucian, membuat Erlangga hampir putus asa, hampir patah semangat. Kalau demikian kenyataan yang ada, tidak mungkin dia akan memperoleh ilmu dan dukungan untuk mengembalikan pamor Kerajaan Medang, tidak mungkin dia akan mendapatkan dukungan mengembalikan kedaulatan Medang, tidak mungkin dia akan dapat membangun kembali Kerajaan yang sudah menjadi puing-puing, atau apakah memang begitu takdir yang telah digariskan oleh Dewata Agung?, apakah sebagai anak muda dia harus menyerah pada kenyataan ?

Perjalanan panjang yang penuh penderitaan, mengharuskan mereka menjalani topo broto amesu rogo, hingga mereka merasa lebih dekat dengan Dewata Agung, senantiasa memohon agar penderitaan bertubi-tubi yang mereka alami segera berakhir.

Mereka menyadari betapa kecilnya manusia yang ternyata tidak dapat berbuat apa-apa bila dibandingkan dengan kekuasaan-Nya yang tanpa batas. Barangkali lakon yang mereka alami adalah sebuah ujian dari-Nya untuk menemukan kebahagiaan kelak, apabila memang demikian pada akhirnya nanti, justru mereka merasa ditakdirkan sebagai manusia yang sangat beruntung, karena telah diberi sarat pengalaman, dan kebahagiaan akan lahir belakangan, dan bukannya sebaliknya, karena penderitaan telah mereka alami sebelumnya.

Penderitaan yang mereka alami dianggap sebagai lelaku broto, melahirkan ketajaman batin, hanya mampu berserah diri, seakan ada yang membimbing, hingga pada akhirnya, ayunan langkah kaki mereka telah sampai pada sebuah Padepokan yang cukup bersih dan tertata rapi, dimana air gemericik mengalir tiada henti menghiasi kolam alami yang dingin sejuk dan indah pada taman yang semerbak mewangi oleh bunga-bungan mekar berseri.

Sejenak ketenangan dan kesejukan alami merasuk dihati mereka masing-masing, melupakan kelelahan dan kepedihan dari perjalanan panjang mereka yang tidak menentu arah dan tujuan, kecuali hanya menghindar dari malapetaka dan kejaran yang dilakukan oleh musuh yang telah menghabisi keluarga mereka.

Tegur sapa telah mengusir kekakuan antara tuan rumah dengan tamunya. Tuan rumah yang ramah dan santun telah memperkenalkan diri bahwa dia adalah mPu Kanwa Wiku dan Pujangga, dan juga sudah kenal dengan Prabu Dharmawangsa.

Oleh Sang Wiku, Erlangga dan rombongan dipersilahkan tinggal di Padepokan (mandala), sambil menunggu situasi betul-betul aman dari kemungkinan kejaran tentara Wora-Wari. Kesempatan demikian dimanfaatkan oleh Erlangga membaca buku-buku perpustakaan mPu Kanwa yang cukup banyak. Dari beberapa buku (baca rontal), ternyata sebagian adalah karya Sang Wiku sendiri, bahkan beberapa diantaranya pernah dilihat oleh Erlangga di perpustakaan Medang.

B.ASTO BROTO

Tertarik oleh karya-karya itu, Erlangga kemudian menyatakan niatnya berguru sekaligus meminta nasehat bagaimana menghadapi hidup seperti yang dialaminya ini, di usia muda telah kenyang dengan penderitaan pahit dan getir.

Dikit demi sedikit ilmu demi ilmu telah diajarkan kepada Erlangga yang cerdas, sopan dan berkepribadian, serta disenangi oleh sesama siswa mPu Kanwa. Nasehat yang diberikan, disesuaikan dengan kisah penderitaan Erlangga sendiri sebagai calon pemimpin, yaitu tentang bagaimana watak yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin apabila ingin dicintai oleh semua kawulo.

Hal itu dimaksudkan agar kelak apabila Erlangga telah menjadi seorang Raja, dapat berlaku adil dan bijaksana terhadap semua kawulo tanpa pilih kasih, kawulo merasa terlindungi oleh kekuasaannya, yang kehadirannya selalu diharapkan oleh semua orang.

Mpu Kanwa yang yakin benar bahwa Erlangga mempunyai wahyu keprabon, merasa perlu memberikan gemblengan serta bekal tersendiri agar pembentukan kepribadian lebih mengarah, semangat hidup dan semangat perjuangan yang hampir padam, dapat lebih berkobar namun terkendali, dan untuk itu pengendaliannya adalah melalui praktek yoga (prasasti Pucangan, 1041, de Casparis, 1958)

Seorang pemimpin bukanlah kawulo, namun seorang pemimpin hendaknya dapat merasakan apa yang dialami oleh kawulo, penuh tepo seliro, mengerti penderitaan dan susahnya serta serba keterbatasan rakyat kecil. Jangan pernah merasa pintar sendiri, mudah menyalahkan ketidak mampuan anak buah, sebab dengan mudah menyalahkan anak buah demikian, berarti dia tidak mampu menjadi pemimpin.

Terlebih bagi seorang pimpinan yang dapat menjadi pejabat karena pengangkatan, bisa saja terangkatnya karena faktor keberuntungan atau kedekatan dengan pimpinan yang lebih atas maupun faktor lainnya, seringkali kredibilitasnya menjadi bahan taruhan oleh banyak orang.

Pimpinan yang tidak dapat menjadi pemimpin, seringkali menjadi cemoohan. Pimpinan maupun pemimpin, dapat saja suatu saat menjadi kawulo, apabila keberuntungan tidak lagi berpihak kepadanya. Untuk itu haruslah selalu siap dan legowo apabila betul-betul terjadi perubahan seperti itu.

Lebih lanjut mPu Kanwa memberikan gambaran tentang sifat-sifat yang dimiliki oleh kelompok Dewa Lokapala sebagaimana ajaran Astobroto dalam Kekawin Ramayana yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin maupun calon pemimpin seperti diri Erlangga, yaitu :

Pertama sifat Baskoro (Matahari)

Seorang pemimpin harus dapat meniru sifat Matahari yang mampu memberikan penerangan kepada jagad raya beserta isinya, memberi kehidupan bagi seluruh makhluk yang ada di dunia. Pemimpin harus dapat memberi semangat dan motivasi kepada yang dipimpinnya, agar kawulo dapat memanfaatkan hidup ini semaksimal mungkin bagi hidup dan kehidupannya, agar bermanfaat bagi orang banyak.

Jangan mudah menyerah terhadap apa yang telah diterimanya, tapi berusahalah terus tanpa mengenal putus asa. Penderitaan dalam pengembaraan yang lalu, adalah cambuk semangat untuk meraih cita-cita. Hanya dengan semangat dan usaha, cita-cita untuk merebut kembali tahta Sang Mertua pasti akan tercapai.

Kedua Sifat Condro (Bulan)

Seorang pemimpin harus mampu meniru watak Condro yang dapat membuat suasana damai, yaitu harus mampu menciptakan suasana tertib, aman, nyaman dan sejuk, sehingga bawahan merasa terayomi tanpa merasa takut akan gangguan dan ancaman. Andaikan ada perasaan cemas dihati sang pemimpin, janganlah diperlihatkan kepada bawahan, bahkan pemimpin harus dapat memberikan motivasi bahwa tidak ada yang perlu dicemaskan dan dikhawatirkan. Tuhan pastimenolong hamba-Nya, apabila hamba itu memintanya dengan sungguh-sungguh.

Ketiga watak Kartiko (Bintang)

Setiap gerak langkah dan perbuatan pemimpin, harus dapat menjadi cermin contoh dan suri tauladan bagi pengikutnya. Segala perbuatan pemimpin haruslah dapat ditiru oleh kawulo. Sekali sang pemimpin berbuat menyimpang dari norma, untuk selamanya bawahan tidak akan pernah mau mengikuti dan mengakuinya lagi. Oleh sebab itu pikirkanlah terlebih dahulu sebelum berbuat, agar masyarakat tetap setia.

Keempat watak Bayu (Angin)

Bayu atau angin selalu ada dimana-mana walaupun didalam perut sekalipun. Bahkan untuk bernafas, semua makhluk memerlukannya.

Pemimpin harus dapat manjing ajur ajer (jw), harus dapat bergaul dengan siapapun juga, strata manapun, agar dapat menyelami peri kehidupan serta suasana pikir kawulo, mampu menciptakan rasa empaty yang tinggi, mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, karena sebetulnya orang lain itu sama dengan kita juga. Disamping itu lancarnya hubungan informal, akan melancarkan tugas-tugas formal.

Kelima Watak Dahono (Mendung)

Mendung yang selalu angkuh dan berwibawa, yang tidak akan minggir walaupun matahari meneriakinya.

Pemimpin harus mampu menjaga kewibawaannya. Untuk itu jangan mudah bicara asal bicara, setiap bicara yang dikeluarkannya haruslah bermakna (sabdo pandito Ratu), adil, seimbang, setiap informasi haruslah dikonfirmasi terlebih dahulu dari kedua fihak sebelum mengambil keputusan, kalau tidak, bawahan akan mengkerdilkan kepemimpinannya.

Keenam Watak Agni (Api)

Api akan melalap apa saja yang ada disekitarnya tanpa ampun dan kompromi, tapi api tidak akan membakar benda-benda tertentu yang karena sifatnya, tidak akan mudah terbakar.

Pemimpin harus tegas dan tanpa ragu-ragu dalam mengambil keputusan, jangan mangro tingal, jangan setengah-setengah, jujur dan adil, jauh dari KKN, tidak mudah menge;uarkan keputusan yang pada akhirnya akan ada koreksi karena kesalahan.

Pemimpin harus mau menghargai pendapat yang benar walaupun pendapat tersebut berseberangan dengan pendapat pemimpin.

Ketujuh watak Samodro (Lautan)

Samodro maha luas tidak terbatas, dengan volume yang tidak terukur, mampu menampung apa saja.

Agar menjadi pemimpin yang sempurna dan berpandangan luas, harus memiliki banyak pengalaman dan pengetahuan. Jangan pernah menganggap pengalaman yang tidak menyenangkan akan tidak bermanfaat dikemudian hari. Pengalaman seburuk apapun, pasti akan berguna dikemudian hari, oleh karena itu pemimpin harus selalu menimba pengetahuan dimanapun dia berada. Pemimpin yang luas pengalamannya, akan menelorkan keputusan yang bijaksana.

Kedelapan watak Kuwera (Bumi)

Bumi adalah ibu Pertiwi yang penuh belas kasih, ikhlas berkorban menjadi tumpuan segala makhluk di persada ini.

Bumi diindentikkan dengan watak jujur, suci, ikhlas, murah hati, mau menerima saran dan pendapat, menghargai ide, menghargai siapapun yang berani mengemukakan pendapat, menghargai jasa orang lain walau sekecil apapun jasa yang diberikan oleh orang itu, mengorangkan orang, membimbing yang lemah dengan kasih. Dengan demikian, kawulo pasti akan mencintai sang pemimpin, mengasihi Sang pemimpin, dan mau berkorban demi Sang pemimpin dengan ikhlas.

C.MEMBANGUN DARI SISA

Dengan bimbingan mPu Kanwa dan dorongan semangat serta bantuan kekuatan dari para siswa Mandala, dimulailah membangun kembali dari sisa-sisa reruntuhan kedaulatan kerajaan Medang di tempat yang baru, karena menurut keyakinan bahwa lahan dan bahan dari bekas reruntuhan lama, diyakini kurang baik apabila dipergunakan kembali.

Ditempat baru dan istana baru, Erlangga memproklamasikan bahwa Kerajaan yang baru, tetap bersama Medang, dan dia mengangkat dirinya sebagai Raja penerus dinasti Isana, serta mengangkat Narotama sebagai Patih dan mPu Kanwa sebagai Penasehat Kerajaan merangkap sebagai Pujangga Kraton Medang.

Setelah pembenahan kedalam Kraton dirasa telah memenuhi apa yang diharapkan dan memadai, barulah dimulai langkah-langkah keluar dengan mengirim utusan kepada Kerajaan-kerajaan sekitar yang dahulu menjadi vasal Kerajaan Medang, untuk bergabung kembali dibawah panji-panji Medang, serta mengakui Kemaharajaan Erlangga sebagai penerus dinasti Isana. Kepada mereka yang membangkang, tidak ada jalan lain untuk kompromi, kecuali harus ditundukkan dengan kekuatan angkatan bersenjata.

Beberapa Raja langsung menyatakan kesediannya bergabung kembali sebagaimana sebelum ada serangan Wora-Wari, serta mengakui kedaulatan Erlangga sebagai Raja Medang yang baru, namun ada beberapa yang minta waktu berpikir beberapa saat, dan ada beberapa yang langsung menolak karena merasa Medang telah hancur, kerajaan vasal telah berdiri dan berdaulat sendiri, serta memandang kekuatan Erlangga belum seberapa, termasuk pada kategori terakhir adalah Kerajaan Wengker yang telah merasa cukup kuat menghadapi kekuatan Erlangga yang belum terkoordinir penuh.

Prasasti Pucangan (1041) dan prasasti Baru, mencatat peperangan yang dilakukan oleh Erlangga sebagai berikut :

-Tahun 1028 M, memerangi Raja Wengker � gagal

-Tahun 1029 M, memerangi Raja Wuratan � menang

-Tahun 1030 M, memerangi Raja Wengker � gagal

-Tahun 1931 M, memerangi anak Raja Wengker

-Tahun 1030 M, memerangi Raja Hasin

-Tahun 1032 M, memerangi Raja Wora-Wari

-Tahun 1035 M, memerangi Raja Wengker

Pada prasasti Terep (1032 M) ada indikasi bahwa Erlangga pernah mengalami kekalahan dalam suatu peperangannya, yang kemudian meninggalkan kratonnya yang berada di Wwatan Mas (Supratikno Raharjo, 2002 � Drs.Santoso, 1971).

Bukan pekerjaan yang mudah bagi Erlangga untuk membangun kembali kerajaan yang telah hancur berkeping-keping, cerai berai hangus tidak bersisa kecuali tinggal nama, tiada sanak saudara yang diharapkan dapat membantu, karena semuanya telah dibinasakan oleh Wora-Wari.

Sebuah perjuangan yang sangat berat luar biasa, semuanya harus dimulai dari nol, dari yang sama sekali tidak ada menjadi ada, segala sesuatu harus dipersiapkan sendiri tanpa ada dukungan, jaminan, harta benda, kekuatan dan kepercayaan dari siapapun, kecuali rasa percaya diri dan keyakinan luar biasa akan keberhasilan mewujudkan angan-angannya untuk membangun kembali Kerajaan Medang, membangkitkan kembali Medang, melestarikan wangsa Isana sampai kapanpun.

Suatu hal pokok yang menjadi modal awal memulai perjuangannya adalah ketekatan, dirinya sendiri, isterinya, Narotama, mPu Kanwa dan para brahmana semua murid mPu Kanwa, serta kesediaan sebagian raja-raja vasal untuk bergabung kembali dengan Medang baru.

Walaupun dnegan tertatih-tatih, tahap demi tahap namun dilandasi oleh semangat yang tinggi, akhirnya Erlangga berhasil menyusun struktur tata pemerintahan yang sederhana, dilengkapi dengan personil sementara. Semangat adalah modal pokok untuk maju, dan ternyata pengalaman telah membuktikan bahwa dengan modal semangat itu pulalah yang menjadikan Erlangga seorang Raja.

Setelah penataan struktur tata pemerintahan kedalam dirasa telah tertata sebagaimana yang diharapkan, pada tahun 1028 Masehi, mulailah Erlangga memerangi Kerajaan-kerajaan vasal yang tetap membandel, yang memaksa Erlangga harus menggunakan kekuatan bersenjata untuk menundukkanya.

Peperangan pertama ke Kerajaan Wengker mengalami kekalahan, bahkan gagal total karena tentara Erlangga belum berpengalaman menghadapi perang yang sebenarnya.

Kekalahan atas serangannya ke Wengker, tidak membuat Erlangga berkecul hati, ia kemudian mengalihkan sasarannya menyerang Raja Wuratan setahun kemudian, yaitu tahun 1029 Masehi, yang dengan mudah Wuratan dapat ditundukkan.

Dengan keberhasilannya menundukkan Raja Wuratan, berarti juga jumlah kekuatan tentaranya menjadi bertambah. Pada tahun 1030, Erlangga kembali menyerang Kerajaan Wengker untuk yang kedua kalinya, dan kali inipun masih mengalami kekalahan yang bahkan lebih besar daripada kekalahan yang terdahulu, karena lebih banyak prajuritnya yang gugur.

Kekalahannya yang kedua terhadap Wengker, tidak membuat Erlangga patah semangat, pada tahun itu pula perhatian diarahkan emmerangi Raja Hasin, dan pada tahun 1031 Masehi memerangi Anak Raja Wengker.

Pada tahun 1032 Masehi, sebagian tentaranya yang telah berpengalaman dalam beberapa kali peperangan, dikirin ke Jawa Tengah (Banyumas Selatan?) untuk menghajar musuh utamanya, yaitu Raja Wora-Wari yang pada 16 tahun sebelumnya telah menciptakan api neraka dalam peristiwa Pralaya Medang membara, dimana ibundanya dan kedua mertuanya mengalami ajal. Dan sejak penyerangannya ke Jawa Tengah, Wora-Wari tidak pernah lagi muncul ke permukaan sejarah.

Dua kali kekalahannya melawan Raja Wengker, membuat Erlangga semakin khawatir akan perkembangan kekuatan Raja Wengker yang semakin lama semakin membahayakan bagi Kerajaan Medang dimasa depan, karena sejak berdaulat sendiri, wilayah kekuasaan Wengker menjadi semakin luas, besar, kuat dan makmur, sehingga akan semakin sulit ditundukkan.

Diantara beberapa kali peperangannya, ternyata Kerajaan Wengker adalah yang paling tangguh. Peperangan yang dilakukan tahun 1028 Masehi, sama sekali tidak membuahkan hasil, karena banyak tentaranya yang gugur.

Serangan kedua tahun 1030 Masehi pun juga mengalami kegagalan. Barangkali kegagalan pada serangan kedua inilah yang diasumsikan penyebab Erlangga meninggalkan kratonnya yang berada di Wwatan Mas.

Pendapat tentang �kekalahan adalah kemenangan yang tertunda�, Erlangga kemudian mempelajari sisi kelemahan dirinya sendiri dan ketangguhan Wengker yang tidak mudah dikalahkannya, maka disusunlah strategi baru yang merupakan gabungan dari 3 cara yang diterapkan secara bersamaan dan saling dukung mendukung satu sama lain, yaitu : yudha, cyama dan dana (Drs.Santoso, 1971), atau taktik memecah belah, mengadu domba dan menguasai, membiayai oposisi untuk mendeskreditkan penguasa Wengker, dan penggunaan kekuatan bersenjata setelah terlebih dahulu berhasil menyelundupkan telik sandi untuk bekerja dikalangan musuh.

Dengan melakukan ketiga cara tersebut secara bersamaan, barulah pada peperangan terakhir tahun 1035 Masehi, Kerajaan Wengker dapat ditundukkan oleh Erlangga setelah mana Raja Wengker dapat dibunuh oleh prajuritnya sendiri, yang sebetulnya adalah tentara Erlangga yang diselundupkan dan menjadi prajurit kepercayaan Raja Wengker.

Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa perjuangan Erlangga untuk memulihkan keutuhan kembali wilayah Kerajaan Medang, tidaklah begitu mudah, namun memerlukan perjuangan yang panjang, penuh pengorbanan dan perlu waktu yang cukup lama, dan Kerajaan Wengker adalah target yang tersulit dan terlama untuk menundukkannya.

D.SILSILAH ERLANGGA

Prasasti Calcuta yang dibuat oleh Raja Erlangga tahun 1041 M bila dikonfirmasikan dengan sumber lain, rupanya kurang tegas menjelaskan silsilah yang sebenarnya kecuali garis keturunan dari ibunya saja, tanpa menyebutkan yang lain seperti siapa Dharmawangsa dan lain-lain.Uraian yang akan memberikan gambaran lebih jelas adalah sebagai berikut :

1.mPu Sindok atau Sri Isana Wikramadharmattunggadewa mempunyai 2 orang isteri yang pernah mencuat dalam prasasti, yaitu :

a.Rakryan Binihaji Rakryan Mangibit (Permaisuri)

b.Sri Parameswari Dyah Kbi (Anak Rakryan Bawang/Selir)

2.Dari perkawinannya dengan Rakryan Binihaji Rakryan Mangibit, mPu Sindok mempunyai seorang anak perempuan yang kemudian menggantikan kedudukannnya menjadi Raja Medang ke 2 dengan abhiseka nama Sri Isana Tunggawijaya, yang kemudian kawin dengan Sri Lokapala yang diketahui beragama Budha.

3.Perkawinan Isana Tunggawijaya dengan Lokapala melahirkan anak perempuan yang kemudian menjadi Raja Medang ke 3 dengan nama Makuthawangsa Wardhana.

4.Makuthawangsa Wardhana mempunyai 2 orang anak laki-laki dan perempuan, yaitu :

a.Dharmawangsa Teguh yang kemudian menjadi Raja Medang ke 4 menggantikan Makuthawangsa Wardhana

b.Mahendradata Gunapriya Dharmapadni (Ibu Erlangga)

5.Mahendradata dikawin oleh Dharma Udayana Marwadewa Raja Bali dinasti Marwadewa, dan hidup di Bali

6.Dari perkawinan Mahendradata dan Raja Udayana, melahirkan seorang anak yang diberi nama Erlangga.

Erlangga lahir di Bali pad atahun 1000 Masehi, yang pada usia 16 tahun diambil menantu oleh pamannya sendiri Raja Medang ke 4 Sri Dharmawangsa Teguh, yang pada pesta perkawinannya tahun 1016 Masehi, diserbu oleh bala tentara kerajaan Wora-Wari, menyebabkan semua keluarganya meninggal dunia termasuk kedua mertua dan ibunya sendiri, sedangkan Erlangga beserta isteri dan seorang teman setianya Narotama berhasil meloloskan diri.

E.ARJUNO WIWOHO

Syahdan, Bethoro Syakera diancam bahaya, karena ada seorang Raja Raksasa Newoto Kawoco sakti mandraguna tidak mempan oleh senjata apapun beristana di Gunung Mahameru Selatan, bermaksud akan menghancurkan ka Indran apabila permintaannya memperisteri bidadari Dewi Suprobo tidak dikabulkan oleh para Dewa. Meskipun sakti mondroguno, Newoto Kawoco ditakdirkan dapat dikalahkan oleh manusia yang lebih sakti.

Mendapat ancaman tersebut Bethoro Indro menitahkan mencari bantuan manusia yang lebih sakti daripada Newoto Kawoco. Kebetulan Sang Arjuno sedang bertapa dengan maksud untuk mendapatkan kesaktian agar menang dalam setiap kali peperangan, serta menjauhkan dari nafsu duniawi.

Menurut evaluasi para Dewa, bahwa bertapanya Arjuno telah hampir sempurna, dan sudah waktunya para Dewa mengabulkan permintaan Arjuno, namun terlebih dahulu harus diuji mental dan nafsunya, dengan cara menurunkan tujuh Bidadari yang cantik-cantik, dipimpin Tilutomo dan Suprobo untuk menggoda Sang Tapa.

Godaan para Bidadari tidak berhasil,dan Arjuno tetap pada posisi tapa. Hal demikian justru mengkhawatirkan Bethoro Indro, jangan-jangan karena keasyikannya bertapa Arjuno telah melupakan dunia. Kalau demikian halnya, bagaimana untuk menghentikan keangkaramurkaan Newoto Kawoco ?

Untuk membuktikan sendiri Bethoro Indro beralih rupa menjadi seorang Rsi tua yang bungkuk dan lemah, mendatangi Arjuno yang disamping kanan kirinya ada beberapa senjata.

Dalam dialognya, Resi menanyakan kepada Arjuno tentang maksud keberadaan senjata, yang menandakan bahwa Sang Tapa masih mempunyai nafsu membunuh, ingin berkuasa, ingin menang sendiri, hal demikian jelas sangat tidak cocok dengan kelayakan dunia pertapa. Alangkah lebih baiknya apabila maksud bertapanya diarahkan ke kebaikan, pekerti luhur, laku utomo. Bagaimana akan dapat minum air amrta, kalau yang diminum justru racun. Memanjakan panca indera berarti seseorang akan tertutup oleh hawa nafsu. Apabila manusia kalah oleh nafsu, dia aka diperbudak oleh nafsu untuk selamanya. Kalau yang dicari harta benda yang mendapatkannya tidak halal, sama halnya menghidupi anak isterinya dengan racun, dan yang akan terjadi adalah bahwa anak dan isterinya akan termakan oleh racun itu, atau akan menjadi manusia yang tidak sempurna hidupnya, karena tubuhnya telah keracunan, pertumbuhan daging tulang dan darahnya karena racun. Hal demikian jelas merupakan awal dari kesengsaraan yang dibuat sendiri.

Argumentasi Arjuno kepada Sang Resi bahwa keberadaan senjata tersebut adalah berkaitan dengan laku utomo dari darah ksatria, mempunya kewajiban mengharumkan keutamaan nama dan kerajaan. Dia belum pantas mati sebelum berbhakti kepada bangsa dan negara. Mati memang tujuan tiap manusia, namun selagi manusia itu hidup, harus diisi dengan amalan positif agar hidup ini tidak sia-sia.

Setelah ujian yang diberikan oleh Resi dipandang cukup, kemudian Resi beralih rupa pada ujud semula sebagai Bethoro Indro, dan memberikan anugerah berupa panah Pasyupati dan api yang menyatu dengan panah, lengkap dengan gendhewa dan mahkota yang tidak ada bandingannya, sebuah suf dan terompah yang dapat dipakai mengangkasa, serta bonus ajaran tentang ilmu perang.

Untuk mengetahui titik kelemahan (Pengapesan Jw) Prabu Newoto Kawoco, para Dewa mengirim Suprobo kepadanya, berpura-pura mau dijadikan isteri sesuai permintaannya. Dengan kelihaian rayuan Suprobo, Prabu Newoto Kawoco akhirnya mau menceritakan letak rahasia kesaktiannya di ujung lidahnya.

Menyadari bahwa telah terlanjur menceritakan rahasia kesaktiannya yang juga merupakan naas/pengapesannya kepada Suprobo, yang disinyalir atas pengaturan siasat para Dewa, Newoto Kawoco mengamuk, segera mengirim berpuluh-puluh ribu tentara Raksasa menggempur Kahyangan permukiman para dewa, yang disepanjang perjalanannya menimbulkan kerusakan hebat disana-sini.

Keangkaramurkaan Raja raksasa yang sakti mondroguno tersebut akhirnya dapat dihentikan, setelah Arjuno melepaskan jemparing Pasyupati yang tepat mengenai ujung lidahnya, menamatkan riwayat Newoto Kawoco, gugur ing madyaning palangan.

Kitab Arjuno Wiwoho dengan bentuk kekawin ke atas, ditulis oleh mPu Kanwa Maharsi, sekaligus penasehat spiritual dan penasehat perang Erlangga, juga merangkap pujangga istana. Mpu Kanwa terlibat langsung dalam setiap peperangan Erlangga.

Kitab tersebut sebenarnya adalah dokumentasi kisah nyata perjuangan Erlangga, yang dimulai dari wiwoho (pesta pernikahan) Erlangga dengan anak Dharmawangsa, yang ditengah-tengah pesta pernikahannya diserang oleh Kerajaan Wora-Wari tahun 1016 Masehi, hingga dia bersama isteri dan kawan setianya sempat meloloskan diri, terlunta-lunta hidup di hutan lereng Gunung Wilis, hingga pakaian yang dikenakannya habis tercabik-cabik oleh ranting hutan dan menggantinya dengan kulit kayu.

Selanjutnya Erlangga memasuki 2 perguruan (padepokan), yang ternyata keduanya tidak cocok dihatinya, kemudian dengan harapan yang hampir putus asa, memasuki suatu Mandala yang memberi harapan besar dan menggugah semangatnya kembali. Disitulah dia mendapatkan segala sesuatu yang sangat berguna kelak, yaitu ilmu kepemimpinan asto broto, belajar Agama dan praktek Yoga.

Dengan dukungan mPu Kanwa dan murid-muridnya, Erlangga mulai menyusun kembali Kerajaan Medang yang telah porak poranda, dan menaklukkan Kerajaan-kerajaan vasal yang dahulu berada dibawah kekuasaan Dharmawangsa Teguh. Namun untuk menaklukkan Wengker yang telah menjadi besar, bukanlah sesuatu yang mudah, karena memerlukan waktu selama 7 tahun dengan beberapa kali peperangan.

Penaklukkan Wengker, adalah setelah Erlangga berhasil menyelundupkan mata-matanya, yang oleh Raja Wengker di rekrut menjadi pengawal pribadi Raja, sehingga Erlangga dapat mengetahui secara detail titik kekuatan dan kelemahan Wengker. Pengawal inilah yang kemudian berhasil membunuh Raja Wengker dalam pelariannya ke Mbarat (Drs. Santoso, 1971).

Dengan mengambil tokoh-tokohnya dari dunia pewayangan (Mahabharata) yang dikemas sedemikian rupa, dengan memasukkan unsur-unsur filsafati tentang hidup dan kehidupan, kitab tersebut menjadi sangat menarik sampai sekarang. Menurut catatan Supomo, 1985, mPu Kanwa menggandakan kitab ini 30 buah.

Selain itu, kitab tersebut juga digubah kedalam sastra bentuk prosa dengan judul �Serat Wiwoho Jarwo� dan digelar dalam pewayangan ringgit purwo, dengan lakon :

1.Wahyu Makutho Romo

2.Begawan Mintorogo

3.Begawan Ciptoning/Ciptoening

4.dan lakon-lakon sempalan lainnya

F.TITISAN WISNU

Kesengsaraan hidup yang dengan terpaksa dijalaninya di hutan bersama isteri dan Narotama tanpa bisa berganti pakaian, sampai-sampai pakaian yang dikenakannya telah hancur tercabik oleh ranting-ranting kayu hutan yang dilewatinya, dan keadaan telah memaksa untuk menggantinya dengan kulit kayu (walkaladhara).

Perjalanan hidup yang telah dilakoni mulai dari hutan sampai ke kehidupan di asrama bersama para siswa beberapa tahun lamanya, memberi arti tersendiri bagi Erlangga, karena dari sesama siswa, dia memperoleh banyak gambaran tentang berbagai karakter manusia yang ternyata satu sama lain berbeda. Dari pergaulan bersama mereka, Erlangga langsung maupun tidak langsung telah mendapatkan pengalaman tentang seni memimpin sesama manusia, dan dari praktek yoga di asrama, Erlangga bisa tahu bagaimana mengenal diri sendiri dan bagaimana cara yang sebaik-baiknya memimpin diri sendiri (prasasti Pucangan, 1041 M).

Justru dengan banyaknya pahit getirnya pengalaman yang telah dilakoninya, dan tekunnya upaya memperoleh pengetahuan di asrama, membuat Erlangga menjadi seorang Maharaja yang mampu mengendalikan diri sendiri, selalu mawas diri, selalu mengutamakan kebutuhan rakyat banyak, hampir-hampir tidak pernah berfikir untuk kepentingan diri sendiri.

Semua kebutuhan rakyat Medang, adalah menjadi prioritas pemikirannya, terutama yang mengarah pada tujuan kesejahteraan secara adil dan merata. Beberapa waduk, bendungan dan prasarana pengairan bagi persawahan dan perikanan dibangun di beberapa tempat (prasasti Kamalagyan, 1037 M). Pembukaan persawahan baru sebagai awalan acara penetapan Sima yang dilakukan pada masa Sindok, masih diteruskan pada masa Erlangga, hingga beras sebagai komoditas utama berproduksi nelimpah ruah.

Untuk memperlancar perdagangan internasional dan interinsuler, dilakukan perluasan pelabuhan laut Kembang Putih di Tuban, dan perbaikan dermaga Sungai Brantas di Ujung Galuh Jombang.

Ramainya lalu lintas pelayaran nasional yang menyusuri Sungai Brantas, dapat diketahui antara lain dari prasasti Kamalagyan, 1037 M, yang menuliskan perasaan para nahkoda dan pedagang dari wilayah nusantara (para puhawang prabanyaga sangkaring dwipantara) yang bersuka ria karena perjalanan mereka melalui Sungai Brantas telah kembali lancar (de Casparis 1958, Supratikno Raharjo, 2002).

Tampaan pimpinan Mandala dan kehidupan keagamaan bersama para siswa di asrama, menjadikan Erlangga seorang Raja yang sangat menghormati semua agama di Medang, karena dia menyadari sepenuhnya bahwa semua agama bertujuan sama, yaitu kebaikan dan kesucian, baik untuk hubungan sesama manusia, dan suci dalam hubungannya dengan Hyang Moho Widhi Waseso. Dengan mempelajari agama dan Yoga, orang akan mampu menguasai hakekat hidup, mampu mengendalikan hawa nafsu dan selalu mensyukuri hidup sebagai suatu anugerah.

Untuk itu pada jamannya, kehidupan beragama dikembangkan, tri kerukunan hidup umat beragama yaitu kerukunan intern sesama agama, antar umat beragama dan antara umat beragama dengan pemerintah Kerajaan, benar-benar terpelihara dengan baik, bahkan sesekali dilakukan acara pujian kepada Budha, Siwa dan Rsi serta Brahma bersama-sama.

Untuk memelihara kehidupan beragama, beberapa bangunan keagamaan didirikan, tempat-tempat suci mendapatkan perhatian dari Kerajaan. Tokoh-tokoh agama Budha, Siwa dan Rsi ditempatkan pada kedudukan terhormat di istana (prasasti baru, 1030 M dan prasasti Pucangan, 1041 M).

Pada akhir masa pemerintahannya, Erlangga berupaya meneruskan estafet kepemimpinannya dengan menyerahkan jabatan kemaharajaan kepada putri mahkota Kilisuci. Namun Kilisuci tidak berminat menjadi Raja, bahkan lebih tertarik menjadi pertapa di Gua Selomangleng.

Atas penolakan putri mahkota tersebut, kemudian Erlangga membagi Kerajaan Medang menjadi 2, dengan garis perbatasan Sungai Brantas kepada 2 orang anak laki-lakinya yang lahir dari 2 orang selirnya,

a.Sebelah utara Brantas diberi nama Kerajaan Jenggolo, dengan ibukota Kahuripan, untuk putranya Garasakan.

b.Sebelah selatan Brantas diberi nama Kerajaan Penjalu atau Kediri, dengan ibukota di Dahapura, untuk putranya Samara Wijaya.

Setelah membagi dua kerajaan untuk kedua orang putranya dan dirasa telah memenuhi rasa keadilan, Erlangga mengundurkan diri, turun dari tahta Keprabon, memilih kembali pada kehidupan semula sebagai seorang pertapa, kembali pada kesucian, mendekat kepada Sang Moho Agung, hingga akhir hayatnya tahun 1049 Masehi, dan mendapat julukan Sang Prabu Apuspala Jatiningrat, Maharaja Erlanggyabhisekanira.

Erlangga adalah tokoh kharismatik yang sempurna sebagai seorang maharaja, karena mengawali perjuangannya seorang diri, tanpa bantuan dan fasilitas dari siapapun hingga Medang terbangun kembali, bahkan lebih gemilang daripada masa sebelumnya.

Oleh karena itu Erlangga dianggap sebagai pahlawan perang dan pelindung rakyatnya, Raja yang sangat memperhatikan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya, yang memfasilitasi pendidikan dan kesusasteraan, serta memelihara tri kerukunan hidup umat beragama, adil bijaksana, yang selalu dapat menempatkan diri dimanapun dia berada, seorang Raja yang memang ditakdirkan menjadi seorang pemimpin karena bakat, yang disempurnakan oleh gemblengan perjalanan hidupnya.

Karena kemampuannya yang luar biasa itu, kualitas kepemimpinannya dianggap setarap dengan kualitas kepemimpinan Dewa Wisnu, dan dianggap sebagai awatara (titisan) Wisnu, sehingga pada saat peringatan meninggalnya, dibangun sebuah patung Wisnu dalam posisi duduk, naik kendaraan Garuda Kedewataan, diapit dua arca isterinya, yaitu Dewi Sri dan Dewi Laksmi.

V.KEDATUAN (KEDATON)

Sulitnya melacak situs istana raja, menyebabkan sejarah itu sendiri menjadi misteri dan samar-samar, sehingga memunculkan beberapa teori yang mungkin bertentangan antara yang satu dengan lainnya. Dugaan sementara yang menyebabkan bangunan istana tersebut tidak meninggalkan bekas antara lain :

1.Teror bumi hangus bangunan Istana yang dilakukan oleh tentara Wora-Wari, menyebabkan hampir semua bangunan istana musnah terbakar dalam peristiwa pralaya 1016 M.

2.Letusan Gunung Kelud yang memuntahkan jutaan meter kubik material mengalir melalui kali Semut, kali Putih, kali Badak, kali Gedeg, kali Dermo, kali Sukorejo, kali Ngobo, dan kali Sarinjing masuk ke kali Brantas, menghancurkan semua bangunan di sepanjang aliran sungai, serta merobah arah aliran Brantas, termasuk merusak bangunan-bangunan monumental Kerajaan Medang.

3.Bahan bangunan Istana Raja berasal dari bahan material yang tidak tahan lama seperti kayu, bambu, daun dari pohon jenis palma sebagaimana yang tertulis dalam kronik Cina abad X bahwa istana Raja terbuat dari bahan kayu.

Meskipun bukti-bukti peninggalan tidak dapat menunjukkan lokasi yang tepat, namun dari beberapa prasasti baik yang terbuat dari batu, lempengan tembaga ataupun rontal dan lain sebagainya, kiranya paling tidak, dapat dipakai sebagai bahan perkiraan daerak letak istana Raja pada masa itu.

Beberapa pernyataan yang dapat dipakai sebagai bahan dugaan tersebut menurut de Casparis 1986/1987-Supratikno Raharjo, 2002 sebagai berikut :

(1). Sri maharaja makadatwan I tamwlang (prasasti Turyyan, 929 Masehi)

(2). Sri maharaja katalayah sangke wwatan mas mara I patakan (prasasti terep, 1032 Masehi)

(3). Makatewaka pandri sri maharaja makadatwan I kahuripan (Kamalagyan, 1037 M)

Selanjutnya pada tulisan lain disebutkan :

(1). Kadatwan ����. Sri maharaja I bhumi mataram (Turyyan, 929 M)

(2). Kadatwan����…i mdang I bhumi mataram (Anjuk Ladang, 937 M)

(3). I mdang I bhumi mataram I watu galuh (Paradah II, 943)

Dari beberapa pernyataan diatas, kesimpulan sementara yang patut dikemukakan adalah :

1.Bahwa pada tahun 929 Masehi, istana Raja Sindok dari Kerajaan Medang, bertempat di kota Tamwlang

2.Bahwa pada tahun 1037 Masehi, istana Raja Erlangga dari Kerajaan Medang berada di ikukota Kahuripan.

3.Prasasti Terep 1032 M menulis bahwa pada tahun 1032 sri maharaja terdesak (dalam suatu peperangan), hingga meninggalkan tempat Wwatan mas menuju Patakan, namun tidak menjelaskan posisi Wwatan mas sebagai kedaton atau hanya markas pertahanan.

4.Prasasti Paradah II dan Prasasti Bandar Alim, sama-sama mengatakan mataram I watu galuh, tanpa menyebut kedatuan

Praduga Penulis :

1.Nama Kerajaan mulai dari mPu Sindok sampai Erlangga, tetap bernama Kerajaan Medang.

2.Istana Raja pada awalnya berada di Trayang (Ngronggot). Trayang adalah pergeseran pengucapan dari Tamwlang � Turyyan � Trayang. Bandingkan dengan kata atuha menjadi � Ngantang, Rarae menjadi Pare, Kamalagyan menjadi Kemlagi. Barangkali wilayah Trayang dahulu meliputi daerah yang lebih luas, termasuk Klurahan dimana diketemukan beberapa peninggalan kuno.

3.Watu Galuh sebagaimana disebut dalam prasasti Paradah II tahun 943 M dan Prasasti Bandar Alim 985 M, merupakan salah satu pelabuhan yang sangat penting bagi lalu lintas sungai Brantas lama bagi perdagangan interinsuler, sehingga Raja merasa perlu suatu pengakuan sebagai wilayah Medang.

4.Wwatan Mas sebagaimana disebut pada prasasti Terep 1032 Masehi, ada yang mengasumsikan Bajulan sekarang, dapat saja diperkirakan sebagai Kedaton, namun menurut hemat penulis, lebih cenderung hanya sebagai markas pertahanan Erlangga dalam rangka mendekati lokasi sasaran untuk menyerang Kerajaan Wengker di Ngetos, yang kemudian ditinggal menyingkir ke Patakan karena terdesak kalah dalam suatu peperangan.

5.Kahuripan sebagaimana disebut dalam prasasti Kamalagyan, jelas merupakan kedaton Raja Erlangga yang dibangun setelah kraton Dharmawangsa Teguh di Trayang dibumi hanguskan oleh Raja Wora-Wari tahun 1016 Masehi.

Yang tersirat dalam prasasti Wurare, bahwa kota Kahuripan berada di sebelah utara Sungai Brantas lama, sehingga patut diduga bahwa kota Kahuripan dimaksud, sekarang menjadi Dusun Koripan Desa Kampungbaru Kecamatan Tanjunganom, yang letaknya tidak terlalu jauh dari kraton lama di Trayang Ngronggot, yang barangkali bekas lokasinya tertimbun oleh material letusan Gunung Kelut.

Sebagai salah satu gambaran tentang dahsyatnya letusan Gunung Kelut, dapat dipakai sebagai bandingan berikut :

a.Letusan tahun 1919, volume air yang dimuntahkan sebanyak 40 juta M3, material 323 juta M3, tanaman rusak 13.120 Ha, dan korban manusia 5.110 jiwa meninggal.

b.Letusan tanggal 31 Agustus 1951, volume air 1,8 juta M3, material 200 juta M3, dan tanaman rusak 7.000 Ha

c.Letusan tahun 1966, volume air 20,3 juta M3, material 90 juta M3, tanaman rusak 12.820 Ha, dan korban manusia 282 meninggal (Susilo Suharto, SH, 1973)

6.Prasasti Wurare menyebutkan bahwa menjelang Erlangga mengundurkan diri, telah memecah kerajaan menjadi 2 untuk ke dua orang anak laki-lakinya yang lahir dari 2 orang selirnya, karena Kilisuci putri mehkotanya menolak menjadi Raja Medang menggantikan ayahandanya Erlangga, dan memilih menjadi pertapa di Gua Selomangleng.

a.Kerajaan Panjalu atau Kadhiri beribu kota di Dhahanapura untuk putranya Samara Wijaya.

b.Jenggolo dengan ibukota di Kahuripan untuk putranya yang bernama Garasakan.

Sebagai batas wilayah dari kedua Kerajaan tersebut adalah Sungai Brantas yang pada saat itu alirannya tidak seperti sekarang. Sebelah selatan Sungai wilayah Panjalu atau Kadhiri, sedangkan sebelah utara Sungai wilayah Jenggolo.

Eksistensi Kahuripan semakin lama menjadi mengecil, karena sepeninggal Erlangga kedua Kerajaan tersebut selalu dilanda peperangan saudara sampai dengan Prabu Mapanji Joyobhoyo memerintah Kadhiri tahun 1135 � 1157 Masehi, dan para Raja-raja kemudian memilih domisili di Dhahanapura.

Peristiwa pembagian wilayuah Kerajaan oleh Erlangga, kemudian melahirkan mitos mPu Bharadah. Perang saudara antara Panjalu dengan Jenggolo menginspirasi lahirnya Kitab Bharoto Yudo, yang telah membawa korban salah satu pengarangnya yaitu mPu Sedah.

Kahuripan walaupun tidak sebesar jaman Erlangga, namun tetap eksis berperan dalam sejarah Kadhiri, Singosari maupun Mojopahit, seperti :

-Tribhuwonottunggodewi sebelum menjadi Raja Mojopahit, terlebih dahulu menjadi Rajamuda di Kahuripan, sedangkan patihnya Gajahmada.

-Hayam wuruk anak Tribhuwonottunggodewi, sebelum menjadi Maharaja Mojopahit, pernah menjadi raja muda di Jiwana. Jiwana adalah nama lain dari Kahuripan.

-Gajahmada pertama kali menjabat sebagai Patih adalah di Kerajaan vasal Kahuripan, kemudian dipindah menjadi Patih di Khadiri, dan terakhir Mahapatih Mojopahit.

Demikian tulisan ini semoga bermanfaat.

Ganungkidul, Mei 2005

DARI MEDANG KAMULAN KE ERA KEDIRI

Kerajaan pertama yang diasaskan di Jawa timur adalah Medang Kamulan, wilayahnya

meliputi Nganjuk, Kediri, Ploso ( Jombang-Lamongan ) , Surabaya, Pasuruan dan

Malang .

Kerajaan ini berlanjut menjadi Kediri ketika diperintah oleh Airlangga,yang

merupakan anak-menantu dari Raja-raja keturunan Medang  Kamulan ( Empu Sindok )

.

KERAJAAN MEDANG KAMULAN

Berdasarkan penemuan beberapa prasasti, dapat diketahui bahwa Kerajaan Medang

Kamulan terletak di Jawa Timur, yaitu di muara sungai Brantas.ibu kotanya

bernama Watan Mas ( diperkirakan di daerah Ploso—antara Jombang dan Lamongan ).

Kerajaan ini didirikan oleh Mpu Sindok, setelah ia memindahkan pusat

pemerintahannya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Namun, wilayah kekuasaan

Kerajaan Medang Kamulan pada masa pemerintahan Mpu Sindok mencakup daerah

Nganjuk disebelah barat, daerah Pasuruan di sebelah timur, daerah Surabaya di

sebelah utara, dan daerah Malang di sebelah selatan. Dalam perkembangan

selanjutnya, wilayah kekuasaan Kerajaan Medang Kamulan mencakup hampir seluruh

wilayah Jawa Timur.

1. Sumber Sejarah

Berita India mengatakan bahwa Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan persahabatan

dengan Kerajaan Chola. Hubungan ini bertujuan untuk membendung dan menghalangi

kemajuan Kerajaan Medang Kamulan pada masa pemerintahan Raja Dharmawangsa.

Berita Cina berasal dari catatan-catatan yang ditulis pada zaman

Dinasti Sung. Catatan-catatan Kerajaan Sung itu menyatakan bahwa antara

kerajaan yang berada di Jawa dan Kerajaan Sriwijaya sedang terjadi permusuhan

dan pertikaian, sehingga ketika Duta Sriwijaya pulang dari Negeri Cina (tahun

990 M), terpaksa harus tinggal dulu di Campa sampai peperangan itu reda. Pada

tahun 992 M, pasukan dari Jawa telah meninggalkan Sriwijaya dan pada saat itu

Kerajaan Medang Kamulan dapat memajukan pelayaran dan perdagangan.

2. Kehidupan Politik

Sejak berdiri dan berkembangnya Kerajaan Medang Kamulan, terdapat

beberapa raja yang diketahui memerintah kerajaan ini. Raja-raja tersebut adalah

sebagai berikut.

Raja Mpu Sindok

Raja Mpu Sindok memerintah Kerajaan Medang Kamulan dengan gelar Mpu

Sindok Isyanatunggadewa. Dari gelar Mpu Sindok itulah diambil nama Dinasti

Isyana. Raja Mpu Sindok masih termasuk keturunan dari raja Dinasti Sabjaya

(Mataram) di Jawa Tengah. Karena kondisi di Jawa Tengah tidak memungkinkan

bertahtanya Dinasti Sanjaya akibat desakan Kerajaan Sriwijaya, maka Mpu Sindok

memindahkan pusat pemerintahannya ke Jawa Timur. Bahkan dalam prasasti terakhir

Mpu Sindok (947 M) menyatakan bahwa Raja Mpu sindok adalah peletak dasar dari

Kerajaan Medang Kamulan di Jawa Timur.

Dharmawangsa

Raja Dharmawangsa dikenal sebagai salah seorang raja yang memiliki

pandangan politik yang tajam. Semua politiknya ditujukan untuk mengangkat

derajat kerajaan. Kebesaran Raja Dharmawangsa tampak jelas pada politik luar

negerinya.

Airlangga

Dalam Prasasti Calcuta disebutkan bahwa Raja Airlangga (Erlangga)

masih termasuk keturunan dari Raja Mpu Sindok dari pihak ibunya. Ibunya bernama

Mahendradata (Gunapria Dharmapatni) yang kawin dengan Raja Udayana dari Bali .

3. Kehidupan Ekonomi

Raja Mpu Sindok mendirikan ibu kota kerajaannya di tepi Sungai

Brantas, dengan tujuan menjadi pusat pelayaran dan perdagangan di daerah Jawa

Timur. Bahkan pada masa pemerintahan Dharmawangsa, aktifitas perdagangan bukan

saja di Jawa Timur, tetapi berkembang ke luar wilayah jawa Timur.

Di bawah pemerintahan Raja Dharmawangsa, Kerajaan Medang Kamulan

menjadi pusat aktifitas pelayaran perdagangan di indonesia Timur. Namun akibat

serangan dari Kerajaan Wurawari, segala perekonomian Kerajaan Medang Kamulan

mengalami kehancuran.

KERAJAAN KEDIRI

Kerajaan Kediri merupakan kelanjutan dari Kerajaan Wangsa Isyana (Kerajaan

Medang Kamulan). Pada akhir kekuasaan pemerintahan Raja Airlangga, wilayah

kerajaannya dibagi dua, untuk menghindari terjadinya perang saudara. Maka

muncullah Kerajaan Kediri dengan ibu kota Daha, diperintah Jayawarsa dan

Kerajaan Jenggala dengan ibu kotanya Kahuripan diperintah oleh Jayanegara.

Raja Jayawarsa

Masa pemerintahan Jayawarsa (1104 M) hanya dapat diketahui melalui

Prasasti Sirah Keting. Dari prasasti itu diketahui bahwa Raja Jayawarsa sangat

besar perhatiannya kepada rakyatnya dan berupaya meningkatkan kesejahteraan

hidup rakyatnya.

Raja Bameswara

Pada masa pemerintahannya, Raja Bameswara (1117-1130 M) banyak

meninggalkan prasasti-prasasti yang ditemukan di daerah Tulungagung dan

Kertosono.

Raja Jayabaya

Raja Jayabaya (1135-1157 M) merupakan raja terkemuka dari Kerjaan

Kediri, karena di bawah pemerintahannya Kerajaan Kediri mencapai masa

kejayaannya. Kemenangan Kerajaan Kediri dalam perluasan wilayahnya mengilhami

pujangga Empu Sedah dan Empu Panuluh untuk menulis Kitab Bharatayuda.

Raja Gandra

Masa pemerintahan Raja Gandra (1181 M) berhasil diketahui dari

Prasasti Jaring, yaitu tentang penggunaan nama hewan dalam kepangkatan seperti

nama Gajah, Kebo atau Tikus.

Raja Kameswara

Pada masa pemerintahan Raja Kameswara (1182-1185 M), seni sastra

mengalami perkembangannya yang sangat pesat. Diantaranya Empu Dharmaja

mengarang Kitab Smaradhana. Bahkan pada masa pemerintahannya juga dikenal

cerita-cerita panji seperti Panji Semirang.

Raja Kertajaya

Raja Kertajaya (1190-1222 M) merupakan raja terakhir dari Kerajaan Kediri. Raja

Kertajaya juga lebih dikenal dengan sebutan Dandang Gendis.

Selama pemerintahannya, keadaan Kediri menjadi tidak aman. Kestabilannya

kerajaan menurun. Hal ini disebabkan Raja Kertajaya mempunyai maksud mengurangi

hak-hak kaum Brahmana. Hal ini ditentang oleh kaum Brahmana. Kedudukan kaum

Brahmana di Kerajaan Kediri semakin tidak aman.

Kaum Brahmana banyak yang lari dan minta bantuan ke Tumapel yang saat itu

diperintah oleh Ken Arok. Raja Kertajaya yang mengetahui bahwa kaum Brahmana

banyak yang lari dan minta bantuan ke Tumapel, mempersiapkan pasukkannya untuk

menyerang Tumapel. Sementara itu, Ken Arok dengan dukungan kaum Brahmana

melakukan serang ke Kerajaan Kediri. Kedua pasukan itu bertemu di dekat Genter

(1222 M). Dalam pertempuran itu pasukan Kediri berhasil dihancurkan. Raja

Kertajaya berhasil meloloskan diri.

Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan kerajaan Kediri . Akhirnya kerajaan

Kediri menjadi daerah bawahan Kerajaan Tumapel. Selanjutnya berdirilah Kerajaan

Singasari dengan Ken Arok sebagai raja pertama.

Menelusuri Jejak Kerajaan Mataram Kuno di Jombang

Ada Keterkaitan dengan Nama Tembelang dan Watu Galuh

Bukti-bukti penguat eksistensi Jombang di masa lalu, kembali terungkap. Kali ini, dibeber Wiji Mulyo Maradianto, guru ekstrakurikuler Seni Tari di SDN Jombatan V. Dari hasil penelusurannya, wilayah Jombang merupakan pusat Kerajaan Mataram Kuno saat dipimpin Raja Mpu Sindok.

JALALUDDIN HAMBALI, Jombang

———–

ADA enam bukti yang berhasil dikumpulkan Wiji terkait jejak sejarah Kerajaan Mataram Kuno di Kota Santri. Bukti itu didasarkan pada penelusuran historis, arkeologis dan etnografis. Secara historis, nama Watu Galuh, desa di Kecamatan Diwek dan Kecamatan Tembelang, telah lama disebut-sebut peneliti dan sejarawan terkait dengan Kerajaan Mataram Kuno. Istilah Mataram Kuno atau dalam istilah lain disebut sebagai Kerajaan Medang saat pusat pemerintahannya dialihkan ke Jawa Timur.

Nama Watu Galuh berasal dari prasasti Anjukladang 859 S/937 M. Di dalam prasasti yang ditemukan di wilayah Nganjuk itu antara lain tertera aksara berbahasa Jawa Kuno: ”kita prasiddha manraksang kadatwan rangyangta i m ndang i bhumi mataram i watugaluh…”

Kalimat itu bermakna bahwa sejak masa pemerintahan Mpu Sindok, pusat kerajaan Mataram yang semula berada di Mdang, berpindah ke Watugaluh. Desa Watugaluh tersebut sampai sekarang terletak di delta sungai Brantas di Kabupaten Jombang. Bukti lain ada pada prasasti Turyan yang ditemukan di Turen, Malang.

Prasasti ini ditemukan di Dusun Watu Godeg, Desa Tanggung, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Prasasti ini masih berada di tempat pertama kali ditemukan. Menurut pembacaan yang dilakukan Damais, prasasti ini dikeluarkan oleh Sri Maharaja Rake Hino Dyah Sindok Sri Isawikrama Dharmotunggawijaya.

Prasasti dari batu berukuran 126×117 cm yang bertuliskan pada kedua sisinya, sebagian batunya pecah dan beberapa aksara sudah aus sehingga sukar dibaca. Prasasti ini berisi permohonan Dang Atu Pu Sahitya untuk mendapatkan sebidang tanah guna pembuatan bangunan suci.

Damais mengonversikan pertanggalan pada prasasti 24 Juli 929 Masehi. Pada bagian akhir prasasti itu disebutkan bahwa Raja Pu Sindok memulai ibukotanya di Tamwlang. Letak Tamwlang ini menurut para peneliti diduga sebagai Desa Tembelang, Kecamatan Tembelang, sekitar 5 km utara Kota Jombang.

Selain itu, secara topografis, Watu Galuh berada diantara Gunung Semeru dan Gunung Wilis. ”Dengan asumsi itu, menjadikan kerajaan ini kuat secara topografis,” kata Wiji.

Dalam penelitiannya, pria bernama udara Dian Sukarno ini juga mengaitkan temuan artefaktual. Yakni, struktur candi di Desa Pundong Kecamatan Diwek. Berdasar laporan ekskavasi yang disusun Kuswanto dkk, staf Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan Wilayah Kerja Provinsi Jawa Timur, struktur candi itu diduga merupakan peninggalan masa Raja Empu Sindok hingga khir masa Kerajaan Majapahit.

Di Watugaluh hingga kini juga masih terdapat sejumlah bukti artefak. Antara lain batu, lumpang kuno serta sumur kuno. ”Ada beberapa temuan yang bahkan dikubur lagi oleh warga karena ketidaktahuan akan pentingnya makna sejarah.”

Bukti lain adalah Prasasti Geweg 855 Saka. Prasasti ini terletak di Desa Tengaran, Kecamatan Peterongan. Prasasti ini masih berada di tempat pertama kali ditemukan. Kondisi prasasti ini sudah aus sehingga huruf-hurufnya relatif sulit dibaca. Tetapi dari huruf-huruf yang terpahat dan belum aus diketahui bahwa prasasti ini dikeluarkan oleh Rakyan Sri Mahamantri Pu Sindok Sri Sanottunggadewawijaya bersama Rakryan Sri Parameswari Sri Warddhani Pu Kbi tentang penetapan Desa Geweg sebagai sima. Menurut Damais, prasasti ini berpertanggalan 14 Agustus 933 Masehi.

Hal lain yang menguatkan tesis itu adalah adanya cerita rakyat atau folklore yang berhasil digali dari beberapa penutur. Dian menyatakan, hipotesis itu bukan merupakan hal baru dalam kajian masyarakat persejarahan di Indoesia. Namun, memiliki nilai aktualitas ketika dihadapkan pada realitas masyarakat Jombang masa kini yang membutuhkan penguatan identitas lokal.

Dia menyatakan, Kerajaan Medang adalah kerajaan yang berdiri di Jawa Tengah pada abad ke-8, kemudian pindah ke Jawa Timur pada abad ke-10. Kerajaan ini akhirnya runtuh pada awal abad ke-11.

Pada umumnya, istilah Kerajaan Medang hanya lazim dipakai untuk menyebut periode Jawa Timur. Berdasarkan prasasti-prasasti yang telah ditemukan, nama Medang sudah dikenal sejak periode sebelumnya. Yaitu periode Jawa Tengah.

Sementara itu, nama yang lazim dipakai untuk menyebut Kerajaan Medang periode Jawa Tengah adalah Kerajaan Mataram, yaitu merujuk kepada salah daerah ibu kota kerajaan ini. Kadang untuk membedakannya dengan Kerajaan Mataram Islam yang berdiri pada abad ke-16, Kerajaan Medang periode Jawa Tengah biasa pula disebut dengan nama Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram Hindu.

Dian menyebutkan, hasil penelitiannya itu pernah diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Obyek/Peristiwa Sejarah di Jatim 2008. Dari 46 peserta se Jatim, karya Dian mendapat apresiasi sebagai peraih Juara Harapan 1. Juara 1 diarih peserta dari Kota Mojokerto, Juara 2 dari Gresik, Juara 3 dari Kota Batu, Juara Harapan 2 dari Tulung Agung dan Juara Harapan 3 diraih peserta dari Lamongan.

Selain penelitian itu, Dian juga berhasil menggalang kepedulian warga di Desa Tengaran dan Desa Watu Galuh. Di dua desa tersebut terdapat sejumlah bukti artefak. Beberapa warga masyarakat Watu Galuh kini intens berdiskusi sebulan sekali tentang sejarah.

Bahkan, warga dua desa itu ada yagn tergerak untuk membentuk jaringan kerja budaya bagi penyadaran sejarah di Jombang. ”Pengungkapan sejarah dapat melahirkan sikap kearifan lokal untuk memperkuat jati diri di tengah gempuran budaya asing,” kata Wiji. (yr)

Airlangga

Posted: 7 September 2010 in DATA SEJARAH

Airlangga

Airlangga (Bali, 990 – Belahan, 1049) atau sering pula ditulis Erlangga, adalah pendiri Kerajaan Kahuripan, yang memerintah 1009-1042 dengan gelar abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa. Sebagai seorang raja, ia memerintahkan Mpu Kanwa untuk mengubah Kakawin Arjunawiwaha yang menggambarkan keberhasilannya dalam peperangan. Di akhir masa pemerintahannya, kerajaannya dibelah dua menjadi Kerajaan Kadiri dan Kerajaan Janggala bagi kedua putranya. Nama Airlangga sampai saat ini masih terkenal dalam berbagai cerita rakyat, dan sering diabadikan di berbagai tempat di Indonesia

Asal-usul

Nama Airlangga berarti “Air yang melompat“. Ia lahir tahun 990. Ayahnya bernama Udayana, raja Kerajaan Bedahulu dari Wangsa Warmadewa. Ibunya bernama Mahendradatta, seorang putri Wangsa Isyana dari Kerajaan Medang. Waktu itu Medang menjadi kerajaan yang cukup kuat, bahkan mengadakan penaklukan ke Bali, mendirikan koloni di Kalimantan Barat, serta mengadakan serangan ke Sriwijaya.

Airlangga memiliki dua orang adik, yaitu Marakata (menjadi raja Bali sepeninggal ayah mereka) dan Anak Wungsu (naik takhta sepeninggal Marakata). Dalam berbagai prasasti yang dikeluarkannya, Airlangga mengakui sebagai keturunan dari Mpu Sindok dari Wangsa Isyana dari kerajaan Medang Mataram di Jawa Tengah.

Masa pelarian

Airlangga menikah dengan putri pamannya yaitu Dharmawangsa Teguh (saudara Mahendradatta) di Watan, ibu kota Kerajaan Medang (sekarang sekitar Maospati, Magetan, Jawa Timur). Ketika pesta pernikahan sedang berlangsung, tiba-tiba kota Watan diserbu Raja Wurawari yang berasal dari Lwaram (sekarang desa Ngloram, Cepu, Blora)[1], yang merupakan sekutu Kerajaan Sriwijaya. Kejadian tersebut tercatat dalam prasasti Pucangan (atau Calcutta Stone). Pembacaan Kern atas prasasti tersebut, yang juga dikuatkan oleh de Casparis, menyebutkan bahwa penyerangan tersebut terjadi tahun 928 Saka, atau sekitar 1006/7.[2]

Dalam serangan itu, Dharmawangsa Teguh tewas, sedangkan Airlangga lolos ke hutan pegunungan (wanagiri) ditemani pembantunya yang bernama Mpu Narotama. Saat itu ia berusia 16 tahun, dan mulai menjalani hidup sebagai pertapa. Salah satu bukti petilasan Airlangga sewaktu dalam pelarian dapat dijumpai di Sendang Made, Kudu, Jombang, Jawa Timur.

Setelah tiga tahun hidup di hutan, Airlangga didatangi utusan rakyat yang memintanya supaya membangun kembali Kerajaan Medang. Mengingat kota Watan sudah hancur, Airlangga pun membangun ibu kota baru bernama Watan Mas di dekat Gunung Penanggungan.[3] Ketika Airlangga naik takhta tahun 1009 itu, wilayah kerajaannya hanya meliputi daerah Sidoarjo dan Pasuruan saja, karena sepeninggal Dharmawangsa Teguh, banyak daerah bawahan yang melepaskan diri.

Pada tahun 1023, Kerajaan Sriwijaya yang merupakan musuh besar Wangsa Isyana dikalahkan Rajendra Coladewa raja Colamandala dari India. Hal ini membuat Airlangga lebih leluasa mempersiapkan diri untuk menaklukkan pulau Jawa.

Masa peperangan

Sejak tahun 1025, Airlangga memperluas kekuasaan dan pengaruhnya seiring dengan melemahnya Sriwijaya. Mula-mula yang dilakukan Airlangga adalah menyusun kekuatan untuk menegakkan kembali kekuasaan Wangsa Isyana atas pulau Jawa. Namun awalnya tidak berjalan dengan baik, karena menurut prasasti Terep (1032), Watan Mas kemudian direbut musuh, sehingga Airlangga melarikan diri ke desa Patakan. Berdasarkan prasasti Kamalagyan (1037), ibu kota kerajaan sudah pindah ke Kahuripan (daerah Sidoarjo sekarang).

Airlangga pertama-tama mengalahkan Raja Hasin (dari?)[rujukan?]. Pada tahun 1030 Airlangga mengalahkan Wisnuprabhawa raja Wuratan, Wijayawarma raja Wengker, kemudian Panuda raja Lewa. Pada tahun 1031 putra Panuda mencoba membalas dendam namun dapat dikalahkan oleh Airlangga. Ibu kota Lewa dihancurkan pula. Pada tahun 1032 seorang raja wanita dari daerah Tulungagung sekarang berhasil mengalahkan Airlangga. Istana Watan Mas dihancurkannya. Airlangga terpaksa melarikan diri ke desa Patakan ditemani Mapanji Tumanggala, dan membangun ibu kota baru di Kahuripan. Raja wanita pada akhirnya dapat dikalahkannya. Dalam tahun 1032 itu pula Airlangga dan Mpu Narotama mengalahkan Raja Wurawari, membalaskan dendam Wangsa Isyana. Terakhir tahun 1035, Airlangga menumpas pemberontakan Wijayawarma raja Wengker yang pernah ditaklukannya dulu. Wijayawarma melarikan diri dari kota Tapa namun kemudian mati dibunuh rakyatnya sendiri.

Masa pembangunan

Kerajaan yang baru dengan pusatnya di Kahuripan, Sidoarjo ini, wilayahnya membentang dari Pasuruan di timur hingga Madiun di barat. Pantai utara Jawa, terutama Surabaya dan Tuban, menjadi pusat perdagangan yang penting untuk pertama kalinya. Airlangga naik tahta dengan gelar abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa. Airlangga juga memperluas wilayah kerajaan hingga ke Jawa Tengah, bahkan pengaruh kekuasaannya diakui sampai ke Bali. Menurut prasasti Pamwatan (1042), pusat kerajaan kemudian pindah ke Daha (daerah Kediri sekarang).

Setelah keadaan aman, Airlangga mulai mengadakan pembangunan-pembangunan demi kesejahteraan rakyatnya. Pembangunan yang dicatat dalam prasasti-prasasti peninggalannya antara lain.

  • Membangun Sri Wijaya Asrama tahun 1036.
  • Membangun bendungan Waringin Sapta tahun 1037 untuk mencegah banjir musiman.
  • Memperbaiki pelabuhan Hujung Galuh, yang letaknya di muara Kali Brantas, dekat Surabaya sekarang.
  • Membangun jalan-jalan yang menghubungkan daerah pesisir ke pusat kerajaan.
  • Meresmikan pertapaan Gunung Pucangan tahun 1041.
  • Memindahkan ibu kota dari Kahuripan ke Daha.

Ketika itu, Airlangga dikenal atas toleransi beragamanya, yaitu sebagai pelindung agama Hindu Syiwa dan Buddha.

Airlangga juga menaruh perhatian terhadap seni sastra. Tahun 1035 Mpu Kanwa menulis Arjuna Wiwaha yang diadaptasi dari epik Mahabharata. Kitab tersebut menceritakan perjuangan Arjuna mengalahkan Niwatakawaca, sebagai kiasan Airlangga mengalahkan Wurawari.

Pembelahan kerajaan

Pada tahun 1042 Airlangga turun takhta menjadi pendeta. Menurut Serat Calon Arang ia kemudian bergelar Resi Erlangga Jatiningrat, sedangkan menurut Babad Tanah Jawi ia bergelar Resi Gentayu. Namun yang paling dapat dipercaya adalah prasasti Gandhakuti (1042) yang menyebut gelar kependetaan Airlangga adalah Resi Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Bhuwana.

Berdasarkan cerita rakyat, putri mahkota Airlangga menolak menjadi raja dan memilih hidup sebagai pertapa bernama Dewi Kili Suci. Nama asli putri tersebut dalam prasasti Cane (1021) sampai prasasti Turun Hyang (1035) adalah Sanggramawijaya Tunggadewi. Menurut Serat Calon Arang, Airlangga kemudian bingung memilih pengganti karena kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. Mengingat dirinya juga putra raja Bali, maka ia pun berniat menempatkan salah satu putranya di pulau itu. Gurunya yang bernama Mpu Bharada berangkat ke Bali mengajukan niat tersebut namun mengalami kegagalan. Fakta sejarah menunjukkan Udayana digantikan putra keduanya yang bernama Marakata[rujukan?] sebagai raja Bali, dan Marakata kemudian digantikan adik yang lain yaitu Anak Wungsu.

Airlangga lalu membagi dua wilayah kerajaannya. Mpu Bharada ditugasi menetapkan perbatasan antara bagian barat dan timur. Peristiwa pembelahan ini tercatat dalam Serat Calon Arang, Nagarakretagama, dan prasasti Turun Hyang II. Maka terciptalah dua kerajaan baru. Kerajaan barat disebut Kadiri berpusat di kota baru, yaitu Daha, diperintah oleh Sri Samarawijaya. Sedangkan kerajaan timur disebut Janggala berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan, diperintah oleh Mapanji Garasakan.

Dalam prasasti Pamwatan, 20 November 1042, Airlangga masih bergelar Maharaja, sedangkan dalam prasasti Gandhakuti, 24 November 1042, ia sudah bergelar Resi Aji Paduka Mpungku. Dengan demikian, peristiwa pembelahan kerajaan diperkirakan terjadi di antara kedua tanggal tersebut.

Akhir hayat

Tidak diketahui dengan pasti kapan Airlangga meninggal. Prasasti Sumengka (1059) peninggalan Kerajaan Janggala hanya menyebutkan, Resi Aji Paduka Mpungku dimakamkan di tirtha atau pemandian. Kolam pemandian yang paling sesuai dengan berita prasasti Sumengka adalah Candi Belahan di lereng Gunung Penanggungan. Pada kolam tersebut ditemukan arca Wisnu disertai dua dewi. Berdasarkan prasasti Pucangan (1041) diketahui Airlangga adalah penganut Hindu Wisnu yang taat. Maka, ketiga patung tersebut dapat diperkirakan sebagai lambang Airlangga dengan dua istrinya, yaitu ibu Sri Samarawijaya dan ibu Mapanji Garasakan.

Pada Candi Belahan ditemukan angka tahun 1049. Tidak diketahui dengan pasti apakah tahun itu adalah tahun kematian Airlangga, ataukah tahun pembangunan candi pemandian tersebut.

Kahuripan, Daha atau Panjalu

Nama kerajaan yang didirikan Airlangga pada umumnya lazim disebut Kerajaan Kahuripan. Padahal sesungguhnya, Kahuripan hanyalah salah satu nama ibu kota kerajaan yang pernah dipimpin Airlangga. Berita ini sesuai dengan naskah Serat Calon Arang yang menyebut Airlangga sebagai raja Daha. Bahkan, Nagarakretagama juga menyebut Airlangga sebagai raja Panjalu yang berpusat di Daha.

Mahendradatta

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

Mahendradatta, juga dikenal di Bali dengan sebutan Gunapriya Dharmapatni, adalah puteri raja Sri Makutawangsawardhana dari Wangsa Isyana (Kerajaan Medang). Ia menikah dengan Udayana, raja Bali dari Wangsa Warmadewa, yang kemudian memiliki beberapa orang putra, yaitu Airlangga yang kemudian menjadi raja di Jawa, dan Anak Wungsu yang kemudian menjadi raja di Bali.

Mpu Narotama

Mpu Narotama adalah pembantu [[Airlangga],] yang setia menemani sejak masa pelarian sampai masa pemerintahan majikannya itu.

Peran Awal Narotama

Menurut prasasti Pucangan, Airlangga dan Narotama berasal dari Bali. Keduanya datang ke Jawa tahun 1006. Airlangga kemudian menikah dengan sepupunya, yaitu putri Dharmawangsa Teguh. Tiba-tiba pesta perkawinan diserang mendadak oleh Raja Wurawari dari Lwaram, sekutu Kerajaan Sriwijaya.

Dharmawangsa Teguh tewas dalam serangan itu. Airlangga dikawal Narotama berhasil meloloskan diri ke hutan pegunungan (wanagiri).

Jabatan Narotama

Pada tahun 1009 utusan rakyat meminta agar Airlangga membangun kembali kerajaan wangsa Isyana. Airlangga pun menjadi raja sedangkan Narotama menjabat sebagai rakryan kanuruhan. Berdasarkan prasasti-prasasti diketahui gelar lengkap Narotama adalah Rakryan Kanuruhan Mpu Dharmamurti Narottama Danasura. Nama ini masih ada sampai tahun 1041 (prasasti Pucangan).

Pada tahun 1032 Airlangga didampingi Rakryan Kanuruhan Mpu Narottama dan Rakryan Kuningan Mpu Niti berhasil membalaskan dendam wangsa Isyana dengan mengalahkan Raja Wurawari.

Sanggramawijaya Tunggadewi

Sanggramawijaya Tunggadewi adalah putri Airlangga yang menjadi pewaris takhta Kahuripan, namun memilih mengundurkan diri sebagai pertapa bergelar Dewi Kili Suci.

Jabatan Sanggramawijaya

Pada masa pemerintahan Airlangga, sejak kerajaan masih berpusat di Watan Mas sampai pindah ke Kahuripan, tokoh Sanggramawijaya menjabat sebagai rakryan mahamantri alias putri mahkota. Gelar lengkapnya ialah Rakryan Mahamantri i Hino Sanggramawijaya Dharmaprasada Uttunggadewi. Nama ini terdapat dalam prasasti Cane (1021) sampai prasasti Turun Hyang I (1035).

Pada prasasti Pucangan (1041) nama pejabat rakryan mahamantri sudah berganti Sri Samarawijaya. Saat itu pusat kerajaan sudah pindah ke Daha. Berdasarkan cerita rakyat, Sanggramawijaya mengundurkan diri menjadi pertapa di Gunung Pucangan bergelar Dewi Kili Suci.

Keistimewaan Kili Suci

Tokoh Dewi Kili Suci dalam Cerita Panji dikisahkan sebagai sosok agung yang sangat dihormati. Ia sering membantu kesulitan pasangan Panji Inu Kertapati dan Galuh Candrakirana, keponakannya.

Dewi Kili Suci juga dihubungkan dengan dongeng terciptanya Gunung Kelud. Dikisahkan semasa muda ia dilamar oleh seorang manusia berkepala kerbau bernama Mahesasura. Kili Suci bersedia menerima lamaran itu asalkan Mahesasura mampu membuatkannya sebuah sumur raksasa.

Sumur raksasa pun tercipta berkat kesaktian Mahesasura. Namun sayang, Mahesasura jatuh ke dalam sumur itu karena dijebak Kili Suci. Para prajurit Kadiri atas perintah Kili Suci menimbun sumur itu dengan batu-batuan, Timbunan batu begitu banyak sampai menggunung, dan terciptalah Gunung Kelud. Oleh sebab itu, apabila Gunung Kelud meletus, daerah Kediri selalu menjadi korban, sebagai wujud kemarahan arwah Mahesasura.

Dewi Kili Suci juga terdapat dalam Babad Tanah Jawi sebagai putri sulung Resi Gentayu raja Koripan. Kerajaan Koripan kemudian dibelah dua, menjadi Janggala dan Kadiri, yang masing-masing dipimpin oleh adik Kili Suci, yaitu Lembu Amiluhur dan Lembu Peteng.

Kisah ini mirip dengan fakta sejarah, yaitu setelah Airlangga turun takhta tahun 1042, wilayah kerajaan dibagi dua, menjadi Kadiri yang dipimpin Sri Samarawijaya, serta Janggala yang dipimpin Mapanji Garasakan.

Sri Samarawijaya

Sri Samarawijaya adalah raja pertama Kadiri yang memerintah sejak tahun 1042. Gelar lengkapnya ialah Sri Samarawijaya Dharmasuparnawahana Teguh Uttunggadewa.

Kedudukan Samarawijaya pada masa Airlangga

Pada masa pemerintahan Airlangga dan raja-raja sebelumnya, jabatan tertinggi sesudah raja adalah rakryan mahamantri. Jabatan ini identik dengan putra mahkota, sehingga pada umumnya dijabat oleh putra atau menantu raja.

Dari prasasti-prasasti yang dikeluarkan Airlangga sejak 1021 sampai 1035, yang menjabat sebagai rakryan mahamantri adalah Sanggramawijaya Tunggadewi. Sedangkan, pada prasasti Pucangan (1041) muncul nama baru, yaitu Samarawijaya sebagai rakryan mahamantri.

Sanggramawijaya Tunggadewi identik dengan putri sulung Airlangga dalam Serat Calon Arang yang mengundurkan diri menjadi pertapa bernama Dewi Kili Suci. Dalam kisah tersebut, Dewi Kili Suci diberitakan memiliki dua orang adik laki-laki.

Dengan demikian, Samarawijaya dipastikan adalah adik Sanggramawijaya Tunggadewi.

Perang Saudara melawan Janggala

Sebelum turun takhta tahun 1042, Airlangga dihadapkan pada masalah persaingan antara kedua putranya. Maka, ia pun membelah wilayah kerajaannya menjadi dua, yaitu Kadiri dan Janggala. Peristiwa ini diberitakan dalam Nagarakretagama dan Serat Calon Arang, serta diperkuat oleh prasasti Turun Hyang (1044).

Dalam prasasti Turun Hyang, diketahui nama raja Janggala setelah pembelahan ialah Mapanji Garasakan. Nama raja Kadiri tidak disebutkan dengan jelas, namun dapat diperkirakan dijabat oleh Samarawijaya, karena sebelumnya ia sudah menjabat sebagai putra mahkota.

Prasasti Turun Hyang tersebut merupakan piagam pengesahan anugerah Mapanji Garasakan tahun 1044 terhadap penduduk desa Turun Hyang yang setia membantu Janggala melawan Kadiri. Jadi, pembelahan kerajaan yang dilakukan oleh Airlangga terkesan sia-sia belaka, karena kedua putranya, yaitu Samarawijaya dan Mapanji Garasakan tetap saja berebut kekuasaan.

Adanya unsur Teguh dalam gelar Samarawijaya, menunjukkan kalau ia adalah putra Airlangga yang dilahirkan dari putri Dharmawangsa Teguh. Sedangkan Mapanji Garasakan adalah putra dari istri kedua. Dugaan bahwa Airlangga memiliki dua orang istri didasarkan pada penemuan dua patung wanita pada Candi Belahan di lereng Gunung Penanggungan, yang diyakini sebagai situs pemakaman Airlangga.

Akhir Pemerintahan Samarawijaya

Pemerintahan Samarawijaya di Kadiri dikenal sebagai masa kegelapan karena ia tidak meninggalkan bukti prasasti. Ia naik takhta dipastikan tahun 1042, karena pada tahun itu Airlangga turun takhta menjadi pendeta (berdasarkan berita dari prasasti Pamwatan dan prasasti Gandhakuti).

Akhir pemerintahan Samarawijaya tidak diketahui dengan pasti. Prasasti yang menyebutkan nama raja Kadiri selanjutnya adalah prasasti Sirah Keting tahun 1104, yang dikeluarkan oleh Sri Jayawarsa. Tidak jelas apakah Sri Jayawarsa adalah pengganti langsung dari Sri Samarawijaya, ataukah ada raja lain yang berada di antara keduanya.

`Mapanji Garasakan

Sri Maharaja Mapanji Garasakan adalah raja pertama Kerajaan Janggala yang memerintah tahun 1042-1052.

Pembelahan Kerajaan oleh Airlangga

Menurut Serat Calon Arang, pada akhir pemerintahannya, Airlangga dihadapkan pada persaingan perebutan takhta antara kedua putranya. Wilayah kerajaan terpaksa dibelah menjadi dua. Bagian barat disebut Kerajaan Kadiri, sedangkan bagian timur disebut Kerajaan Janggala. Peristiwa ini terjadi pada akhir November 1042 (prasasti Pamwatan dan prasasti Gandhakuti).

Berdasarkan prasasti Turun Hyang II (1044) diketahui raja pertama Janggala bernama Mapanji Garasakan.

Perang Saudara

Pembelahan kerajaan sepeninggal Airlangga tidak membuahkan hasil. Perang saudara tetap terjadi antara Garasakan raja Janggala melawan Sri Samarawijaya raja Kadiri. Mula-mula kemenangan berada di pihak Janggala. Pada tahun 1044 Garasakan menetapkan desa Turun Hyang sebagai sima swatantra atau perdikan, karena para pemuka desa tersebut setia membantu Janggala melawan Kadiri.

Pada tahun 1052 Garasakan memberi anugerah untuk desa Malenga karena membantu Janggala mengalahkan Aji Linggajaya raja Tanjung. Linggajaya ini merupakan raja bawahan Kadiri. Piagam yang berkenaan dengan peristiwa tersebut terkenal dengan nama prasasti Malenga.

Kematian Garasakan

Prasasti selanjutnya bernama prasasti Banjaran (1052) yang mengisahkan tentang putra mahkota Janggala bernama Alanjung Ahyes yang melarikan diri ke hutan Marsma, karena ibu kota Janggala, yaitu Kahuripan diserang musuh. Alanjung Ahyes kemudian berhasil merebut kembali takhta Janggala berkat bantuan para pemuka desa Banjaran.

Dari berita tersebut dapat diperkirakan bahwa Garasakan tewas tahun 1052 akibat serangan musuh tersebut. Dan, musuh Janggala yang paling kuat saat itu tentu saja Kerajaan Kadiri. Namun tidak diketahui dengan pasti apakah raja Kadiri saat itu masih Sri Samarawijaya atau bukan.

KakawinMpu Bharada

Mpu Bharada atau Arya Bharada adalah pendeta sakti agama Buddha yang menjadi guru Airlangga.

Kesaktian Mpu Bharada

Nama Mpu Bharada muncul dalam Serat Calon Arang sebagai tokoh yang berhasil mengalahkan musuh Airlangga, yaitu Calon Arang, seorang janda sakti dari desa Girah.

Dikisahkan pula, Airlangga berniat turun takhta menjadi pendeta. Ia kemudian berguru pada Mpu Bharada. Kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. Berhubung Airlangga juga putra sulung raja Bali, maka ia pun berniat menempatkan salah satu putrnya di pulau itu.

Mpu Bharada dikirim ke Bali menyampaikan maksud tersebut. Dalam perjalanan menyeberang laut, Mpu Bharada cukup dengan menumpang sehelai daun. Sesampainya di Bali permintaan Airlangga yang disampaikan Mpu Bharada ditolak oleh Mpu Kuturan, yang berniat mengangkat cucunya sebagai raja Bali.

Berdasarkan fakta sejarah, raja Bali saat itu (1042) adalah Anak Wungsu adik Airlangga sendiri.

Airlangga terpaksa membelah wilayah kerajaannya demi perdamaian kedua putranya. Menurut Nagarakretagama, Mpu Bharada bertugas menetapkan batas antara kedua belahan negara.

Dikisahkan, Mpu Bharada terbang sambil mengucurkan air kendi. Ketika sampai dekat desa Palungan, jubah Mpu Bharada tersangkut ranting pohon asam. Ia marah dan mengutuk pohon asam itu menjadi kerdil. Oleh sebab itu, penduduk sekitar menamakan daerah itu Kamal Pandak, yang artinya “asem pendek”.

Desa Kamal Pandak pada zaman Majapahit menjadi lokasi pendirian Prajnaparamitapuri, yaitu candi pendharmaan arwah Gayatri, istri Raden Wijaya.

Selesai menetapkan batas Kerajaan Kadiri dan Janggala berdasarkan cucuran air kendi, Mpu Bharada mengucapkan kutukan, barang siapa berani melanggar batas tersebut hidupnya akan mengalami kesialan. Menurut prasasti Mahaksobhya yang diterbitkan Kertanagara raja Singhasari tahun 1289, kutukan Mpu Bharada sudah tawar berkat usaha Wisnuwardhana menyatukan kedua wilayah tersebut.

Nagarakretagama juga menyebutkan, Mpu Bharada adalah pendeta Buddha yang mendapat anugerah tanah desa Lemah Citra atau Lemah Tulis. Berita ini cukup unik karena ia bisa menjadi guru spiritual Airlangga yang menganut agama Hindu Wisnu.

Arjunawiwāha

Kakawin Arjunawiwāha (aksara Bali: ; Jawa: ) adalah kakawin pertama yang berasal dari Jawa Timur. Karya sastra ini ditulis oleh mpu Kanwa pada masa pemerintahan prabu Airlangga, yang memerintah di Jawa Timur dari tahun 1019 sampai dengan 1042 Masehi. Sedangkan kakawin ini diperkirakan digubah sekitar tahun 1030.

Kakawin ini menceritakan sang Arjuna ketika ia bertapa di gunung Mahameru. Lalu ia dicobai oleh para Dewa, dengan dikiriminya tujuh bidadari. Bidadari ini disuruh menggodanya. Nama bidadari yang terkenal adalah Dewi Supraba dan Tilottama. Para bidadari tidak berhasil menggoda Arjuna, maka batara Indra datang sendiri menyamar menjadi seorang brahmana tua. Mereka berdiskusi soal agama dan Indra menyatakan jati dirinya dan pergi. Lalu setelah itu ada seekor babi yang datang mengamuk dan Arjuna memanahnya. Tetapi pada saat yang bersamaan ada seorang pemburu tua yang datang dan juga memanahnya. Ternyata pemburu ini adalah batara Siwa. Setelah itu Arjuna diberi tugas untuk membunuh Niwatakawaca, seorang raksasa yang mengganggu kahyangan. Arjuna berhasil dalam tugasnya dan diberi anugerah boleh mengawini tujuh bidadari ini.

Oleh para pakar ditengarai bahwa kakawin Arjunawiwaha berdasarkan Wanaparwa, kitab ketiga Mahābharata.

Niwātakawaca, seorang raksasa (daitya) mempersiapkan diri untuk menyerang dan menghancurkan kahyangan batara Indra. Karena raksasa itu tak dapat dikalahkan, baik oleh seorang dewa maupun oleh seorang raksasa, maka batara Indra memutuskan untuk meminta bantuan dari seorang manusia. Pilihan tidak sukar dan jatuh pada sang Arjuna yang sedang bertapa di gunung Indrakīla. Namun sebelum Arjuna diminta bantuannya, terlebih dahulu harus diuji ketabahannya dalam melakukan yoga, karena ini juga merupakan jaminan agar bantuannya benar-benar membawa hasil seperti yang diharapkan.

Maka tujuh orang bidadari yang kecantikannya sungguh menakjubkan dipanggil. Kedua bidadari yang terpenting bernama Suprabhā dan Tilottamā, mereka semua diperintahkan untuk mengunjungi Arjuna lalu mempergunakan kecantikan mereka untuk merayunya.

Maka berjalanlah para bidadari melalui keindahan alam di gunung Indrakīla menuju tempat bertapanya sang Arjuna. Mereka beristirahat di sebuah sungai lalu menghias diri dan membicarakan bagaimana cara terbaik untuk mencapai tujuan mereka.

Mereka sampai pada gua tempat Arjuna duduk, terserap oleh samadi, lalu memperlihatkan segala kecantikan mereka dan mempergunakan segala akal yang dapat mereka pikirkan guna menggodanya, tetapi sia-sia belaka. Dengan rasa kecewa mereka pulang ke kahyangan dan melapor kepada batara Indra. Namun bagi para dewa kegagalan mereka merupakan suatu sumber kegembiraan, karena dengan demikian terbuktilah kesaktian Arjuna.

Tertinggallah hanya satu hal yang masih disangsikan: apakah tujuan Arjuna dengan mengadakan yoga semata-mata untuk memperoleh kebahagiaan dan kekuasaan bagi dirinya sendiri, sehingga ia tidak menghiraukan keselamatan orang lain? Maka supaya dalam hal yang demikian penting itu dapat diperoleh kepastian, Indra sendiri yang menjenguk Arjuna dengan menyamar sebagai seorang resi tua yang telah pikun dan bungkuk. Sang resi tua ini berpura-pura batuk dan lalu disambut dengan penuh hormat oleh sang Arjuna yang sebentar menghentikan tapanya dan dalam diskusi falsafi yang menyusul terpaparlah suatu uraian mengenai kekuasaan dan kenikmatan dalam makna yang sejati. Dalam segala wujudnya, termasuk kebahagiaan di sorga, kekuasaan dan nikmat termasuk dunia semu dan ilusi; karena hanya bersifat sementara dan tidak mutlak, maka tetap jauh dari Yang Mutlak. Barangsiapa ingin mencapai kesempurnaan dan moksa, harus menerobos dunia wujud dan bayang-bayang yang menyesatkan, jangan sampai terbelenggu olehnya. Hal seperti ini dimengerti oleh Arjuna. Ia menegaskan, bahwa satu-satunya tujuannya dalam melakukan tapa brata ialah memenuhi kewajibannya selaku seorang ksatria serta membantu kakaknya Yudistira untuk merebut kembali kerajaannya demi kesejahteraan seluruh dunia. Indra merasa puas, mengungkapkan siapakah dia sebenarnya dan meramalkan, bahwa batara Siwa akan berkenan kepada Arjuna, lalu pulang. Arjuna meneruskan tapa-bratanya.

Dalam pada itu raja para raksasa telah mendengar berita apa yang terjadi di gunung Indrakila. Ia mengutus seorang raksasa lain yang bernama Mūka untuk membunuh Arjuna. Dalam wujud seekor babi hutan ia mengacaukan hutan-hutan di sekitarnya. Arjuna, terkejut oleh segala hiruk-pikuk, mengangkat senjatanya dan keluar dari guanya. Pada saat yang sama dewa Siwa, yang telah mendengar bagaimana Arjuna melakukan yoga dengan baik sekali tiba dalam wujud seorang pemburu dari salah satu suku terasing, yaitu suku Kirāṭa. Pada saat yang sama masing-masing melepaskan panah dan babi hutan tewas karena lukanya. Kedua anak panah ternyata menjadi satu. Terjadilah perselisihan antara Arjuna dan orang Kirāṭa itu, siapa yang telah membunuh binatang itu. Perselisihan memuncak menjadi perdebatan sengit. Panah-panah Siwa yang penuh sakti itu semuanya ditanggalkan kekuatannya dan akhirnya busurnya pun dihancurkan. Mereka lalu mulai berkelahi. Arjuna yang hampir kalah, memegang kaki lawannya, tetapi pada saat itu wujud si pemburu lenyap dan Siwa menampakkan diri.

Batara Siwa bersemayam selaku ardhanarīśwara ‘setengah pria, setengah wanita’ di atas bunga padma. Arjuna memujanya dengan suatu madah pujian dan yang mengungkapkan pengakuannya terhadap Siwa yang hadir dalam segala sesuatu. Siwa menghadiahkan kepada Arjuna sepucuk panah yang kesaktiannya tak dapat dipatahkan; namanya Pasupati. Sekaligus diberikan kepadanya pengetahuan gaib bagaimana mempergunakan panah itu. Sesudah itu Siwa lenyap.

Tengah Arjuna memperbincangkan, apakah sebaiknya ia kembali ke sanak saudaranya, datanglah dua apsara ‘makhluk setengah dewa setengah manusia’, membawa sepucuk surat dari Indra; ia minta agar Arjuna bersedia menghadap, membantu para dewa dalam rencana mereka untuk membunuh Niwatakawaca. Arjuna merasa ragu-ragu, karena ini berarti bahwa ia lebih lama lagi terpisah dari saudara-saudaranya, tetapi akhirnya ia setuju. Ia mengenakan sebuah kemeja ajaib bersama sepasang sandal yang dibawa oleh kedua apsara, dan lewat udara menemai mereka ke kahyangan batara Indra. Ia disambut dengan riang gembira dan para bidadari merasa tergila-gila. Indra menerangkan keadaan yang tidak begitu menguntungkan bagi para dewa akibat niat jahat Niwatakawaca. Raksasa itu hanya dapat ditewaskan oleh seorang manusia, tetapi terlebih dahulu mereka harus menemukan titik lemahnya. Sang bidadari Suprabha yang sudah lama diincar oleh raksasa itu, akan mengunjunginya dan akan berusaha untuk mengatahui rahasianya dengan ditemani oleh Arjuna. Arjuna menerima tugas itu dan mereka turun ke bumi. Suprabha pura-pura malu karena hubungan mereka nampak begitu akrab, akibat tugas yang dibebankan kepada mereka. Dalam kepolosannya Suprabha tidak menghiraukan kata-kata manis Arjuna dan berusaha membelokkan percakapan mereka ke hal-hal lain. Waktu sore hari mereka sampai ke tempat kediaman si raja raksasa; di sana tengah diadakan persiapan-persiapan perang melawan para dewata. Sang Suprabha, sambil membayangkan bagaimana ia akan diperlakukan oleh Niwatakawaca, merasa tidak berani melaksanakan apa yang ditugaskan kepadanya, tetapi ia diberi semangat oleh Arjuna. Ia pasti akan berhasil asal ia mempergunakan segala rayuan seperti yang diperlihatkan ketika Arjuna sedang bertapa di dalam gua, biarpun pada waktu itu tidak membuahkan hasil.Suprabha menuju sebuah sanggar mestika (balai kristal murni), di tengah-tengah halaman istana. Sementara itu Arjuna menyusul dari dekat. Namun Arjuna memiliki aji supaya ia tidak dapat dilihat orang. Itulah sebabnya mengapa para dayang-dayang yang sedang bercengkerama di bawah sinar bulan purnama, hanya melihat Suprabha. Beberapa dayang-dayang yang dulu diboyong ke mari dari istana Indra, mengenalinya dan menyambutnya dengan gembira sambil menanyakan bagaimana keadaan di kahyangan. Suprabha menceritakan, bagaimana ia meninggalkan kahyangan atas kemauannya sendiri, karena tahu bahwa itu akan dihancurkan; sebelum ia bersama dengan segala barang rampasan ditawan, ia menyeberang ke Niwatakawaca. Dua orang dayang-dayang menghadap raja dan membawa berita yang sudah sekian lama dirindukannya. Seketika ia bangun dan menuju ke taman sari. Niwatakawaca pun menimang dan memangku sang Suprabha. Suprabha menolak segala desakannya yang penuh nafsu birahi dan memohon agar sang raja bersabar sampai fajar menyingsing. Ia merayunya sambil memuji-muji kekuatan raja yang tak terkalahkan itu, lalu bertanya tapa macam apa yang mengakibatkan ia dianugerahi kesaktian yang luar biasa oleh Rudra. Niwatakawaca terjebak oleh bujukan Suprabha dan membeberkan rahasianya. Ujung lidahnya merupakan tempat kesaktiannya. Ketika Arjuna mendengar itu ia meninggalkan tempat persembunyiannya dan menghancurkan gapura istana. Niwatakawaca terkejut oleh kegaduhan yang dahsyat itu; Suprabha mempergunakan saat itu dan melarikan diri bersama Arjuna.

Meluaplah angkara murka sang raja yang menyadari bahwa ia telah tertipu; ia memerintahkan pasukan-pasukannya agar seketika berangkat dan berbaris melawan para dewa-dewa. Kahyangan diliputi suasana gembira karena Arjuna dan Suprabha telah pulang dengan selamat. Dalam suatu rapat umum oleh para dewa diperbincangkan taktik untuk memukul mundur si musuh, tetapi hanya Indra dan Arjuna yang mengetahui senjata apa telah mereka miliki karena ucapan Niwatakawaca yang kurang hati-hati. Bala tentara para dewa, apsara dan gandharwa menuju ke medan pertempuran di lereng selatan pegunungan Himalaya.

Menyusullah pertempuran sengit yang tidak menentu, sampai Niwatakawaca terjun ke medan laga dan mencerai-beraikan barisan para dewa yang dengan rasa malu terpaksa mundur. Arjuna yang bertempur di belakang barisan tentara yang sedang mundur, berusaha menarik perhatian Niwatakawaca. Pura-pura ia terhanyut oleh tentara yang lari terbirit-birit, tetapi busur telah disiapkannya. Ketika raja para raksasa mulai mengejarnya dan berteriak-teriak dengan amarahnya, Arjuna menarik busurnya, anak panah melesat masuk ke mulut sang raja dan menembus ujung lidahnya. Ia jatuh tersungkur dan mati. Para raksasa melarikan diri atau dibunuh, dan para dewa yang semula mengundurkan diri, kini kembali sebagai pemenang. Mereka yang tewas dihidupkan dengan air amrta dan semua pulang ke sorga. Di sana para istri menunggu kedatangan mereka dengan rasa was-was jangan-jangan suami mereka lebih suka kepada wanita-wanita yang ditawan, ketika mereka merampas harta para musuh. Inilah satu-satunya awan yang meredupkan kegembiraan mereka.

Kini Arjuna menerima penghargaan bagi bantuannya. Selama tujuh hari (menurut perhitungan di sorga, dan ini sama lama dengan tujuh bulan di bumi manusia) ia akan menikmati buah hasil dari kelakuannya yang penuh kejantanan itu: ia akan bersemayam bagaikan seorang raja di atas singgasana Indra. Setelah ia dinobatkan, menyusullah upacara pernikahan sampai tujuh kali dengan ketujuh bidadari. Satu per satu, dengan diantar oleh Menaka, mereka memasuki ruang mempelai. Yang pertama datang ialah Suprabha, sesudah perjalanan mereka yang penuh bahaya, dialah yang mempunyai hak pertama. Kemudian Tilottama lalu ke lima yang lain, satu per satu; nama mereka tidak disebut. Hari berganti hari dan Arjuna mulai menjadi gelisah. Ia rindu akan sanak saudaranya yang ditinggalkannya. Ia mengurung diri dalam sebuah balai di taman dan mencoba menyalurkan perasaannya lewat sebuah syair. Hal ini tidak luput dari perhatian Menaka dan Tilottama. Yang terakhir ini berdiri di balik sebatang pohon dan mendengar, bagaimana Arjuna menemui kesukaran dalam menggubah baris penutup bait kedua. Tilottama lalu menamatkannya dengan sebuah baris yang lucu. Maka setelah tujuh bulan itu sudah lewat, Arjuna berpamit kepada Indra; ia diantar kembali ke bumi oleh Matali dengan sebuah kereta sorgawi. Kakawin ini ditutup dengan keluh kesah para bidadari yang ditinggalkan di sorga dan sebuah kolofon mpu Kanwa.

Manggala

Kakawin Arjunawiwaha memiliki sebuah manggala. Berikut adalah manggala beserta terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Manggala Terjemahan
1. Ambek sang paramārthapaṇḍita huwus limpad sakèng śūnyatā, Batin sang tahu Hakikat Tertinggi telah mengatasi segalanya karena menghayati Kehampaan[1],
Tan sangkèng wiṣaya prayojñananira lwir sanggrahèng lokika, Bukanlah terdorong nafsu indria tujuannya, seolah-olah saja menyambut yang duniawi,
Siddhāning yaśawīrya donira sukhāning rāt kininkinira, Sempurnanya jasa dan kebajikan tujuannya. Kebahagiaan alam semesta diperihatinkannya.
santoṣâheletan kelir sira sakèng sang hyang Jagatkāraṇa. Damai bahagia, selagi tersekat layar pewayangan dia dari Sang Penjadi Dunia.
2. Us.n.is.angkwi lebûni pâdukanirâ sang hyang Jagatkâran.a Hiasan kepalaku merupakan debu pada alas kaki beliau Sang Hyang Penjadi Dunia
Manggeh manggalaning miket kawijayan sang Pârtha ring kahyangan Terdapatkan pada manggala dalam menggubahkan kemenangan sang Arjuna di kahyangan

Calon Arang

Calon Arang adalah seorang tokoh dalam cerita rakyat Jawa dan Bali dari abad ke-12. Tidak diketahui lagi siapa yang mengarang cerita ini. Salinan teks Latin yang sangat penting berada di Belanda, yaitu di Bijdragen Koninklijke Instituut.

Kisah

Diceritakan bahwa ia adalah seorang janda pengguna ilmu hitam yang sering merusak hasil panen para petani dan menyebabkan datangnya penyakit. Calon Arang mempunyai seorang puteri bernama Ratna Manggali, yang meskipun cantik, tidak dapat mendapatkan seorang suami karena orang-orang takut pada ibunya. Karena kesulitan yang dihadapi puterinya, Calon Arang marah dan ia pun berniat membalas dendam dengan menculik seorang gadis muda. Gadis tersebut ia bawa ke sebuah kuil untuk dikorbankan kepada Dewi Durga. Hari berikutnya, banjir besar melanda desa tersebut dan banyak orang meninggal dunia. Penyakit pun muncul.

Raja Airlangga yang mengetahui hal tersebut kemudian meminta bantuan penasehatnya, Empu Baradah untuk mengatasi masalah ini. Empu Baradah lalu mengirimkan seorang prajurit bernama Empu Bahula untuk dinikahkan kepada Ratna. Keduanya menikah besar-besaran dengan pesta yang berlangsung tujuh hari tujuh malam, dan keadaan pun kembali normal.

Calon Arang mempunyai sebuah buku yang berisi ilmu-ilmu sihir. Pada suatu hari, buku ini berhasil ditemukan oleh Bahula yang menyerahkannya kepada Empu Baradah. Saat Calon Arang mengetahui bahwa bukunya telah dicuri, ia menjadi marah dan memutuskan untuk melawan Empu Baradah. Tanpa bantuan Dewi Durga, Calon Arang pun kalah. Sejak ia dikalahkan, desa tersebut pun aman dari ancaman ilmu hitam Calon Arang.

Perkembangan kisah

Cerita ini dapat dibagi dalam beberapa babak:

Prolog

Pada mulanya suasana di wilayah Kerajaan Daha sangat tentram. Raja di Daha bernama Airlangga. Di sana hidup seorang janda, yang bernama Calon Arang, yang mempunyai anak yang cantik, yang bernama Ratna Manggali. Mereka berdua tinggal di desa Girah, di wilayah Kerajaan Daha.

Awal Permasalahan

Meskipun cantik, banyak pria di kerajaan tersebut yang tidak mau meminangnya. Ini disebabkan oleh ulah ibunya yang senang menenung. Hal ini menyebabkan kemarahan Calon Arang. Oleh sebab itulah dia membacakan mantra tulah, sehingga muncul mala-petaka dahsyat melanda desa Girah, dan pada akhirnya melanda Daha. Tulah tersebut menyebabkan banyak penduduk daerah tersebut sakit dan mati. Oleh karena tulah tersebut melanda Daha, maka Raja Airlangga marah dan berusaha melawan. Namun kekuatan Raja tidak dapat menandingi kesaktian Calon Arang, sehingga Raja memerintahkan Empu Baradah untuk melawan Calon Arang.

Siasat Empu Baradah

Untuk mengalahkan Calon Arang, Empu Baradah mengambil siasat. Dia memerintahkan muridnya, Bahula, untuk meminang Ratna Manggali. Setelah menjadi menantu Calon Arang, maka Bahula mendapatkan kemudahan untuk mengambil buku mantra Calon Arang dan diberikan kepada Empu Baradah.

Epilog

Setelah bukunya didapatkan oleh Bahula, Calon Arang pun ditaklukkan oleh Empu Baradah.

Analisis

Seringkali di dalam dunia cerita ini hanya disoroti tentang kekejaman dan kejahatan Calon Arang. Dia digambarkan sebagai nenek sihir yang mempunyai wajah yang seram. Namun dewasa ini muncul analisis-analisis yang lebih berpihak kepada Calon Arang. Dia adalah korban masyarakat patriarkal pada zamannya. Cerita Calon Arang merupakan sebuah gambaran sekaligus kritik terhadap diskriminasi kaum wanita.

GEGER DI PUNCAK MERAPI eps 5

Posted: 7 September 2010 in SERIAL PANJISAKA

5

pagi itu…

Mentari bersinar cerah.. seakan tertawa-tawa melihat embun-embun yang berlarian kesana kemari menghindari sinarnya, keceriaan sang mentari sepertinya juga merasuk pada hati seorang bocah yang sedang berlari –lari di halaman sebuah rumah bambu yang sudah tidak utuh lagi, terlihat bekas hangus terbakar di sana-sini.dirumah itu pulalah dulu Seorang yang Sakti tinggal,Ki Ageng Pameling Jati.

Sudah sepekan Ayu Dyah Lastriti, Nyai Sumi dan panji saka tinggal di sana, betapa kaget mereka waktu pertama kali tiba di tempat itu, tidak berbeda dengan padukuhan pakeman yang mereka tinggalkan ternyata padepokan ini pun telah dibakar pula, untung ketika mereka tiba api sudah padam bahkan bangunan utama yang berada di tengah-tengah bangunan lain masih bisa di gunakan, hanya beberapa bagian saja yang terbakar dan didalamnya masih terdapat bahan makanan yang mungkin tidak habis dimakan dalam waktu setengah tahun kedepan. Yang mengherankan di pojok halaman rumah itu ada sebuah makam yang masih basah, sepertinya baru saja ada orang yang datang  untuk menguburkan orang  yang meninggal. Tapi mereka sudah tidak memperdulikan kejanggalan – kejanggalan itu………

sekali lagi mohon maaf harus saya penggal disini, maklum masih menunggu penerbit baik hati mau menerbitkan tulisan saya

total serial Panjisaka ada dua judul GEGER DI PUNCAK MERAPI dan MENCARI KITAB KOSONG, sementara utk GEGER DI PUNCAK MERAPI ada 102 episode

GEGER DI PUNCAK MERAPI eps 4

Posted: 7 September 2010 in SERIAL PANJISAKA

4

Hari telah menginjak terang tanah ketika seluruh prajurit Bintoro meninggalkan padukuhan Pakeman, meninggalkan kepedihan bagi yang melihatnya, bangunan-bangunan terbakar, tangisan dan jeritan pilu terdengar menyayat hati , tangisan para istri yang meratapi kematian suaminya, sementara beberapa laki-laki yang selamat mulai mengumpulkan mayat-mayat rekan mereka yang telah mati. Termasuk ki Lurah Prajoto dan Ki Jagabaya Agung Garling orang-orang yang selama ini menjadi panutan mereka, menguburnya dalam satu liang besar di ujung desa, lalu mereka kembali kerumah masing-masing, menutup rapat-rapat pintu rumah. Yang tinggal hanya kesunyian, kepedihan bagi seluruh penduduk Padukuhan Pakeman.

Sementara tampak dua orang perempuan tengah berdiri terpaku di sebuah bukit kecil di belakang padukuhan, tampak jelas dari atas bukit itu segala yang melanda padukuhan pakeman,  rumah-rumah yang terbakar, termasuk rumah Ki Lurah Prajoto yang tadi malam masih menjadi tempat mereka berdua tinggal. Mereka berdua bisa selamat dari amukan orang-orang Bintoro karena pada saat  kematian ki Damir dan perginya Ki Demung dari halaman rumah Ki Lurah Prajoto, bergegas idtri Lurah Prajoto, nyi Sumi menarik tangan Ayu Dyah Lastriti yang sedang mengintip dari balik dinding dari kuit bamboo itu untuk meninggalkan rumah melalui pintu belakang, mereka berlari tanpa henti menuju sebuah bukit yang tak jauh dari padukuhan sembil menggendong Panji Saka yang terus menangis sepanjang jalan. Beruntung Nyai Sumi hafal jalan setapak menuju bukit itu, meski tertatih-tatih dan beberapa kali Ayu Dyah Lastriti terpeleset karena licinnya jalan karena hujan deras semalam. sesampai mereka di atas bukit itu, ketika matahari mulai memperlihatkan dirinya.

“ Apa yang harus kita lakukan sekarang den Ayu ? “ berkata Nyi Sumi dengan menggendong Panji Saka yang tengah tertidur  dipelukannya

“ Aku sudah tidak punya apa – apa lagi, semua sudah hilang, Aku tak ingin lagi kembali ke sana karena hanya perih yang akan aku dapat….Aku akan ikut denganmu Den ayu, mengabdi padamu..” lanjut Nyi sumi istri ki Lurah Prajoto

“ Sabar nyai, aku bisa merasakan pedih yang kamu rasakan… Aku juga pernah mengalaminya sepekan yang lalu ketika Pademangan Ngambat di serang oleh prajurit Bintoro…” sahut perempuan yang lebih muda yang ternyata adalah Ayu Dyah Lastriti istri Demang Ngambat Panji Sodra

“ Aku akan tetap memenuhi permintaan kakang sodra untuk mengantar anakku ke padepokan Ki Ageng Pameling Jati…Aku akan menunggu disana meski Ki Ageng tak ada, karena aku yakin suatu ketika beliau pasti pulang…”

“ Aku akan ikut den Ayu. jika demikian… mohon kiranya Den Ayu mau menerima pengabdianku ini..” sahut Nyai Sumi

“ Baiklah aku terima pengabdianmu nyai… namun perlu kamu ketahui bahwa aku sudah tidak punya apa – apa , aku ingin tetap bertahan hidup semata – mata hanya karena anak ini “ jawab Dyah Lastriti

“ yang paling penting sekarang adalah kita harus segera berangkat menuju padepokan Ki Ageng, sebelum orang – orang bintoro kesana “

“ baiklah den ayu mari kita berangkat ke sana, mudah – mudahan sebelum tengah malam nanti kita sudah sampai “ Sahut Nyai Sumi sambil beranjak dari tempatnya berdiri

GEGER DI PUNCAK MERAPI eps 3

Posted: 7 September 2010 in SERIAL PANJISAKA

3

Malam itu langit diselimuti mendung….

Padukuhan Pakeman seolah menjadi tempat yang sangat mengerikan,sunyi….

Binatang malam pun seolah engan untuk mengeluarkan suara… mereka seolah terhanyut akan suasana yang mencekam di padukuhan itu…

Didalam rumah Ki lurah… suasana tidak lebih baik dari di luar, Ki lurah, Ki damir , Ki demung dan juga penghuni lainnya seolah dicekam suasana tegang ..  tidak satupun yang bisa memejamkan matanya..

Ki Damir meningkatkan kewaspadaannya, suara daun jatuhpun bisa terdengar olehnya…di peganggya erat golok yang selalu menemani kemanapun dia pergi… Tiba-tiba terdengar suara ki Demung dari balik kamarnya..

“ Ki sanak yang diatas turunlah , kenapa mengendap-endap jika kamu bermaksud baik..”

Hebat orang tua ini, pikir Ki damir, aku sudah demikian waspadanya sampai suara daun jatuhpun aku bisa dengar, tapi kedatangan orang yang dikatakan Ki demung sama sekali aku tidak tahu, sulit diukur seberapa kesaktian Ki Demung juga tamu tak diundang itu. Pikir ki damir.

“ he..he..he.., masih awas juga kau tua bangka… kamulah yang seharus nya keluar.. jangan seperti tikus yang selalu sembunyi di leng..”

Ki damir bergegas bangkit dan menuju ke depan rumah di ikuti Ki Lurah Prajoto. Di halaman rumah ternyata sudah berdiri Ki Demung Ganjer  dengan memegang erat tongkat hitam yang selalu dibawanya, di sebelah depan tampak berdiri seorang perempuan separuh baya dan seorang laki-laki yang lebih muda usianya. Kedua-duanya berpakaian jubah hitam, si perempuan tampak selalu bergerak-gerak seperti penari, sedang mulutnya selalu komat-kamit seperti membaca mantra. Ditangannya terlihat sebuat cemeti. Sedangkan lelaki disampingnya berdiri tegak, yang lebih menyeramkan adalah raut muka laki-laki itu, semua berwarna merah, bahkan kedua bola matanyapun menyinarkan warna merah darah. Sekali melihat Ki damir tahu berhadapan dengan siapa, pernah dia mendengar dari para teliksandi kademangan ngambat  bahwa ada sepasang kekasih tua yang sedang menjelajahi dunia kanuragan dan menjadi buruan Majapahit karena selalu menteror dan membunuh setiap orang yang di jumpainya. Yang perempuan bernama Ni Luh Meruti yang berjuluk dewi maut sedang yang laki-laki adalah Kebo Abangan yang berjuluk tapak darah, mereka berdua ini termasuk tokoh tingkat tiga  dan termasuk dalam tokoh-tokoh golongan sesat musuh dari majapahit. Entah bagaimana mereka berani muncul lagi didunia kanuragan, mungkin karena sekarang majapahit telah runtuh sehingga mereka merasa aman untuk berkeliaran lagi.

“ Hem… ternyata kalian  Ni luh Meruti dan Kebo Abangan… apa maksud kedatanganmu malam-malam begini… “ ujar ki demung dingin.

“ he-he .. aki peot.. kamu selamanya memang orang desa yang dungu.. bisanya hanya jadi begundalnya si pameling jati…, padepokanmu sudah aku bakar lihatlah diatas sana … bukankah masih terlihat merah oleh api..he..he..he..” jawab Ni luh Meruti. Ki demung tampak kaget dan berusaha menguasai amarahnya.

“ apa yang kalian cari di padepokan kami…”

“ aku dan adi Kebo abangan ingin meminta hak kami pada pameling jati…”

“ apa maksukmu Nyi…?’

“ kamu orang tua jangan pura-pura tidak tahu… aku ingin meminta kitab Sasmita dan laksita yang menjadi hak kami…”

“ he..he..he.. semua orang di jagat ini tahu bahwa tidak ada hubungan kalian dengan kitab-kitab itu , bagaimana kalian dengan tidak malu mengatakan bahwa itu menjadi hak kalian..?

“ jangat banyak bacot kamu orang tua, sekarang jawab pertanyaanku.. dimana kedua kitab itu sekarang… pasti kamu tahu…?’

“ dengarlah kalian orang-orang sesat… sekalipun aku tahu tak nanti aku serahkan pada kalian…”

“baiklah jangan menyesal kalau kamu dan seluruh isi desa ini aku habiskan semua..”

belum lagi selesai kata-kata Ni luh Meruti, tib-tiba Kebo Abangan sudah melancarkan serangan mautnya, Tapak Darah… angin berbau amis mengiringi serangannya, Ki demung Bergegas menggeser kedua kakinya ke kiri dan menyabetkan tongkatnya kearah dada lawan, Kebo abangan seolah tidak peduli dengan serangan itu , dengan tangan kiri ditangkisnya tongkat Kidemung, terdengar suara benturan keras, adu tenaga keras lawan keras, kebo abangan terhuyung huyung tiga langkah kebelakang sementara Ki demung meloncat ke atas menghindarai  benturan tenaga, Namun begitu kakinya hampir menginjak tanah tiba-tiba dilihatnya cemeti Ni luh meruti mengincar kepalanya, dengan terpaksa dalam keadaan seperti itu tokat ditangan kanannya di sabetkan untuk menangkis, namun tak urung cemeti itu mengenai pundak kiri ki demung membuat ki demung terhuyung-huyng kebelakang.

“ Licik..” teriak Kidamir  yang langsung menyerang Ni Luh Meruti dengan goloknya, membabat tiga jalur sekaligus, Ni Luh Meruti bukanlah tokoh deretan tiga dalam dunia kanuragan bila tidak bisa menghindar dari serangan itu, dengan indahnya dia berjumpalitan menghidar serangan lawan.

“ hem bagus… siapa kamu ki sanak.. bagaimana kamu bisa memainkan golok sudra..?

apa yang diucapkan Ni luh membuat Ki damir sedikit terkejut, bagaimana mungkin musuh nya dalam sekali gerakan dapat mengetahui jurus yang di lakukannya.Jurus golok sudra adalah ciri khas jurus-jurus kademangan ngambat yang diciptakan untuk semua prajuritnya, Ki damir adalah salah satu orang yang cukup mahir menggunakan jurus itu. Kidamir diam tidak menjawab, seluruh urat syarafnya di pompa untuk siap sedia menjalani pertarungan selanjutnya. suasana jadi tegang, masing-masing bersiap melakukan pertarungan, cukuplah bagi mereka untuk mengetahui kekuatan lawan dalam segebrakan tadi. Tiba-tiba Ki demung  berteriak pad Ki Lurah Prajoto “ Ki Lurah jangan hiraukan dua manusia busuk ini , aku masih sanggup untuk menghadapinya, lebih baik ki Lurah membantu Adi Jagabaya di ujung padukuhan , segeralah berangkat..” tanpa menunggu lagi ki lurah menjejakkan kakinya menuju ujung padukuhan yang sudah terlihat merah karena kebaran dimana-mana.

“ he..he.. kamu terlalu jumawa demung,.. lebih baik kau serahkan kitab-kitab itu.. dan aku akan pergi dari sini..”

“ jangan mimpi kamu  Ni luh… sampai nyawaku tercabutpun tak akan kamu mendapatkan kitab – kitab itu..”

Ni Luh tiba-tiba berteriak keras sambil menyabetkan cemetinya kearah ki Demung. Sementara Kidamir tanpa menunggu-nunggu lagi langsung menyabetkan goloknya dengan jurus golok sudra kearah kebo abangan. Terjadilah pertempuran seru antara empat orang ini, masing-masing berusaha menjatuhkan lawan dengan jurus-jurus yang dimilikinya.

Sementara di ujung padukuhan , terjadi perang yang tidak seimbang, para penduduk padukuhan yang tidak pernah di latih berperang harus menghadapi pasukan bintoro yang sudah mengalami asam garam berbagai peperangan. terlihat Ki Jagabaya dan Ki Lurah prajoto mengadakan perlawanan yang sangat sengit. Ki Lurah menghadapi seorang prajurit yang bersenjatakan sepasang pedang, sedang Ki jagabaya menghadapi seorang prajurit berkepala botak  bertubuh pendek yang sangat gesit . kedua orang pimpinan padukuhan pakeman itu terlihat sangat kesulitan, bahu Ki jagabaya terlihat berlumuran darah oleh sabetan pedang pendek prajutrit botak itu, sementara ki Lurah tidak lebih baik dari ki jagabaya, kedua pahanya tampak robek oleh sayatan sepasang pedang lawan. Namun keduanya tidak menyerah, seperti kesetanan mereka melakukan perlawanan.

“ adi Kunto dan Adi Kuntet lebih baik kita tinggalkan dua orang sesat ini, mari kita menuju tengah padukuhan sepertinya ada yang lebih seru dari suasanan disini, biar merka berdua diurus bekel-bekel bintoro yang lain” teriak seorang lelaki yang dari tadi berdiri di samping tempat pertempuran , langsung melesat kearah padukuhan pakeman. Merka bertiga adalah para pendekar yang sudah mengabdi pada kerajaan bintoro, dan menyandang pangkat senopati, mereka dulunya adalah pendekar adari tanah sabrang yang kemudian menjelajahi tanah jawa untuk mencari guru, yang kemudian dalam perjalannannya mereka bertemu dengan seorang soleh dari ampel yang kemudian diangkat menjadi murid dan mengabdi pada kerajaan bintoro. mereka juga merupakan tokoh-tokoh dunia kanuragaan dalam tingkat tiga, bernama sabrang Kunti yang paling tua , sabarang kunto yang kedua, dan sabrang kuntet yang ketiga dalam dunia kanuragan mereka berjuluk pendekar pedang jagat, karena mereka memiliki ilmu gabungan yang disebut pedang jagat. permainan pedang mereka  berdasarkan pada gerakan bintang kemukus, bila mereka memainkan jurus ini, lawan akan melihat ribuan mata pedang yang menghantam dari segala penjuru.

Sementara itu pertempuran yang terjadi dihalaman rumah ki lurah  masih berlangsung seru, sudah ratusan jurus yang dikeluarkan, namun terlihat pihak ki demung dan ki damir mulai terdesak hebat, karena ki demung harus membagi konsentrasi untuk melindungi ki damir dari serangan tapak darah kebo abangan. karena memang ki damir kalah satu tingkat dengan kebo abangan. sementara Ni luh Meruti terlihat semakin beringas melancarkan serangannya kearah ki demung. tanpa disadari oleh mereka yang sedang bertempur di tempat itu sudah berdiri berjajar tiga orang lelaki , pendekar sabrang kuni,kunto dan kuntet. Menyaksikan bertempuran itu dengan seksama, seolah sedang membaca lawan yang akan dihadapi nanti. Tiba-tiba terdengar teriakan dari ki damir, kerena dadanya terkena pukulan tapak dara kebo abangan, terlihat dada ki Damir mengeluarkan asap berbau amis, pada saat itulah dari mulut pendekar sabrang Kunti terdengar perintah “serang…”

Sejuta anak panah meluncur deras kearah pertempuran itu, suasana jadi berubah, ni luh meruti, ki demung dan kebo abangan sibuk menyapu panah-panah yang menuju kearahnya, yang sangat mengenaskan adalah keadaan ki damir, pada saat tubuhnya sempoyongan karena menerima pukulan kebo abangan, dia tidak punya waktu untuk menangkis serbuan anak panah kearahnya sehingga tubuhnya habis tertusuk puluhan anak panah, ki damir tewas seketika.

“ Biadab kalian..” seru Kidemung sambil meraup tubuh Ki damir yang sudah tidak bernyawa lagi.

“ Berhenti..” aba-aba kembali dari mulut Kunti. “ lebih baik kalian menyerah dan kembali kejalan kami orang-orang Bintoro..”

“huh..siapa sudi.. jadi begundal Bintoro.. “ teriak Ni luh Meruti lantang.

“ heh.. aku tidak peduli dengan kalian begundal-begundal bintoro, dan aku tidak ada urusan denga kalian… mari adi kebo abangan kita tinggalkan tempat ini masih banyak waktu untuk mencari tua bangka ini…kalau dia selamat…”  seru Ni luh Meruti sambil menjejakkan kakinya melesat kea rah kegelapan disusul kebo abangan.

“ kakek tua lebih baik kamu menyerah… padukuhan ini sudah kami kuasai… lebih baik kamu mencari jalan kedamaian, kami orang-orang bintoro tak nanti berlaku kurang sopan padamu…”

“ hei..sabrang kunti.. dengarlah aku.. bahwa aku ki demung Ganjer tak akan menyerah dan memaafkan perbuatan kalian ini… kalau kalian orang-orang bintoro ingin mengajak pada kebaikan seharusnya bukan begini caranya…”

“ jadi kamu tidak mau menyerah baiklah jangan salahkan kami kalau kamu mati penasaran…” belum selesai ucapan kunti , Ki demung menggerung hebat menyerang kearahnya. Sigap kedua orang adiknya melindungi..lalu ketiganya membuat serangan serempak, hebat serang itu seluruh udara seperti tersedot kearah gerakan mereka, jurus pedang jagat.

Ki demung benar – benar tangguh, dia tak gentar menghadapi serangan lawan walau sudah menderita luka-luka disekujur tubuhnya akibat pertempuran dengan Ni luh meruti tadi.

Dua serangan kunto dan kunti dapat di tangkisnya tapi serangan pedang pendek kuntet mengenai pinggang kanannya, namun Ki demung sempat mebalas melontarkan puklulan ke bahu kuntet , tepat mengenai bahu sebelah kana hingga mengeluarkan suara tulang patah.

Ki demung terhuyung-huyung kebelakang , lalu meloncat kesisi kiri sambil menyambar tubuh Ki damir dan melesat menghilang di kegelapan.

“ Keparat… seru Sabrang Kunto,….” Yang akan menyusul kepergian Ki Demung., namun di cegah kakaknya.

“ sudahlah adi, tidak usah dikejar… kamu rawatlah si kuntet ini, “ lalu Sabrang Kunti yang menjadi  pimpinan penyerbuan itu menghadap ke  arah para prajuritnya

“ semua prajurit… geledah semua rumah.. temukan Ki ageng Pameling Jati dan Juga orang-oranga Kademangan Ngambat yang ber lari ke sini, jangan ada penjarahan, pemerkosaan ,kumpulkan semua orang di pendopo Padukuhan ,kalo ada yang membantah perintahku maka akan kuhabisi disini juga, Mengerti”tegas kata-kata Sabrang Kunti.

sendiko! ”… sahut  para prajurit serempak.

Sementara orang-orang bintoro sedang sibuk menjalankan perintah senopati mereka, di belakang padukuhan dimana sawah-sawah terbentang luas terlihat Ki Demung Ganjer berlarian dalam gelapnya malam sambil memanggul jasad Ki Damir yang sudah  mulai membeku, meloncat dari satu gundukan tanah kegundukan tanah yang lain menuju lereng merapi, tak peduli tanah licin dan hujan yang mulai turun dengan derasn. Tak sampai sepenanak nasi tibalah dia di sebuah pelataran luas, Padepokan Pameling Jati,

“ Biadab benar dua manusia laknat itu “  gumam Ki Demung Ganjer, dengan nanar menyapukan pandangannya keseluruh padepokan seolah berusaha menjamah seluruh kenangan yang pernah ada di padepokan itu, namun yang ada hanyalah bekas-bekas bangunan yang hangus terbakar. Setelah puas menjelajahkan seluruh alam pikirannya dan menentramkan gejolak hatinya Kidemung bergegas menggali lobang untuk menguburkan jasad Ki Damir, seorang sahabat yang baru siang tadi di kenalnya, persahabatan singkat yang terasa sangat bearti bagi Kidemung.

“ Selamat Jalan sahabatku, akan aku teruskan perjuanganmu untuk membawa anak junjunganmu ke bapa guruku “ berkata dalam hati Kidemung. Lalu segera bergegas meninggalkan tempat itu bersama hujan yang semakin deras mengguyur lereng-lereng Gunung Merapi.

GEGER DI PUNCAK MERAPI eps 2

Posted: 7 September 2010 in SERIAL PANJISAKA

2

pagi ….

Kabut masih  menyelimuti jalan di padukuhan itu, pada sebuah rumah ditengah-tengah padukuhan, terdengar sedang orang bercakap-cakap, rumah ki lurah prajoto, rumah yang teramat sederhana, terbuat dari dinding  gedek atau anyaman kulit bambu yang sudah kelihatan tua dimakan usia, atapnya dari daun-daun kelapa kering yang diayam dan disatukan dengan sebatang bambu sebagai tumpuannya. terlihat ki lurah prajoto dan Ki Damir sedang berbicara serius, ada ketegangan diraut muka masing-masing orang paroh baya itu.

“Demikian lah to ceritanya” ucap Ki damir yang masih memanggil nama terhadap ki lurah yang menjadi sahabatnya diwaktu kecil.

“ Aku bersama den ayu harus dengan diam-diam meninggalkan pademangan, berat rasanya…

melihat teman-temanku semua terbujur menjadi mayat oleh tangan-tangan prajurit bintoro..”

“ Bagaimana dengan Ki Demang Panji sodra ?”

“ itulah….. yang mengganggu pikiranku sampai sekarang.., semua kabar dari teliksandi tak ada yang sampai padaku hingga sampai di padukuhan ini..” ujar Ki Damir dengan raut muka yang sedih.

“ Ketika terakhir bertemu dengan Ki demang adalah saat matahari sedikit tergelincir ke barat, beliau memanggilku di pasemadennya”

“ Ki Damir… sudah setengah dari umurku kamu ikut aku…..aku percaya padamu, dan mungkin ini adalah hari terakhir kita bisa bertemu, aku titip anak dan istriku padamu, bawalah mereka ke padepokan Ki Ageng Pameling Jati di lereng merapi… bawalah kabar ini pada Ki Ageng… “ ucap ki Damir menirukan ucapan junjungannya. Ki Lurah Prajoto terdiam mendengarnya, seolah sedang membayangkan prahara yang menimpa kademangan ngambat.

“ hem..hem.. wah.. kalian ini kalo udah ketemu sudah ndak ingat  waktu…sampai – sampai makanan di depan mata tak juga disentuh” seloroh seorang perempuan paroh baya dari balik pintu ruangan tengah.

“ weleh..weleh… kamu Sumi toh?.. kamu jadi nyai lurah toh sekarang…” ujar ki Damir sambil beranjak dari dipan tempatnya duduk. Perempuan yang disebut sekar itu tersenyum dan berkata.

“ iya.. bagaimana keluargamu kang damir… maaf aku baru menemui sekarang , karena semalam kakang tidur begitu pulas sampai suara jangkrik di pinggir rumah takut untuk bersuara…” Ki Damir tersipu , mungkin karena capek yang teramat membuat dia langsung tidur tadi malam begitu melihat dipan, dan dengkurannya itu yang disebut menakuti jangkrik…

“ wah.. maaf kalo begitu.. aku belum kraman nyi, ndak ada yang kepincut…” ujar ki Damir

“ monggo lho diminum kopinya, mumpung masih hangat, aku mau kedalam dulu membuatkan hidangan buat den Ayu mu “ seloroh nyai lurah sambil meletakkan dua cangkir kopi panas di dipan, lalu pergi ke balik pintu.

“bagaimana to… apakah benar kata orang orang semalam bahwa Ki Ageng tidak ada di Padepokan?” meneruskan Ki Damir

“ Betul Mir.. tidak ada seorangpun yang tahu kemana Ki ageng pergi, bahkan Ki demung Ganjer cantriknyapun tidak tahu.. dan sekarang ki Demung juga tidak ada di Padepokan…”

“ Duh Gusti… apa yang harus aku lakukan..” rintih Ki Damir.

Keduanya terdiam , tenggelam dalam alam pikirannya masing-masing.

“ Kulonuwun Ki Lurah…” terdengar sebuah suara didepan rumah,

“ Monggo… o.. ki Jagabaya.. mari masuk” jawab ki Lurah sambil membukakan pintu.

Yang masuk adalah seorang lelaki bertubuh tegap, dengan kumis melintang seperti tokoh pewayangan werkudoro. Lelaki ini yang semalam menjadi pemimpin orang-orang yang mencegat Ki Damir, dari langkah dan nafasnya Ki Damir tahu bahwa orang ini mempunyai kemampuan olah kanuragan yang lumayan. Untung semalam tidak terjadi perkelahian,kalo saja terjadi mungkin akan susah menjatuhkan nya dalam 10 gebrakan. Pikir Ki damir.

Lelaki yang disebut ki Jagabaya itu mengangguk hormat kepada ki Damir, lalu ikut duduk di samping Ki lurah Prajoto.

“ Ini adalah Ki Jagabaya agung garling, dulu dia adalah cantriknya ki Ageng juga lalu oleh ki ageng diminta membantuku menjadi jagabaya” ucap Ki Lurah memperkenalkan tamunya.

“ ah.. saya hanya seorang cantrik yang lopo ki.. tidak bisa apa-apa.. “ ujar ki Jagabaya merendah. Ki damir tersenyum, senang melihat cara merendah ki Jagabaya ini, pantas kalo dia menjadi cantriknya Ki ageng.

“ Mungkin kamu bertanya-tanya kenapa padukuhan dijaga siang malam seperti ini ki damir”sambung ki lurah yang mulai tidak menyebut nama pada sahabatnya itu.

“ iya kenapa Ki lurah…”

“ seperti juga kademangan Ngambat, kami juga berjaga-jaga dari amukan pasukan bintoro, karena berita yang kami dengar, mereka juga mencari Ki ageng Pameling Jati karena dianggap menyebarkan ajaran abangannya siti brit”

“ tentu saja kami tidak ingin junjungan padukuhan kami di injak-injak, oleh karena itulah kami… “ sambung Ki jagabaya dengan nafas tersengal seolah menahan amarah yang hampir meledak. “ menjaga padukuhan ini sedemikian rupa…”

Mereka bertiga mengobrol hingga waktu matahari ditengah ubun-ubun, kemudian bersama  mereka menuju kependopo padukuhan yang ternyata sudah dikerumuni banyak orang, yang ingin mendengarkan penjelasan ki Lurah terhadap kejadian semalam.

Pendopo padukuhan Pakeman….

Bangunan pendopo itu merupakan bangunan tanpa dinding, hanya tiang-tiang penyangga berjumlah delapan yang terlihat tegak gagah dan menghitam, lantainya terbuat dari batu hitam persegi empat yang disusun rapi, serta licin entah bagaimana membuatnya, mungkin karena seringnya di pakai untuk duduk dan kegiatan padukuhan  hingga membuat batu-batu lantai dari batu hitam koral itu licin seperti ubin.

Siang ini seluruh lantai sesak dijejali orang-orang padukuhan yang ingin mendengarkan keterangan tentang tamu desa. semua laki-laki yang tua, yang menjadi sesepuh padukuhan duduk bersila paling depan, sementara orang –orang muda dibelakangnya, bahkan ada yang bergerombol dipintu masuk pendopo serta diterasnya. Ki Lurah Prajoto terlihat duduk berhadapan dengan warganya  di dampingi Ki Jagabaya Agung garling yang duduk disebelah kirinya. Sementara Ki Damir duduk di sudut kanan ruangan, sambil matanya mengamati seluruh suasana dipendopo. Ki Lurah membuka pertemuan itu dengan mengucapkan salam dan hormat pada tetua-tetua padukuhan yang hadir.

Para Kadang Padukuhan Pakeman sekalian, pertemuan siang hari ini merupakan pertemuan yang cukup penting bagi kita semua…. Bagi padukuhan kita..bagi anak cucu kita..” kata ki lurah lantang.lalu meneruskan.

“ di samping kita ini … orang yang jadi tamu kita semua .. yang tadi malam datang dan dicegat oleh ki Jagabaya… adalah saudara kita sendiri.. namanya ki damir dari kademangan ngambat…, mereka datang karena ingin bertemu dengan junjungan kita Ki Ageng Pameling Jati.. namun sayang bahwa ki Ageng tidak berada di padepokannya , dan kita tidak tahu kemana beliau pergi…” ki lurah berhenti sambil mengambil nafas ..

“ Ki damir ini adalah teman saya bermain dulu waktu kecil… ya disini.. dipadukuhan pakeman ini.. mungkin para sesepuh padukuhan masih ingat dengan beliau… rumah beliau dulu di pojok desa.. karena ditinggal oleh kedua orangtuanya.. lalu ki damir mengabdikan diri ke kademangan ngambat.. sampai sekarang ..” mendengar penjelasan ki lurah , terlihat para sesepuh yang duduk dideretan depan saling menggut-manggut tanda mereka lamat-lamat ingat terhadap orang yang disebut ki Damir itu.

“ Namun sayang.. “ lanjut ki Lurah.. “ sepekan yang lalu menurut Warta yang dibawa Ki damir ini, bahwa kademangan Ngambat telah diserang oleh orang-orang Bintoro…” semua orang menjadi tegang mendengar kabar itu.. suasana jadi sepi.. seolah-olah semua orang menahan nafasnya.. tiba-tiba dari kerumunan orang dibelakang terdengar suara batuk-batuk kecil, lalu muncul seorang kakek tua yang mengenakan surjan lurik lusuh…

“ Ki Lurah… Mungkin padukuhan kita ini pun akan mengalami hal yang sama…. “ ujar kakek tua itu sambil berjalan menuju kearah ki Lurah duduk. Ki lurah dan semua sesepuh padukuhan berdiri menjura hormat pada kakek tersebut, lalu ki Lurah menjura dengan begitu hornat..

“ Selamt Datang Ki Demung Ganjer… Maaf kalau kami tidak menyambut kedatangan aki..”

orang yang disebut ki Demung ganjer itu mengangkat tangan dan meneruskan kata-katanya..

“ lebih baik sekarang kita semua bersiap-siap, menyambut kedatangan mereka.. usahakan untuk tidak terjadi pertempuran… karena hal semacam itu akan merugikan semua pihak… “

“ Betul apa yang dikatakan Ki Demung…, harap semua kadang kembali kerumah masing –masing, dan ki Jagabaya mohon untuk segera memperketat penjagaan “  kata ki lurah pada semua orang yang berada di pendopo. Mendengar perintah Ki Lurah , semua orang membubarkan diri, Ki Jagabaya pun beranjak dari duduknya bersiap untuk mengatur semua penjagaan di padukuhannya. Namun sebelum keluar dari pendopo Ki Jagabaya menjura pada Ki Demung ganjer.. “ Bagaimana Keadaanmu Kakang.. “ Ki jagabaya menyebut Ki Demung sebagai kakang walau usianya terpaut sangat jauh karena mereka adalah cantrik-cantrik Ki Ageng Pameling Jati.

“ aku Baik-baik saja adi Agung Garling… jaga dirimu baik-baik, firasatku sangat tidak enak dengan semua ini..”

“ baik kakang , mohon doa restunya” di jawab dengan anggukan oleh Ki Demung, kemudian bergegas Ki Jagabaya keluar dari pendopo.

Ki Lurah, Ki damir dan juga Ki demung tetap di pendopo, setelah ki Lurah memperkenalkan Ki Damir pada Ki Demung,dan juga menceritakan keadaan di ngambat. Ki demung Ganjer pun menceritakan pengalamannya setelah beberapa hari ini meninggalkan padepokan, apa yang dijumpainya di perjalanan mencari junjungannya Ki Ageng Pameling Jati. Memang tujuan Ki Demung meninggalkan Padepokan adalah mencari Junjungannya karena sudah berpuluh-puluh tahun dia ikut Ki ageng Pameling Jati walau hanya sebagai cantrik, baru kali ini ada kejadian seperti ini, junjungan nya pergi tanpa pesan apapun kepadanya, sehingga membuatnya bingung. Namun di tengah perjalanannya mencari Junjungannya itu dia mendapat pesan dari Ki Ageng pada sebatang Lontar, yang memintanya untuk tidak usah mencari Ki Ageng Pameling Jati , Ki demung diminta Untuk Kembali ke Padepokan dan menyelamatkan Padukuhan dan menyelamatkan Lelananging jagat yang akan datang ke padukuhan pakeman, serta mengabdi pada salah satu Murid Kiageng Pameling yaitu  Ki Ageng Panyuluhan di Padepokan Sasmita Jati. Oleh karena itu Ki demung bergegas pulang ke padukuhan Pakeman, dalam perjalanan itulah dia melihat pergerakan orang –orang bintoro menuju ke Padukuhan Pakeman.

Lama mereka bercakap-cakap ..tanpa terasa matahari telah tergelincir kebarat. Kemudian atas permintaan ki Lurah, mereka beranjak meninggalkan Pendopo Padukuhan menuju ke rumah Ki lurah.